Macet: Masih Ada Syukur di Dalamnya

foto diambil dari http://blog.didut.net/

foto diambil dari http://blog.didut.net/

MACET. Sebuah kata yang sangat familiar di kalangan warga Jakarta. Bagaimana tidak, nyaris setiap hari warga Jakarta harus membuang banyak waktu di jalanan, berlelah-lelah ria membelah kemacetan, hanya untuk mencapai sebuah tujuan yang letakknya tak seberapa jauh. Perihal macet ini tentu saja menguras fisik dan mental. Namun, bagi saya selalu ada hal menarik dalam sebuah kemacetan.

Saya jarang sekali mendapati kemacetan Jakarta dari kendaraan pribadi, saya lebih sering menikmati kemacetan dari kendaraan umum. Itu semua jelas karena saya memang tidak punya kendaraan pribadi, bukannya saya sok-sokan go green. Namun, justru dari dalam kendaraan umum, saya bisa menikmati setiap detik yang saya lalui dalam macet.

Dulunya, sempat saya merasa muak dengan kondisi jalanan Jakarta yang serba macet. Mau ke kantor ; macet, mau ke toko buku ; macet, mau belanja ; macet. Semuanya serba macet. Bahkan saya sempat memutuskan untuk mencari kerjaan baru di luar Jakarta hanya karena ingin terhindar dari kemacetan yang semakin menggila ini. Namun, sekarang saya sudah mulai bisa menikmati setiap detik dari kemacetan Jakarta.

Dalam kemacetan, terlebih dari dalam kendaraan umum, saya bisa melihat berbagai macam ekspresi warga Jakarta. Mulai dari yang terus gelisah karena kendaraan tak kunjung bergerak, orang yang tertidur pulas, anak-anak muda yang tak henti-henti menunduk ke arah gadgetnya, orang yang tak lelah menyumpal telinganya dengan headset untuk mendengarkan musik, bahkan sampai orang yang mengumpat kemacetan. Ya, banyak hal yang bisa saya lihat dalam kendaraan umum ketika macet. Cukup menarik bagi saya, setidaknya saya tidak melulu melihat wajah orang Jakarta yang kebanyakan tanpa ekspresi ketika berada di dalam kendaraan umum, membosankan.

Namun, bukan hal tersebut yang menjadi perhatian utama saya. Ada hal penting lain yang perlu disadari oleh setiap orang yang berada di dalam kemacetan. Sebuah kata bernama “bersyukur”. Kadang manusia merasa lupa bersyukur ketika berada dalam kemacetan. Kebanyakan dari mereka lebih senang mengumbar emosi dengan menekan tombol klakson berkali-kali tanpa alasan padahal mereka tahu bahwa klakson tidak akan mengurai kemacetan, hanya akan menambah kebisingan dan tekanan ketika macet. Beberapa di antara mereka sibuk mengeluh dan mengumpat ketika terjadi kemacetan padahal jelas-jelas umpatan mereka juga tidak akan menyelesaikan masalah. Lagi-lagi hanya emosi yang ditunjukkan ketika macet terjadi.

Memang kehidupan di Jakarta yang serba cepat menuntut setiap orang untuk mengikuti ritme yang ada, tapi kemacetan selalu menghalangi mereka untuk bergerak cepat. Makanya, kebanyakan orang Jakarta membenci kemacetan, tapi masih juga tinggal di Jakarta.

Baiklah, kembali ke masalah bersyukur. Sekalipun dalam kemacetan, selalu ada sisi positif yang bisa dilihat jika benar-benar ingin melihat hal itu. Dalam kemacetan, kita dipaksa untuk berkendara secara lambat, perlahan-lahan melewati aliran kendaraan yang merambat pelan. Jika kita sadar, dalam perjalanan yang serba pelan ini kita diberi semacam perlindungan lebih lama oleh Tuhan. Jarang sekali terjadi kecelakaan ketika kendaraan berjalan pelan. Kecuali jika kita memutuskan menjadi anti mainstream di saat macet dengan membuka lubang bahan bakar lebar-lebar dan berjalan zig-zag ditengah rimbunnya kendaraan.

Dalam kendaraan umum pun sama, ada perlindungan ekstra yang Tuhan berikan pada penumpangnya. Tak perlu merasa khawatir terkena hujan, tak perlu khawatir terpapar sinar matahari terlalu lama, dan tak perlu khawatir dengan debu yang beterbangan sembarangan di luar kendaraan. Ya, meskipun kita tidak bisa menghindari aroma asam dari ketiak orang lain atau mungkin merasakan lengketnya tubuh orang lain ketika tidak sengaja bersentuhan. Tapi, bersyukurlah bahwa hal tersebut tak sanggup menghilangkan nyawa manusia, ya paling tidak sampai saat ini belum ada laporan tentang orang yang meninggal karena terlalu banyak menghirup aroma ketiak manusia.

Pada intinya, dalam kemacetan pun selalu ada limpahan berkah dari Tuhan untuk manusia. Namun, kembali lagi pada manusia tersebut, mau melihat lebih dalam pada sisi baik atau pada sisi buruk, mau bersikap positif atau negatif. Semuanya kembali pada individu itu sendiri.

Kata teman saya, “Buat apa mengeluh tentang hal buruk, toh mengeluh pun tak menyelesaikan masalah. Jadi lebih baik tersenyum saja.”

4 thoughts on “Macet: Masih Ada Syukur di Dalamnya

  1. Mari kita berdamai dengan kemacetan… Senyum😀

  2. Subkhanallah… terimakasih ya anjar, baca postinganmu membuat saya sadar.. betapa selama ini saya sangat kurang bersyukur…
    Bisa gila memang kalau menuruti emosi saat kita menghadapi kemacetan di Jakarta ini.
    dan bener banget kata mas halim, mari kita berdamai dengan kemacetan Jakarta.. terutama di Senin pagi (-_______-)”

    • ya begitulah, ketika memutuskan untuk hidup di Jakarta, kita harus siap dengan segala risikonya, macet ini salah satunya. Nah, daripada melulu melihat dari sisi yang negatif, mending melihat dari sisi yang lain. hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s