Titik Hitam

Pada zaman Yunani kuno, hiduplah seorang mahaguru dan seorang mahasiswa. Saat itu mereka sedang membahas tentang pelajaran filosofi 3, ini merupakan mata kuliah lanjutan dari filosofi 1 dan filosofi 2. Sang Mahaguru memberikan sebuah tugas sederhana kepada sang Mahasiswa.

“Muridku, keluarkanlah selembar kertas putih dan ambilah tinta hitam”
“Maaf Guru, di zaman ini, kertas dan tinta belum lahir.”
“Sudah, kemarin baru di ekspor dari negeri China. Coba lihatlah isi laci mejamu.”
“Oh, iya Guru, maafkan murid”
“Tugasmu muridku, gambarkan satu buah titik hitam di tengah-tengah kertas tersebut.”
“Baik Guru.”

Sang Mahasiswa pun menyiapkan kertas dan mulai membuat tinta cair dari batangan tinta padat. Dengan telaten, dia mulai menggambar titik dan “TUL”, selesai.

titik hitam

“Guru, untuk apakah gambar ini Guru?”
“Sekarang, coba kamu ceritakan apa yang ada di dalam gambar itu.”
“Hanya sebuah titik hitam guru.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Ciyus?”
“Ciyus Guru.”
“Saya memberimu kesempatan untuk berpikir lagi wahai Muridku. Saya beri 3 bantuan untukmu.”
“Bantuan apa saja itu Guru?”
“1 Harus setia, 2 Sering duaan, 3 Perhatian…”
“Maaf Guru, itu lagunya Thomas Jorgi.”
“Oh, Maafkan Guru wahai Muridku, Guru khilaf.”
“Tiga bantuan itu berupa Call a Friend, 50 – 50, dan Ask the Audience.”
“Tapi Guru, tiga bantuan tersebut tak bisa digunakan semuanya. Handphone tak punya, ini juga pertanyaan essai bukan multiple-choice, dan yang terakhir, lihatlah ke sekitar Guru, kita hanya berdua Guru, tak ada yang menonton.”

Krik.. krik.. krik..

“Maka dari itu Muridku, percayalah pada diri sendiri.”
“Oh, baiklah Guru. Kalo begitu, saya yakin dengan jawaban saya.”
“Hmm.. jawabanmu tak sepenuhnya benar Muridku.”
“Kenapa Guru. Bukankah memang hanya ada titik hitam di kertas ini?”
“Itu benar Muridku, tapi lihatlah ke sekitar titik hitam tersebut. Adakah hal lain yang bisa kamu lihat?”
“Ada bercak minyak Guru, seperti bekas tahu bakso.”
“Oh, itu tadi saya makan tahu bakso trus minyaknya netes ke kertas. Itu bukan bagian dari pertanyaan ini Muridku. Coba lihat bagian yang lain dengan seksama.”
“Murid tak dapat sesuatu Guru, hanya titik hitam yang bisa Murid lihat.”
“Baiklah Muridku, aku akan menjelaskan isi kertas tersebut.”

Sang Mahaguru kemudian menjelaskan apa yang ada di dalam kertas tersebut selain titik hitam dan bercak minyak bekas tahu bakso. Dalam kertas tersebut memang hanya terdapat titik hitam, tapi sang Mahasiswa lupa bahwa ada banyak ruang pada kertas yang berisi warna putih, warna alami dari kertas. Sang Mahaguru menjelaskan bahwa manusia lebih mudah melihat sisi hitam orang lain daripada sisi putihnya. Padahal, mungkin sisi putih dari orang tersebut bisa lebih banyak daripada sisi gelapnya, seperti apa yang ada di dalam kertas. Manusia juga senang mengecap segerombolan orang dengan kata buruk hanya karena kelakuan satu orang oknum saja. Sama halnya dengan kertas tersebut, putih yang amat banyak tertutup hanya dengan satu titik hitam.

“Muridku, ada pepatah pernah berkata demikian, “If you don’t like it, change it. If you can’t change it, change the way you see about it.”
“Wah Guru, dapat dari mana kata-kata tersebut?”
“Guru barusan blogging, temen Guru posting tulisan itu.”
“Guru, blogging itu apa? Makhluk berbentuk apa? Dimana saya bisa punya itu?”
“Muridku, kamu banyak tanya seperti Bani Israel. Sudah, kamu yang sabar. Mungkin sekitar 2000 tahun dari sekarang hal tersebut akan populer. Sabarlah menanti sampai waktu itu datang.”
“Maafkan Muridmu ini Guru.”
“Gus Dur juga pernah bilang, “Saya suka mencari sisi baik orang daripada mencari sisi buruknya.””
“Guru, Gus Dur itu siapa?”
“Dia itu cendikiawan terkenal dari Indonesia.”
“Oh.. Indonesia itu dimana Guru?”
“Indonesia itu ada Timur jauh sana Muridku. Itu adalah sebuah negeri yang elok, banyak traveler menganggap Indonesia adalah surga, padahal mereka juga belum pernah liat surga. Negeri itu amat indah muridku. Nanti kalo AirAsia promo, kita beli tiket kesana Muridku.”
“Baik Guru, betapa beruntungnya orang yang berasal dari Indonesia itu ya Guru.”
“Benar sekali Muridku. Baiklah, aku rasa cukup pelajaran kita hari ini. Kamu lapar Muridku?”
“Lapar, Guru.”
“Sudah, makan dulu sanah.”

2 thoughts on “Titik Hitam

  1. kalo gurunya ibu2 cantik dan suka dandan, mebi dia bakal bilang:

    ‘lihatlah muridku, di sekitarmu, ada pond* flawless white. Itu digunakan untuk menghilangkan noda/bintik hitam di wajah. Dioleskan secara rutin, perlahan tapi kalau mau sabar pasti ada hasilnya. Nah, kalo noda di kertas? Menurutmu? Kalo sisi gelap manusia? Menurutmu?’

    hahaha keinget temenku yg S2 di kos wkt itu pernah promosi produk itu,wkwkwk mgkn krn yg diliatnya kulitku item.. Wkwkwk😀

  2. Hahaha… itu guru apa sales? gapapa Plap, yang tampak pada luarmu tak mencerminkan apa yang ada dalam hatimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s