Sawarna Trip (2): Second Impression

Sepotong ikan laut berukuran besar sudah terhidang di piring, semua peserta dalam rombongan ini bersiap untuk makan siang. Dengan lahap, kami semua menyantap hidangan laut tersebut. Semua anggota rombongan tampak puas dengan hidangan siang itu, terlihat dari ikan yang hanya tersisa bagian tulang saja. Seusai makan, kami semua berisitirahat di pondokan kami sambil menunggu jadwal kegiatan berikutnya.
Hari ini adalah akhir pekan yang biasanya menjadi hari terpadat dari sebuah tempat wisata, tak terkecuali untuk tempat ini. Sawarna yang saya bayangkan adalah sebuah tempat yang tenang, yang jauh dari hiruk pikuk manusia, tapi nyatanya tempat ini tak jauh beda dari tempat wisata pada umumnya. Ramai, penuh sesak dengan manusia. Rombongan turis datang silih berganti, saya hanya terpaku melihat pemandangan seperti ini. Terlalu banyak pengunjung. Itu yang saya pikirkan.

Makin siang, Sawarna makin menampakkan wajah aslinya. Kendaraan bermotor makin banyak yang masuk ke area pemukiman warga, deru kendaraan bermotor saling berbalasan dari ujung jalan satu dan ujung jalan lainnya. Pengunjung yang baru tiba di Sawarna sibuk mencari home stay yang masih tersedia di area pemukiman. Tak kalah pula anak-anak muda kampung setempat ikut meramaikan hiruk pikuk siang itu. Mereka berlalu-lalang dengan motor trondol dan berknalpot racing memekakkan telinga. Pemandangan yang khas dari pemuda daerah.

Matahari makin bergulir ke barat, makin dekat dengan cakrawala. Cuaca mulai sedikit bersahabat, kegiatan pun dilanjutkan. Kami semua diajak untuk melihat pantai yang menjadi andalan di Sawarna. Sebuah pantai yang diberi nama “Tanjung Layar”. Foto tempat ini sudah terpampang jelas di sebuah rumah yang tepat berada di seberang home stay yang saya tinggali. Sebuah pantai dengan dua buah karang besar yang seakan membentuk layar perahu yang sedang terkembang.

Untuk mencapai Tanjung Layar, kami harus berjalan kaki sekitar 1,5 km dari tempat kami menginap. Kami harus melewati pemukiman warga terlebih dahulu, kemudian menyusuri pantai, dan barulah sampai ke Tanjung Layar. Ada hal yang menarik ketika melewati barisan rumah warga yang juga berfungsi sebagai home stay. Sebuah tulisan besar terpampang di sebuah banner. “Selamat Datang di daerah biodiversity Sawarna”

Saya hanya tersenyum kecut melihat tulisan tersebut. Biodiversity my ass. Tempat ini jauh dari kata biodiversity. Keanekaragaman hayati disini tak banyak, keanekaragaman manusia yang justru banyak. Jika benar ini adalah kawasan biodiversity, harusnya tidak ada sampah berserakan di sepanjang jalan menuju pantai, tidak pula eksplorasi wisata berlebihan macam ini. Ini sih tidak ada bedanya dengan tempat wisata pada umumnya.

Pantai di daerah Sawarna ini memang jadi tumpuan utama para penduduk, tetapi nampaknya tidak dikelola dengan baik. Sepanjang pengamatan saya, tidak ada rambu-rambu yang melarang aktivitas berenang di pantai dan tidak ada pula petugas penjaga pantai. Padahal tipikal pantai ini adalah pantai berkarang dengan ombak besar yang bisa datang kapan saja mengingat pantai ini langsung berhadapan dengan Samudera Hindia. Dan benar saja, tak lama kemudian sebuah insiden terjadi.

Batu karang di tepian pantai terlihat anggun dan seakan melambai mengajak orang untuk berfoto di atas batu tersebut. Teman saya menuruti apa keinginan si batu karang dan bersiap berpose di atas batu karang. Belum siap untuk berfoto, ombak besar datang menghantam karang dan dengan cepat air laut menyapu ke atas karang. Teman saya berteriak keras karena kakinya mulai terseret ombak. Tidak ada petugas yang datang, satu pun tidak. Saya dan teman yang lain berusaha untuk membantu bocah itu keluar dari masalahnya. Beruntung saja masih bisa diselamatkan, coba saja jika dia benar-benar tersapu ombak. Selesai sudah piknik turis ini.

Pantai Batu Layar

Pantai Batu Layar

Tanjung Layar masih belum tampak, masih berada di ujung jalan setapak yang kami lalui. Sesekali kami berhenti, mengambil foto kemudian kembali berjalan. Begitu sampai di Tanjung Layar, kami disambut dengan deburan ombak besar yang menghantam tepian batu karang. Hantaman ombak tersebut menghasilkan semburan air setinggi hampir 4 meter. Saya langsung saja memutuskan untuk tidak mendekati karang tersebut. Ombak tersebut adalah pertanda alam bahwa manusia dilarang mendekat.

Namun, namanya saja manusia, makin dilarang, makin ingin untuk mencoba. Sama seperti Adam dan Hawa yang akhirnya harus diusir ke bumi karena melanggar larangan untuk memakan buah quldi. Turis-turis ini justru sangat girang dan makin mendekat ke karang yang berbentuk layar tersebut, termasuk teman-teman saya yang lain bersikeras untuk mendekat. Mereka seakan terhipnotis dengan pertunjukan ombak. Makin besar ombak, makin girang mereka. Dan lagi-lagi insiden terjadi.

Kali ini ombak benar-benar besar, menepi dengan kecepatan yang luar biasa, dan langsung menghantam tepian karang. Namun, karang besar itu tidak sanggup untuk menahan sepenuhnya kekuatan ombak dan si Ombak masih terus melaju dengan kencang di atas permukaan karang. Alhasil, beberapa pengunjung dan salah satunya adalah seorang wanita, tersapu kemudian terjatuh dan terseret beberapa meter oleh ombak besar tadi, tetapi masih bisa berdiri kembali. Kontan saja “penjaga pantai” langsung meniup peluit dan berteriak kencang-kencang agar para pengunjung segera menepi. Ya, hanya berteriak dari tepian pantai dan tidak berusaha menolong pengunjung. Apanya yang petugas pantai.

Nampaknya para turis ini bukanlah tipe orang yang belajar dari pengalaman. Insiden yang baru saja terjadi sepertinya sudah mereka lupakan dan kembali bersenang-senang, termasuk teman-teman saya yang sedari tadi tidak tampak karena mereka berada di balik karang. Si Ombak juga seakan makin semangat dan rajin untuk menepi dengan cepat, mencoba menghibur para turis yang terus histeris setiap kali si Ombak datang. Begitu pula dengan para penjaga pantai yang benar-benar hanya menjaga pantai tapi bukan lautnya itu pun ikut histeris setiap kali ombak datang. Peluit, teriak, peluit, teriak, tapi tidak bergeming dari tempat mereka berdiri.

Makin sore, ombak makin besar dan para penjaga pantai ini akhirnya bergerak juga untuk memaksa para pengunjung agar meninggalkan tempat ini. Ini baru namanya pahlawan kesorean. Ketika ombak sedang besar-besarnya, mereka justru tenang di tepian pantai.

Debur Ombak Pantai Batu Layar

Debur Ombak Pantai Batu Layar

Acara menantang ombak sore ini selesai sudah, para turis ini kembali ke pondokan masing-masing. Kami melewati jalur yang sama dengan jalur yang kami tempuh sewaktu berangkat ke Tanjung Layar. Sesekali mencoba melihat karang yang telah berusaha mencari teman tadi sore yang sekarang sudah tak kelihatan bentuknya karena air makin pasang. Saya pun kembali melihat tulisan “Selamat Datang di daerah biodiversity Sawarna”, saya hanya bisa tertawa melihatnya. Lucu.

Begitu sampai di pondokan, kami semua bergantian untuk mandi. Dan makan malam pun disiapkan oleh pihak agen perjalanan. Tak banyak kegiatan yang dilakukan malam ini. Hanya sekedar bercanda gurau sebelum akhirnya tertidur. Besok masih ada kegiatan susur pantai di pagi hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s