MAFIA KUBIS: Harapan Dari Lereng Merbabu

Krisik, tak banyak orang yang mengetahui letak dusun ini. Dusun ini merupakan salah satu dusun yang berada di Desa Kebonagung yang merupakan bagian dari Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Terletak di bagian timur Kabupaten Magelang yang merupakan bagian dari Gunung Merbabu. Sebagaimana layaknya sebuah daerah yang berada di lereng gunung, dusun kecil ini memiliki keindahan alam yang cantik. Pepohonan masih terlihat rimbun, sawah hijau membentang luas, dan udara yang segar menyelimuti tempat ini. Penduduk dari dusun ini sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Mereka menanam padi ketika musim hujan tiba dan mengganti tanaman mereka menjadi tembakau ketika kemarau datang. Ya, tembakau menjadi andalan bagi penduduk dusun ini ketika tanah mereka tak sanggup ditanami padi ketika kemarau datang.

Dusun ini memang cukup jauh berada dari jantung Kota Magelang, sekitar 20 km dari pusat kota. Namun, dusun ini mempunyai banyak potensi alam yang dapat menjadi sumber pendapatan daerah dan yang tak kalah lagi adalah sumber daya manusianya. Jumlah anak-anak yang tinggal di dusun ini bisa terbilang cukup banyak. Hal tersebut menjadi sebuah potensi tersendiri bagi masyarakat desa di masa mendatang. Sebuah harapan bagi desa tersebut untuk mengembangkan desa agar menjadi lebih maju.

IMG_1019

Kegiatan perdana Mafia Kubis (3 Oktober 2010)

Adalah MAFIA KUBIS, sebuah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan non-formal khususnya untuk anak-anak, yang datang dan mengajarkan tentang berbagai macam hal pada anak-anak di Desa Krisik ini. Romdhona Prianto atau yang akrab dipanggil Shirom, salah satu pengagas ide ini menyebutkan bahwa komunitas ini terbentuk dengan ketidaksengajaan. Berawal dari berkunjung ke rumah saudara Taufik Anang Prabowo (Anang), Shirom dikenalkan dengan anak-anak yang tinggal di Desa Krisik oleh Anang. Mereka adalah anak-anak yang biasanya diasuh oleh Anang ketika akhir pekan. Anang biasanya mengajarkan tentang pendidikan agama pada anak-anak tersebut. terkadang Anang mengajarkan beberapa keterampilan atau sekedar memutarkan film untuk ditonton oleh anak-anak itu. Kebanyakan dari mereka berusia sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah pertama (SMP), bahkan ada seorang anak yang masih berusia 2,5 tahun yang ikut diasuh oleh Anang.

Shirom merasa tertarik dengan kegiatan yang dilakukan oleh Anang. Mengajarkan tentang berbagai macam hal kepada anak-anak. Sayang, ketika itu anak-anak tidak memiliki banyak referensi buku bacaan yang layak sebagai penunjang kegiatan mereka. Shirom bersama rekan-rekannya mulai berusaha mengumpulkan buku bacaan untuk disumbangkan pada anak-anak tersebut. Meskipun hanya sedikit, akhirnya buku-buku tersebut dapat disumbangkan pada anak-anak yang ada di Desa Krisik. Tidak berhenti disitu, Shirom mencoba mengajak teman-teman seangkatan di SMA Negeri 1 Kota Magelang untuk meluangkan waktu memberikan semacam ilmu kepada adik-adik yang tinggal di Krisik. Akhirnya terbentuklah MAFIA KUBIS pada tanggal 3 Oktober 2010. KUBIS sendiri merupakan singkatan dari Ku Yakin Bisa. Sedangkan kata MAFIA sendiri merupakan panggilan akrab Anang sejak SMP. “Matanya Anang selalu merah ketika sampai di sekolah, itu membuatnya terlihat seperti seorang mafia”, terang Shirom. Padahal, mata merah itu didapat karena mata Anang yang diterpa angin ketika mengendarai sepeda motor dari rumahnya menuju sekolah.

MAFIA KUBIS mengajarkan sebuah keyakinan bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan pasti bisa dilakukan selama mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Di tempat ini juga diajarkan tentang keberanian, kepimimpinan, tanggung jawab, dan berbagai macam sifat yang positif pada anak-anak. Perlu digaris bawahi bahwa yang belajar di MAFIA KUBIS tidak terbatas pada adik-adik, tetapi para relawan yang mengajar pun ikut belajar dari adik-adik tentang kearifan lokal termasuk belajar tentang sebuah impian.

Sampai saat ini, MAFIA KUBIS memiliki relawan yang datang dari berbagai latar belakang. Awalnya memang hanya terdiri dari alumni SMA Negeri 1 Magelang, tapi seiring berjalannya waktu, relawan yang mengajar di MAFIA KUBIS ini semakin bertambah. Kebanyakan berasal dari universitas yang berada di Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada adalah salah satunya. Tiap minggunya mereka meluangkan waktu untuk datang ke Magelang untuk mengajar. Sebuah pengabdian yang luar biasa. Begitu pula dengan teman-teman yang ada di Universitas Negeri Yogyakarta, Sanata Dharma, dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Tak lupa, apresiasi diberikan untuk para relawan yang datang dari Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Semarang. Mereka datang jauh-jauh demi adik-adik di kampung ini.

Jumlah relawan sendiri tidak tentu tiap minggunya, terkadang cukup banyak dan terkadang hanya dua orang. Hal ini cukup bisa dimaklumi mengingat domisili relawan yang kebanyakan memang tidak tinggal di Magelang. Beberapa diantaranya berasal dari Semarang, Yogyakarta, dan Kendal. Terkadang sesekali rekan relawan yang sudah tinggal di luar Pulau Jawa pun ikut mengajar ketika pulang ke Magelang, seperti rekan relawan yang berada di Kalimantan yang masih ikut memantau kegiatan kami dan sempat mengajar kembali ketika ada kesempatan.

Sekolah Kreatif

MAFIA KUBIS mulai resmi bergerak sejak tanggal 3 Oktober 2010. Mulanya komunitas ini hanya terdiri dari alumni SMA Negeri 1 Magelang angkatan 2006. Sandan Niyarti, Dito Dwi Prihantoro, Gusti Nuhari, Romdhona Prianto, dan Taufik Anang Prabowo adalah orang-orang yang pertama kali mengajar sebagai bagian dari MAFIA KUBIS. Pada pertemuan perdana itu, para relawan itu mengajarkan tentang mengenal Indonesia melalui peta. Adik-adik Kubis ini diajarkan tentang pulau-pulau yang berada di Indonesia sekaligus mereka dilatih untuk berkreasi dengan warna yang dituangkan melalui coretan-coretan warna di kertas yang sudah berisi pola peta Indonesia.

leaf cutting

Kegiatan Leaf Cutting

IMG_5759

Bermain Papercraft

Kegiatan demi kegiatan terus dilakukan di desa ini. Setiap hari Minggu para relawan ini berkumpul di Dusun Krisik untuk memberikan pelajaran demi pelajaran pada adik-adik Kubis. Adik-adik ini pernah diajari tentang simulasi gunung meletus dengan menggunakan bahan-bahan kimia yang biasa ditemui sehari-hari. Pernah juga adik-adik diajarkan bagaimana membuat layang-layang, membuat patung dari dari bahan keramik, membuat bentuk-bentuk hewan dari kertas, memanfaatkan kardus bekas untuk membuat kerajinan tangan, menggambar, dan menulis cerita.

Tidak hanya itu, terkadang adik-adik ini diajarkan untuk mempedulikan lingkungan sekitar melalui pelajaran tentang kesehatan dan lingkungan. MAFIA KUBIS pernah bekerja sama dengan rekan-rekan dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada untuk mengadakan pembelajaran tentang kesehatan gigi. Di kegiatan tersebut, adik-adik juga diperiksa kesehatan giginya. Kegiatan lain yang berhubungan dengan lingkungan adalah pembuatan tempat sampah sesuai dengan jenisnya. Pernah juga diadakan bersih-bersih dusun dengan mengambil sampah di sekeliling kampung. Pengolahan air bersih pun pernah dilakukan. Adik-adik diajarkan bagaimana mengolah air keruh menjadi air bersih dengan menggunakan saringan alam.

Pemeriksaan gigi oleh rekan-rekan dari FKG UGM

Pemeriksaan gigi oleh rekan-rekan dari FKG UGM

Kegiatan bersih-bersih desa

Kegiatan bersih-bersih desa

Belajar sejarah Magelang

Belajar sejarah Magelang

Sejarah juga tak luput dari perhatian para relawan di MAFIA KUBIS. Para relawan sempat mengajak seorang teman yang mengerti tentang sejarah Magelang Kuna. Farchan Noor Rachman, seorang orang hobi traveling yang mengaku bahwa PNS adalah pekerjaan sampingannya, menjelaskan tentang bagaimana dahulunya Magelang adalah sebuah pusat dari kerajaan hindu di Indonesia. Sebuah tempat dimana asal muasal kerajaan di Indonesia bermula. Adik-adik sangat antusias untuk mendengarkan penjelasan Farchan yang disampaikan dengan metode berdongeng itu, sejenak mengajak berimajinasi tentang Magelang Kuna.

Relawan MAFIA KUBIS juga pernah mengajak adik-adik untuk bermain di luar kampung agar mereka lebih mengenal lingkungan sekitar dan yang pasti agar kegiatan ini juga bisa dikenal oleh orang banyak. Para relawan pernah mengadakan outbond yang tentunya dibungkus dengan sesuatu yang bersifat edukatif, kreatif, dan aktif. Sembari bermain mereka juga belajar. Ya memang itu yang ditekankan di tempat ini, belajar sambil bermain, bermain sambil belajar. Pernah juga adik-adik ini diajak berwisata, meskipun ke tempat yang sangat biasa. Mereka diajak mengunjungi Kolam Renang Pisangan milik Akmil. Mungkin hanya sebuah kolam renang, tapi lihatlah bagaimana senangnya mereka.

Di tempat ini, ruang kelas adalah setiap tempat yang digunakan untuk belajar yang tidak terbatas pada sebuah bangunan bertembok yang berisi meja dan kursi. Kelas kami bisa diadakan di sembarang tempat. Terkadang di ruang Tempat Pembelajaran Al Qur’an, pernah juga menggunakan lapangan, gubug di tengah sawah, tepian sungai, bahkan adik-adik ini pernah belajar di sebuah bukit yang penuh pepohonan untuk belajar. Sungguh, tempat belajar mereka adalah bumi yang mereka pijak.

Kegiatan luar ruangan

Kegiatan luar ruangan

IMG_7059

Kegiatan pengolahan sampah terpadu

Kegiatan yang diajarkan di tempat ini kebanyakan adalah kegiatan yang mengolah rasa dari adik-adik. Melatih mereka untuk berkreasi dengan imajinasi mereka, mengajarkan mereka untuk menjadi kreatif. Mereka diajak untuk berkesperimen dengan warna, bentuk, tulisan, yang diwujudkan melalui bahan-bahan yang ada di sekitar. Hasil dari olah rasa itu menghasilkan sesuatu yang terkadang di luar dugaan, terkadang menjadi sesuatu yang luar biasa dan terkadang menjadi bentuk abstrak. Namun, yang pasti mereka mengalami sebuah kemajuan dari ilmu yang mereka dapat.

Sekolah Berani

“Saya sekarang jadi tidak malas belajar di rumah dan tidak malu. Saya juga diberi hadiah oleh kakak-kakak MAFIA KUBIS karena itu saya tidak akan ngelupain kakak-kakak MAFIA KUBIS”

Kalimat tersebut adalah penggalan dari tulisan tangan seorang anak yang bernama Navisavara Salsabila atau kami akrab memanggilnya Vara, siswa kelas 5 SD. Bocah ini adalah salah satu bocah yang sangat dominan di MAFIA KUBIS. Dia bocah yang punya pengaruh terhadap teman-temannya. Tapi di luar dugaan, dia adalah anak yang pemalu, dia sering diam ketika diberi pertanyaan oleh kakak-kakak relawan. Ya, diam adalah salah satu senjata andalan dari bocah ini.

Namun, hal itu sudah tidak berlaku lagi baginya. Sekarang dia jauh lebih berani berbicara, berani mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. Sebenarnya tidak hanya Vara yang menjadi lebih berani di sini, banyak dari adik-adik KUBIS ini yang semakin aktif dan berani berbicara, mengungkapkan ide, mengungkapkan isi hati.

Proses untuk menjadi berani memang butuh waktu yang panjang, tapi bagi kakak-kakak relawan KUBIS semua itu pantas. Tak ada sesuatu yang bisa didapatkan secara instant terlebih jika itu berhubungan dengan manusia. Butuh kesabaran dan ketelatenan untuk membentuk pribadi anak. Tetapi, begitu hasilnya keluar, maka senyumlah yang akan terkembang.

Sekolah Bermimpi

Setiap orang pasti punya mimpi, entah itu bermimpi untuk diri sendiri atau bermimpi untuk orang lain. Para relawan KUBIS ini mengajarkan hal itu pada adik-adik KUBIS. Mereka mengajarkan adik-adik untuk punya mimpi, punya sesuatu yang ingin dicapai, punya tujuan, sehingga mereka punya usaha untuk mewujudkannya.

Pernah suatu saat para relawan KUBIS membuat sebuah kegiatan yang bertema mimpi. Setiap adik-adik yang hadir diajak untuk menyampaikan mimpinya. Bisa sesuatu yang sederhana sampai sesuatu yang mungkin butuh jalan panjang untuk meraihnya. Para relawan memulainya dengan menyebutkan mimpinya masing-masing, hal ini dilakukan untuk memancing adik-adik agar memikirkan mimpinya. Hal itu cukup berhasil, adik-adik mulai menyebutkan mimpi-mimpinya.

Salah satu impian dari adik-adik Kubis, menjadi tentara

Salah satu impian dari adik-adik Kubis, menjadi tentara

Memang, kebanyakan dari mereka menyebutkan mimpi yang juga menjadi cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi pemain sepakbola, ada yang ingin menjadi atlet bulu tangkis, salah seorang dari mereka ingin menjadi koki, ada yang ingin tangannya segera sembuh karena saat itu salah seorang adik KUBIS tangannya mengalami cedera. Namun, dari sekian banyak impian, ada yang patut diapresiasi lebih. Mimpi yang disampaikan sangat luar biasa.

Vara, dia bermimpi suatu saat kakaknya bisa kuliah di STAN. Dia mengungkapkannya sembari menitihkan air mata. Dia ingin kakaknya bisa menjadi seperti Anang yang juga menuntut ilmu di STAN sebelum akhirnya ditempatkan di Belitong. Meskipun akhirnya mimpi ini tidak terwujud. Kakaknya saat ini masuk ke Jurusan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta.

Sofi, dia ingin kakaknya yang ada di Medan pulang ke rumah. Impiannya sederhana, dia kangen kakaknya. Lagi-lagi ini disampaikan dengan tangisan. Tangis ini menunjukkan bahwa anak-anak ini mengungkapkan sesuatu yang berasal dari lubuk hatinya.

Mimpi kedua bocah tersebut mungkin terdengar sederhana, tapi mereka tidak bermimpi tentang dirinya. Mereka bermimpi tentang orang lain, bermimpi untuk orang lain. Sebuah bukti bahwa mereka tidak lah egois, meskipun hanya untuk sebuah mimpi.

“Saya ingin membaca buku, saya ingin jadi seorang guru”, Ucap Yuni. Sebuah mimpi yang sangat mulia. Seorang anak kecil bercita-cita ingin menjadi guru, sebuah impian yang mulai ditinggalkan banyak orang.

“Aku punya keinginan untuk menulis cerita MAFIA KUBIS, biar terkenal ke luar desa, bahkan sampai ke luar Indonesia. Semoga keinginanku terwujud.” Ini adalah ungkapan hati dari Nurul Azizah, dia pun menyampaikannya dengan tangisan.

Mimpi, apapun itu, bukanlah sesuatu yang hanya ada untuk dipikirkan, diucapkan, dan ditulis. Mimpi itu ada untuk diwujudkan dan mimpi yang tidak terwujud adalah mimpi yang tidak diusahakan.

Sebuah Harapan

MAFIA KUBIS, memang tak banyak yang tahu komunitas ini. Mereka seakan bergerak bagai wombat, yang terus menggali di bawah tanah tanpa ada yang tahu. Sekalipun tak banyak yang tahu, komunitas ini terus memperjuangkan sebuah hal yang patut diapresiasi. Para relawan ini memperjuangkan harapan dari adik-adik di sebuah dusun yang cukup jauh dari peradaban Kota Magelang.

Adik-adik ini memang hanya anak-anak desa, polos, riang, mereka apa adanya. Tetapi, mereka juga sama seperti anak-anak lain yang berada di kota atau di daerah lain. Mereka juga punya harapan, punya mimpi, punya cita-cita yang ingin diwujudkan. Itu yang dijaga oleh para relawan MAFIA KUBIS selama ini. Mereka tidak ingin anak-anak ini tertutup kesempatannya untuk meraih impian, tak ingin anak-anak ini padam harapannya.

2 tahun sudah MAFIA KUBIS tumbuh. Hasil dari kerja keras para relawan sudah mulai terlihat, meskipun belum signifikan. Tapi, itu tanda bahwa harapan dari adik-adik di Krisik masih terus tetap terjaga. Bukan mustahil jika suatu saat adik-adik ini akan menjadi orang-orang yang luar biasa di masa yang akan datang.

Mari Ke Krisik

Krisik itu dimana? Bagaimana jika ingin menuju ke sana?. Pertanyaan itu sangat lumrah ditanyakan kepada para relawan MAFIA KUBIS mengingat memang tidak banyak orang yang tahu dimana letak dusun ini.

Jika kalian berangkat dari Magelang, naiklah kendaraan menuju Canguk. Ada angkutan kota jalur 4, jalur 8, jalur 9, kemudian ada angkutan jurusan Kalinegoro, bus engkel jurusan Muntilan dan Wonosobo juga melewati tempat ini. Jika naik kendaraan pribadi, bisa melewati Jalan By Pass Soekarno Hatta (dari selatan) dan Jalan Urip Sumoharjo (dari utara).

Dari Canguk, ambillah arah menuju Tegalrejo. Ada angkutan desa jurusan Tegalrejo, turun di Pasar Tegalrejo kemudian disambung dengan angkutan menuju Pakis. Jika tidak ingin menyambung, bisa naik bus engkel jurusan Salatiga. Turun di SD Negeri Bawang. Dari tempat itu, hanya bisa menggunakan ojek untuk sampai ke Krisik karena tidak ada lagi kendaraan umum yang menjangkau Krisik. Jarak dari jalan raya Kopeng – Salatiga sekitar 2,5 km menuju Dusun Krisik. Jika menggunakan kendaraan pribadi, gunakan rute yang sama. Butuh sekitar 20 menit perjalanan dari Kota Magelang.

Cukup jauh memang untuk menuju tempat ini, tapi boleh sesekali dicoba untuk datang ke tempat ini. Banyak relawan yang langsung jatuh cinta dengan tempat ini, terlebih kepada anak-anak yang ada di tempat ini ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kampung Kubis. Wajah polos anak-anak seakan jadi magnet yang kuat untuk menarik kembali para relawan datang ke kampung ini.

Peta Kampung Kubis (Klik untuk melihat ukuran penuh)

Peta Kampung Kubis (Klik untuk melihat ukuran penuh)

Para relawan MAFIA KUBIS juga sering mengantarkan relawan-relawan baru menuju kampung ini. Dengan senang hati mereka akan mengantarkan tamu baru ke Kampung Kubis. Jadi tidak perlu khawatir untuk menuju tempat ini. Bisa mengontak langsung relawan yang ada di Kampung Kubis atau lewat media sosial macam facebook dan twitter. Facebook MAFIA KUBIS bisa dibuka lewat grup dengan nama yang sama, MAFIA KUBIS. Di twitter, bisa melalui akun @mafiaakubisa. Untuk kontak dengan relawan via telepon atau sms, bisa menghubungi saudara Suprapti (085641030075).

Mari datang ke Krisik kakak, mari bermain bersama di Kampung Kubis. Mari belajar bersama adik-adik yang luar biasa ini. MAFIA KUBIS, Kuyakin Bisa!

3 thoughts on “MAFIA KUBIS: Harapan Dari Lereng Merbabu

  1. keren… Mafia Kubis ini keren banget.
    moga semakin sukses ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s