Ayo Dolan Candi (2): Candi Batur dan Candi Selogriyo

Pegunungan merupakan tempat yang dianggap cocok bagi umat hindu atau budha untuk membangun candi. Hal itu tidak lain karena mereka meyakini bahwa dewa-dewa bersemayam di gunung. Maka dari itu, tidak heran jika Magelang memiliki sebaran candi yang cukup banyak karena topografi Magelang yang penuh dengan gunung dan bukit.

Salah satu daerah yang dipenuhi oleh sebaran situs dan candi adalah di daerah Bandongan dan Windusari karena merupakan kaki Gunung Sumbing dan juga terdapat sebuah pegunungan yaitu Pegunungan Giyanti. Di Pegunungan Giyanti inilah terdapat dua buah candi yang merupakan peninggalan agama hindu, dimana salah satunya adalah candi tercantik yang ada di Magelang. Mari kita bahas satu per satu.

Candi Batur

Meskipun diberi nama candi, Candi Batur sebenarnya hanya berupa puing-puing bangunan candi. Nyaris tidak ada bentuk yang tersisa dari candi ini. Batu-batu penyusun candi berserakan tak teratur di bukit dimana Candi Batur berada. Tak sedikit batuan candi yang masih terbenam di dalam tanah. Sedangkan batuan yang berada di permukaan tanah, tak tersusun. Hanya makara di bagian utara dan selatan candi yang masih bisa terlihat dengan cukup baik.

Makara di Bagian Selatan Candi Batut

Makara di Bagian Selatan Candi Batur

Makara yang berada di bagian utara candi hanya tersisa satu bagian saja. Pada makara ini, terdapat ukiran gajah mino yang pada bagian mulut makhluk mitologi tersebut terdapat ukiran burung. Sedangkan pada makara bagian selatan candi masih terdapat dua bagian makara. Meskipun makara tersebut terdapat dalam satu bagian candi, tetapi makara di bagian selatan candi memiliki ukiran yang berbeda. Pada bagian mulut gajah mino, terdapat makhluk kerdil yang disebut gana. Gana ini adalah sebuah makhluk yang posisi badannya seperti menopang sebuah benda. Gana bisa terdapat pada candi budha maupun candi hindu.

Makara di Bagian Utara Candi Batur

Makara di Bagian Utara Candi Batur

Selain makara yang tersisa di bagian utara dan selatan candi, pada bagian tengah dari bangunan candi, terdapat sebuah umpak dan lumpang. Letak lumpang sendiri cukup tersembunyi karena berada di bawah pohon yang di sekitarnya tertutup oleh tumbuhan. Jika tidak melihat dengan seksama, mungkin lumpang ini hanya terlihat seperti batuan candi biasa. Di bagian utara candi juga terdapat saluran air yang terbuat dari susunan batu. Meskipun saat ini saluran air tersebut sudah tidak berfungsi dan sudah tidak ada lagi air yang mengalir, hal ini mengisyaratkan bahwa dahulunya di puncak bukit ini terdapat sumber air yang airnya dialirkan menuju candi.

Batuan Candi Batur

Batuan Candi Batur

Hampir sama dengan kebanyakan candi di daerah Magelang yang tidak memiliki prasasti, candi ini tidak diketahui kapan waktu pembuatannya, dibangun oleh siapa, dan dibangun dalam rangka apa. Hanya ada sebuah rujukan dari literatur Belanda tulisan N.J. Krom yang menyebutkan bahwa Candi Batur dahulunya juga disebut sebagai Candi Selogono. Selebihnya tidak ada data penting lain yang menjelaskan tentang Candi Batur.

Yang menjadikan candi ini unik adalah bagaimana candi ini menjadi daerah singgah warga saat mencari rumput untuk ternak atau sehabis menebang pohon. Tempat ini menjadi tempat bercengkrama warga yang beristiharat dan saya pun sempat merasakan bagaimana suasana tersebut. Suasana hangat, ramah, dan penuh dengan senyum khas dari orang desa. Mereka pun tak segan untuk berbagi makanan yang mereka bawa, meskipun hanya buah hasil kebun yang tumbuh di sekitar bukit di dekat candi. Sungguh sebuah keramahan yang mungkin tidak akan ditemui ketika mampir ke candi besar macam Candi Borobudur.

Candi Selogriyo

Menurut saya, ini adalah candi dengan pemandangan terbaik yang ada di Magelang. Meskipun hanya sebuah candi kecil, Candi Selogriyo dibangun di daerah bukit dan menghadap ke timur langsung menantang matahari terbit. Berbeda dengan Candi Batur yang tertutup rimbunnya pepohonan, Candi Selogriyo justru berada di tempat yang cukup terbuka sehingga cahaya matahari bisa dengan leluasa menerpa bangunan candi.

Pertama kali candi ini ditemukan oleh seorang Residen Magelang, Hartman, pada tahun 1835. Kondisi candi belum seperti sekarang, saat itu candi masih dalam keadaan porak poranda. Atas inisiatif Hartman pula, kemudian dibentuk tim untuk merekonstruksi candi ini sehingga terlihat seperti sekarang.

Candi Selogriyo

Candi Selogriyo

Candi Selogriyo masuk dalam kategori candi kecil karena bangunannya hanya berukuran 5,2 m x 5,2 m dengan tinggi bangunan mencapai 4,9 m. Candi ini berupa candi tunggal tanpa candi perwara atau candi pendamping. Bentuk dari candi ini pun unik, terutama di bagian kemuncak. Bagian kemuncak Candi Selogriyo menyerupai bentuk dari buah keben, buah yang sering juga disebut sebagai buah dari pohon kalpataru.

Arca-arca yang terdapat pada Candi Selogriyo ini masih lengkap. Pada bagian depan candi terdapat patung Mahakala dan Nandiswara, dewa penjaga candi dan juga dewa mata angin. Di bagian utara terdapat arca Durgamahesasuramardini, sati dari Syiwa. Di bagian barat terdapat arca Ganesha yang merupakan Dewa Ilmu Pengetahuan sekaligus simbol dari penolak bala. Dan di bagian selatan terdapat arca Agastya. Dari kelima arca tersebut, hanya arca Agastya yang memiliki bentuk relatif utuh, selebihnya hanya arca tanpa kepala. Berdasarkan cerita yang didapat dari penjaga candi, arca tersebut memang sudah lama tak berkepala, mungkin sudah rusak sejak pertama kali ditemukan. Kecuali arca Agastya yang sempat akan dicuri, tetapi diketahui penjaga.

Di bagian agak ke selatan dari candi, terdapat sebuah pertirtaan yang airnya sangat jernih. Bahkan saking jernihnya, air dari mata air ini bisa langsung dikonsumsi tanpa pengolahan terlebih dahulu. Jika lidah kalian peka, maka akan muncul rasa manis dari air tersebut meskipun cukup samar. Di sekitar candi juga terdapat beberapa batuan yang menyerupai kenong (bonang), lingga dan yoni, juga terdapat kotak peripih tempat penyimpanan syarat untuk membangun candi yang terdiri dari 9 elemen.

Petirtaan Candi Selogriyo

Petirtaan Candi Selogriyo

Batuan Candi

Batuan Candi (Batu Kenong, Lingga, Yoni, dan Kotak Peripih)

Candi Selogriyo juga pernah mengalami longsor pada 31 Desember 1998. Sebagian besar bangunan candi rusak parah sehingga memerlukan renovasi dan relokasi. Relokasi sendiri tidak jauh dari lokasi longsor, hanya saja dipilih tempat yang lebih stabil. Renovasi Candi Selogriyo rampung pada tahun 2005.

Ada sebuah cerita yang baru-baru ini saya dengar dari teman saya yang sebut saja dia bisa berkomunikasi dengan dunia gaib. Menurut teman saya, candi ini dibangun untuk persembahan kepada wanita, entah itu dewi atau istri raja, mirip dengan bangunan Taj Mahal yang dibangun untuk menghormati istri raja. Dan lagi, tidak hanya Candi Selogriyo yang dibangun untuk persembahan, melainkan ada 3 candi yang membentuk posisi segitiga dan mengelilingi Pegunungan Giyanti.

Namun, hal tersebut belum bisa dipercayai sepenuhnya, mengingat tidak ada literatur yang valid untuk dijadikan acuan. Nihilnya prasasti dan juga minimnya tulisan mengenai Candi Selogriyo menjadikan candi ini diliputi tanda tanya seputar kegunaan dan tujuan dari pembangunan candi.

Kedua candi ini, bagi saya cukup menarik. Untuk mencapai candi diperlukan usaha lebih, kita harus tracking melewati jalan setapak yang ada. Di Candi Batur, jalan setapak yang ada cukup sempit dan jalannya pun terjal. Tak panjang memang, tapi cukup untuk membuat betis kencang dan nafas memburu. Saat musim hujan, jalan setapak tersebut menjadi licin akibat lapisan lumut yang tumbuh di atas paving.

Sunrise di Candi Selogriyo. Matarahi Terbit di Antara Gunung Andong dan Gunung Telomoyo

Sunrise di Candi Selogriyo. Matarahi Terbit di Antara Gunung Andong dan Gunung Telomoyo

Panorama di Jalur Candi Selogriyo

Panorama di Jalur Candi Selogriyo

Berbeda dengan Candi Batur, jalur menuju Candi Selogriyo sangatlah panjang, sekitar 1,5 km dari tepi jalan raya. Jalannya pun terjal, meskipun ada jalur yang datar. Namun, jangan khawatir, kalian akan disuguhi pemandangan yang luar biasa indah ketika menuju Candi Selogriyo. Hamparan terasiring sawah yang menghijau, dikelilingi bukit-bukit yang masih asri, membuat perjalanan menuju Candi Selogriyo sangat menyenangkan. Belum lagi jika kalian memiliki waktu luang yang cukup banyak sehingga bisa bangun pagi dan berangkat ke Candi Selogriyo untuk menikmati matahari terbit. Saya jamin kalian akan benar-benar terpesona dengan candi yang satu ini. Hanya dengan satu syarat; cuaca sangat cerah.

Sebelum saya akhiri tulisan ini, saya akan menekankan lagi bahwa berinteraksilah dengan warga. Jangan andalkan GPS dari smartphone kalian karena saya yakin 250% bahwa kedua candi ini tidak terdaftar di peta, bahkan mungkin jalur menuju candi tersebut tak tergambar di peta. Petunjuk dari saya, arahkan ke Windusari, satu candi di Desa Kembang Kuning, satunya di Candisari.

Selamat berjelajah kawan!

8 thoughts on “Ayo Dolan Candi (2): Candi Batur dan Candi Selogriyo

  1. Wohoo.. Tulisan tentang candinya bertambah lagi. Sangat menarik.
    Saya baru tahu tentang Candi Batur dari tulisan ini. Cerita di balik pendirian Candi Selogriyo sebagai persembahan juga menarik. Ah, andai ada literatur yang mendukung, jadi kan bisa diverifikasi.
    Eh, rasa manis air dari Candi Selogriyo itu baru bisa saya rasakan saat sampai di rumah. Saya beruntung bisa merasakannya. Oiya, foto sunrise-nya cakep..

  2. Mantapppp… jadi yang resiko trekking bocor betis di candi yang mana? hehehe
    Oh ya kenapa air yang mengalir di Candi Selogriyo berasa manis? Sudah adakah yang menelitinya?

    • Dua-duanya berisiko bikin betis bocor. Silakan tanya ke Mbak Zizah yang udah ngerasain tracking Selogriyo.😀

      Terkait air yang berasa agak manis, belum tau apa ada yang udah meneliti. Perkiraanku sih ada kandungan mineral yang mungkin menyebabkan rasa manis itu. Tapi memang samar rasanya.

  3. wah candi selogriyo.jadi teringat jaman smp naik sepeda tiap minggu kesana.perjalanan dari kampus untid.hehe

  4. Ulasan percandian oleh ahlinya memang mantap. Infonya komplit. Bagus mas!😀

  5. ingat th. 1980 waktu stm hiking kesan

  6. Nice post. Bisa jadi referensi nih😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s