Perjalanan Baru

Wajahnya makin sayu. Nafasnya makin terengah-engah. Tiap tarikan nafasnya terasa sangat berat. Dia mengumpulkan semua anggota keluarganya dan mulai menyampaikan pesannya pada anak dan istrinya. Dia berpesan pada anak-anaknya agar tetap rukun sebagai satu keluarga dan berbaktilah pada orang tua. Sedangkan, pada istrinya dia hanya meminta untuk mematikan lampu minyak yang menempel di dinding dari anyaman bambu.

“Bu, tolong matikan lampu minyaknya. Aku sudah cukup.”

Sebuah pesan terakhir dari kakek yang usianya sudah mencapai 80 tahun pada istrinya. Sang Istri kemudian mematikan lampu minyak tersebut. membiarkan ruangan menjadi gelap. Dalam gelap tersebut, sang Suami berdoa dan menutup doa tersebut dengan kata “Amin”.

Kata “Amin” tersebut sekaligus menjadi sebuah kata terakhir darinya. Matanya menutup, tangannya bersedekap, dan dia sekarang sudah tak lagi di dunia ini. Dia, kakek saya meninggal dalam kondisi yang luar biasa tenang. Sangat tidak merepotkan ketika meninggal. Sungguh sebuah kematian yang terlihat penuh dengan persiapan.

Kematian bagi kebanyakan orang adalah sebuah perihal yang tabu untuk diperbincangkan. Bahkan banyak yang menganggap kematian adalah sesuatu yang menakutkan. Banyak orang takut menghadapi kematian karena mereka takut kehilangan harta yang selama hidup mereka kumpulkan. Mereka takut kehilangan orang-orang terdekat mereka yang selama hidup terus menemani. Mereka takut untuk meninggalkan dunia ini.

Memang benar bahwa kematian adalah sebuah cara untuk memutus segala nikmat yang bisa diperoleh dari dunia. Harta, jabatan, kekuasaan, keluarga, dan masih banyak lagi nikmat yang bisa diperoleh di dunia akan terputus selamanya oleh kematian. Tempat selanjutnya untuk jasad manusia adalah lahan berupa ruang sempit berukuran tak lebih dari 2x1x2 m3, beberapa diantara mereka akan berada dalam bejana abu, atau mungkin tak tahu kemana jasad mereka berakhir jika kematian mereka terjadi akibat bencana.

Namun, sesungguhnya kematian adalah sebuah perjalanan baru menuju alam lain yaitu alam barzah. Alam yang tak mungkin bisa dijangkau oleh mereka yang masih hidup. Alam yang menjadi alam penantian menuju hari kebangkitan. Sebuah perjalanan menuju keabadian yang hakiki dimana tidak akan ada lagi kematian.

Dalam agama yang saya imani, mengingat kematian adalah sebuah hal yang disarankan. Disarankan agar manusia banyak bersyukur atas segala apa yang sudah diberikan oleh Tuhan. Juga agar manusia mau bertobat atas segala kesalahan yang pernah diperbuat. Ibarat sebuah kegiatan, kematian adalah sebuah kegiatan inspeksi mendadak dari Tuhan untuk umatNya. Tidak ada satupun makhluk yang tahu kapan dirinya akan mati, sekalipun itu adalah seorang paranormal. Manusia pun tak bisa menolak kehendak Tuhan dalam perihal kematian, hanya terdapat opsi “take it” tanpa “leave it”. Manusia tidak bisa menunda atau memajukan jadwal kematiannya.

Tidak berhenti di situ, kondisi sesaat sebelum mati akan sangat menentukan perjalanan baru yang akan dialami oleh manusia. Baik dan buruk akan sangat menentukan rute perjalanan yang akan dilewati manusia saat menuju hari kebangkitan. Kematian yang baik akan memberikan sebuah trip kelas eksekutif dengan fasilitas akomodasi bintang lima dan pelayanan yang ramah. Berbagai kemudahan akan diraih dengan kematian yang baik. Sebaliknya, kematian yang buruk akan berdampak pada rute perjalanan yang sangat berat. Trip kejam, akomodasi kelas bawah, dan pastinya pelayanan tak menyenangkan dari si penjaga hotel. Perlu diingat, itu adalah bayangan dalam pikiran manusia, mungkin saja aktualnya akan jauh melebihi apa yang ada dalam pikiran manusia. Satu lagi, tidak ada yang tahu seberapa lama seorang manusia akan menjalani trip penantian menuju hari kebangkitan. Bisa jadi satu detik, satu jam, satu hari, satu bulan, satu tahun, seribu tahun, atau puluhan ribu tahun. Tidak ada yang mengerti. Artinya, seorang traveler di alam barzah akan merasakan nikmat yang luar biasa indah atau siksaan yang amat keji sampai waktu yang tidak diketahui kapan.

Bagi yang masih hidup, kematian seharusnya tidak menjadi sebuah ketakutan, kematian harusnya menjadi sebuah reminder bahwa manusia tidak bisa tinggal selama di dunia. Sebuah pengingat bahwa waktu yang dimiliki manusia itu terbatas. Dengan batasan tersebut, manusia seharusnya bisa menunjukkan kemampuannya yang terbaik, always strive to be excellent. Buktikan bahwa manusia itu diciptakan tanpa sia-sia, manusia itu hidup dengan tanggung jawab dan tugas tersendiri yang diberikan Tuhan. Dengan selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan cara yang baik, paling tidak manusia sudah mempersiapkan perjalanan baru mereka dengan kualitas yang terbaik juga.

Kita semua pasti tidak ingin perjalanan baru kita menjadi sangat terjal, bukan?

Tabik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s