Ketika Diam Menjadi Jalan Keluar

Ketika banyak orang ramai memperbincangkan tentang efek dari mass tourism yang tidak terkendali dan saling tuding kesalahan pada travel writer, masyarakat, pengunjung, sampai pemerintah, saya justru rapat-rapat menyembunyikan catatan perjalanan saya. Memang bukan catatan perjalanan fantastis berkeliling berbagai daerah di Indonesia bahkan di belahan bumi lainnya, catatan saya hanyalah sebuah catatan perjalanan lokal, bisa dibilang sangatlah lokal, hanya di sekitar tempat tinggal saya di Magelang.

Saya menyimpan rapi catatan perjalanan saya selama di Magelang, menutup rapat keinginan untuk menyebarkan segala informasi yang ada di dalamnya. Saat ini memang saya tidak akan membuka catatan itu untuk umum, setidaknya sampai saya benar-benar siap untuk menyebarkan informasi tersebut pada umum.

Tempat yang saya jelajahi bukanlah sebuah tempat wisata indah dengan pemandangan yang luar biasa. Bukan juga tentang tempat yang jika dikunjungi bisa melepas penat bagi kebanyakan orang. Tempat yang saya kunjungi adalah tempat yang terkadang sudah tidak didatangi oleh orang lain, bahkan warga sekitar pun enggan datang ke tempat tersebut. Kuburan tua, tepian sungai, tebing curam, gua, semak belukar, kebun bambu, dan terkadang perkampungan warga. Tidak biasa memang, tapi memang tempat itulah yang saya dan teman-teman kunjungi.

Kami tak mencari keindahan alam, tak pula udara yang bersih, bukan juga tempat rekreasi bertiket. Kami mencari sisa-sisa kejayaan Kerajaan Mataram Kuna di Magelang. Berpegang pada sebuah buku tua terbitan tahun 1914, kami menjelajah Magelang sampai ke titik yang terkadang sangat sulit untuk dijelajah bahkan dengan kaki sekalipun. Namun, semua itu tidak sia-sia, setidaknya sudah tercatat lebih dari 110 situs dan candi yang ada di Magelang. Angka ini jauh melebihi data yang dimiliki oleh pemerintah Magelang sendiri.

Kadang ada yang bilang, “Diekspos saja, biar banyak orang yang tahu tentang keberadaan tempat itu.” Tapi saya dan teman-teman tidak mengiyakan saran dari mereka. Kami lebih memilih untuk mendata dan mendokumentasikan tempat-tempat tersebut untuk keperluan pribadi. Bukan tanpa alasan, kami merasa akan muncul efek domino yang mungkin tidak dapat dikendalikan baik oleh kami maupun oleh dinas terkait.

Kasus pencurian benda purbakala di Indonesia sudah menjadi rahasia umum. Masih segar tentang kasus pencurian benda-benda peninggalan Mataram Kuna di Museum Gajah, Gambir, Jakarta. Padahal, tempat tersebut adalah sebuah museum yang penjagaannya sangat ketat dan kamera CCTV berada di berbagai penjuru ruangan museum. Seharusnya, dengan penjagaan seketat itu, pencurian tidak mungkin terjadi. Sedangkan tempat yang saya tidak ada yang menjaga sama sekali. Hanya semak belukar dan pohon-pohon besar yang menaungi tempat itu. Jikalau ada pun, itu adalah mitos yang warga ciptakan sendiri, “Jika mengambil barang itu maka akan turun petaka”.  Namun, siapa yang bisa menjamin barang-barang yang berasal dari situs yang kami temukan tidak akan raib?

Tak hanya itu, kebiasaan turis lokal yang senang mengubah bentuk suatu tempat wisata atau bisa dibilang merusak juga jadi pertimbangan bagi kami. Lihat saja bagaimana Situs Megalitikum Gunung Padang menjadi tidak karuan setelah adanya ekspos media yang saya rasa cukup berlebihan. Yang batunya hilang, ada pula yang mencoret-coret batu, dan beberapa batu justru menjadi keset ketika pengunjung datang ke tempat tersebut. Padahal, di tempat tersebut, sudah ada juru kunci dan beberapa orang penduduk lokal yang bertugas sebagai guide dan sekaligus merangkap menjadi penjaga di situs tersebut. Jika saja hal itu pula yang terjadi pada situs-situs yang kami temukan, entah akan seperti apa bentuk dari situs tersebut mengingat situs-situs tersebut sebagian besar hanya berupa puing-puing bangunan candi, meskipun beberapa tempat masih terdapat artefik candi dengan ukiran yang masih sangat lengkap.

Artefik dari sebuah candi batu bata yang kami temukan

Artefik dari sebuah candi batu bata yang kami temukan

Kebiasaan-kebiasaan dari masyarakat awam yang tak paham dengan makna cagar budaya dan keberlangsungan sebuah situs tersebut yang kami coba untuk ditekan sampai titik paling rendah terhadap situs-situs yang kami temukan. Publikasi memang bisa jadi cara ampuh untuk menyadarkan warga sekitar akan pentingnya kehadiran situs dan candi di lingkungan mereka. Namun, publikasi juga menjadi cara ampuh bagi para pemburu harta karun untuk mendapatkan rupiah dari situs dan candi tersebut. Bahkan tanpa publikasi pun, situs dan candi masih sering menjadi sasaran empuk dari tangan-tangan yang tak bertanggung jawab.

Kesadaran dari warga pun masih bisa dibilang sangat rendah terhadap benda-benda peninggalan zaman kerajaan di Indonesia. Banyak dari mereka yang tidak paham bahkan tidak tahu tentang benda tersebut. Jika si benda tersebut beruntung, maka dia hanya akan dijadikan benda keramat atau dibiarkan begitu saja. Namun, jika tidak beruntung, benda bersejarah tersebut hanya akan beralih fungsi sebagai pondasi rumah atau dipecah dan digunakan sebagai bahan bangunan lainnya. Sulit agaknya jika ingin mengajak masyarakat untuk bisa langsung paham akan arti dari sebuah peninggalan zaman kerajaan, butuh waktu panjang untuk membangun kesadaran tersebut. Dan pada akhirnya, kami juga yang memutuskan untuk menjadi penjaga dari situs-situs tersebut. Bukan penjaga dalam arti benar-benar hadir di situs-situs tersebut secara fisik, tetapi lebih kepada menjaga kerahasiaan tempat tersebut. Kami tidak ingin warisan kebudayaan dari pendahulu negeri ini rusak dan hilang begitu saja karena apa yang mereka warisi memiliki nilai sejarah yang sangat berharga dan mustahil akan kembali berulang di masa kini.

Memang, komunitas kecil kami bukanlah terdiri dari arkeolog hebat maupun ahli sejarah peradaban Mataram Kuna, tapi semangat dari komunitas ini sudah lebih dari cukup untuk dapat melindungi apa yang seharusnya menjadi tugas seluruh masyarakat. Menjaga warisan bangsa.

Tabik.

6 thoughts on “Ketika Diam Menjadi Jalan Keluar

  1. tulisan keren…
    saya bisa merasakan yg amu rasakan. Keep it private.🙂

  2. Mantappp bro… Like it… Good job…
    Memang nggak semua hal perlu di-share ke publik. Ada kalanya dikerjakan sebagai proyek pribadi yang semoga nggak disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s