Dari Gondomanan 417

Rumah ini milik Om Geger, panggilan akrab dari seorang anak manusia yang bernama FX Agung Firmanto. Bangunan tua ini sangat mencolok dibandingkan rumah-rumah lain yang ada di Gondomanan. Bagaimana tidak, tembok rumah ini dicat hijau, kuning, dan oranye lengkap dengan ornamen-ornamen bernuansa pohon dan air. Belum lagi halaman rumah yang dipenuhi dengan tumbuhan-tumbuhan buah dan sayur.

Pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini sekitar 4 tahun yang lalu, saat 1 Buku untuk Indonesia dipersilakan menggunakan tempat ini sebagai basecamp gerakan kecilku. Dari tempat ini, ide-ide tentang program 1 Buku untuk Indonesia lahir dan akhirnya bisa direalisasikan bersama. Tidak hanya itu, di tempat ini pula, aku mulai mengenal teman-teman selingkaran Om Geger. Lifepatch, Urbancult, Anti Tank, Ocean of Life Indonesia, dan entah berapa banyak lagi yang sudah aku kenal dari tempat ini.

Continue Reading

Yang Dikayuh Melewati Masa

Pagi ini, seperti biasanya udara Jogja sudah membuat gerah tubuhku. Aku tahu bahwa udara Jogja memang tidak pernah begitu bersahabat dengan tubuh. Sejak 2007, tahun pertama aku menginjakkan kaki di Jogja, badan ini rasanya selalu terus menolak untuk berdamai dengan cuaca Jogja. Pun dengan pikiranku. Jogja selalu menghadirkan hal yang ingin aku tentang.

Kota ini terlalu nyaman. Nyaman untuk orang-orang yang mau hidup tenang dan nyaman untuk orang-orang yang tak ingin terlalu berjuang untuk hidupnya. Di kota ini, orang-orang tidak diburu dunia. Tidak ada keributan pagi hari yang berlebihan di jalanan. Tidak ada suara klakson bersautan ketika jalanan mulai terasa padat. Bukan hanya itu, tak ada harga bahan pangan yang berlebihan. Semua bisa dipenuhi dengan wajar, pun dengan harga kebutuhan jasmani lainnya. Semuanya bisa didapat dengan murah dan mudah. Sak madya, tidak perlu berlebihan. Kata tersebut yang sering aku dengar dari orang-orang di Jogja.

Continue Reading

Saat hujan menjebak satu manusia dan manusia lainnya.

Hujan hari ini turun dengan derasnya dan bersamaan dengan itu listrik di daerah Sono Raya pun padam. Entah ini sebuah kesialan atau sebuah keberuntungan, saya terjebak di warung burjo bersama 3 orang AA Burjo. Reaksi pertama dari AA Burjo adalah mencoba untuk menyalakan lilin. Bukan untuk ngepet, hanya untuk sekedar menghasilkan cahaya dari gelapnya malam.

Sejenak saya terpaku, bukan karena gelap ini, bukan juga karena hujan yang mengamuk ini. Saya terpaku oleh nyala lilin yang sama sekali tidak ada romantis-romantisnya. Diletakkan di atas botol minuman soda, bukan di tempat lilin yang semestinya. Lilin tersebut bukanlah lilin aromaterapi yang wanginya membuat tenang, bukan pula lilin abadi yang tak kunjung padam atau juga lilin klenteng merah menyala, bukan. Lilin tersebut hanyalah lilin putih biasa yang mungkin tidak akan bertahan dalam waktu 10 menit.

“Lengkap nih A, udah hujan deres, mati listrik pula”, celetuk dari AA Burjo kepada saya.

Ya, saya hanya tertawa geli mendengarnya. Saya kemudian teringat dengan perkataan saya sebelumnya kepada salah satu sahabat karib tempo hari.

“Kapan yang-yangan, Njar?”

“Suk, nek udan deres trus listrike mati. Ben iso ena-ena”

Hal itu terjadi sekarang, tapi mau yang-yangan dengan siapa? Dengan makhluk apa lebih tepatnya. Hanya ada AA Burjo dan para stafnya yang semuanya adalah pria. So damn moment.

Saya hanya ingin bertanya, pernahkah aku, kamu, kita, kalian menghabiskan malam syahdu saat hujan turun dan hanya ada cahaya lilin menerangi meja kalian bersama orang yang kalian sayangi? Atau pernahkah kalian menyengajakan kondisi tersebut untuk orang yang kalian sayangi?

Saya? Saya tak pernah. Tak pernah sempat. Belum diberi kesempatan.

Jika waktu itu tiba, maukah kau sekedar meresapi aroma hujan dan pendar genit cahaya lilin bersamaku?

Jika waktu itu tiba.

Hujan sudah reda, menyisakan genangan setinggi betis dan tagihan burjo sebesar Rp 10.000,-

Ayo Dolan Candi (1): Candi Lumbung, Candi Asu, dan Candi Pendem

Candi Borobudur, Magelang. Bukan Yogyakarta.

Candi Borobudur, Magelang. Bukan Yogyakarta.

Kabupaten Magelang sudah tidak diragukan lagi sebagai salah satu gudangnya candi di Jawa Tengah. Hal ini tidak lain karena Kerajaan Medang atau yang biasa disebut sebagai Kerajaan Mataram Kuna pernah mendiami daerah ini. Peradaban pada masa itu tumbuh pesat baik secara ekonomi, budaya, maupun religi. Salah satu yang menjadi bukti kuat adalah adanya bangunan candi yang megah seperti Candi Borobudur yang sampai sekarang masih bisa kita lihat dengan jelas.

Namun, candi di Magelang bukan hanya sebatas Borobudur, masih banyak candi lainnya yang tersebar hampir di seluruh penjuru Magelang. Beberapa bisa ditemukan dengan kondisi baik, beberapa lainnya hanya bisa disusun sebagian, bahkan ada candi yang masih berupa puing-puing yang belum tersusun sama sekali. Bagi saya, adanya candi yang belum bisa direkonstruksi kembali itu lumrah karena memang pembangunan kembali sebuah candi tidaklah mudah, batuan candi tidak sepenuhnya bisa ditemukan dan disusun ulang. Hal tersebut tidak terlepas dari bencana dahsyat yang meluluh lantahkan bumi Magelang pada tahun 1006 oleh letusan Gunung Merapi. Letusan yang juga mengakhiri peradaban Hindu-Budha di Magelang dan Yogyakarta.

Continue Reading

Melihat Jakarta dari Jembatan

Tinggal di Ibu kota sebenarnya bukan menjadi sebuah pilihan bagi saya. Saya menganggap kota ini terlalu keras untuk dapat ditinggali orang macam saya. Tata kota yang tak teratur, lalu lintas yang padat cenderung semrawut, dan belum lagi dinamika kehidupan yang berganti terlalu cepat di kota ini. Semua hal tersebut seakan menjadi sebuah momok besar yang mungkin tidak akan bisa saya hadapi.

Pertama kali menapaki ibu kota rasanya memang benar jika semua perihal tentang Jakarta itu benar adanya. Lalu lintasnya memang padat, kacau, dan tidak terkontrol. Tata kota juga memang tak karuan dan orang-orang di Jakarta memang jauh lebih cuek daripada orang-orang di tempat saya tinggal dulu. Dalam pikiran saya, pasti saya tidak akan bisa bertahan dalam kondisi seperti ini.

perempatan matraman

Lalu Lintas Perempatan Matraman

4 bulan sudah saya tinggal di ibu kota, setiap hari memang saya dihadapkan pada kondisi Jakarta yang aduhai. Kemacetan membuat jarak kantor dan rumah yang tak lebih dari 10 kilometer harus ditempuh dalam 1 jam, terkadang 2 jam ketika waktu pulang kantor tiba. Menembus kemacetan dan kesemrawutan jalanan Jakarta bisa menjadi hal yang sangat menguras emosi dan tenaga. Dan ketika saya merasa cukup lelah untuk berada di dalam bus, saya biasanya memutuskan untuk berdiri di jembatan penyeberangan ketika harus berganti dari satu bus ke bus yang lain.

Melihat kehidupan dari atas jembatan penyeberangan ini sangat menarik. Dari kejauhan saya bisa melihat bagaimana mobil-mobil berbaris panjang hanya untuk melewati sebuah perempatan. Saya juga bisa melihat bagaimana pengendara sepeda motor berbondong-bondong mencari celah di antara mobil agar tetap bisa melaju. Dari atas jembatan saya juga bisa melihat bagaimana sepeda motor berebut untuk menjadi yang terdepan ketika berada di persimpangan lampu merah. Sebuah pemandangan yang unik sekaligus mengerikan.

Tak hanya tentang kondisi jalan raya yang bisa dilihat dari atas jembatan penyeberangan, tapi dari atas jembatan penyeberangan ini bisa dilihat berbagai kehidupan yang ada di jembatan itu sendiri. Ya, Jakarta selalu punya kejutan di berbagai sudut kotanya, tak terkecuali kehidupan yang ada di jembatan ini.

Saya sempat kaget ketika mengetahui bahwa jembatan penyeberangan bisa menjadi sebuah pasar yang penuh dengan pedagang. Tak terlihat bahwa tempat ini adalah sebuah jembatan penyeberangan. Orang-orang terus berlalu lalang di tempat ini dengan pedagang yang terus menjajakan barang dagangan yang sangat beragam, sandal, sepatu, aksesoris, sampai barang elektronik ikut dijual di jembatan penyeberangan. Sebuah pemandangan yang mungkin tidak akan ditemui di kota-kota lain.

Memang tempat ini adalah sebuah jembatan penyeberangan yang bukan diperuntukkan untuk berjualan, tetapi sepertinya orang-orang yang berada di tempat ini sudah menganggap jembatan ini sebagai lapak mereka, sebagai sebuah tempat dimana mereka mencari nafkah sehari-hari. Sebuah tempat yang tak hanya menjadi jembatan bagi orang-orang untuk menyeberangi jalanan, tetapi juga menjadi sebuah jembatan bagi para pencari nafkah untuk melewati hari-hari yang berat di Jakarta.

Ya, inilah Jakarta, kota dimana kata “tidak mungkin” itu tidak berlaku.

Tabik.