Sawarna Trip (1) : First Impression

Matahari sudah terbit, artinya sudah lebih dari 8 jam saya berkendara dari Jakarta menuju Sawarna, Banten, dan saat itu saya belum juga tiba di tempat tujuan. Jalanan yang rusak membuat kendaraan yang tumpangi harus berjalan sangat pelan, belum lagi ditambah kendaraan yang sebenarnya tidak laik jalan membuat perjalanan ini makin lama dan menantang maut. Bagaimana tidak, pintu penumpang yang persis berada di sebelah saya mendadak rusak dan terbuka sendiri. Usut punya usut, ternyata kendaraan yang saya tumpangi baru saja mengalami kecelakaan dan langsung digunakan kembali untuk mengangkut penumpang. Sebuah hal yang sangat sembrono menurut saya karena pihak travel agent menggunakan kendaraan yang tak layak jalan dan hal ini membahayakan penumpang.

Perjalanan pun dilanjutkan setelah beberapa saat supir mencoba memperbaiki pintu kendaraan yang rusak. Alih-alih memperbaiki pintu yang rusak, si Supir justru menyarankan saya untuk berhati-hati di sepanjang perjalanan. Saya paham, si Supir ini tak bisa memperbaiki pintu kendaraan yang sudah rusak ini. Benar-benar sebuah first impression yang sangat buruk bagi saya terhadap travel agent ini.

Setelah melewati kawasan perkebunan kelapa sawit, tempat pengepulan batu bara, dan perkebunan kelapa yang entah berapa lama saya lewati, saya akhirnya tiba di lokasi yang saya tuju, Kawasan Wisata Sawarna. Ini adalah kali pertama saya menapakkan kaki saya di Banten bagian, selama ini titik terjauh yang pernah saya tapaki di Banten hanyalah Tangerang yang tergolong sudah maju. Sedangkan, untuk daerah Banten yang lebih jauh seperti Sawarna ini belum pernah saya sambangi. Terbayang dalam pikiran pun tidak. Begitu sampai di Sawarna, saya sedikit terkejut, tempat ini jauh dari kata “sepi”, yang ada justru keramaian yang luar biasa.

Hiruk pikuk Sawarna sudah dimulai sejak pagi. Kendaraan mini bus berjejer di sepanjang jalan raya dan tanah lapang milik warga yang disulap menjadi lahan parkir. Para pedagang pun sudah siap dengan barang dagangannya, tak terkecuali para tukang ojek yang siap mengantarkan pengunjung untuk mencapai home stay yang ada di sekitaran pantai.

Untuk mencapai home stay, saya dan rombongan harus menyeberangi sebuah jembatan gantung yang menghubungkan jalan raya dengan kampung Sawarna. Ini adalah satu-satunya akses termudah yang bisa dilalui untuk menuju kampung. Tak hanya pejalan kaki yang melewati jembatan ini, sepeda motor pun ikut menyeberang melalui jembatan ini. Satu per satu kendaraan dan manusia bergantian untuk melewati jembatan ini karena jembatan ini tidaklah lebar, tak lebih dari 1 meter saja. Sensasi pertama yang saya rasa rasakan ketika melewati jembatan ini adalah tubuh saya serasa diajak terus mengayun oleh jembatan ini. Belum lagi ekstra guncangan ketika kendaraan bermotor ikut menyeberang bersama.

Sekitar 5 menit berjalan, saya sampai di home stay, meletakkan barang dan kemudian beristirahat sejenak sebelum jadwal kegiatan selanjutnya dimulai. Sejenak itu berarti benar-benar sebentar, mungkin tak sampai setengah jam saya bisa berbaring dan memejamkan mata. Suara riuh kendaraan terasa sangat memekakkan telinga. Ini masih cukup pagi, tetapi tempat ini sudah sangat bergeliat untuk menyambut hidup. Saya yang sudah tak bisa tidur, terpaksa harus bangun sambil mencoba menahan beratnya mata yang berkantung.

Semua peserta trip dikumpulkan, berupa wajah terlihat di sini. Ada yang masih muka bantal, ada yang sudah segar, ada yang sangat bersemangat, ada pula yang terlihat datar. Asing. Saya merasa cukup terasing dengan kondisi seperti ini, mengingat selama ini saya lebih sering untuk bepergian ke sebuah tempat “wisata” seorang diri, tanpa itinerary, tanpa destinasi yang terencana, pokoknya serba spontan. Namun, di sini saya dipaksa untuk mengikuti apa yang dijadwal kan oleh travel agent. Pukul 07.00 kegiatan dimulai, 10 menit kemudian peserta berangkat, 30 menit kemudian peserta tiba di pos pertama, 1 jam kemudian peserta sudah harus tiba di lokasi utama. Setiap kegiatan diatur sedemikian rinci, seolah tidak akan ada celah untuk ngaret.

Ternyata masih di Indonesia. Itinerary panitia bubar jalan seketika, tak ada lagi yang namanya tepat waktu. Saya mengabaikan kolom “pukul” pada lembaran itinerary saya, sekarang hanya fokus pada kolom “kegiatan” yang isinya juga tidak begitu penting.

Perjalanan pertama dimulai, tujuan kami semua adalah sebuah goa yang terletak entah dimana, Goa Lalay, hanya travel agent yang mengetahui tempat itu. Kami semua bergerak bak sapi yang dicocok hidungnya, mengikuti kemana arah sang Pemandu berjalan. Ke utara kami ikut ke utara, ke timur kami ikut ke timur. Kami membelah perkampungan warga, beberapa kali melewati lapangan, kemudian melewati sawah, tepian kali, dan tak lupa kuburan warga. Kawan saya yang berasal dari Jakarta bergumam tentang indahnya hijau petak-petak sawah berisi tanaman padi, tentang bagaimana jernihnya aliran sungai kecil di sepanjang perjalanan kami. Wajahnya riang sekali mendapati pemandangan indah yang dibalut dengan cuaca cerah ini. Namun, bagi saya ini hal yang biasa. di Magelang, sawah masih terhampar luas, sungai jernih bisa ditemui di banyak tempat, tak perlu bepergian sampai 8 jam perjalanan untuk menikmati hal seperti itu.

Sawah sebelum tiba di goa (Foto: Yosi)

Sekitar 1 jam kami berjalanan, kami akhirnya tiba di mulut Goa Lalay. Lagi-lagi sudah ramai, entah kami rombongan ke berapa yang tiba di goa ini. Saya langsung bergerak mendekati sebuah papan yang berisi peta goa sekaligus deskripsi mengenai tingkat kesulitan jalur-jalur yang ada di dalam goa. Menarik. Setelah sekian lama tidak susur goa, akhirnya saya bisa mencicipi lagi sensasi kegelapan goa.

Petugas penjaga goa memberikan petunjuk singkat dalam menjelajah goa. Alat elektronik wajib dititipkan di pos penjagaan, sandal jepit juga wajib untuk ditinggal, nyeker lebih baik menurut penjaga. Siapkan lampu senter untuk penerangan selama di goa. Petugas juga memberi tahu jalur-jalur mana saja yang boleh dilewati oleh turis macam kami. “Yang ini tidak boleh, jalur ini terlalu berbahaya untuk dilewati. Yang ini juga, ini jalur vertical. Jadi kalian hanya boleh melewati jalur ini.”, kata petugas sambil menunjuk ke jalur pendek yang ada di peta. Sepertinya susur goa ini tidak akan berlangsung lama.

Kami semua mulai bergerak menuju mulut goa yang tak jauh dari pos penjagaan. Satu per satu rombongan turis ini mulai memasuki goa, lampu senter dinyalakan, semua berjalan perlahan-lahan. Saya mengambil giliran agak belakang, menunggu teman-teman lain masuk sembari berjaga-jaga jika saja ada teman yang butuh bantuan. Benar saja, belum lama memasuki goa, teman saya sudah mengalami kram jari kaki. Memang tak terlalu parah, tapi kram jari kaki bisa jadi sangat mengganggu kenyamanan berjalan. Saya mencoba membantu, mencoba untuk melemaskan jari kaki teman saya secara perlahan-lahan. Berhasil. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Ramai kan? (Foto : Yosi)

Ramai kan? (Foto : Yosi)

Di dalam goa, keadaan begitu sesak. Puluhan, mungkin ratusan manusia berjejal di dalam goa. Satu rombongan masuk, disusul rombongan berikutnya. Belum lagi rombongan depan yang bergantian untuk keluar dari goa. Sumpek yang saya rasakan di dalam goa ini, meskipun langit-langit goa jauh di atas kepala. Yang bisa saya lakukan hanyalah menunggu giliran untuk terus masuk ke dalam goa yang sudah seperti pasar ini, sudah kepalang tanggung untuk kembali ke titik awal goa.

Goa ini adalah goa yang juga menjadi sungai, selalu basah tak peduli musim apa pun. Para turis ini perlahan-lahan menyeret kaki mereka untuk melewati aliran sungai kecil ini. Sesekali terlihat ada yang terjerembab, sesekali ada mencoba bersandar pada dinding gua yang berstalagmit. Oh, terima kasih, si stalagmit kini tak mungkin lagi tumbuh.

Dead end. Saya kecewa, rasanya belum lebih dari 15 menit saya masuk ke dalam goa ini, tapi kini saya sudah berada di ujung goa. Ini adalah titik terjauh yang bisa ditempuh dalam paket turis kami. Hanya titik yang mungkin tidak lebih dari 100 meter dari mulut goa. Jalan berikutnya adalah sebuah jalan berlumpur tebal dan tidak ada tanda-tanda manusia sama sekali. Pasar berhenti sampai di titik ini. Saya nekat mencoba untuk melewati jalan itu. Bleess.. kaki saya amblas ditelan lumpur. Saya mundur perlahan, tidak akan ambil risiko dan mencoba berpikir tentang teman-teman satu rombongan. Berhenti. Ini akhir perjalanan susur goa.

Para turis itu justru sibuk ber-haha-hihi di depan kamera. Kilatan lampu blitz memancar memenuhi ruangan goa begitu tombol shot ditekan. Terang, tetapi hanya sesaat. Saya hanya sesekali nongol dan ikut berfoto bersama mereka atas permintaan teman-teman. Oleh-oleh bagi mereka. Setelah selesai berfoto. Saya bergegas untuk keluar dari goa. Dengan jalur yang sama, saya berjalan dengan cepat di goa ini.

Sampai di mulut goa, saya berhenti sejenak, menunggu teman-teman yang mungkin masih berfoto ria di dalam goa. Tak lama, satu per satu akhirnya menampakkan diri. Mereka memang keluar dari goa, tapi tidak melalui jalur yang sudah disediakan, melainkan melewati jalur lama yang berada di samping jalur baru. Jalur ini memang ada, tetapi sepertinya sudah lama tidak digunakan, terlihat dari jembatan penghubung yang roboh dan beberapa bagiannya yang terlihat rapuh. Mereka terjebak. Oh, ide siapakah ini? Jalur yang mudah saja ada, mengapa harus melewati jalur sulit seperti itu? Saya turun tangan, mencoba membantu mereka keluar dari kesulitan dan ditambah lagi si Teman kembali mengeluh jari kakinya kram.

Berhasil sudah mereka diselamatkan, tanpa bantuan petugas karena memang sepertinya tidak ada petugas yang peduli dengan para turis yang ada di dalam goa. Para petugas itu hanya bersantai di pos penjagaan. Saya mengerti mengapa mereka bersantai. Jalur goa paket turis ini bisa dibilang benar-benar goa bertaraf bahaya rendah, paling mentok juga lecet atau memar terantuk batu. Kami berjalan menuju pos penjagaan, menunggu rombongan kami lengkap. Tak ada makanan yang bisa dibeli, saya tak bawa uang sama sekali. Dompet saya tinggalkan di pondokan beserta tas dan ponsel. Cemilan saya untuk menunggu rombongan lain adalah pemandangan bukit yang penuh dengan pohon rindang dan hamparan sawah hijau di depan mata.

Komplit. Semua kembali berjalan pulang dan dipandu oleh sang Penunjuk Jalan dari travel agent. Lagi-lagi, kami menurut saja digiring kesana-kemari tanpa tahu arah untuk kembali ke pondokan. Saya kecewa berat. Rasanya perjalanan ini tak seindah yang terlihat di web resmi pengelola Sawarna dan foto-foto para traveler. Goa ini tak lebih menarik dari Goa Cermai di Imogiri Jogja, lebih ramai iya, tapi tak seru, cuma ramai.

Kami berjalan kembali ke pondokan. Berisitirahat sembari menunggu waktu untuk kembali mengikuti itinerary.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s