Perompak itu Berseragam Dinas

Bepergian dengan menggunakan kendaraan pengangkut (pick up) bermuatan memang tidak mudah. Bukan perkara dengan kendaraan yang menyulitkan, melainkan tentang bagaimana banyak tantangan yang harus dihadapi di sepanjang perjalanan, mulai dari jalur kendaraan yang sangat diatur sampai ancaman para perompak. Ya, saya tegaskan bahwa perompak adalah salah satu ancaman bahkan untuk kendaraan yang berada di darat, bukan di laut seperti pada umumnya.

Perompak ini bukanlah kumpulan orang-orang marjinal yang memang tidak punya pekerjaan tetap sehingga mereka harus melakukan tindakan kriminal pada orang lain. Bukan! Mereka adalah kumpulan orang-orang berpakaian seragam resmi dari pemerintah yang tiap bulannya mendapatkan gaji dari pemerintah, mendapatkan tunjangan untuk mereka dan keluarga mereka. Mereka adalah aparatur negara!

Pengalaman bertemu dengan para perompak ini pernah saya alami ketika harus berkendara dari Jogja menuju Jakarta dengan mobil pick up bermuatan kendaraan SEMAR milik UGM pada tahun 2011. Tepat 2 tahun yang lalu, pada tanggal 12 Mei 2011, saya bersama teman saya ditugaskan untuk mengawal kendaraan SEMAR, sebuah kendaraan prototype untuk lomba SHELL ECO-MARATHON ASIA milik UGM, dari Jogja menuju Jakarta dengan dua buah mobil pick up. Kami berangkat sekitar pukul 9 malam, berharap kami bisa tiba di Jakarta pagi hari.

Perjalanan dari Jogja menuju Magelang tidak banyak kendala, hanya ketika memasuki daerah Secang, kendaraan harus bergerak lamban karena saat itu sedang ada perbaikan jalan raya. Cukup lama bagi kami untuk bisa melewati daerah ini karena macet terjadi cukup panjang. Lepas dari Secang, kendaraan kami bisa melaju dengan kecepatan normal, 60 kmh. Memang sengaja tidak berkendara terlalu cepat karena barang yang kami bawa cukup ringkih, terutama di bagian body karena terbuat dari bahan fiberglass.

Kendaraan terus melaju sampai menuju Parakan, kami mengambil jalur menuju Weleri. Jalanan di sini brutal, lubang menganga tersebar di sepanjang jalan. Belum lagi ditambah dengan aspal yang banyak mengelupas. Perjalanan di tempat ini menjadi yang sangat berat, kami berjalan sangat lamban. Baru lepas tengah malam kami bisa masuk ke daerah Kendal. Di tempat ini, handphone yang dibawa oleh supir pick up saya hilang akibatnya kami mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan kendaraan pick up lainnya.

Kejadian perompakan pertama kami alami di daerah Pekalongan. Saat itu saya sedang setengah tertidur, mata memejam tetapi masih sanggup mendengarkan apa yang terjadi. Kami sempat dihampiri oleh seorang warga setempat dengan sepeda motor. Dia bergerak dari arah belakang dan kemudian menghampiri pintu supir dalam keadaan kendaraan tetap bergerak. Warga tersebut meminta uang lewat atas kendaraan kami, tetapi supir saya berkata bahwa kami tidak bawa uang cukup hanya ada sebungkus rokok kretek bermerk Sampoerna Hijau, jelas ini bukan rokok favorit bagi kebanyakan orang. mendapati keadaaan kami yang demikian, warga tersebut pergi tanpa meminta apa pun. Aman.

Kejadian selanjutnya menimpa kendaraan yang ditumpangi oleh teman saya. Di tengah perjalanan di daerah Tegal, dia sempat dihentikan oleh seorang aparat kepolisian. Dari penuturan teman saya, si Polisi ini sengaja menghentikan kendaraan pick up yang teman saya tumpangi. Prosedur standar pun dilakukan oleh polisi tersebut dengan meminta kelengkapan surat-surat kendaraan dan supir. Dirasa lengkap, polisi ini mulai mencari alasan lain untuk menilang kendaraan teman saya. Dia menanyakan apa yang dibawa oleh pick up kami. Teman saya menjawab dengan jujur, “Mobil”. Mendengar keterangan tersebut, si Polisi makin curiga. Langsung saja teman saya mengeluarkan surat jalan yang diberikan oleh pihak kampus padanya. Si Polisi terdiam seraya mengembalikan surat jalan tersebut dan hanya berpesan agar kami tidak melakukan hal yang sama yaitu membawa mobil di atas mobil. Nampaknya, si Polisi tak bisa berbuat banyak setelah mengetahui bahwa kami harus bertemu dengan presiden esok hari. Itu semua tertera dalam surat jalan kami. Lagi-lagi terbebas dari ancaman perompak.

Lain cerita ketika kami melalui daerah Cirebon dan Indramayu. Ternyata kami terlalu lamban dalam membawa kendaraan sehingga kami baru tiba di daerah Kanci kami ketika matahari sudah mulai terbit. Akibatnya kami memasuki daerah Cirebon ketika matahari sudah tinggi dimana aktivitas warga sudah mulai tinggi, salah satunya adalah perompak jalan yang kami temui.

Saat itu kami melintas dengan santai sampai kami memasuki sebuah daerah yang entah saya tidak tahu namanya dan kendaraan kami diberhentikan oleh seorang petugas DLLAJ. Saya yang baru pertama kali melintasi daerah ini dengan pick up tidak paham apa maksud dari si petugas. Kami menepi dan si Petugas pun datang menghampiri. Tak jauh beda dengan yang dilakukan oleh oknum polisi tengah malam tadi, si Petugas juga meminta kami menunjukkan surat-surat kelengkapan kendaraan bermotor. Saya pun ikut menunjukkan surat jalan dari kampus, tetapi kali ini surat ini tak berlaku. Tanpa tedeng aling-aling, si Petugas langsung meminta kami membayar sejumlah uang. Saya makin heran kenapa kami harus membayar uang. Surat kendaraan kami lengkap, surat jalan pun lengkap. Bobot angkutan kendaraan kami pun tidak melebihi ambang batas yang ditentukan. Kami tidak melakukan satu hal pun yang menyalahi aturan, sama sekali tidak.

Supir saya mencoba menego jumlah uang yang awalnya diminta oleh petugas. Setelah terjadi pembicaraan, uang sejumlah Rp 10.000,- pun setuju untuk dibayarkan. Sial, taka da uang pecahan Rp 10.000,- yang ada pecahan Rp 20.000,-. Belum selesai kami berbicara, si Petugas dengan sigap langsung mengambil uang kami dan pergi entah kemana. Sialan! Saya kesal setengah mati, menyumpahinya sepanjang jalan. Bukan perkara uang yang saya permasalahkan, tapi orang ini sama sekali tak punya moral sebagai manusia.

Lihat seorang petugas yang berdiri di separator jalan? Itu adalah salah satu perompak yang menghentikan kendaraan kami.

Lihat seorang petugas yang berdiri di separator jalan? Itu adalah salah satu perompak yang menghentikan kendaraan kami.

Belum usai kekesalan saya, tak jauh dari tempat tersebut, kami harus menghadapi perompak berseragam DLLAJ lagi. Kali ini adu mulut makin sengit. Supir mobil pick up yang saya tumpangi beradu mulut cukup lama dengan petugas. Petugas di tempat ini sangat kejam terhadap kendaraan berplat luar kota. Kami dicecar habis-habisan oleh petugas. Alasan dari petugas bermacam-macam. Yang kami tidak lengkap membawa alat P3K, mobil kami tidak dilengkapi dengan segitiga pengaman, dan banyak lagi alasan-alasan yang dibuat oleh petugas. Si Supir tak gentar, dia menantang para petugas untuk menaikkan kasus ini ke pengadilan.

“Silakan kalo mau dibawa naik ke pengadilan! Saya ngga peduli! Tapi harus bapak ingat, kami harus bertemu dengan presiden sore ini!”, teriak si Supir.

Para petugas pun mulai ciut nyali. Mereka mulai melunakkan hati mereka yang sebelumnya sangat keras. Namun, semuanya omong kosong. Mereka tetap meminta uang dari kami. Memang tak sebanyak yang diminta oleh petugas sebelumnya. Rp 10.000,- untuk dua buah mobil dan kami pun pergi meninggalkan petugas-petugas brengsek di pos mereka.

Kami melanjutkan perjalanan dan lagi-lagi kami dicegat oleh gerombolan perompak berbaju biru-hitam. Bangsat! Mau sampai kapan kami terus menerus dihentikan oleh perompak ini?

Seorang petugas menghampiri saya dan menanyakan apa yang kami bawa. Basa-basi yang sudah diketahui ujungnya, uang.

“Mobil, Pak!”
“Mobil? Kok kecil?”
“Ya gapapa kan Pak”
“Ada surat-suratnya ngga?”
“Cuma ini Pak”, jawab saya sambil menunjukka surat jalan dari kampus.
Kok cuma ini? Harusnya ada surat-surat dari polisi, ini kan kendaraan.”
“Polisinya aja ngga ngasih surat Pak! Lagian ini mobil ngga dipake di jalan!”

Tiba-tiba satu lagi petugas datang menghampiri mobil kami, tapi kali ini menghampiri supir. Supir saya yang sudah kelelahan langsung saja memberikan lembaran Rp 2.000,- kepada si petugas. Setelah mendapatkan uang tersebut, petugas yang berada di samping saya langsung pergi menjauh dan mempersilakan kami untuk melanjutkan perjalanan. Tak jauh, kami kembali dicegat, spontan saja saya teriak, “Udah tadi di belakang!!!” dan kami pun melanjutkan perjalanan.

Saya tidak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan. Mereka adalah aparat dari sebuah instansi pemerintahan dan mereka resmi. Namun, apa yang mereka lakukan sangatlah hina. Melakukan perompakan terhadap sesama warga negara yang setiap bulan uang gajinya dipotong untuk pajak guna membayar uang gaji mereka. Yang lebih membuat saya miris lagi adalah pimpinan mereka menyatakan bahwa tidak ada pungli di sepanjang jalur pantura. Semua anggotanya dinyatakan bersih dari pungli. Bersih kepalamu Pak!

2 tahun berselang, saya kembali melawati jalur tersebut. Namun, kali ini tidak menggunakan mobil pick up, melainkan menggunakan kereta api. Jalur kereta api yang saya naiki persis melewati tempat di tempat dimana saya mengalami perompakan. Ketika melewati tempat tersebut, terlihatlah seorang petugas masih juga merompak pengendara truk. Heran, mengapa tidak ada tindakan dari pemerintah pusat untuk menertibkan para perampok berkedok petugas ini. Apakah pemerintah sudah tutup mata tentang kegiatan perompakan yang juga tak beda dengan korupsi. Meskipun pungutan dari satu kendaraan tak banyak, mungkin hanya sekitar Rp 5.000,- tapi lihatlah jumlah kendaraan yang melewati pantura, seharinya bisa mencapai ratusan bahkan mungkin ribuan truk hilir dan mudik melalui jalur ini. Hitung saja berapa banyak uang yang sanggup mereka gelapkan, pasti kalian akan terbelalak dengan jumlahnya.

4 thoughts on “Perompak itu Berseragam Dinas

  1. Baca ini gregetan banget, bro… Rasanya pingin jambak-jambak para ‘perompak’!
    Elus dada lihat bukti nyata bibit korupsi yang sudah mengakar, membudaya sehingga menghilangkan rasa perikemanusiaan di hati dan otak mereka😦

    • saya pas ini rasanya pengin gelut mas sama orangnya langsung, tapi pasti nanti urusannya lebih panjang lagi. saran saya cuma 1, jangan lewat daerah itu kalo pagi, pasti kena bajak.😀

  2. Indonesia ku sayang, Indonesia ku malang.

  3. lld yang disana itu sama dengan maling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s