MAFIA KUBIS: Harapan Dari Lereng Merbabu

Krisik, tak banyak orang yang mengetahui letak dusun ini. Dusun ini merupakan salah satu dusun yang berada di Desa Kebonagung yang merupakan bagian dari Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Terletak di bagian timur Kabupaten Magelang yang merupakan bagian dari Gunung Merbabu. Sebagaimana layaknya sebuah daerah yang berada di lereng gunung, dusun kecil ini memiliki keindahan alam yang cantik. Pepohonan masih terlihat rimbun, sawah hijau membentang luas, dan udara yang segar menyelimuti tempat ini. Penduduk dari dusun ini sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Mereka menanam padi ketika musim hujan tiba dan mengganti tanaman mereka menjadi tembakau ketika kemarau datang. Ya, tembakau menjadi andalan bagi penduduk dusun ini ketika tanah mereka tak sanggup ditanami padi ketika kemarau datang.

Dusun ini memang cukup jauh berada dari jantung Kota Magelang, sekitar 20 km dari pusat kota. Namun, dusun ini mempunyai banyak potensi alam yang dapat menjadi sumber pendapatan daerah dan yang tak kalah lagi adalah sumber daya manusianya. Jumlah anak-anak yang tinggal di dusun ini bisa terbilang cukup banyak. Hal tersebut menjadi sebuah potensi tersendiri bagi masyarakat desa di masa mendatang. Sebuah harapan bagi desa tersebut untuk mengembangkan desa agar menjadi lebih maju.

IMG_1019

Kegiatan perdana Mafia Kubis (3 Oktober 2010)

Continue Reading

Advertisements

Melihat Jakarta dari Jembatan

Tinggal di Ibu kota sebenarnya bukan menjadi sebuah pilihan bagi saya. Saya menganggap kota ini terlalu keras untuk dapat ditinggali orang macam saya. Tata kota yang tak teratur, lalu lintas yang padat cenderung semrawut, dan belum lagi dinamika kehidupan yang berganti terlalu cepat di kota ini. Semua hal tersebut seakan menjadi sebuah momok besar yang mungkin tidak akan bisa saya hadapi.

Pertama kali menapaki ibu kota rasanya memang benar jika semua perihal tentang Jakarta itu benar adanya. Lalu lintasnya memang padat, kacau, dan tidak terkontrol. Tata kota juga memang tak karuan dan orang-orang di Jakarta memang jauh lebih cuek daripada orang-orang di tempat saya tinggal dulu. Dalam pikiran saya, pasti saya tidak akan bisa bertahan dalam kondisi seperti ini.

perempatan matraman

Lalu Lintas Perempatan Matraman

4 bulan sudah saya tinggal di ibu kota, setiap hari memang saya dihadapkan pada kondisi Jakarta yang aduhai. Kemacetan membuat jarak kantor dan rumah yang tak lebih dari 10 kilometer harus ditempuh dalam 1 jam, terkadang 2 jam ketika waktu pulang kantor tiba. Menembus kemacetan dan kesemrawutan jalanan Jakarta bisa menjadi hal yang sangat menguras emosi dan tenaga. Dan ketika saya merasa cukup lelah untuk berada di dalam bus, saya biasanya memutuskan untuk berdiri di jembatan penyeberangan ketika harus berganti dari satu bus ke bus yang lain.

Melihat kehidupan dari atas jembatan penyeberangan ini sangat menarik. Dari kejauhan saya bisa melihat bagaimana mobil-mobil berbaris panjang hanya untuk melewati sebuah perempatan. Saya juga bisa melihat bagaimana pengendara sepeda motor berbondong-bondong mencari celah di antara mobil agar tetap bisa melaju. Dari atas jembatan saya juga bisa melihat bagaimana sepeda motor berebut untuk menjadi yang terdepan ketika berada di persimpangan lampu merah. Sebuah pemandangan yang unik sekaligus mengerikan.

Tak hanya tentang kondisi jalan raya yang bisa dilihat dari atas jembatan penyeberangan, tapi dari atas jembatan penyeberangan ini bisa dilihat berbagai kehidupan yang ada di jembatan itu sendiri. Ya, Jakarta selalu punya kejutan di berbagai sudut kotanya, tak terkecuali kehidupan yang ada di jembatan ini.

Saya sempat kaget ketika mengetahui bahwa jembatan penyeberangan bisa menjadi sebuah pasar yang penuh dengan pedagang. Tak terlihat bahwa tempat ini adalah sebuah jembatan penyeberangan. Orang-orang terus berlalu lalang di tempat ini dengan pedagang yang terus menjajakan barang dagangan yang sangat beragam, sandal, sepatu, aksesoris, sampai barang elektronik ikut dijual di jembatan penyeberangan. Sebuah pemandangan yang mungkin tidak akan ditemui di kota-kota lain.

Memang tempat ini adalah sebuah jembatan penyeberangan yang bukan diperuntukkan untuk berjualan, tetapi sepertinya orang-orang yang berada di tempat ini sudah menganggap jembatan ini sebagai lapak mereka, sebagai sebuah tempat dimana mereka mencari nafkah sehari-hari. Sebuah tempat yang tak hanya menjadi jembatan bagi orang-orang untuk menyeberangi jalanan, tetapi juga menjadi sebuah jembatan bagi para pencari nafkah untuk melewati hari-hari yang berat di Jakarta.

Ya, inilah Jakarta, kota dimana kata “tidak mungkin” itu tidak berlaku.

Tabik.