Etika: Kesenian pun Perlu Dihormati

Ini adalah satu-satu foto yang saya ambil saat pagelaran untuk keperluan tulisan ini

Ini adalah satu-satu foto yang saya ambil saat pagelaran untuk keperluan tulisan ini

Pagelaran sendratari selalu punya daya tarik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Keindahan gerak tari dari para penari dan merdunya iringan alat musik tradisional menghadirkan suasana berbeda dari pagelaran seni yang lainnya. Tempat penyelenggaraan pun terkadang juga menjadi paket yang menarik karena sendratari terlebih di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta selalu digelar di pelataran candi baik Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.

Kesempatan untuk melihat langsung pagelaran sendratari pun datang pada saya pada hari sabtu kemarin, 16 November 2013. Malam itu, Dinas Pariwisata Provinsi D.I. Yogyakarta yang bekerja sama dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko menyelenggarakan pagelaran sendratari di komplek Kraton Candi Ratu Boko. Pagelaran tersebut melibatkan 56 penari dan 20 orang pengrawit yang berasal dari Universitas Negeri Yogyakarta.

Malam itu, saya datang bersama beberapa sahabat saya dan salah satunya adalah seorang penggiat heritage Indonesia, Adriani Zulivan. Cukup menyenangkan ketika bisa datang ke sebuah pagelaran sendratari dan juga bisa mengobrol dengan Mbak Adriani. Hujan turun sangat deras sebelum pagelaran dimulai, tetapi perbincangan seru terkait heritage bersama Mbak Adriani seakan menghangatkan suasana di dinginnya hujan. Kami mengbrol banyak tentang apa yang Indonesian Heritage Inventory lakukan dan juga tentang apa yang saya lakukan bersama komunitas saya.

Hujan pun reda, kami bergegas untuk masuk ke dalam area pelataran Candi Ratu Boko. Hujan yang baru saja reda menyisakan genangan air yang cukup luas di area non-VIP. Ya, kami bukanlah penonton dengan tiket VIP sehingga kami hanya dipersilakan untuk duduk di kursi bambu dan berlantai rumput basah dengan genangan air meskipun pada akhirnya security mengizinkan kami untuk duduk di kursi yang terletak di belakang kursi VIP ketika sendratari sudah berjalan beberapa menit. Sendratari dibuka dengan sedikit gambaran tentang cerita yang akan ditampilkan pada malam itu meskipun sebenarnya tidak menceritakan sama sekali isi dari cerita sendratari tersebut.

Mengusung judul “Prahara Pengging Boko”, sendratari ini bercerita tentang bagaimana Bandung Bondowoso berupaya untuk merebut hati dari Roro Jonggrang. Untuk mendapatkan hati Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso harus menaklukkan terlebih dahulu Ratu Boko. Peperangan pun tak terelakkan. Bandung Bondowoso bertarung melawan Ratu Boko yang akhirnya dimenangkan oleh Bandung Bondowoso.

Bandung Bondowoso yang sudah memenangkan pertarungan tersebut merasa berhak untuk memiliki Roro Jonggrang, tetapi Roro Jonggrang tidak bersedia untuk menerima Bandung Bondowoso begitu saja. Roro Jonggrang meminta syarat untuk dibuatkan 1000 candi dalam semalam. Demi mendapatkan hati Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso menyanggupi syarat tersebut.

Dengan dibantu pasukan barong yang sebelumnya sudah ditaklukan oleh Bandung Bondowoso, candi pun dibuat. Satu per satu batuan candi disusun oleh pasukan barong. Roro Jonggrang yang melihat bagaimana Bandung Bondowoso hampir menyelesaikan candi, mencoba untuk menghentikan pembangunan candi tersebut. Roro Jonggrang mengerahkan warganya untuk membuat suara dari kentongan agar ayam segera berkokok. Cara ini berhasil untuk menghentikan pasukan barong dalam membangun candi.

Bandung Bondowoso yang merasa ditipu oleh Roro Jonggrang merasa tidak terima dengan perlakuan ini. Bandung Bondowoso yang marah kemudian mengubah Roro Jonggrang menjadi bagian dari candi yang dibangun oleh Bandung Bondowoso untuk menggenapi hitungan 1000 candi.

Ya, secara keseluruhan cerita ini adalah cerita yang mengisahkan bagaimana Candi Prambanan dibangun. Kisah ini sudah melegenda di masyarakat Indonesia khususnya rakyat tanah Jawa. Cerita epik ini dibawakan dengan sangat baik oleh para penari dan pengrawit yang mementaskan tarian ini. Sambutan meriah pun dilontarkan oleh para penonton yang hadir pada malam itu. Acara pun ditutup dengan foto bersama para penari sebagaimana umumnya pagelaran sendratari lainnya.

Dari segi pandang tarian dan iringan gamelan, acara ini bisa dikatakan sukses untuk memikat para penonton. Namun, ada hal-hal yang sangat membuat saya tidak nyaman ketika melihat pagelaran sendratari ini. Bukan dari pihak yang menyelenggarakan, tetapi dari perilaku para penonton malam itu. Sungguh perilaku yang membuat mood menonton jadi hancur berantakan.

Memang bukan hal yang aneh jika masih banyak masyarakat negeri ini yang tidak memiliki etika ketika menonton sebuah pagelaran seni, entah apapun itu bentuknya. Namun, untuk acara seni yang notabene cukup tertutup ini dan dihadiri oleh beberapa orang yang memiliki pengaruh baik di bidang pariwisata maupun militer, bisa dikatakan etika penonton masih sangat jauh dari beradab. Hal ini terlihat bagaimana ketika mereka dengan sigap mengambil foto setiap kali penari keluar. Beramai-ramai penonton mengangkat kedua tangan mereka sambil mengarahkan papan elektronik ke arah penari tanpa peduli dengan penonton yang ada di belakang mereka yang mungkin tidak bisa melihat pertunjukan dengan jelas.

Belum berhenti di situ, ada pula penonton yang dengan santainya berdiri ketika mengambil foto dan juga ada yang berdiri di jalur masuk penari sehingga penari cukup kesulitan ketika akan memasuki panggung. Belum lagi mereka yang merokok saat pagelaran berlangsung dan mengabaikan kenyamanan penonton lain. Pun juga dengan orang-orang yang menyebut diri mereka fotografer, entahlah mereka dari media mana, yang jelas mereka juga sangat mengganggu pandangan para penonton karena mereka pun berdiri di sepanjang pertunjukan dan mereka ada di barisan paling depan! Bisa dibayangkan bagaimana mengganggunya mereka.

Perilaku orang-orang tersebut sangatlah jauh dari sopan dalam sebuah acara seperti ini, tidak hanya tidak menghargai dan menghormati pengunjung lain tetapi juga tidak menghargai tarian itu sendiri. Tarian ini memiliki nilai seni yang tinggi, yang ingin dinikmati seutuhnya. Bahkan, menurut penuturan Indra Oktora, seorang sahabat sekaligus penabuh kenong dalam pertunjukan tersebut berkata bahwa salah satu bagian dimana semua penari yang tampil adalah wanita dan hanya diiringi suara sinden merupakan adegan tarian moksa. Tarian tersebut sangatlah sakral sehingga untuk menampilkan tarian tersebut harus meminta izin dari pihak Istana Mangkunegaran Surakarta. Jika hal tersebut tidak dilakukan, biasanya akan ada penari yang hilang saat pentas. Sungguh sebuah tarian yang tidak hanya memiliki makna seni, tetapi juga menganudung nilai sakral dan magis yang sudah seharusnya dihormati.

Entah sampai kapan masyarakat negeri akan sadar akan pentingnya etika kesopanan saat menyaksikan langsung pertunjukan seni. Menjaga kesopanan saat menonton pertunjukan bisa jadi tolak ukur dalam menilai etika rakyat negeri ini. Bisa dibayangkan bagaimana jika ada penonton dari negeri lain yang merasa sangat terganggu ketika menonton pertunjukan sendratari. Orang Indonesia bisa saja langsung dicap sebagai bangsa yang tidak memiliki rasa penghormatan terhadap seni padahal negeri ini memiliki kekayaan budaya yang amat banyak termasuk didalamnya adalah perihal seni. Memang tidak bisa serta merta menyatakan seluruh orang Indonesia tidak memiliki rasa hormat terhadap kesenian, masih banyak orang yang peduli dan menghormati kesenian, tetapi perlu diingat bahwa tak perlu racun sebelanga untuk merusak susu sebelanga, hanya perlu setitik saja.

Rasanya, hal seperti bisa ditekan dengan banyak cara yang melibatkan pihak-pihak terkait yang mengurusi sebuah pementasan seni. Bisa saja penonton tidak diperkenankan untuk mengambil gambar sedikitpun saat pementasan sendratari berlangsung atau jika diperbolehkan hanya saat bagian-bagian tertentu sehingga tidak aka nada tangan-tangan yang berhamburan ke atas menutupi pandangan. Pengelola juga bisa bekerja sama dengan sebuah rumah produksi untuk merekam pementasan sendratari dari awal sampai akhir yang kemudian dibagikan keesokan harinya kepada penonton, jika ada penonton asing, bisa bekerja sama dengan agen perjalanan wisata untuk ikut membantu pembagian video pementasan sendratari. Terkait fotografer pun bisa diatur sebenarnya, berikan saja tempat khusus untuk mereka yang lokasinya tidak mengganggu penonton lainnya dan juga tidak merugikan mereka sebagai pemburu momen dan mereka tidak diperkenankan untuk berdiri ketika mengambil foto, cukuplah dengan duduk.

Sendratari Prahara Pengging Boko ini adalah wisata yang memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan dan juga sebagai salah satu alternatif wisata seni selain Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Pengelolaan yang baik dan tepat terhadap pertunjukan itu sendiri dan juga terhadap penonton akan menciptakan sebuah tontonan yang memiliki kelas dan mutu yang tinggi. Tak hanya itu, pengelolaan pengujung yang baik juga bisa menjadi salah satu media untuk pembelajaran etika terhadap pengunjung agar kedepannya tidak ada lagi perilaku-perilaku tidak sopan ketika acara seni berlangsung.

Tabik.

4 thoughts on “Etika: Kesenian pun Perlu Dihormati

  1. Saya benci dengan fotografer2 gak beretika seperti itu..

  2. Mungkin mrk lelah…
    Anyway saya mantan penari/duta budaya yg blusukan ke mall, hotel, daerah, gereja maupun istana. Betul bhw diperlukan etika ktk menonton krn kami sbg penari (tradisional maupun kontemporer) ktk sdh mengenakan kostum, sdh berada di panggung dan alunan musik pun mengiringi, ada rasa tanggung jawab disitu sbg duta bangsa dan scr natural pun rasanya jiwa sdh menyatu, soulnya udh msk, shg totalitas pun merasuk. Saya tdk akan prnh mau menari di event dinner n dance misalnya sewaktu kt di panggung penonton msh sibuk dgn sendok garpu. Jadi penanggung jawab kami akan bekerjasama dgn bag. Protokol suatu event, atw kl perlu jg dihimbau melalui MC utk bgmn spy suatu pagelaran bs dinikmati bersama-sama dgn audience dan smw yg terlibat, krn kadang apa yg kami tampilkan jg sesuatu yg sakral… intinya bgmn kerjasama dua pihak lah spy etika bs terbangun…
    Demikian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s