“Hello”, says Jakarta

Traveling, kemana pun tujuannya dan bagaimana pun caranya, pasti akan meninggalkan kesan yang berbeda pada pelakunya, termasuk pada saya. 2 bulan yang lalu saya melakukan perjalanan menuju ibukota negeri ini, tak lain tak bukan adalah Jakarta. Perjalanan saya saat itu bukanlah untuk tujuan wisata, melainkan untuk mengadu nasib, menantang kerasnya Jakarta untuk sebuah pekerjaan.

Kamis, 21 Februari 2013. Saya selesai menjalani tes wawancara dengan direktur sebuah perusahaan di Jakarta tepat di tengah hari. Saya yang tidak punya sanak saudara di Jakarta kebingungan untuk mencari tempat singgah sementara sampai teman saya pulang kembali ke rumah pada petang nanti. Cukup lama jika saya harus menunggu di sebuah tempat sampai petang. Saat itu sebuah tempat terbayang begitu saja, Istiqlal. Ya, ini adalah satu-satunya tempat yang memungkin bagi saya untuk bisa beristirahat tanpa harus merasa takut untuk diusir dan di tempat ini pula saya bisa leluasa untuk beribadah.

Saya melangkahkan kaki menuju halte bus transjakarta yang tepat berada di depan kantor tempat saya menjalani tes. Di dalam halte ini tak banyak orang, hanya ada beberapa orang dan diantaranya terdapat orang tua. Sejenak saya mengecek jalur bus untuk menuju Masjid Istiqlal. Setelah mantap dengan jalur yang saya pilih, saya kemudian membayar tiket dan masuk ke dalam halte. Rencana jalur yang saya susun buyar dalam sekejap, saya memutuskan untuk tidak mengikuti rencana yang sudah dibuat. Semua itu karena saya bertemu dengan seorang bapak setengah baya.

Bapak itu menunggu bus yang sama dengan saya, transjakarta koridor 10 jurusan Tj. Priuk – PGC. Kami berdua menunggu di pintu yang sama. Bapak itu memulai percakapan tentang hasil pertandingan sepakbola semalam. Percakapan kami pun terus mengalir, dari percakapan tersebut saya mengetahui bahwa bapak ini bekerja di sebuah kementerian di daerah Gatot Soebroto dan saat itu beliau sedang mengurusi usaha sampingannya di Sunter. Meskipun kami hanya sejenak bertatap muka, tetapi bapak tersebut berpesan pada saya agar bekerja dengan baik dan bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan pada saya. Ini bukanlah sebuah pesan sambil lalu, tapi ini adalah sebuah pesan dari orang yang dulu pernah tidak benar dengan pekerjaannya. Ya, beliau menceritakan bagaimana dahulu beliau bekerja sekenanya, sampai akhirnya beliau sadar untuk bekerja dengan sebagaimana mestinya.

Bus pun datang, kami berdua kemudian menaiki bus tersebut dan perjalanan pun dimulai. Di dalam bus, kami tak banyak berbicara. Beliau lebih banyak memejamkan mata daripada berbicara. Mungkin karena si Bapak terlalu lelah karena harus bepergian cukup jauh dari kantornya. Bus terus melaju, sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di halte transit di Cawang. Kami berdua bergegas turun dari bus dan kemudian berpisah di halte ini. Si Bapak langsung menaiki bus yang menuju arah Gatot Soebroto, sedangkan saya sendiri masih cukup bingung karena saya memang belum pernah singgah di halte ini. Saya kemudian bertanya pada petugas halte dan petugas halte mengarahkan saya agar naik bus ke arah Semanggi.

Berbekal keterangan yang diberikan oleh petugas halte, saya bergegas untuk menunggu bus di pintu kedatangan bus arah Semanggi, tak lama kemudian bus pun datang. Saya benar-benar buta arah sekarang, saya hanya memasrahkan perjalanan ini pada Alloh, apapun yang terjadi, itu adalah kehendakNya. Di dalam bus, saya terus memandangi papan petunjuk halte yang terpasang di dalam bus. Setiap kali bus berhenti, saya melihat keluar jendela dan kemudian kembali melihat papan petunjuk. Begitu seterusnya sampai saya tiba di Halte Semanggi.

Dari tempat ini, saya mulai mendapatkan gambaran tentang rute yang harus saya tempuh untuk menuju Istiqlal. Koridor 1 Blok M – Kota. Saya kemudian melangkahkan kaki kembali menuju halte transit Semanggi dan menaiki bus menuju arah Monas. Memang saya tidak bisa turun langsung di halte Istiqlal. Masih harus berjalan kaki cukup jauh dari halte Monas menuju Masjid Istiqlal.

Setibanya di Halte Monas, saya kemudian berjalan kaki untuk menuju Istiqlal. Keluar dari halte, saya harus menyebrang jalan. Saya melihat lampu lalu lintas masih berwarna hijau, yang artinya saya tidak akan bisa menyebrang karena memang lalu lintas di Jalan Merdeka Barat sangatlah padat. Lama saya berdiri di tepian jalan, menanti lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Tapi nampaknya saya hanya mendapat harapan palsu dari lampu lalu lintas sampai akhirnya seorang wanita datang menghampiri dan kemudian menekan tombol di tiang lampu lalu lintas. Aha! lampu pun berubah menjadi merah. Ya, maklum saja, saya tidak pernah menemui hal seperti ini di daerah asal saya.

Saya terus berjalan dari halte ini menuju Istiqlal. Setelan kemeja hitam-hitam rasanya benar-benar tidak cocok dengan cuaca Jakarta. Panas terik matahari Jakarta terus membakar kulit dan menguras keringat. Saya memang tidak terbiasa dengan panas terik, mengingat tempat tinggal saya adalah sebuah kota yang sejuk, Magelang. Saya mencoba mengumpulkan semangat untuk terus berjalan karena Istiqlal nampaknya masih jauh, meskipun menara dari masjid terlihat jelas di depan mata.

Di tengah perjalanan, saya melihat sebuah keluarga yang berjalan di depan saya. Saya terus mengamati sampai akhirnya saya tahu bahwa mereka adalah keluarga yang kurang mampu. Semuanya tampak sangat jelas, pakaian mereka yang kumal, tubuh mereka yang  hitam legam dan kotor, dan belum lagi mereka membawa beberapa peralatan untuk bermalam. Ironi. Saya melihat ke seberang jalan, Istana Merdeka berdiri dengan megah dan mewah, pilar besarnya tegak kokoh. Sedangkan di depannya, sebuah keluarga tak mampu terus berjalan dan entah dimana nanti mereka akan tinggal untuk bermalam.

Saya terus berjalan menuju Istiqlal, mencoba mempercepat langkah agar segera bisa berteduh. Begitu saya tiba di Masjid Istiqlal, saya segera mengganti pakaian dan bergegas untuk menunaikan ibadah sholat. Masjid ini besar, saking besarnya saya merasa seperti semut yang berada di kandang singa. Merasa sangat kecil, benar-benar kecil. Di tempat ini saya memasrahkan diri, sekejap menikmati teduhnya tempat ini.

Sempat saya tertidur pulas di tempat ini, sampai akhirnya saya mendengar dua orang pria berbincang dan berkata, “Di tempat ini emang dilarang tidur-tiduran, tapi tidur beneran ga dilarang”. Seketika itu pula saya bangun, berdiri, dan kemudian keluar dari masjid.

Sekeluarnya dari masjid, saya mencoba mencari makan di dekat masjid. Sedari pagi saya belum mendapatkan nutrisi yang cukup. Tak jauh dari masjid, saya melihat sebuah rumah makan, bukan, sebuah warung, warteg tepatnya. Saya memesan sebuah ayam goreng berukuran besar dan beberapa sayuran pendamping. Cukup banyak untuk ukuran warteg di Jakarta dan harganya tidak terlalu melilit dompet.

Tibalah waktu ashar, saya kemudian kembali menuju masjid untuk beribadah. Selesai beribadah, saya kemudian mengontak teman saya untuk mengonfirmasi tempat dimana kami akan bertemu malam ini. Dia adalah satu-satunya orang yang paling mungkin untuk dimintai pertolongan, Setelah bernegosiasi, saya akhirnya memutuskan untuk berangkat menuju Kepala Gading pukul 16.00 padahal kami baru akan bertemu pukul 19.00. Ini harus dimaklumi karena lalu lintas Jakarta itu edan.

Benar saja, lalu lintas Jakarta memang edan. Bus, mobil, sepeda motor, semuanya berebut jalan yang tak cukup untuk semuanya. Dreadlock, kendaraan tak bisa bergerak, jika bisa bergerak, itu tak lebih dari beberapa meter ke depan saja. Saya tertawa, menertawai diri saya sendiri.

“Man, ini yang bakal kamu hadapi ga lama lagi. Liat tuh orang-orang rebutan jalan, pamer klakson. Itu yang bakal kamu hadapin besok. Jadi ketawa dulu aja.”

Lama sekali untuk bisa keluar dari arah Monas. Padahal sebenarnya Harmoni – Kelapa Gading itu tidak terlalu jauh. Dalam perjalanan ini saya menghabiskan sekitar 2 jam untuk sampai ke Kelapa Gading. Seperti yang sudah saya dan teman saya rundingkan, saya akan menemui dia di depan Seven Eleven persis di seberan Mall Kelapa Gading.

Saya membeli beberapa makanan ringan dan air mineral sebagai cadangan logistik ketika menunggu teman saya tiba malam nanti. Saya duduk di kursi di depan teras toko yang memang disediakan untuk pelanggan. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah kotor. Penuh dengan sampah bungkus makanan dan botol minuman, padahal di sebelah bangku tersebut sudah disediakan tempat sampah. Belum lagi ditambah pemandangan orang-orang merokok, tak hanya pria, tetapi juga wanita. Guys, this is Jakarta.

Dengan sabar saya menunggu teman saya, menit demi menit berlalu sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang anak jalanan. Dia datang menghampiri saya, seperti biasa, meminta uang receh. Namun, saya tidak memberinya uang, saya mengacuhkannya. Bukan apa-apa, tapi saya lebih senang membantu dengan cara lain daripada memberikan uang. Anak tersebut kemudian menjauh dari saya. Apa yang kemudian dia lakukan, mengubah pandangan saya.

Dia tidak pergi menjauh, melainkan hanya berjalan beberapa langkah dan kemudian merebahkan badan di sebelah tempat sampah besar, menekuk tubuhnya dan kemudian mencoba untuk tidur. Seperti ditampar, saya melihat sebuah pemandangan miris tepat di depan mata saya. Tapi saya belum bergerak. Tak lama kemudian datanglah sekelompok anak jalanan, yang sifatnya jauh berbeda dari anak jalanan yang saya lihat sebelumnya. Mereka arogan, berbicara kasar, dan dengan jumlah mereka yang cukup banyak, mereka mencoba untuk mengintimidasi si anak jalanan tadi dan belum lagi mereka mencoba memaksa untuk meminta rokok dari pelanggan lain.

Saya melihat dengan seksama, tak mencoba untuk melerai karena memang belum terlihat tanda-tanda akan adanya kontak fisik, hanya ada ucapan kasar. Saya terus mengamati sampai akhirnya kelompok anak jalanan tersebut meninggalkan begitu saja si Bocah yang tadi tidur di samping bak sampah. Setelah mereka menjauh, saya kemudian mendekati si anak jalanan tadi.

Saya masih mempunyai satu bungkus wafer yang isinya baru terambil beberapa potong saja. Saya keluarkan makanan tersebut dan memberikannya pada anak tersebut.

“Dek, kamu mau ini?”, Kata saya sambil menepuk pelan tubuhnya karena dia tertidur
“Iya Bang, Makasih”

Apa yang saya lihat selanjutnya cukup membuat saya ingin menangis. Dia memasukkan makanan tersebut ke dalam kaos kumalnya. Mencoba menyembunyikan makanan tersebut dari anak-anak jalanan lainnya. Nampaknya ia kelaparan.

“Saya tadi mau dihajar sama mereka (kelompok anak jalanan) Bang. Dikiranya saya ga mau berteman sama mereka. Tapi saya bilang, sekarang belum waktunya.”

Saya hanya tersenyum mendengar itu. Dia anak yang kuat, belum tentu semua orang bisa menghadapi kerasnya hidup yang ia jalani saat ini, dengan tubuh yang masih kecil seperti itu.

Dia kemudian berinisiatif untuk meminta kantong plastik pada penjaga toko untuk membungkus makanan yang saya berikan. Dia membungkusnya dengan rapi dan kemudian menyembunyikan makanan tersebut di bawah bak sampah dan kemudian kembali tertidur.

Tak lama kemudian, teman saya datang dan kami pun pergi meninggalkan tempat tersebut.

Sepanjang jalan saya hanya diam merenung. Ini Jakarta. Jakarta itu keras, tak hanya pada orang dewasa, tapi pada anak-anak sekalipun. Tak peduli kamu sudah hidup lama atau kamu baru lahir kemarin. Jakarta itu keras. “Hello”, Says Jakarta. Selamat datang di Jakarta.

One thought on ““Hello”, says Jakarta

  1. […] Traveling, kemana pun tujuannya dan bagaimana pun caranya, pasti akan meninggalkan kesan yang berbeda pada pelakunya, termasuk pada saya. 2 bulan yang lalu saya melakukan perjalanan menuju ibukota negeri ini, tak lain tak bukan adalah Jakarta. Perjalanan saya saat itu … Continue reading → […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s