Ayo Dolan Candi (2): Candi Batur dan Candi Selogriyo

Pegunungan merupakan tempat yang dianggap cocok bagi umat hindu atau budha untuk membangun candi. Hal itu tidak lain karena mereka meyakini bahwa dewa-dewa bersemayam di gunung. Maka dari itu, tidak heran jika Magelang memiliki sebaran candi yang cukup banyak karena topografi Magelang yang penuh dengan gunung dan bukit.

Salah satu daerah yang dipenuhi oleh sebaran situs dan candi adalah di daerah Bandongan dan Windusari karena merupakan kaki Gunung Sumbing dan juga terdapat sebuah pegunungan yaitu Pegunungan Giyanti. Di Pegunungan Giyanti inilah terdapat dua buah candi yang merupakan peninggalan agama hindu, dimana salah satunya adalah candi tercantik yang ada di Magelang. Mari kita bahas satu per satu.

Candi Batur

Meskipun diberi nama candi, Candi Batur sebenarnya hanya berupa puing-puing bangunan candi. Nyaris tidak ada bentuk yang tersisa dari candi ini. Batu-batu penyusun candi berserakan tak teratur di bukit dimana Candi Batur berada. Tak sedikit batuan candi yang masih terbenam di dalam tanah. Sedangkan batuan yang berada di permukaan tanah, tak tersusun. Hanya makara di bagian utara dan selatan candi yang masih bisa terlihat dengan cukup baik.

Continue Reading

Pasti Masih Ada yang Terasa Manis

“Hai, kamu tahu tanaman pare kan? Yang buahnya pahit itu.”

“Iya, aku tahu. Memangnya kenapa? Ada yang aneh?”

“Tadi pagi aku melihat bunga pare disinggahi lebah.”

“Bukankah hal lumrah jika seekor lebah singgah ke bunga? Mereka pasti mencoba mencari serbuk sari sebagai bahan dasar madu. Apa yang menarik bagimu?”

“Aku dapat hal baik setelah lihat pare tadi. Pare itu pahit, itu takdir. Mustahil mengubahnya jadi manis seperti buah mangga yang sudah matang. Mustahil. Tapi, aku lihat seekor lebah masih mau singgah ke bunga pare yang aku sendiri tak tahu apakah si Bunga tadi berasa pahit juga seperti buahnya. Lebah pasti tahu jawabnya. Pasti masih ada tersisa sesuatu yang manis dari tumbuhan pare ini.”

“Jadi kamu mau menyampaikan apa?”

“Aku jadi paham bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar berasa pahit di dunia ini. Sekalipun kita mengalami hari tanpa asa, sekalipun kita sudah merasa dilupakan oleh dunia, sekalipun kita sudah tak bisa berbuat apa-apa. Anggap saja penuh nestapa. Aku yakin masih ada hal manis yang masih disisipkan Tuhan untuk kita. Masih ada teman untuk berbagi, masih ada keluarga untuk saling berbagi tawa, setidaknya masih ada tanah untuk bersujud ketika tak menemukan pundak untuk bersandar, Selalu masih ada hal manis yang bisa dirasakan jika kita mau melihat lebih ke dalam. Seperti bunga pare yang lebahpun masih mau menghisap serbuk sarinya. Pasti masih ada yang berasa manis.”

“Kamu terlalu panjang berfilsuf.”

Ayo Dolan Candi (1): Candi Lumbung, Candi Asu, dan Candi Pendem

Candi Borobudur, Magelang. Bukan Yogyakarta.

Candi Borobudur, Magelang. Bukan Yogyakarta.

Kabupaten Magelang sudah tidak diragukan lagi sebagai salah satu gudangnya candi di Jawa Tengah. Hal ini tidak lain karena Kerajaan Medang atau yang biasa disebut sebagai Kerajaan Mataram Kuna pernah mendiami daerah ini. Peradaban pada masa itu tumbuh pesat baik secara ekonomi, budaya, maupun religi. Salah satu yang menjadi bukti kuat adalah adanya bangunan candi yang megah seperti Candi Borobudur yang sampai sekarang masih bisa kita lihat dengan jelas.

Namun, candi di Magelang bukan hanya sebatas Borobudur, masih banyak candi lainnya yang tersebar hampir di seluruh penjuru Magelang. Beberapa bisa ditemukan dengan kondisi baik, beberapa lainnya hanya bisa disusun sebagian, bahkan ada candi yang masih berupa puing-puing yang belum tersusun sama sekali. Bagi saya, adanya candi yang belum bisa direkonstruksi kembali itu lumrah karena memang pembangunan kembali sebuah candi tidaklah mudah, batuan candi tidak sepenuhnya bisa ditemukan dan disusun ulang. Hal tersebut tidak terlepas dari bencana dahsyat yang meluluh lantahkan bumi Magelang pada tahun 1006 oleh letusan Gunung Merapi. Letusan yang juga mengakhiri peradaban Hindu-Budha di Magelang dan Yogyakarta.

Continue Reading

Sawarna Trip (2): Second Impression

Sepotong ikan laut berukuran besar sudah terhidang di piring, semua peserta dalam rombongan ini bersiap untuk makan siang. Dengan lahap, kami semua menyantap hidangan laut tersebut. Semua anggota rombongan tampak puas dengan hidangan siang itu, terlihat dari ikan yang hanya tersisa bagian tulang saja. Seusai makan, kami semua berisitirahat di pondokan kami sambil menunggu jadwal kegiatan berikutnya.
Hari ini adalah akhir pekan yang biasanya menjadi hari terpadat dari sebuah tempat wisata, tak terkecuali untuk tempat ini. Sawarna yang saya bayangkan adalah sebuah tempat yang tenang, yang jauh dari hiruk pikuk manusia, tapi nyatanya tempat ini tak jauh beda dari tempat wisata pada umumnya. Ramai, penuh sesak dengan manusia. Rombongan turis datang silih berganti, saya hanya terpaku melihat pemandangan seperti ini. Terlalu banyak pengunjung. Itu yang saya pikirkan.
Continue Reading

Sawarna Trip (1) : First Impression

Matahari sudah terbit, artinya sudah lebih dari 8 jam saya berkendara dari Jakarta menuju Sawarna, Banten, dan saat itu saya belum juga tiba di tempat tujuan. Jalanan yang rusak membuat kendaraan yang tumpangi harus berjalan sangat pelan, belum lagi ditambah kendaraan yang sebenarnya tidak laik jalan membuat perjalanan ini makin lama dan menantang maut. Bagaimana tidak, pintu penumpang yang persis berada di sebelah saya mendadak rusak dan terbuka sendiri. Usut punya usut, ternyata kendaraan yang saya tumpangi baru saja mengalami kecelakaan dan langsung digunakan kembali untuk mengangkut penumpang. Sebuah hal yang sangat sembrono menurut saya karena pihak travel agent menggunakan kendaraan yang tak layak jalan dan hal ini membahayakan penumpang.

Perjalanan pun dilanjutkan setelah beberapa saat supir mencoba memperbaiki pintu kendaraan yang rusak. Alih-alih memperbaiki pintu yang rusak, si Supir justru menyarankan saya untuk berhati-hati di sepanjang perjalanan. Saya paham, si Supir ini tak bisa memperbaiki pintu kendaraan yang sudah rusak ini. Benar-benar sebuah first impression yang sangat buruk bagi saya terhadap travel agent ini.

Continue Reading

Etika: Kesenian pun Perlu Dihormati

Ini adalah satu-satu foto yang saya ambil saat pagelaran untuk keperluan tulisan ini

Ini adalah satu-satu foto yang saya ambil saat pagelaran untuk keperluan tulisan ini

Pagelaran sendratari selalu punya daya tarik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Keindahan gerak tari dari para penari dan merdunya iringan alat musik tradisional menghadirkan suasana berbeda dari pagelaran seni yang lainnya. Tempat penyelenggaraan pun terkadang juga menjadi paket yang menarik karena sendratari terlebih di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta selalu digelar di pelataran candi baik Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.

Kesempatan untuk melihat langsung pagelaran sendratari pun datang pada saya pada hari sabtu kemarin, 16 November 2013. Malam itu, Dinas Pariwisata Provinsi D.I. Yogyakarta yang bekerja sama dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko menyelenggarakan pagelaran sendratari di komplek Kraton Candi Ratu Boko. Pagelaran tersebut melibatkan 56 penari dan 20 orang pengrawit yang berasal dari Universitas Negeri Yogyakarta.

Continue Reading

Ketika Diam Menjadi Jalan Keluar

Ketika banyak orang ramai memperbincangkan tentang efek dari mass tourism yang tidak terkendali dan saling tuding kesalahan pada travel writer, masyarakat, pengunjung, sampai pemerintah, saya justru rapat-rapat menyembunyikan catatan perjalanan saya. Memang bukan catatan perjalanan fantastis berkeliling berbagai daerah di Indonesia bahkan di belahan bumi lainnya, catatan saya hanyalah sebuah catatan perjalanan lokal, bisa dibilang sangatlah lokal, hanya di sekitar tempat tinggal saya di Magelang.

Saya menyimpan rapi catatan perjalanan saya selama di Magelang, menutup rapat keinginan untuk menyebarkan segala informasi yang ada di dalamnya. Saat ini memang saya tidak akan membuka catatan itu untuk umum, setidaknya sampai saya benar-benar siap untuk menyebarkan informasi tersebut pada umum.

Continue Reading