Ayo Dolan Candi (1): Candi Lumbung, Candi Asu, dan Candi Pendem

Candi Borobudur, Magelang. Bukan Yogyakarta.

Candi Borobudur, Magelang. Bukan Yogyakarta.

Kabupaten Magelang sudah tidak diragukan lagi sebagai salah satu gudangnya candi di Jawa Tengah. Hal ini tidak lain karena Kerajaan Medang atau yang biasa disebut sebagai Kerajaan Mataram Kuna pernah mendiami daerah ini. Peradaban pada masa itu tumbuh pesat baik secara ekonomi, budaya, maupun religi. Salah satu yang menjadi bukti kuat adalah adanya bangunan candi yang megah seperti Candi Borobudur yang sampai sekarang masih bisa kita lihat dengan jelas.

Namun, candi di Magelang bukan hanya sebatas Borobudur, masih banyak candi lainnya yang tersebar hampir di seluruh penjuru Magelang. Beberapa bisa ditemukan dengan kondisi baik, beberapa lainnya hanya bisa disusun sebagian, bahkan ada candi yang masih berupa puing-puing yang belum tersusun sama sekali. Bagi saya, adanya candi yang belum bisa direkonstruksi kembali itu lumrah karena memang pembangunan kembali sebuah candi tidaklah mudah, batuan candi tidak sepenuhnya bisa ditemukan dan disusun ulang. Hal tersebut tidak terlepas dari bencana dahsyat yang meluluh lantahkan bumi Magelang pada tahun 1006 oleh letusan Gunung Merapi. Letusan yang juga mengakhiri peradaban Hindu-Budha di Magelang dan Yogyakarta.

Baiklah, kembali ke bahasan pokok. Sebaran candi yang ada di Magelang sebenarnya bisa di kategorikan menurut lokasi. Misalnya, di daerah utara Magelang terdapat dua buah candi yang bisa dikunjungi meskipun jaraknya tidak terlalu berdekatan, yaitu Candi Retno dan Candi Umbul. Kemudian di sisi barat ada Candi Selogriyo dan Candi Batur yang bersembunyi di lipatan perbukitan Giyanti. Di sekitaran Borobudur bisa ditemui Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut. Candi Ngawen dan Candi Gunung Sari bisa dikelompokkan sebagai satu kawasan candi di daerah Muntilan. Kemudian ada Candi Gunung Wukir dan Candi Losari yang berada di selatan Kabupaten Magelang. Yang terakhir ada Candi Lumbung, Candi Asu, dan Candi Pendem yang berada di lereng Gunung Merapi yaitu di daerah Sawangan dan Dukun.

Candi-candi yang berada satu area tersebut bisa dikunjungi dalam sekali perjalanan karena jarak antarcandi yang tidak terlalu jauh. Bahkan beberapa terletak sangat berdekatan sehingga hanya perlu berjalan kaki untuk menuju candi lainnya. Waktu tempuh pun tidak memakan waktu yang lama kecuali untuk dua candi yang berada di perbukitan Giyanti yaitu Candi Selogriyo dan Candi Batur. Letaknya yang berada di perbukitan mengharuskan kita melakukan tracking untuk sampai ke candi, bahkan jalan menuju Candi Batur hanya sebuah jalan setapak yang cukup terjal dan bersebelahan dengan jurang. Bahasan mengenai kedua candi tersebut akan ditulis pada edisi yang akan datang. Kali ini saya akan membahas mengenai Candi Lumbung, Candi Asu, dan Candi Pendem yang berada di bagian lereng Gunung Merapi di daerah Sawangan dan Dukun.

Candi Lumbung

Seperti namanya, candi ini diperkirakan dahulunya difungsikan sebagai lumbung (tempat penyimpanan hasil bumi). Hal tersebut bisa dilihat dari bentuk candi yang menyerupai lumbung. Dari bentuknya pula, bisa dilihat bahwa candi ini adalah candi yang bercorak agama Hindu peninggalan Kerajaan Mataram Kuna. Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai kapan dibangunnya candi ini mengingat tidak adanya prasasti yang bisa jadi rujukan tentang Candi Lumbung.

Candi Lumbung

Candi Lumbung

Candi Lumbung memiliki ukuran yang tidak begitu besar, hanya berukuran 8,7 m x 8,7 m. Tinggi bangunan candi 8 m. Pada bagian tengah candi terdapat sebuah sumur candi yang difungsikan sebagai tempat menyimpan kotak peripih. Candi Lumbung tidak memiliki candi pendamping (candi perwara) dan hanya berdiri sebagai candi tunggal. Candi ini memiliki hiasan layaknya candi hindu pada umumnya. Pada dinding-dinding candi terdapat ornamen berbentuk sulur-sulur tumbuhan, hewan berupa burung kakak tua, dan juga terdapat ukiran Gana.

Relief Gana

Relief Gana

WP_20140622_10_06_52_Pro

Relief Burung Kakak Tua dan Sulur

Pada tahun 2011, Candi Lumbung dipindahkan dari lokasi asal yaitu di tepian Sungai Apu, di Desa Sengi, Dukun ke Desa Tlatar, Sawangan. Hal ini disebabkan oleh kondisi tanah yang rawan longsor akibat dari terjangan lahar dingin hasil dari erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010. Dengan pertimbangan tersebut, Candi Lumbung akhirnya dipindahkan ke sebuah tanah lapang milik Kepala Desa. Tanah tersebut disewa selama 5 tahun untuk bangunan candi terhitung sejak tahun 2011 yang artinya dua tahun mendatang candi ini harus sudah memiliki lokasi baru atau tetap di lokasi yang sama dengan perpanjangan kontrak sewa lahan.

Pada saat ini, Candi Lumbung belum bisa direkonstruksi sepenuhnya karena masih banyak batuan candi yang belum ditemukan pasangannya sehingga sulit untuk disusun kembali terutama pada bagian atap candi. Batuan-batuan yang belum tersusun tersebut diletakkan di sebelah bangunan candi sambil menunggu giliran dipasang yang entah kapan datang.

Candi Asu

Apa yang kalian bayangkan ketika mendengar kata “Asu”? Jika “Anjing” adalah kata pertama yang terlintas, maka kalian tidak salah. Ya, candi ini disebut sebagai Candi Asu karena pernah ditemukan sebuah arca nandi yang kondisinya sudah sangat aus sehingga lebih mirip anjing (asu) daripada sapi. Selain itu, kata “Asu” juga diperkirakan berasal dari kata “Ngaso” atau istirahat dalam Bahasa Indonesia. Kemungkinan memang candi ini dahulunya digunakan sebagai tempat ngaso oleh para pendeta.

Candi Asu, yang nangkring bukan saya.

Candi Asu, yang nangkring bukan saya.

Dari bukti yang ditemukan di lapangan, Candi Asu memiliki corak Hindu. Hal ini terlihat dari arca nandi yang ditemukan di area candi. Nandi sendiri adalah sebuah sapi yang menjadi wahana Dewa Syiwa. Kemudian di dalam candi juga pernah ditemukan dua buah prasasti yang berbentuk lingga. Prasasti tersebut adalah Prasasti Sri Manggala I (874 M) dan Sri Manggala II (874 M).

Ukiran Sulur di Dinding Candi Asu

Ukiran Sulur di Dinding Candi Asu

Candi Asu memiliki bentuk persegi dengan ukuran 7,94 m x 7,94 m. Tinggi bagian kaki candi adalah 2,5 m, sedangkan tinggi tubuh adalah 3,5 m. Candi ini dihiasi dengan ornamen-ornamen sulur pada dinding candi. Juga terdapat relief Gana pada dinding dalam candi. Sayang, Candi Asu tidak dapat disusun kembali secara utuh, terutama pada bagian atap candi. Sampai saat ini, tinggi atap Candi Asu tidak pernah diketahui karena sebagian besar batuan penyusun atap candi sudah hilang.

Candi Pendem

Letak Candi Pendem tidak jauh dari Candi Asu, hanya berjarak sekitar 200 m. Letaknya yang berada di tengah lahan perkebunan warga, agak menyulitkan untuk dicapai. Salah-salah, kita bisa keliru lokasi karena memang tidak terlihat dari kejauhan.

Relief Gana Candi Pendem

Relief Gana Candi Pendem

Candi Pendem dan Para Pengunjung

Candi Pendem dan Para Pengunjung

Sesuai dengan nama yang tersemat pada candi ini, Candi Pendem memang terpendam (pendem, Bahasa Jawa) sedalam 3 meter di bawah permukaan tanah. Kemungkinan candi ini juga menjadi korban amukan Gunung Merapi, melihat dari posisinya yang berada di bawah permukaan tanah dan batuan candi yang masih banyak berserakan di sekitar area candi. Candi Pendem yang bercorak Hindu ini diperkirakan dibangun pada masa yang sama dengan Candi Asu.

Tak banyak yang tersisa dari Candi Pendem. Hanya kaki candi yang relatif utuh dan masih bisa dilihat meskipun di beberapa tempat ditemukan batu candi yang dipasang tidak pada tempatnnya sehingga posisi batu tidak mapan. Terdapat beberapa ornamen yang masih bisa dinikmati seperti relief Gana yang terdapat di beberapa sudut kaki candid an juga antefik-antefik dengan ukiran yang cantik. Sama seperti Candi Lumbung dan Candi Asu, Candi Pendem juga memiliki sumuran candi, hanya saja ukuran sumuran Candi Pendem lebih besar dan lebih dalam jika dibandingkan dengan Candi Asu.

Ada satu persamaan yang terlihat jika kita mengamati semua candi tersebut. Seluruhnya menghadap ke Meru, yang pada candi-candi tersebut Meru merujuk pada Gunung Merapi. Hal ini tidak mengherankan karena umat Hindu menganggap bahwa Meru adalah tempat bersemayam para dewa, tempat suci. Oleh karena itu, candi-candi yang mereka bangun pasti akan diarahkan ke Meru. Kemudian candi-candi tersebut masih berada dalam satu area yang sama, yang kemungkinan juga dibangun pada masa yang sama.

Jika kalian ingin mengunjungi candi-candi tersebut, arahkan saja kendaraan kalian menuju Sawangan atau Dukun, Magelang. Setibanya di daerah tersebut, silakan bertanya pada orang sekitar, berinteraksilah dengan warga supaya perjalanan kalian menyenangkan dan memberikan kesan. Jangan melulu mengandalkan peta satelit untuk mencapai sebuah lokasi karena tak semua lokasi candi bisa ditemukan melalui satelit. Penduduk lokal adalah tour guide terbaik, maka berinteraksilah dengan mereka, berkomunikasilah dengan mereka. Bukankah kita ini makhluk sosial? Dan bukankah berinteraksi dengan orang lain juga bagian dari bersosialisasi? Entahlah.

Selamat menjelajah kawan, ayo dolan candi!

3 thoughts on “Ayo Dolan Candi (1): Candi Lumbung, Candi Asu, dan Candi Pendem

  1. Aku baru tahu tentang ketiga candi itu lewat tulisan ini. Kayaknya tiga candi itu (dan beberapa temennya) nggak disebutkan di buku sejarah deh (atau aku yang kurang baca ya). Tulisannya keren banget. Aku menunggu ulasan berikutnya..
    Oiya, kalau batuan candi terus menerus dipegang, apakah tidak rusak? Aus, mungkin? Kok rasanya sayang ya, kalau dipegang-pegang begitu (apalagi sampai diinjak), hehe.😀

    • Candi-candi kecil seperti ini memang selalu luput dari pelajaran sejarah yang ada di sekolah. Banyak materi sejarah di buku justru membahas sejarah luar daripada sejarah bangsa sendiri.
      Batuan candi sebenernya ga beda jauh sama batu lainnya. Ya, kalo kena gesekan, lama-lama pasti aus. Sama kyk nasib Borobudur yg batuan candinya makin aus, sambungan antar batu juga banyak yg udah goyang karena tiap hari diinjak-injak pengunjung. Baiknya sih dibatesin biar ga overload.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s