Ruang Syukur

Petang itu tubuh saya menggigil kuat, termometer menunjukkan suhu 39, 8 ˚C. Perawat pun langsung memasukkan jarum infus ke dalam pembuluh darah saya, sebagai usaha untuk menstabilkan kondisi tubuh saya. Saya pun kemudian diantar untuk menempati sebuah ruang yang tidak begitu lebar, tak lebih dari 3 x 3 meter. Di sana sudah menunggu dua buah tempat tidur, satu tempat sudah diisi oleh seorang prajurit yang mengalami gagal ginjal dan satu tempat lagi untuk saya. Malam itu saya menginap di ruang tersebut dan sempat membuat para perawat repot karena saya sempat tak sadarkan diri akibat demam tinggi yang saya alami.

Dalam 3 hari perawat di ruang itu, yang saya inginkan hanyalah segera meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke rumah. Yang saya lihat hanyalah ketidaknyamanan, tubuh saya berkali-kali harus dijejali obat, lewat jalur infus, terkadang harus ditelan. Semuanya sangat tidak nyaman. Belum lagi saya juga harus mempersiapkan diri, jika saja saya akan tertular penyakit pernafasan yang kala itu sedang marak akibat Gunung Merapi meletus.

Saya membenci ruangan ini, membenci segala detail tentang ruangan ini. Selang infus, kasur dengan bantal dan selimut yang serba putih, pispot, dan tempat makan dari stainless steel yang mengerikan. Saya membencinya dan saya berharap tak pernah datang kembali ke ruangan itu. Sampai satu saat saya berubah pikiran.

Bukan sebuah kebetulan jika saya harus masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan peralatan medis. Saat itu hari Jumat, seorang gadis mengajak saya untuk ikut dalam kegiatannya. Sebuah kegiatan sederhana, hanya mengunjungi pasien di sebuah rumah sakit di Jogja. Awalnya saya tidak begitu tertarik karena saya memang membenci rumah sakit. Namun, ada rasa yang mendorong saya untuk tetap bertahan dalam kegiatan ini. Entah itu apa.

Ruangan pertama yang saya kunjungi adalah sebuah ruangan yang diisi oleh seorang ibu. Ibu ini sudah berhari-hari berada di rumah sakit ini. Beliau menderita penyakit yang jelas saja saya tidak kenal. Penyakit tersebut membuat tulang si Ibu sangat mudah untuk patah. Menurut dokter, ini bukan osteoporosis. Si Ibu hanya bisa terbaring tak berdaya di tempat tidur dengan kaki yang diberi beban. Saya terdiam, memikirkan apa yang baru saja saya lihat.

Pasien kedua yang kami jenguk lagi-lagi seorang ibu. Penyakitnya cukup membuat saya merinding. Kaki si Ibu membengkak besar dan yang lebih mengerikan lagi, dari kaki tersebut mengeluarkan bau yang sangat tidak sedap. Dari rombongan yang ikut dalam kegiatan ini, hanya beberapa saja yang bertahan dan saya adalah salah satu yang mencoba untuk bertahan dari bau yang memenuhi ruangan tersebut. lagi-lagi saya hanya bisa terdiam melihat kondisi seperti ini.

Pasien ketiga yang saya temui kali ini berbeda, seorang balita. Adik kecil ini masuk karena gangguan pernafasan yang dia alami. Menurut penuturan salah satu rekan saya, adik ini masuk rumah sakit setelah mengalami demam tinggi dan kesulitan bernafas. Terus terang, saya tak sanggup melihat adik ini terlalu lama, terlalu menguras emosi. Saya hanya mampir sebentar dan kemudian menunggu di luar ruangan. Kali ini pun sama, saya hanya terdiam.

Ruangan-ruangan ini seakan ingin menunjukkan pada saya bahwa apa yang saya alami dahulu tak seberapa jika dibandingkan dengan pasien-pasien yang ada di ruangan tersebut. Mereka hanya bisa terbaring lemah dan tidak berdaya menghadapi penyakit yang mereka hadapi. Mereka hanya bisa berikhtiar sekaligus menyerahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa.

Ruang itu mengajarkan hal penting pada saya untuk terus bersyukur. Bersyukur bahwa apa yang saya alami masih jauh lebih baik. Tulang saya masih utuh, kaki saya tidak membengkak, dan paru-paru saya masih bisa digunakan untuk bernafas dengan baik. Terlalu banyak kelebihan yang saya terima daripada mereka.

Ruang itu juga mengajarkan saya untuk tidak membenci dan menyadarkan saya bahwa sekuat apa pun diri kita berusaha untuk membenci sesuatu, akan tetap ada ruang untuk memberikan cinta. Bahkan rasa-rasanya hati ini memang tercipta bukan untuk membenci, tapi untuk menyimpan rasa cinta. Mungkin penyakit yang saya terima dulu merupakan bagian dari rasa sayang Tuhan untuk saya. Tuhan memberikan kesempatan saya untuk bisa bersyukur atas apa yang sudah Dia berikan.

Ruang yang dulu sangat amat saya benci, kini menjadi sebuah ruang yang membuat saya makin mengerti tentang makna syukur, tentang bagaimana memaknai penyakit dari sudut pandang rasa syukur, bukan dari sisi negatif yang hanya akan membuat saya makin mengeluh dengan keadaan. Pada akhirnya, ruang itu menjadi salah satu guru yang mengajarkan mencoba mengajarkan pada saya tentang salah satu bagian penting dari hidup ini. Bersyukur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s