Jangan Mati Dulu

“Matilah aku dihajar dingin!”

Umpatku ketika angin kencang Merbabu menghantam tubuhku. Suhu udara mendadak turun, badan yang sudah kelewat lelah ini tak tahan lagi menahan gempuran nafas Merbabu. Aku lantas memakai jaket windbreaker sekaligus dengan inner polar lengkap dengan sarung tangan agar tubuh ini bisa bertahan dari udara dingin yang menusuk. Hasilnya nihil. Tubuh ini masih terus menggigil kedinginan dan makin parah.

“Sudah, berhenti saja di sini. Puncak gunung ini belum akan pindah. Lanjutkan lain hari saja.”

Continue Reading

Advertisements

Didengarkan Diam

Saat itu masih pagi, bahkan matahari belum terbit. Aku membuat segelas teh hangat untukku dan segelas lagi untuknya. Aku pun menyiapkan tempat duduk terbaik di balkon yang langsung menantang ufuk timur, berharap saat nanti matahari terbit, dia bisa menikmati setiap detik rona jingga di timur sana.

“Ini teh untukmu. Minumlah selagi hangat.”, ucapku padanya.

Continue Reading

Tentang rona jingga yang sama tapi tak pernah berada pada satu masa.

Apa yang lebih berat dari tak saling kenal?

Terkait satu sama lain lebih berat dari tak saling kenal.

Apa yang lebih berat dari sebuah keterkaitan?

Berjalan bersama lebih berat dari sebuah keterkaitan.

Apa yang lebih berat dari saling berdampingan dan berjalan bersama?

Hanya diam berdiri lebih berat dari berjalan bersama.

Apa yang lebih berat dari diam berdiri?

Berjarak lebih berat dari diam berdiri.

Apa yang lebih berat dari berjarak?

Melepaskan lebih berat dari berjarak.

Apa yang lebih berat dari melepaskan?

Merelakan lebih berat dari melepaskan.

Apa yang lebih berat dari merelakan?

Dihantui ingatan lebih berat dari merelakan.

Apa yang lebih berat dari dihantui ingatan?

Tak saling kenal lebih berat dari dihantui ingatan.

Pasti Masih Ada yang Terasa Manis

“Hai, kamu tahu tanaman pare kan? Yang buahnya pahit itu.”

“Iya, aku tahu. Memangnya kenapa? Ada yang aneh?”

“Tadi pagi aku melihat bunga pare disinggahi lebah.”

“Bukankah hal lumrah jika seekor lebah singgah ke bunga? Mereka pasti mencoba mencari serbuk sari sebagai bahan dasar madu. Apa yang menarik bagimu?”

“Aku dapat hal baik setelah lihat pare tadi. Pare itu pahit, itu takdir. Mustahil mengubahnya jadi manis seperti buah mangga yang sudah matang. Mustahil. Tapi, aku lihat seekor lebah masih mau singgah ke bunga pare yang aku sendiri tak tahu apakah si Bunga tadi berasa pahit juga seperti buahnya. Lebah pasti tahu jawabnya. Pasti masih ada tersisa sesuatu yang manis dari tumbuhan pare ini.”

“Jadi kamu mau menyampaikan apa?”

“Aku jadi paham bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar berasa pahit di dunia ini. Sekalipun kita mengalami hari tanpa asa, sekalipun kita sudah merasa dilupakan oleh dunia, sekalipun kita sudah tak bisa berbuat apa-apa. Anggap saja penuh nestapa. Aku yakin masih ada hal manis yang masih disisipkan Tuhan untuk kita. Masih ada teman untuk berbagi, masih ada keluarga untuk saling berbagi tawa, setidaknya masih ada tanah untuk bersujud ketika tak menemukan pundak untuk bersandar, Selalu masih ada hal manis yang bisa dirasakan jika kita mau melihat lebih ke dalam. Seperti bunga pare yang lebahpun masih mau menghisap serbuk sarinya. Pasti masih ada yang berasa manis.”

“Kamu terlalu panjang berfilsuf.”

Lika-Liku Ospek

Selamat datang (foto diambil dari yulisyahdaulay.blogspot.com)

Selamat datang (foto diambil dari yulisyahdaulay.blogspot.com)

Masa penerimaan mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi di Indonesia telah usai, ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan mahasiswa baru tercatat di berbagai perguruan tinggi. Perjalanan mahasiswa baru tersebut barulah dimulai, mereka masih harus berjuang untuk menyelesaikan studi mereka dalam waktu yang sudah ditentukan oleh masing-masing universitas. 4 tahun adalah waktu normal bagi mahasiswa strata-1, 3 tahun bagi mahasiswa diploma-3, dan 1 tahun bagi mahasiswa diploma-1.

Namun, sebelum mereka benar-benar menapakkan kaki di universitas, ada satu event yang harus dihadapi oleh mahasiswa baru. Sebuah event yang sering menjadi momok bagi mahasiswa baru, terutama di Indonesia. OSPEK. Ya, event ini adalah event yang ditujukan agar mahasiswa lebih mengenali kampus mereka lebih dekat dan lebih baik. Bahkan, beberapa kampus mewajibkan mahasiswa mereka untuk mengikuti ospek dan menjadikan ospek sebagai salah satu syarat kelulusan kuliah. Dengan syarat tersebut, mau tidak mau mahasiswa baru harus mengikuti ospek tanpa terkecuali.

Continue Reading

Menulis di Malam Minggu

Malam Minggu atau mungkin kebanyakan orang lebih senang menyebutnya sebagai Sabtu Malam adalah hal yang cukup menjadi momok bagi sebagian besar kaum jomblo. Padahal, jika ingin melihat lebih dalam, hari Minggu sampai kembali ke hari Sabtu pun para jomblo tetaplah jomblo yang artinya para jomblo tetap akan merasakan kepedihan di hati jika melihat orang lain berpacaran. Pun dengan para pasangan yang tidak bisa bertemu dengan kekasihnya ketika Malam Minggu tiba, pastinya akan galau. Twitter akan penuh dengan ungkapan kegalauan, belum lagi yang jomblo nyinyir yang pacaran, yang pacaran nyinyir yang jomblo. Setan seakan tertawa melihat kejadian ini.

Continue Reading

Titik Hitam

Pada zaman Yunani kuno, hiduplah seorang mahaguru dan seorang mahasiswa. Saat itu mereka sedang membahas tentang pelajaran filosofi 3, ini merupakan mata kuliah lanjutan dari filosofi 1 dan filosofi 2. Sang Mahaguru memberikan sebuah tugas sederhana kepada sang Mahasiswa.

“Muridku, keluarkanlah selembar kertas putih dan ambilah tinta hitam”
“Maaf Guru, di zaman ini, kertas dan tinta belum lahir.”
“Sudah, kemarin baru di ekspor dari negeri China. Coba lihatlah isi laci mejamu.”
“Oh, iya Guru, maafkan murid”
“Tugasmu muridku, gambarkan satu buah titik hitam di tengah-tengah kertas tersebut.”
“Baik Guru.”

Sang Mahasiswa pun menyiapkan kertas dan mulai membuat tinta cair dari batangan tinta padat. Dengan telaten, dia mulai menggambar titik dan “TUL”, selesai.

titik hitam

Continue Reading