Dari Gondomanan 417

Rumah ini milik Om Geger, panggilan akrab dari seorang anak manusia yang bernama FX Agung Firmanto. Bangunan tua ini sangat mencolok dibandingkan rumah-rumah lain yang ada di Gondomanan. Bagaimana tidak, tembok rumah ini dicat hijau, kuning, dan oranye lengkap dengan ornamen-ornamen bernuansa pohon dan air. Belum lagi halaman rumah yang dipenuhi dengan tumbuhan-tumbuhan buah dan sayur.

Pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini sekitar 4 tahun yang lalu, saat 1 Buku untuk Indonesia dipersilakan menggunakan tempat ini sebagai basecamp gerakan kecilku. Dari tempat ini, ide-ide tentang program 1 Buku untuk Indonesia lahir dan akhirnya bisa direalisasikan bersama. Tidak hanya itu, di tempat ini pula, aku mulai mengenal teman-teman selingkaran Om Geger. Lifepatch, Urbancult, Anti Tank, Ocean of Life Indonesia, dan entah berapa banyak lagi yang sudah aku kenal dari tempat ini.

Rumah ini terus dan terus memberikan kebaikan padaku sampai saat ini. Bahkan, ketika aku tak punya tempat untuk singgah, rumah ini selalu terbuka untukku dan untuk semua orang yang memang ingin menggunakan tempat ini untuk berbagi hal positif.

Satu tempat yang sangat menurutku istimewa di rumah ini adalah dapur. Bagaimana tidak, di dapur banyak obrolan menarik yang tercipta. Sosial, politik, budaya, ekonomi, bahkan sampai ke hal yang dianggap tabu bagi kebanyakan orang dibicarakan di sini, agama. Ya, di tempat ini, pancasila seakan benar-benar ditegakkan. Unity in diversity bukan hanya slogan di kaki garuda, tapi benar-benar diterapkan.

Om Geger yang pernah bersekolah di Seminari tak segan-segan memberikan pandangannya tentang Islam dan menyampaikan beberapa bagian dari Al Kitab padaku yang seorang islam. Aku pun sama, dengan terbuka juga saling berdiskusi tentang sudut pandang islam. Bahkan ketika orang-orang di luar sana meributkan perkara natal, kami justru berkelakar tentang itu.

“Bagaimana kalo tahun ini (2015), natal dan maulid nabi dirayakan saja bersamaan?”

Bukan tanpa alasan Om Geger menyampaikan itu, tidak lain tidak bukan karena pada tahun 2015, Maulid Nabi Muhammad dan Hari Raya Natal jatuh berdekatan. 24 Desember dan 25 Desember 2015. Keduanya adalah tokoh besar agama, Yesus bagi orang Nasrani atau Isa AS bagi orang Islam dan Muhammad SAW.

“Biar akur”, kata Om Geger.

Ojo Mas, mengko mung dadi prei sepisan”, timpalku. [1]

Dan ketika kebanyakan orang di dunia maya saling menghujat akan perbedaan agama, aku justru dihadiahi roti di Hari Natal.

“Njar, Ndre, The, ada roti dari Ibu. Selamat Natal”. Sebuah tulisan hangat membuka pagi tanggal 25 Desember 2015. Sebuah sapa tulus dari manusia satu ke manusia yang lain. Dan aku yakin bahwa kebaikan ini tidak akan berhenti di hari baik ini, tapi akan terus berjalan sebagaimana Salib dan Sajadah yang masih bisa saling berdampingan dengan baik di rumah ini.

Dari dapur juga aku sering mendengarkan Andrew Lumban Gaol menyampaikan pikiran dan pandangannya terhadap keresahan yang terjadi di Jogja. Dia adalah salah satu orang yang sangat vokal dengan perubahan-perubahan tak beraturan di Jogja. Poster dengan logo Anti Tank bersebaran di berbagai sudut kota Jogja sebagai bentuk pernyataan sikap seorang Andrew.

Tidak hanya itu, di dapur juga jadi sarana mengakrabkan diri dengan teman-teman baru, tak hanya tamu lokal, interlokal juga. Ya, banyak teman Om Geger yang berasal dari luar negeri dan tak jarang mereka mampir ke Gondomanan 417 untuk bersilaturahmi. Seru rasanya bisa bertukar pikiran dengan orang-orang baru yang rata-rata memang tak biasa. Pejalan, seniman, dan pekerja sosial, semua berkumpul jadi satu di tempat ini.

Aku belajar banyak hal di tempat ini. Melihat bagaimana buah dan sayuran lokal diolah menjadi wine. Bercocok tanam di halaman belakang rumah. Menghargai pendapat dan menghormati perbedaan. Bahkan tempat ini adalah tempat di mana aku belajar mengendalikan ketakutanku terhadap anjing.

Ada dua anjing penghuni tetap dapur, Sophie dan Memo. Sebelumnya ada Lala tapi anjing ini kemudian hilang dari rumah. Dari Lala aku belajar untuk tahu bahwa anjing itu tidak seseram apa yang aku bayangkan. Lala tidak menggonggong, tidak pula senang menjilat orang lain. Benar-benar anjing yang tepat untuk belajar terapi ketakutanku. Beda dengan Sophie yang justru takut pada orang yang baru dikenalnya. Baru setelah 4 bulan tinggal di tempat ini, Sophie bisa kupegang dan diajak bermain. Lain lagi dengan Memo, anjing ini sosialis. Semua orang didekati, diajak berkenalan. Aku masih ingat bagaimana aku sering digigit dan dilompati oleh Memo. Anjing peranakan Dalmatian dan Pitbull ini memang agak aneh.

Ya, unik. Rumah ini membawa banyak hal-hal baik pada hidupku. Banyak tawa dan kenang yang menghiasi sudut bangunan ini. Orang yang datang ke tempat ini pun selalu membawa suasana baru yang makin menghidupkan rumah ini.

Makin tua, makin menjadi. Rumah ini tepat menggambarkan peribahasa itu.

Tabik.

 

Catatan:

[1]. Bahasa Jawa. Jangan Mas, nanti liburnya cuma sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s