Jangan Mati Dulu

“Matilah aku dihajar dingin!”

Umpatku ketika angin kencang Merbabu menghantam tubuhku. Suhu udara mendadak turun, badan yang sudah kelewat lelah ini tak tahan lagi menahan gempuran nafas Merbabu. Aku lantas memakai jaket windbreaker sekaligus dengan inner polar lengkap dengan sarung tangan agar tubuh ini bisa bertahan dari udara dingin yang menusuk. Hasilnya nihil. Tubuh ini masih terus menggigil kedinginan dan makin parah.

“Sudah, berhenti saja di sini. Puncak gunung ini belum akan pindah. Lanjutkan lain hari saja.”

Aku akhirnya membongkar tas besarku untuk mengeluarkan segala keperluan camp. Kompor dinyalakan, apinya cukup panas untuk menghangatkan telapak tangan dan kaki yang mulai mati rasa. Tenda kemudian didirikan segera, supaya bisa berlindung dari hantaman udara yang mendesis bak suara angin dari kompresor. Memanaskan air jadi agenda berikutnya. Perut harus hangat, jangan sampai angin itu masuk ke dalam perut juga. Kopi jadi senjata terkuat saat itu. Bukan tanpa alasan, aku pun terserang migrain parah, hanya kopi satu-satunya obat termurah yang bisa dipakai saat itu.

Badan mulai stabil, sekalipun masih menggigil, tapi tidak lagi dirasa membahayakan seperti beberapa saat lalu. Tidur. Beristirahat. Malam ini usai.

***

“Matilah aku dihajar kenangan!”

Aku sudah setengah mati mencoba berdamai dengan segala keadaan yang serba runyam ini. Aku sudah mencoba melupakan semuanya sebagaimana Tuhan bercanda dengan membuatnya lupa dengan segala ingat tentangku.

Dua. Dua bulan untuk dua bulan. Dua bulan aku mencoba untuk menjadi seseorang yang berarti bagi dia sebelum akhirnya aku harus berjuang kembali selama dua bulan untuk menjadi orang yang bukan siapa-siapa lagi untuknya.

Nada bicaranya, senyumnya, omelan tak penting darinya, dan segalanya yang melekat pada dia seakan muncul kembali dengan sebuah kata singkat yang tak pernah terbayang olehku. Keparat, hancur sudah aku hari itu hanya dengan kata “kangen”.

Aku mencoba mengusir segala imaji yang mendadak muncul kembali dalam pikiran.

“Sudah, berhenti saja di sini. Ingat, kamu bukan lagi sesiapa baginya. Kamu tidak akan bisa bergerak lebih jauh dari ini. Kamu tidak akan berpindah dari posisi ini. Jangan dilanjutkan esok hari.”

Sambil menutup kepalaku dengan bantal, aku mencoba memejamkan mata, berharap imajinasi akan menjadi gelap segelap mata yang tiba-tiba menutup dan kehilangan cahaya. Tidur. Beristiharat. Malam ini usai sudah.

***

“Aku tidak mati-mati!”

Aku bangun dengan pikiran yang tenang, dengan badan yang kuat. Tidak lagi ada khawatir aku akan dihantam perkara-perkara buruk pagi ini. Apa yang terjadi malam itu seakan lenyap begitu saja, padam dan menyisakan harap akan hidup yang aku yakini akan jadi lebih baik.

“Manusia didesain untuk sanggup menghadapi masalah.”

Hendro si ex-produser Banda Neira itu berujar seperti itu padaku dan aku mengamini itu. Ya, jika saja manusia tak sanggup menghadapi masalah, kita semua sudah lama punah dari bumi, sebagaimana kura-kura raksasa Galapagos yang tak sanggup bertahan di bumi ini. Kita bisa maka kita ada.

Manusiawi ketika manusia merasa berada pada titik rendah yang pahit ketika menghadapi sebuah masalah. Manusiawi ketika manusia seakan tidak melihat jalan keluar dari sebuah masalah. Manusiawi ketika manusia tidak merasa lagi ada yang indah di balik sebuah masalah. Semuanya serba manusiawi.

Sama halnya ketika mencecap kopi hitam bubuk sachetan dari pabrik tanpa diberi gula. Pahit njir! Rasanya seperti dalam mimpi, seakan indra pengecap ini tak akan pernah kembali kemampuannya. Semua berasa pahit, tidak ada lagi manis yang tersisa. Padahal semuanya baik-baik saja ketika lidah kembali dibasahi oleh air gula. Tuh, kan tidak apa-apa.

Ya. Semuanya masih baik-baik saja sampai sekarang.

“Pak, kopi Pak!”

Teriakku pada mas-mas di balik meja kasir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s