Robusta dan Cappuccino

Malam itu tersanding dua gelas kopi. Satu gelas adalah sebuah kopi robusta hitam pekat tanpa gula dan satu gelas lainnya adalah sebuah cappuccino yang lembut dengan hiasan cream di atasnya. Saya mengenggak kopi robusta dalam sebuah cangkir kecil. Tegukan pertama terasa sangat pahit. Mungkin ini adalah minuman terpahit yang pernah saya coba.

Teman saya terheran dan kemudian bertanya. “Anjar, emangnya kopi itu ga pahit?”
Saya menjawab enteng, “Coba aja sendiri.”

Teman saya kemudian mengambil cangkir kopi milik saya dan meneguknya. Teriak. Itu ekspresi pertama yang tampak darinya. Buru-buru dia mengambil cangkir cappuccino milik saya yang ada di atas meja.

“Rasanya seperti mimpi pas minum kopi ini. Pahitnya keterlaluan.”
“Lalu, apa yang kamu rasa setelah minum cappuccino barusan?”
“Lega, pahit kopi tadi sedikit hilang.”

Saya hanya tersenyum kecil melihat tingkah lakunya yang seperti itu. Wajahnya jelek sekali ketika merasakan pahitnya kopi robusta hitam tanpa gula yang saya pesan. Saya kemudian melanjutkan meminum kopi pahit itu, berkali-kali sampai akhirnya habis dan tersisa hanya ampas.

“Kamu tahu kenapa aku pesen dua gelas kopi yang beda banget rasanya?”
“Ga tahu”, jawabnya polos.
“Tadi apa yang kamu rasa pas minum yang pahit?”
“Rasanya cuma pahit, ga kebayang lagi gimana rasa yang lain. Cuma pahit yang ada di mulut. Bahkan sampai ke kerongkongan pun pahit.”
“Trus, pas abis minum cappuccino gimana rasanya?”
“Manis. Ya lega, lidahku masih bisa berfungsi baik.”, dia tertawa kecil.
“Cuma itu aja? Ga ada yang lain lagi?”, tanya saya.

Dia terdiam, rasa-rasanya benar jika kopi robusta pahit tadi sudah membuatnya seperti berada di dalam mimpi.

“Kamu tahu kan, hidup ini banyak kejutan? Banyak rasa juga. Ga mungkin semuanya datar-datar aja dan pahit itu termasuk salah satu rasa yang mungkin dikasih Tuhan dalam perjalanan hidup kita. Coba liat lagi deh gimana tadi kamu pas ngerasain kopi pahit itu? Kamu ga bisa ngerasain apa-apa lagi kan selain pahit? Padahal sebenernya lidahmu masih bisa ngerasain banyak rasa dan itu terbukti dengan cappuccino yang tadi kamu minum.”, saya cukup panjang menjelaskan hal ini pada teman saya.

“Trus, hubungannya apa?”, tanya teman saya.

“Sederhana. Ketika manusia menerima sebuah ujian anggap aja si kopi pahit tadi, manusia cenderung lupa sama nikmat yang begitu melimpah yang sudah diberikan Tuhan sama manusia. Ya, itu tadi, yang dirasa cuma pahitnya aja. Blank, otak cuma bisa bilang PAHIT, seakan lupa dengan rasa manis, asam, asin. Padahal begitu dikasih yang manis lagi, si otak bisa bilang MANIS. Ya, begitulah manusia, sering lupa bersyukur kalo pas lagi susah, yang ada dipikiran cuma perihal susah, lupa sama nikmat-nikmat yang indah, padahal pastinya udah banyak nikmat yang dikasih Tuhan ke manusia.”

“Hahahahahaha… Sok filsuf kamu!”, teman saya tertawa keras sambil menyeruput cappuccino milik saya.
“Tapi bener kan?”, saya kemudian menyeruput coklat panas miliknya.

4 thoughts on “Robusta dan Cappuccino

  1. ciee… dalam.. dalam..

  2. hahahahahaha uedyaaaaan,,, cocok dadi filsuf kowe njar😀
    jero banget iki critone😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s