Ibu Sulastri

Seperti biasa, jalanan Jakarta sangat padat sore itu. Maklum saja, ini jam pulang kantor dan ini adalah hari Jumat. Sore itu tujuan saya adalah Stasiun Pasar Senen, saya sudah punya janji pada seseorang, sebut saja sebagai “agen tiket” untuk membeli sebuah tiket kereta menuju Jogja. Saya terpaksa menggunakan jasa orang tersebut karena tempat duduk kereta sudah habis terjual. Ini semua demi bisa bertemu dengan keluarga tercinta di Magelang.

Saya tiba di stasiun sekitar pukul 5 sore dan langsung saja saya bertemu dengan “agen tiket” tersebut untuk melakukan transaksi yang sudah dijanjikan. Sedikit lebih mahal dari tiket resmi, tapi tak apalah, ada harga yang harus dibayar untuk bisa bertemu keluarga. Tiket sudah di tangan, kemudian saya duduk membaur dengan para agen tersebut, mencoba berbincang-bincang tentang bagaimana bekerja dengan sistem baru yang-katanya-anti-calo, tapi pada kenyataannya para agen tersebut masih bisa mendapatkan tiket yang sudah diklaim habis oleh pihak penjual resmi.

Continue Reading

Advertisements

Cholik, The Guru

Cholik, bocah ini hanyalah seorang anak SD kelas 2. Sama seperti anak-anak pada umumnya, bocah ini riang, ceria, dan senang bermain. Saya sudah mengenalnya selama dua tahun sejak dia masih TK. Bocah ini sangatlah lucu. Sering kali saya dibuat tertawa dengan perkataannya yang terkadang tidak bisa saya cerna. Pernah suatu saat dia memanggil saya dan berkata, “Mas, pacare mas Fadil ki jenenge mbak Ng.” [1] Haaah? Siapa? Mbak Ng? Saya bingung, siapakah mbak Ng ini? Tokoh khayalan kah? Setahu saya ,di Mafia Kubis tidak ada orang yang bernama Ng, Mafia Kubis belum memublikasikan diri sampai ke Vietnam di mana nama Ng cukup banyak di sana. Entah apa yang ingin dia sampaikan, tapi buat saya itulah salah satu sisi menarik dari seorang anak, polos.

Continue Reading

Namanya Chita

Namaku Chita, biasa dipanggil Sita :)

Namaku Chita, biasa dipanggil Sita 🙂

Mbak Rosaaaaaa…..”, teriak seorang bocah kecil pada sahabat saya Rosa mengalihkan pandangan saya sejenak. Gadis kecil berperawakan kurus dan berambut pendek yang saya lihat. Dia berlari ke arah Rosa dan kemudian memeluknya. Saya tidak tahu siapa bocah kecil ini, baru sekali saya melihatnya.Tapi, pemandangan malam itu membuat saya sedikit terharu, melihat seorang bocah memeluk teman saya seperti memeluk ibunya.

Continue Reading

Kado dari Lina

Mafia Kubis tidak pernah berhenti memberikan sebuah harapan bagi saya. Tiap saya datang ke Kampung Kubis, selalu saja ada secercah harap bagi saya bahwa suatu saat anak-anak yang ada di Kampung Kubis ini kelak akan menjadi orang-orang yang hebat. Orang yang kelak akan membangun negeri ini dari akar, tidak dari pucuk daun.

Lina, seorang gadis kecil, salah satu dari adik-adik kubis, akhirnya bisa membuat saya tersenyum. 2 tahun yang lalu, saya masih ingat bagaimana gadis kecil ini tak pernah berani untuk berbicara di depan teman-temannya di Mafia Kubis. Tak pernah berani untuk menyampaikan mimpinya. Selalu diam dan menangis ketika tiba gilirannya untuk berbicara di depan teman-temannya. Sikap yang sungguh bertolak belakang dengan apa yang dia tunjukkan ketika berada di luar forum. Bocah ini sangat dominan di Mafia Kubis. Bersama Sofi dan Fara, mereka terkenal sebagai “Trio Macan” dari Kampung Kubis. Mereka bertiga sangat dominan sekalipun terdapat beberapa orang yang usianya lebih tua dari mereka. Pun dengan Lina, gadis ini selalu punya pengaruh besar bagi teman-temannya. Saya masih ingat bagaimana ketiga orang ini mengudeta kegiatan Mafia Kubis karena mereka ingin diadakan kegiatan berenang, sedangkan kondisi saat itu tidak memungkinkan untuk dilakukan kegiatan keluar kampung.

Lina berada di antara Pasukan Kubis

Lina berada di antara Pasukan Kubis

Continue Reading