Robusta dan Cappuccino

Malam itu tersanding dua gelas kopi. Satu gelas adalah sebuah kopi robusta hitam pekat tanpa gula dan satu gelas lainnya adalah sebuah cappuccino yang lembut dengan hiasan cream di atasnya. Saya mengenggak kopi robusta dalam sebuah cangkir kecil. Tegukan pertama terasa sangat pahit. Mungkin ini adalah minuman terpahit yang pernah saya coba.

Teman saya terheran dan kemudian bertanya. “Anjar, emangnya kopi itu ga pahit?”
Saya menjawab enteng, “Coba aja sendiri.”

Teman saya kemudian mengambil cangkir kopi milik saya dan meneguknya. Teriak. Itu ekspresi pertama yang tampak darinya. Buru-buru dia mengambil cangkir cappuccino milik saya yang ada di atas meja.

Continue Reading

Weekly Photo Challenge : Curves | Sepang

I visited this place in 2011 when I participated at Shell Eco-Marathon Asia. It was a great moment for me, I felt so excited. As we know, Sepang is an international sircuit where world class riders fight to be best rider at the track. And at that time, I had a chance to enter the pit lane.

So, here is the pit lane of Sepang International Sircuit.

IMG_3371This photo is submitted for participating Weekly Photo Challenge : Curves

 

Menggenggam Senja

Photo1116

“Itu senjanya lagi bagus banget, buruan difoto”

Kalimat tersebut adalah kalimat yang paling aku ingat ketika aku mengendarai sepeda motor dengan gadisku. Dia adalah orang yang sangat mencintai mentari senja, tentang jingga senja yang memenuhi langit, tentang momen yang saat menenangkan saat senja. Ya, dia adalah gadis senja. Beda dengan aku yang mencintai fajar, tentang mentari emas yang muncul dari gelap, tentang mentari yang kemudian memutih, tentang sebuah harapan baru akan kehidupan.

Kita berdua sangat berbeda, persis seperti fajar dan senja yang sangat berbeda. Dia sangat pendiam, cenderung tertutup. Aku banyak bicara, nyaris sesuka hati. Dia serba terencana, sedangkan aku hampir setiap saat spontanitas. Dia wanita, aku pria. Jelas.

Namun, dalam perbedaan itulah kami saling menyatukan. Ketika aku tak bisa tenang, dia yang menenangkan. Ketika dia tak bisa berbicara, aku yang mencoba untuk mewakili. Ketika aku lelah, dia yang mendorong. Ketika dia butuh bersandar, aku yang menjadi pundaknya. Setahun ini, kami mencoba saling menguatkan.

Sampai saat ini pun kami masih saling menguatkan, meskipun terasa bahwa senja makin menjauh dari fajar. Mungkin ini akibat awan gelap dan badai yang terjadi di antara fajar dan senja. Badai yang terus mencoba menghalangi fajar terbit dan senja terbenam. Badai itu bernama orang tua.

Orang tuaku sama sekali tak memberikan restu atas hubungan kami. Alasan dari orang tuaku sangat klise, keluarga. Ibu merasa tidak sanggup menerima latar belakang dari keluarga senjaku. No matter how hard I try to convice her, Ibu selalu menolaknya. Bahkan sampai kemarin ketika aku menangis hebat di telefon, memohon agar kami bisa diberikan kesempatan agar dapat membuktikan bahwa aku dan dia sanggup memberikan sebuah keluarga yang baik. Namun, semua permohonanku ditolak mentah-mentah.

Aku tidak sanggup untuk melepaskan gadis yang sangat  kusayang, hati ini sudah terlanjur tertambat kuat. Tetapi, ibu tidak peduli. Hatinya makin mengeras, tertutup ketakutan akan rusaknya nama baik keluarga. Takut akan dipandang sebelah mata oleh orang lain. Takut jika akan menjadi orang yang hina di dunia.

Aku tak habis pikir dengan hal ini. Sejak kapan ibu melihat seseorang dari sisi duniawi. Sudah jelas disebutkan bahwa yang berhak menentukan baik atau tidaknya seseorang hanyalah Tuhan. Dan sangat jelas bahwa strata sosial bukanlah sebuah tolak ukur kebaikan seseorang, melainkan keimanan.

Senjaku yang pendiam menangis mengetahui hal ini, pun denganku. Aku mencoba menguatkan, tetapi senja yang rapuh seakan tak sanggup untuk menanggung semua ini.

“Menjauhlah”, senja berkata.
“Bantu aku dengan meninggalkanku”, lanjut senjaku.

Aku terdiam. Aku tak sanggup lagi berkata-kata. Apa yang sudah  kurencanakan selama ini hancur seketika. Lebur jadi uap, lenyap. Entah darimana lagi aku sanggup untuk menguatkan diri. Ibu terlalu keras untuk dilawan, mungkin hanya diam yang bisa menahan.

Senjaku, mungkin jalan kita terjal. Tiap kali melangkah, selalu ada halangan yang menghadang. Tapi, bukankah di setiap kesulitan ada kemudahan?

Aku masih ingat ketika sajak-sajak ini aku tulis untukmu

“Barangkali ketika senja menghilang, fajar akan merindukannya.
Tak kan ada fajar ketika tak ada senja. Tak kan ada senja bila fajar tak datang.
Kita beda, tapi kita tahu kita saling mencari.
Kita beda yang menyatu.”

Senjaku, dalam tiap langkahku, aku akan selalu mencoba untuk menguatkanmu. Meyakinkanmu bahwa semuanya bisa dilalui dengan baik. Aku akan selalu mencoba menggengammu, mungkin tidak dengan tangan, tidak pula dengan kata-kata. Aku hanya akan mencoba menggenggammu dengan hati.

IMG00482-20121001-1802

Ibu Sulastri

Seperti biasa, jalanan Jakarta sangat padat sore itu. Maklum saja, ini jam pulang kantor dan ini adalah hari Jumat. Sore itu tujuan saya adalah Stasiun Pasar Senen, saya sudah punya janji pada seseorang, sebut saja sebagai “agen tiket” untuk membeli sebuah tiket kereta menuju Jogja. Saya terpaksa menggunakan jasa orang tersebut karena tempat duduk kereta sudah habis terjual. Ini semua demi bisa bertemu dengan keluarga tercinta di Magelang.

Saya tiba di stasiun sekitar pukul 5 sore dan langsung saja saya bertemu dengan “agen tiket” tersebut untuk melakukan transaksi yang sudah dijanjikan. Sedikit lebih mahal dari tiket resmi, tapi tak apalah, ada harga yang harus dibayar untuk bisa bertemu keluarga. Tiket sudah di tangan, kemudian saya duduk membaur dengan para agen tersebut, mencoba berbincang-bincang tentang bagaimana bekerja dengan sistem baru yang-katanya-anti-calo, tapi pada kenyataannya para agen tersebut masih bisa mendapatkan tiket yang sudah diklaim habis oleh pihak penjual resmi.

Continue Reading