1 Tahun Berbagi Buku Bersama 1 Buku untuk Indonesia, Program #3: Jogja Membaca

Yogyakarta atau yang lebih familiar disebut sebagai Jogja terkenal sebagai kota pelajar. Tak salah memang, entah ada berapa banyak sekolah dan universitas yang tersebar di penjuru Yogyakarta. Ribuan bahkan jutaan orang datang silih berganti untuk menuntut ilmu di Jogja. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat pendidikan di Jogja menjadi role model pendidikan di Indonesia. Masih ada sudut Kota Yogyakarta yang tidak terlalu mencerminkan hegemoni pendidikan di Yogyakarta.

TK Kyai Mojo Pingit, sebuah TK yang nyaris tidak tersentuh oleh hingar-bingar pendidikan di Yogyakarta. Tempatnya berada di sebuah gedung serbaguna milik Kampung Pingit. Hanya menumpang, tidak berdiri sendiri. Ruang kelas hanya disekat menggunakan papan triplek, sempit, bahkan sirkulasi udara di tempat ini bisa dibilang jauh dari nyaman. Belum lagi, TK ini tidak memiliki taman bermain layaknya TK di tempat lain.

Adalah Ibu Peni, seorang pensiunan yang mengabdi untuk TK ini. Beliau melihat kondisi lingkungan yang memprihatinkan. Daerah Pingit merupakan daerah yang dihuni oleh banyak pemulung dan tentunya penghasilan mereka berada di bawah garis batas untuk bisa dikatakan mencukupi. Namun, kemiskinan yang dialami oleh masyarakat Pingit tidak boleh membuat anak-anak mereka menjadi putus sekolah. Demikianlah sekiranya apa yang ada di pikiran Ibu Peni. Ibu Peni kemudian mendirikan sebuah Taman Kanak-Kanak di Pingit. Dengan peralatan seadanya, tempat yang seadanya, dan staf yang seadanya, beliau menjalankan TK ini.

Impian Ibu Peni ini sederhana, “Saya ingin mempunyai perpustakaan di sekolah kecil ini, agar anak-anak punya kebiasaan membaca dari usia dini “. Ya, Ibu Peni ingin memiliki sebuah perpustakaan kecil untuk anak-anak di TK Kyai Mojo.

TK Kyai Mojo Pingit ini memang memiliki keterbatasan yang teramat banyak termasuk keterbatasan dalam jumlah buku bacaan yang ada di lemari TK. Dari fakta tersebut, kami mulai bergerak untuk ikut membantu pengadaan buku-buku bacaan untuk TK Kyai Mojo, tak hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk orang tua murid.

Tak hanya TK Kyai Mojo Pingit yang menjadi sasaran kami. Taman Bacaan Masyarakat Dusun Glagahwero, Cangkringan pun menjadi target kegiatan kami. Di tempat ini kondisi Taman Bacaan Masyarakat yang ada pun tak jauh beda dari TK Kyai Mojo Pingit. Memang ada beberapa buku bacaan yang dapat ditemui di tempat ini, hanya saja buku yang ada di tempat ini kebanyakan untuk konsumsi orang remaja dan dewasa semacam buku otomotif, majalah tentang gaya hidup, dan buku tentang mata kuliah. Buku bacaan anak yang ada hanya sebatas komik dan beberapa buku cerita bergambar padahal minat baca anak-anak di dusun ini cukup tinggi.

Selama kurang lebih 1,5 bulan, kami berusaha mengumpulkan buku dengan berbagai cara dan seperti halnya kegiatan yang sebelum ini, kami mengumpulkan dari teman-teman terdekat. Belum penerbit atau toko yang berkenan ikut menyumbangkan buku untuk anak-anak ini. Tak kurang dari 1000 buku yang berhasil kami kumpulkan untuk anak-anak di TK Kyai Mojo Pingit dan TBM Dusun Glagahwero.

Pada pelaksanaannya, kami bekerja sama dengan komunitas-komunitas yang memang bergerak untuk berbagi. Tercatat ada 3 komunitas yang ikut membantu kami. Komunitas Pagi Berbagi, sebuah komunitas yang berbagi kepada orang-orang kurang mampu baik berupa makanan, pakaian, dan buku. Kemudian kami dibantu oleh komunitas Dolanan Anak, sebuah komunitas yang memberikan pendidikan tentang permainan anak dan yang terakhir adalah Komunitas Panggung Boneka, sebuah komunitas pertunjukan boneka untuk anak-anak.

2 Mei 2012, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Jogja Membaca dilaksanakan. TK Kyai Mojo Pingit menjadi tujuan pertama kami. Di tempat ini kami disambut hangat oleh guru dan anak-anak TK Kyai Mojo. Di tengah keterbatasan yang dimiliki TK ini, kesan meriah terasa kental kali ini, hanya untuk menyambut kami.

Acara pagi itu dimulai dengan sambutan dari Ibu Peni, sambutan sederhana yang berisi ucapan terima kasih atas sumbangan buku untuk TK ini. Seusai sambutan, acara kemudian dilanjutkan dengan serah terima buku oleh Ketua Pelaksana kegiatan, Chendy Mayayuanita, kepada Ibu Peni dan perwakilan dari siswa. Seusai serah terima, kegiatan dilanjutkan dengan permainan anak-anak. Kegiatan permainan anak-anak ini dipimpin oleh Mbak Widya, salah satu aktivis dari komunitas Dolanan Anak. Anak-anak larut dalam keceriaan permainan, semua tertawa riang, semua bahagia.

582181_451731411510631_139648473_n

389328_451742384842867_1092207935_n

Keceriaan pagi itu tidak berakhir sampai di situ. Acara kemudian kami lanjutkan dengan membagikan makanan ringan yang merupakan sumbangan dari komunitas Pagi Berbagi. Anak-anak tampak berebut makanan. Namun, kami mengajarkan mereka untuk bersabar karena pasti semua akan mendapatkan makanan. Setelah semua anak beristirahat dan makan. Acara pun selesai dan kami mempersilakan anak-anak untuk kembali ke rumah.

Namun, tidak semua anak kembali ke rumah seusai acara selesai. Beberapa anak masih berada di TK Kyai Mojo. Mereka mengambil buku yang mereka suka dan meminta kami untuk membacakan cerita yang ada di dalam buku tersebut. Mereka tampak antusias untuk mendengarkan cerita yang kami bacakan, bahkan ada anak yang meminta kami membacakan buku yang lain setelah cerita selesai. Kami senang, anak-anak di TK Kyai Mojo sangat antusias dengan buku sekalipun mereka belum lancar membaca. Tetapi, waktu juga yang harus memisahkan kami. Kami harus bergegas kembali ke basecamp untuk menyiapkan keperluan kegiatan yang akan dilaksanakan di Cangkringan.

Matahari makin bergulir ke Barat. Pukul 15.00 kami semua bergegas menuju Dusun Glagahwero, Cangkringan, sebuah dusun di kaki Gunung Merapi. Kali ini, kami berangkat dengan banyak orang. teman-teman dari komunitas Dolanan Anak dan Pagi Berbagi kembali bergabung untuk kegiatan di dusun. Sore itu kami juga dibantu oleh komunitas Panggung Boneka dari Universitas Sanata Dharma.

Ketika kami tiba, adik-adik sudah bersiap diri di Masjid tempat mereka biasa mengaji. Kami segera mempersiapkan segala kebutuhan acara sore itu. Panggung untuk tempat pementasan boneka pun segera disusun, banner 1 Buku untuk Indonesia juga turut disiapkan. Setelah segalanya siap, kami lantas memulai acara. Tak berbeda jauh dari kegiatan yang dilakukan di TK Kyai Mojo. Hanya saja, kegiatan sore ini tidak diisi dengan dolanan anak, melainkan pementasan boneka tangan oleh komunitas Panggung Boneka.

Anak-anak diajak berinteraksi dengan para pemain boneka. Mereka secara antusias mendengarkan alur cerita dari pementasan boneka karena di tengah cerita, para pemain akan memberikan pertanyaan kepada adik-adik untuk dijawab. Siapa yang dapat menjawab, akan mendapatkan hadiah menarik. Ketika pertanyaan dilontarkan, semua berebut untuk menjawab. Sungguh meriah sore itu.

561363_451747994842306_1663627784_n 548327_451746474842458_960503446_n

Acara pementasan boneka pun usai, artinya rangkaian kegiatan ini pun selesai. Kami berfoto bersama adik-adik sebelum mereka pulang kembali ke rumah masing-masing. Rasa syukur dan puas sangat terasa pada sore itu. Kami bersyukur bahwa kami bisa ikut membantu mereka dalam menyediakan buku bacaan yang layak. Puas karena hari ini semua kegiatan berjalan sangat lancar, tak ada hambatan yang berarti. Banyak orang juga yang ikut membantu kami dalam terselenggaranya kegiatan ini. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s