Yang Dikayuh Melewati Masa

Pagi ini, seperti biasanya udara Jogja sudah membuat gerah tubuhku. Aku tahu bahwa udara Jogja memang tidak pernah begitu bersahabat dengan tubuh. Sejak 2007, tahun pertama aku menginjakkan kaki di Jogja, badan ini rasanya selalu terus menolak untuk berdamai dengan cuaca Jogja. Pun dengan pikiranku. Jogja selalu menghadirkan hal yang ingin aku tentang.

Kota ini terlalu nyaman. Nyaman untuk orang-orang yang mau hidup tenang dan nyaman untuk orang-orang yang tak ingin terlalu berjuang untuk hidupnya. Di kota ini, orang-orang tidak diburu dunia. Tidak ada keributan pagi hari yang berlebihan di jalanan. Tidak ada suara klakson bersautan ketika jalanan mulai terasa padat. Bukan hanya itu, tak ada harga bahan pangan yang berlebihan. Semua bisa dipenuhi dengan wajar, pun dengan harga kebutuhan jasmani lainnya. Semuanya bisa didapat dengan murah dan mudah. Sak madya, tidak perlu berlebihan. Kata tersebut yang sering aku dengar dari orang-orang di Jogja.

Jogja juga terkenal dengan keromantisannya, sudut-sudut kota ini selalu bisa menyihir orang untuk hidup dalam nuansa yang berbeda, Jogja mempersilakan manusia-manusia didalamnya untuk hidup dalam imajinasi yang mereka bangun. Bahkan, Jogja mempersilakan manusia-manusia didalamnya untuk melempar ingatan mereka jauh ke masa lampau, juga terkadang memaksa mereka tersandung memori-memori yang mereka miliki sendiri. Persis seperti anak manusia yang sedang mengusili sahabatnya, yang kemudian tertawa melihat sahabatnya kesulitan. Persis seperti itu.

Sepertinya Jogja sedang bercanda padaku hari ini. Dia seperti ingin mencoba mengajakku mengingat masa kecilku. Ya, kamu berhasil. Kamu berhasil mengoyak ingatanku hari ini. Jogja.

Ada sebuah sepeda “perempuan” di rumah yang sedang saya singgahi hari ini. Berwarna tosca, dilengkapi dengan boncengan. Tidak ada yang istimewa dari bentuk sepeda ini. Tidak seperti sepeda masa kini yang dibuat dengan rancangan yang menarik, sesuai dengan kaidah ergonomi, dan segala tetek bengek teknologi sepeda yang ada. Sepeda ini hanya sepeda biasa. Sepeda lawas. Sepeda dari era 90-an. Sangat mirip dengan sepeda yang aku miliki di rumah. Sepeda tua yang sekarang bannya kempes, rangkanya berkarat, bahkan derailleur-nya sudah tidak bisa dipakai.

Fisik suatu saat akan hancur, tapi jiwa akan selamanya utuh.

Benar apa kata temanku. Sepeda itu memang sudah usang, sulit untuk bisa mengembalikannya ke kondisi bugar seperti saat pertama kali sepeda itu datang ke rumah lebih dari 20 tahun yang lalu. Bahkan, saat pertama kali datang ke rumah pun, sepeda itu masih harus dipoles supaya bisa terlihat lebih cantik. Tetapi, kenangan-kenangan yang ada sepeda itu terus melekat sampai sekarang. Jiwanya terus hidup.

Entah kapan tepatnya bapak membawa pulang sepeda itu ke rumah. Saat itu aku masih duduk di bangku SD kelas 1 di Bandung. Bapak tidak membeli sepeda itu langsung dari toko, tapi dibeli bekas dari orang lain. Tidak tahu berapa harganya, yang jelas pasti bapak sudah mengumpulkan sisa-sisa uang gaji tentara yang tak seberapa pada masa itu. Untuk sebuah sepeda, pastinya cukup lama bagi bapak untuk menyisihkan uang gaji bulanannya. Gaji tentara bawahan di era Soeharto tak pernah dirancang untuk bisa digunakan berfoya-foya, bisa makan setiap hari saja sudah beruntung. Jadi jargon penak jamanku itu terdengar sangat omong kosong bagiku.

Sepeda tersebut sempat dicat ulang oleh bapak. Warna aslinya yang entah apa itu diubah menjadi biru metalik. Entah benar biru metalik atau bukan karena aku tak pernah bisa melihat spektrum warna dengan benar. Tapi orang-orang di sekitarku bilang bahwa itu biru metalik. Aku yang masih kecil saat itu, diberi tugas untuk menggunting stiker baru yang akan dipasang di sepeda. Olympic. Itu merk baru si sepeda dan sampai sekarang stiker yang kami pasang 22 tahun yang lalu itu masih menempel kuat di rangka sepeda meskipun sudah makin pudar.

Sepeda itu digunakan setiap hari oleh bapak untuk mengantarku berangkat sekolah. Tidak jauh memang, tapi terasa lebih mudah bagiku untuk berangkat ke sekolah sekarang. Tidak perlu lagi menyeberang sungai kecil yang jembatannya hanya terbuat dari sebuah balok kayu. Tidak perlu juga menyeberang rel kereta api yang ada di komplek perumahan militer. Tidak perlu berkeringat untuk sampai ke sekolah. Cukup duduk di boncengan dan aku pun bisa sampai ke sekolah dengan cepat. Aku ingat betul bagaimana pertama kali berada di belakang bapak. Duduk dan melihat bapak mengayuh sepeda. Sebuah ingatan yang masih sering terbayang di benakku sampai saat ini. Entah harus berterima kasih seperti apa lagi untuk bapak. Bentuk terima kasihku hanyalah belajar dengan baik di sekolah. Bukti bahwa apa yang diusahakan bapak tidaklah sia-sia.

Kami sekeluarga pindah dari Bandung ke Pasuruan pada tahun 1995. Sepeda itu pun ikut hijrah bersama kami. Di tempat yang baru, sepeda itu masih jadi alat transportasi utama sampai beberapa tahun kemudian. Sekali lagi, gaji tentara tak kunjung membaik untuk bisa bermewah-mewah dalam hidup.

Pernah suatu ketika, bapak tidak bisa menjemputku ke sekolah. Sekolahku yang baru jaraknya cukup jauh. Tubuhku yang ringkih saat itu tidak sanggup untuk menempuh jarak yang terbilang jauh untuk seukuran anak SD kelas 2. Belum lagi cuaca Pasuruan yang sangat berbeda jauh dengan Bandung terasa sangat menyiksa bagiku. Hidungku lebih sering dihuni darah daripada ingus di tempat ini. Dengan kondisi itu, ibulah yang akhirnya menjemputku pulang.

Aku tahu itu perjuangan yang berat. Ibu tak pernah terlalu mantap dalam berkendara, termasuk sepeda. Ibu takut menyeberang jalan. Ibu takut berpapasan dengan kendaraan, padahal jalur menuju ke sekolah adalah jalur utama keluar masuk Pasuruan. Bukan hanya kendaraan kecil, truk kontainer besar dan bus jurusan Surabaya – Probolinggo yang terkenal ganas di jalanan adalah penghuni tetap jalan itu. Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan ibu untuk sampai ke sekolah.

Sepeda itu sebenarnya tidak pernah aku gunakan sampai aku duduk di kelas 3. Aku tidak bisa bersepeda. Terlalu takut untuk mengayuh. Bahkan sepeda yang dibelikan bapak untukku pun tak pernah aku gunakan. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk belajar mengendarai sepeda dengan meminjam sepeda milik tetangga yang ukurannya jauh lebih kecil. Literally, kecil.

Setelah bisa menaiki sepeda, sepeda itu aku pakai untuk bepergian kemana pun. Mandi di mata air Sidowayah, terkadang juga sampai ke Bangil bagian paling timur yang sekali lagi tujuan untuk berenang. Bahkan pernah sampai Pandaan. Ah, entahlah sudah sejauh mana lagi saya mengayuh dengan sepeda itu. Sampai aku beranjak SMP, sepeda itu masih aku gunakan sebagai alat transportasi. Sampai akhirnya mengalah dengan kakak sepupu yang harus memakai sepeda itu untuk berangkat kerja.

Kami sekeluarga kembali harus pindah rumah ketika bapak pindah tugas ke Magelang. Lagi-lagi sepeda itu ikut diangkut ke rumah yang baru. Di saat barang-barang di rumah mulai dijual oleh bapak untuk biaya pindah, sepeda itu justru disimpan rapi oleh bapak dan kemudian diangkut bersama ke Magelang. Aku tahu bahwa sepeda itu tidak mungkin dijual dengan alasan apapun.

Ya, sepeda itu adalah bukti perjalanan hidup keluargaku. Dibeli dengan susah payah, sepeda tersebut sudah melalui banyak kejadian. Menjadi saksi bagaimana bapak mengayuh sambil memboncengku ke sekolah. Menjadi saksi bagaimana ibu menjemputku ke sekolah. Menjadi saksi atas bekas luka di lutut kiri karena jatuh dari sepeda itu persis di depan garasi rumah ketika hujan.

Sepeda itu menjadi saksi reformasi 98, runtuhnya rezim Soeharto. Sepeda itu juga sudah melewati referendum Timor-Timur, lengsernya Gus Dur, dijualnya Indosat dan kapal tanker, konspirasi Century, revolusi mental, dan Rio Haryanto jadi pembalap F1. Apa yang direkam sepeda itu sama seperti apa yang aku dan keluargaku rekam sampai saat ini.

Jika orang lain memiliki furnitur berusia puluhan tahun, kamera analog tua, piringan hitam, buku-buku catatan lama, dan barang-barang yang harganya naik seiring berlalunya waktu sebagai sebuah harta keluarga. Aku dan keluargaku memiliki sepeda tua Olympic yang fork-nya sudah sangat melengkung dan siap patah jika dinaiki sebagai sebuah harta keluarga. Sebuah sepeda tua yang dibeli dengan sisa-sisa keringat kerja keras bapak, yang dikayuh dengan penuh cinta, yang diperlakukan layaknya seorang anak. Dan aku sangat berterima kasih atas hadirnya sepeda tersebut. Terima kasih bapak. Terima kasih.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s