Ibu Sulastri

Seperti biasa, jalanan Jakarta sangat padat sore itu. Maklum saja, ini jam pulang kantor dan ini adalah hari Jumat. Sore itu tujuan saya adalah Stasiun Pasar Senen, saya sudah punya janji pada seseorang, sebut saja sebagai “agen tiket” untuk membeli sebuah tiket kereta menuju Jogja. Saya terpaksa menggunakan jasa orang tersebut karena tempat duduk kereta sudah habis terjual. Ini semua demi bisa bertemu dengan keluarga tercinta di Magelang.

Saya tiba di stasiun sekitar pukul 5 sore dan langsung saja saya bertemu dengan “agen tiket” tersebut untuk melakukan transaksi yang sudah dijanjikan. Sedikit lebih mahal dari tiket resmi, tapi tak apalah, ada harga yang harus dibayar untuk bisa bertemu keluarga. Tiket sudah di tangan, kemudian saya duduk membaur dengan para agen tersebut, mencoba berbincang-bincang tentang bagaimana bekerja dengan sistem baru yang-katanya-anti-calo, tapi pada kenyataannya para agen tersebut masih bisa mendapatkan tiket yang sudah diklaim habis oleh pihak penjual resmi.

Dari perbincangan saya, ternyata mereka bekerja secara berkelompok untuk mendapatkan tiket. 1 orang sebagai Bandar (pemegang modal), 1 orang sebagai IT agen, dan 1 lagi berperan sebagai pembeli. Ya, begitulah mereka bekerja, IT agent akan menahan sejumlah tiket untuk kemudian dilepas kembali ketika si calo pembeli sudah berada pada barisan terdepan dari antrian pembeli tiket. Nampaknya pemerintah gagal mencegah para calo untuk tetap buta teknologi.

Tak lama saya berbincang dengan mereka, sekitar pukul 6 sore, saya meminta izin kepada petugas pemeriksaan tiket agar dapat masuk ke dalam peron agar bisa beribadah sholat maghrib. Beruntung si Petugas memberikan izin agar saya bisa masuk ke dalam peron meskipun kereta yang saya tumpangi baru akan berangkat 3 jam kemudian.

Saya hanya mengambil sholat maghrib karena saya masih bisa melakukan sholat isya di stasiun mengingat kereta saya baru akan berangkat jam 9 malam. Selesai beribadah, saya kembali ke dalam ruang tunggu stasiun. Waktu berlalu sangat lamban, saya tidak membawa buku untuk dibaca. Internet pun sangat lamban, hanya mencapai kecepatan GPRS. Sepertinya saya kualat sama Supri.

Dalam penantian yang rasanya sangat lama itu, saya mulai merasakan kelaparan. Saya mencoba melihat ke sekitar peron, ternyata tidak ada penjual makanan yang berdagang di peron. Hanya ada sebuah toko waralaba berlambang lebah yang buka di tempat tersebut. Saya kemudian berjalan kembali ke luar stasiun untuk membeli roti dan minuman untuk mengganjal perut yang kelaparan ini.

Selepas membeli roti dan minuman, saya mencari tempat duduk untuk makan dan minum. Namun, saya tidak kembali ke dalam peron, melainkan menunggu di luar peron yang saya rasa lebih ramai daripada di dalam peron yang sangat sepi. Saya mengedarkan pandangan dan saya melihat sebuah bangku kosong yang berada di ujung ruang tunggu penumpang yang berada di luar peron. Saya pun mulai melangkah dan duduk di tempat tersebut.

Tak hanya saya yang duduk di tempat tersebut, ada seorang ibu paruh baya yang sedang menyantap sebuah nasi box. Si Ibu pun menawarkan saya untuk makan, tapi saya menolak. Ini sudah kebiasaan orang Jawa untuk berbasa-basi menawarkan makan. Si Ibu pun menghabiskan makanannya dan saya sendiri menyantap dua potong roti dan menenggak beberapa teguk air botolan.

Di seberang bangku yang saya duduki, terdapat sepasang suami istri yang usianya sudah tua. Saat itu, si Suami baru saja membeli sebuah air mineral 1,5 liter dan segera memberikan air mineral tersebut pada istrinya. Si Istri langsung saja memberikan tawaran untuk minum kepada Ibu yang berada di samping saya. Si Ibu menolak karena beliau merasa masih memiliki bekal air yang cukup untuk diminum. Saya kira si Ibu membawa sebuah botol minum, tetapi saya salah, si Ibu hanya membawa sebuah kantung plastik bening berisi air minum. Saya terdiam di titik itu.

Begitu si Ibu selesai makan, beliau kemudian membuang sampah dari bungkus makanan tersebut ke tempat sampah yang letaknya tak jauh dari tempat duduk kami. si Ibu kemudian mengajak saya berbincang-bincang.

“Mas mau kemana?”
“Saya mau ke Jogja, Bu. Ibu kemana?”
“Saya juga ke Jogja, Mas.”
“Kalo begitu, kita searah Bu.”
“Iya, tapi saya berangkat besok Mas.”

Saya kembali terdiam, hanya bisa menggumam dalam hati. Ibu ini harus bermalam di stasiun ini sampai esok hari. Saat itu saya berpikir bahwa ibu ini harus berteman dengan udara dingin malam di Jakarta hanya untuk bisa berangkat ke Jogja.

Obrolan kami terus berlanjut, si Ibu mulai banyak bercerita tentang kehidupan pribadinya. Saya lebih banyak mendengar dan sesekali bertanya. Ibu ini berasal dari Ujung Pandang yang saat ini bernama Makassar. Suaminya adalah pensiunan tentara berpangkat terakhir Peltu (Pembantu Letnan Satu). Dulu semasa bertugas, suaminya pernah tinggal di Magelang, kota yang sama seperti saya tinggal. Beliau menjadi tentara aktif di Akademi Militer sebelum akhirnya dipindah ke Artileri Medan 11 sampai pensiun dan kemudian hijrah ke Jogja. 5 tahun kemudian setelah pindah ke Jogja, suaminya meninggal dunia.

Ibu ini memiliki enam orang anak, satu diantaranya sudah meninggal dunia. Semua anaknya sudah berpisah rumah dari si Ibu, merantau untuk mencari penghidupan. Satu orang anaknya berada di Maluku, satu lagi berada di Sorong, satu lagi berada di Papua, satu anaknya berada di Jakarta, dan yang terakhir tinggal di Jogja tetapi tidak serumah dengan si Ibu. Alhasil, si Ibu hanya tinggal seorang diri.

Ketika saya bertanya mengenai tempat tinggal, si Ibu mengatakan bahwa beliau tidak memiliki rumah. Selama ini si Ibu hanya tinggal di sebuah kost di daerah Prambanan dengan sewa per bulannya Rp 100.000,-. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi kost yang harga sewanya hanya Rp 100.000,- di zaman seperti ini. Sebenarnya si Ibu sempat ditawari untuk tinggal di rumah besannya dari anak bungsunya, tetapi si Ibu menolak. Malu katanya.

Si Ibu tetap tinggal di kamar kostnya seorang diri sampai masa sewanya berakhir pada tanggal 31 Mei 2013, tepat di saat kami bertemu. Si Ibu kemudian memutuskan untuk berangkat ke Jakarta, berharap dapat ikut menumpang di rumah salah satu anaknya yang tinggal di Jakarta.

Siang hari tanggal 31 Mei 2013, si Ibu tiba di Jakarta. Berbekal alamat rumah anaknya, beliau berjalan menuju rumah anaknya dengan barang bawaan berupa sebuah tas kecil dan tas besar berisi baju-baju yang beliau miliki. Si Ibu dengan harap besar pada anaknya, berjalan dengan pasti menuju rumah anaknya. Begitu sampai di rumah anaknya, si Ibu justru mendapatkan sebuah berita yang sangat memilukan.

Rumah anaknya saat itu sudah tidak dihuni lagi oleh anaknya. Sudah sejak seminggu yang lalu, anaknya pindah dari rumah tersebut dan anaknya pindah tanpa memberitahu terlebih dahulu kepada si Ibu. Si Ibu menangis sejadi-jadinya di depan rumah si Anak.

“Saya tadi nangis seperti anak kecil Mas. Saya ga tau harus kemana lagi. Saya udah ga punya siapa-siapa lagi.”

Suara si Ibu terasa tertahan saat mengucapkan kalimat tersebut. Ada perasaan sedih yang sangat terasa dalam kalimatnya. Saya mencoba untuk menenangkan diri. Berusaha agar emosi saya tidak meluap.

“Terus Ibu mau kemana abis ini?”
“Tadinya saya mau dimasukin ke panti jompo di Jakarta sama tetangga anak saya. Tapi, saya ga mau Mas. Malu. Saya mending pulang ke Jogja.”
“Di Jogja Ibu mau tinggal di mana?”
“Ga tau Mas. Saya mau cari panti jompo di Jogja aja. Nanti saya cari syarat-syarat buat daftar jadi penghuni panti jompo.”

Saya kembali terdiam. Saya hanya berusaha untuk menguatkan si Ibu, meyakinkan si Ibu untuk tinggal di panti jompo supaya dapat teman dan memiliki jaminan kesehatan. Si Ibu sendiri mengatakan bahwa dirinya perlu jaminan kesehatan di usianya yang semakin senja. Saya kemudian meminta izin kepada si Ibu untuk pergi sebentar, saya menitipkan tas saya pada si Ibu.

Saya kembali ke warung waralaba untuk mencari amplop kecil. Dalam pikiran saya saat itu adalah bagaimana saya bisa membantu si Ibu agar bisa sampai ke Jogja, paling tidak bisa melewatkan malam ini dengan cukup bekal. Pikiran saya kalut, dengan terburu-buru saya kembali ke tempat si Ibu tadi berada.

Saya kembali berbincang sejenak dengan si Ibu, mencoba menanyakan jam berapa si Ibu berangkat dari stasiun ini.

“Saya berangkat besok jam 10 Mas”
“Pagi Bu?”
“Bukan, malam”

Saya makin terdiam. Si Ibu harus melewati sehari semalam di tempat ini. Hati saya makin kacau. Saya merasa tidak bisa berada terlalu lama lagi di tempat ini. Saya tidak ingin menangis di depan si Ibu yang sangat tegar ini. Saya kemudian memberikan amplop yang sudah saya siapkan kepada si Ibu.

“Bu, mohon ini diterima. Mungkin tidak banyak, tapi semoga bisa membantu.”
“Terima kasih Mas.”
“Ibu, ini nomer telefon saya. Nanti kalo Ibu udah dapet panti jompo di Jogja, saya tolong dikabari. Biar nanti kalo ada waktu saya bisa mampir ke tempat ibu.”
“Nama Mas siapa?”, si Ibu bertanya pada saya, padahal saya sudah menuliskan nama saya di depan amplop. Saya paham, ternyata si Ibu tak bisa baca tulis.
“Saya Anjar Bu. Nama Ibu siapa?”
“Sulastri. Nama saya Sulastri.”

Setelah mengetahui nama si Ibu, saya kemudian pamit untuk masuk ke dalam stasiun. Saya juga memberikan amplop yang sama pada pasangan suami istri yang ada di seberang bangku saya dan segera beranjak masuk ke dalam peron.

Di dalam peron, saya menangis sejadi-jadinya. Emosi saya tidak terkendali. Saya tidak habis pikir bagaimana seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang bisa menelantarkan ibunya. Membiarkan ibunya dalam kebingungan, sendiri di Jakarta yang keras ini. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika itu terjadi pada ibu saya sendiri. Pastinya saya akan menjadi anak yang sangat durhaka.

Ibu Sulastri yang sebatang kara ini seharusnya sudah berada di Jogja saat ini. Namun, entah ada dimana beliau saat ini. Semoga saja beliau selalu berada dalam lindungan Allah dan senantiasa mendapatkan limpahan rezeki dari Sang Pemberi Rezeki. Dan semoga beliau sekarang sudah berada di Panti Jompo yang bisa memberikan tempat tinggal yang lebih baik bagi beliau.

Memang benar jika kasih Ibu itu sepanjang jalan dan kasih anak hanya sepanjang jalan. Dan rasa-rasanya kalimat ini mencerminkan apa yang ada di hati para ibu, termasuk Ibu Sulastri.

“Apa pun yang kamu lakukan, pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu”
-Ajahn Brahm-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s