Didengarkan Diam

Saat itu masih pagi, bahkan matahari belum terbit. Aku membuat segelas teh hangat untukku dan segelas lagi untuknya. Aku pun menyiapkan tempat duduk terbaik di balkon yang langsung menantang ufuk timur, berharap saat nanti matahari terbit, dia bisa menikmati setiap detik rona jingga di timur sana.

“Ini teh untukmu. Minumlah selagi hangat.”, ucapku padanya.

Ada rasa canggung saat akan memulai percakapan dengannya. Entah kapan terakhir kali aku duduk berdua dengannya, aku tak ingat. Dia terlihat sangat tenang, seakan bertemu denganku adalah sebuah pertemuan biasa yang rutin dia lakukan dulu.

“Bagaimana kabarmu?”, tanyaku.

Memang ini sebuah basa basi belaka, aku tahu apa yang dia lakukan selama ini. Bagaimana dia menjalani hidup selama ini. Memang kami sudah lama tak bertemu, tapi aku selalu tahu apa yang dia lakukan. Kemana dia pergi, dengan siapa dia bertemu, atau apa yang dia lakukan saat dia sendiri. Aku selalu tahu itu. Aku akan selalu tahu itu karena begitulah aku.

“Akhir-akhir ini aku mulai sering dirundung masalah. Banyak hal yang tidak berjalan semestinya. Ada kebahagiaan yang perlahan direnggut dari hidupku. Mulai dari perihal rumah yang sampai sekarang tak kunjung juga reda. Aku juga mulai dikurung oleh jarak. Hadirku saat ini mulai lenyap oleh tembok yang tak kasat mata.”

Aku menghela nafas dan menyeruput teh hangat dalam cangkir retak kesukaanku.

“Kau tahu kan bahwa setiap orang berhak untuk berbahagia. Bukan, bukan berhak, tapi wajib berbahagia.”, lanjutku padanya. “Tapi, orang lain senang membatasi kebahagiaan orang lainnya bahkan sampai ke kebahagiaan yang tersederhana sekalipun. Aku, aku hanya ingin didengarkan. Aku berbahagia didengarkan, tetapi rasanya tak banyak orang yang mau mendengarkan. Mereka terlalu sibuk berkomentar tentangku, tentang hidupku, tentang apa-apa yang aku lakukan. Namun, hari ini aku tahu bahwa aku akan didengarkan, tanpa mungkin kamu menyela ucapanku.”

“Kau tahu juga kan bahwa keinginan itu memang tak harus sepenuhnya terwujud? Ada keinginan yang memang hanya bisa jadi ingin, bukan jadi wujud. Tapi, salahkan jika aku ingin sekali saja apa yang aku inginkan itu terwujud? Aku hanya meminta hal sederhana, biarkan aku mencintai. Mencintai seperti ayahku mencintai ibuku. Mencintai seperti ibu mencintai anaknya. Mencintai seperti aku mencintaimu. Nyatanya hal itu tak pernah mudah. Katanya, aku harus berpikir tentang segala hal yang mungkin akan terjadi ketika aku mulai mencintaimu. Pada akhirnya aku harus mengalah pada ego yang berdiri di atas egoku. Karena keinginanku harus mengalah atas keinginanmu.”

“Kau tahu juga bahwa aku dan kamu sangat sulit untuk berbicara tentang aku, kamu, dia, dan mereka? Hal terakhir yang kuingat saat berbicara padamu adalah umpatan kasar. Anjing! Pergi saja kamu dari rumah ini!. Aku minta maaf akan hal itu, aku sudah kelewatan. Tapi, aku mengumpat bukan tanpa dasar. Aku muak dengan kelakuanmu. Kau menganggap dirimu sebagai sang Maha Benar. Bahkan apa yang salah di mata orang kebanyakan, bukanlah sebuah salah di matamu. Ya, aku paham, kau adalah sang Maha Benar. Dan ingatkah saat kau dengan ringan berkata bahwa urusan hati orang lain bukanlah urusanmu. Urusan hatiku bukanlah tanggung jawabmu. Urusan hatiku dengannya bukanlah urusanmu. Urusan hatimu adalah urusan hati orang lain. Ya, kau memang sang Maha Benar. Orang lain tidaklah penting dalam argumenmu.”

“Satu hal lagi yang ingin ku sampaikan saat ini. Pernahkah kau berpikir bahwa diam adalah sebuah jalan keluar? seperti apa yang kau lakukan padaku sampai saat ini? Padahal aku yakin bahwa kau tahu jika perbuatan terkejam adalah membiarkan orang lain melakukan suatu hal secara terus menerus yang dia tahu bahwa itu sia-sia. Sama seperti apa yang kau lakukan. Aku merindumu, rindu akan setiap kata yang keluar dari lisanmu. Rindu akan sebuah masa dimana aku dan kau berbicara tanpa sekat, tanpa hambat. Tapi, kau biarkan aku merindu akan masa itu sendirian. Entah berapa banyak sapaku yang kau abaikan. Ya, aku paham bahwa aku bukan apa-apa jika dibandingkan denganmu. Aku hanyalah remah-remah ingatanmu yang perlahan hilang dari hidupmu. Aku harus sadar bahwa aku tak bisa menuntutmu lebih.”

“Ah, sudahlah, minum tehmu selagi masih hangat. Kau pasti lelah mendengarkanku.”, kataku padanya sambil menyeruput dari cangkir retak kesukaanku.

Matahari mulai naik. Rona jingganya membuyarkan pandanganku. Indah. Sesaat aku terpaku melihat bagaimana sisa-sisa senja di ujung dunia yang lain ini menyapaku hangat. Ketika aku tersadar, dia sudah tak lagi ada di kursi yang kusiapkan untuknya. Cangkir teh miliknya tidak beranjak dari semula, isinya tak berkurang sedikit pun, hanya hangat yang lenyap dari cangkir tersebut.

pagi

“Ah, aku baru sadar ternyata memang kau tidak berada di sampingku sejak awal. Padahal aku ingin sekali berbicara tentangku, tentangmu, tentang apa-apa yang selama ini tak pernah ada titik temu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s