GreenAdd Story: Reresik Jalan C.Simanjuntak

Joe, ketua dari Paguyuban Demit Alun-Alun Kidul Ngayogjyakarto Anti Mainstream rencananya bakalan ngadain bersih-bersih kota karena sudah masuk minggu terakhir bulan Januari 2013. Daerah yang bakal dibersihin adalah daerah Jalan C. Simanjuntak mulai dari perempatan Mirota Kampus sampai ke pos polisi Kota Baru. Sebelum eksekusi di malam jumat, Joe dan kawan-kawannya mengadakan rapat kecil untuk menentukan job masing-masing buto ijo nanti di lapangan.

“Baik, saya absen dulu pasukan GreenAdd”, kata Joe
“Bejo”
“Hadir mas”
“Tejo”
“Siap ada”
“Paijo”
“Saya”
“Barjo”
Nganu Mas, bojone gek lahiran”[1]
“Oh, oke. Kolor Ijo”
Bar kecekel polisi wingi mas, konangan pas nyolong”[2]
Wooo,.. ra kapok-kapok kae bocah”[3]
“Jojo, Medjo, Bangjo, Burjo”, lanjut Joe
Mbojoooooo..”[4], satu ruangan kompak menjawab.
Mesti kowe sing do teko saiki do jomblo”[5]
“………”

Akhirnya rapat hari itu dimulai, Joe memimpin. Hari itu Joe membagi tugas masing-masing buto ijo tersebut. Bejo jadi seksi publikasi, dia dapet jatah buat nyebarin pamflet dan poster ke seluruh masyarakat buto se-Jogja. Tejo dapat jatah jadi seksi konsumsi, tugasnya menyiapkan menyan buat snack pas kegiatan. Sedangkan Paijo jadi seksi perlengkapan, dia dapat tanggung jawab buat beli trash bag dan sarung tangan buat para peserta kegiatan. Joe sendiri jadi ketua panitia, dia harus ngurus perizinan kegiatan ke kantor polisi.

Setelah rapat usai, mereka menyebar untuk mengurus keperluan masing-masing. Dengan berjalan mekangkang, tangan direntangkan dan ketek dipamerin, mereka pun bubar.

Bejo yang dapet tugas bikin pamflet dan poster langsung berangkat ke percetakan di Jalan Gejayan. Dia pun menego harga dan jenis kertas yang akan dipakai untuk membuat pamflet dan poster.

“Mbak, mau bikin pamflet sama poster. Enaknya pake bahan apa ya?”
“Yang pamflet apa yang poster?”
“Yang pamflet Mbak.”
“Kalo yang pamflet bagusnya pake art paper 150 gr.”
“Kalo yang poster.”
“Sama.”
“Terus harganya berapa mbak?”
“Yang pamflet apa yang poster?”
“Yang pamflet Mbak.”
“Rp 1.600,- per lembar A3+.”
“Kalo yang poster?”
“Sama.”
“Terus jadinya kapan Mbak?”
“Yang pamflet apa yang poster.”
“Dua-duanya Mbak!”
“Sama”
“…………….”

Setelah nego tersebut, Bejo langsung menyerahkan flashdisk yang berbentuk gigi taring buto ke operator komputer. Operator langsung bekerja dengan sigap, menata design yang sudah dibuat oleh Bejo untuk segera dicetak. Tak lama dari itu, pamflet  dan poster pun sudah siap untuk dibawa pulang dan disebarkan ke masyarakat buto ijo.

Tejo, dia berangkat ke Pasar Bringharjo untuk membeli menyan dan beberapa batang dupa. Seperti biasa dia langsung menuju Mbok Gendis, si penjual menyan dan dupa langganannya.

“Mbok, biasa Mbok. Menyan sama Dupa.”
“Buat apa Mas?”
“Buat snack kegiatan bersih-bersih besok malem jumat Mbok.”
“Dimana Mas?”
“Di hatimu Mbok.”
“Prek Mas”

Misi selesai,  Tejo pun pulang ke basecamp dengan membawa menyan dan dupa buat konsumsi kegiatan.

Paijo, dia berangkat menuju toko waralaba untuk mencari trash bag dan sarung tangan. Tak sulit untuk mendapatkan barang-barang tersebut. Setelah mendapatkan kedua barang tersebut, Paijo pun menuju kasir untuk membayar.

“Udah mas, ini aja? Ga ada tambahan lain?”
“Ngga Mbak, makasih ini aja.”
“Sekalian isi ulang pulsanya Mas?”
“Ngga Mbak, hape saya baru ilang.”
“CD Duo Maia Mas, mumpung lagi promo, ada potongan harga dari 35 jadi 25.”
“Ngga Mbak, ngga doyan janda.”

Paijo pun akhirnya membayar barang-barang yang dibelinya dan segera meninggalkan toko waralaba tersebut.

Giliran Joe sekarang. Ketua ini dengan sigap langsung melapor ke kantor Polisi Bulaksumur untuk mengurus perizinan kegiatan malam jumat nanti.

“Selamat siang Mas, ada yang bisa dibantu?”
“Saya mau ngurus perizinan kegiatan bersih-bersih kota Pak, buat besok jumat.”
“Baik Mas, saya bantu buatin surat izin. Namanya siapa?”
“Joe, Pak. J-O-E”
“Joe. Nama panjangnya Mas?”
“Joe Dalijoe”
“Namanya diulang-ulang. Pasti Bapaknya Mas orang sunda.”
“Kok tau Pak?”
“Soalnya Mas sudah menjaipongkan hatiku”
“Asu.”

Semua urusan telah diselesaikan. Malam Jumat pun tiba. Joe, Bejo, Tejo, Paijo, dan segenap warga buto ijo berkumpul di perempatan Mirota Kampus. Joe membuka kegiatan malam itu dengan berdoa bersama. Paijo membagikan trash bag dan sarung tangan kepada peserta kegiatan. Joe menginstruksikan pada peserta agar mengambil setiap sampah yang berada di sepanjang jalan C. Simanjuntak sampai pos polisi Kota Baru persis di depan Gramedia. Tak lupa Joe juga memberikan tentang pengelompokan sampah. Organik, kertas, plastik, dan logam.

“Jangan sampe ada sampah yang ketinggalan dan jangan culik anak orang!”, teriak Joe pada peserta.

Kegiatan pun dimulai. Peserta dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok di bagian kiri jalan dan lainnya di kanan jalan. Langkah demi langkah mereka ayunkan sambil memunguti sampah yang berserakan di sepanjang jalan. Ternyata di sepanjang jalan ini terdapat banyak sampah yang berserakan. Sampah plastik, kertas, botol minuman tersebar dimana-mana. Joe, sebagai ketua paguyuban demit, tak hanya mengambil sampah pada kegiatan ini, tapi dia juga mencatat ketidakberesan yang ada di jalan ini untuk nantinya bisa diangkat ke diskusi forum.

Masalah pertama sudah muncul dari awal kegiatan. Lalu lintas di Mirota Kampus itu padatnya bukan main. Apalagi kalo sedang rush hour. Tapi, ada hal yang bikin miris. Lampu lalu lintas dari arah selatan itu mati. Jadi bikin bingung, si Joe mencatat hal tersebut. Kemudian, pengendara kendaraan bermotor di persimpangan ini juga sering ngawur. Yang seharusnya ke kiri jalan terus malah berhenti, trus yang seharusnya ke kiri ikuti lampu, malah langsung. Itu juga dicatet sama Joe. Dan yang terakhir, Joe mencatat bahwa di tempat ini tak pernah ada polisi lalu lintas yang mengatur kondisi jalan.

Kegiatan makin bergerak ke selatan. Lagi-lagi Joe mencatat hal lain. Jalan C. Simanjuntak ini terkenal sebagai pusat perbelanjaan. Toko-toko banyak tersebar di sepanjang jalan. Sayang, pengelola tempat perbelanjaan tidak menyediakan tempat parkir yang memadai sehingga pembeli sering memarkir kendaraan di badan jalan. Akibatnya jelas, jalan ini sering macet. Itu pun tidak ada tindakan dari polisi atau dinas terkait untuk memperbaiki keadaan.

“Jo!”, teriak Joe
“Woi!!”, kompak trio Jo menjawab
Leren sik ndak edan.”[6]
“Siap Ndan.”

Tejo yang bertindak sebagai seksi konsumsi kemudian membagikan snack menyan dan dupa kepada peserta kegiatan. Tejo membagikan sama rata, satu orang satu kotak menyan dan sebatang dupa. Peserta terlihat menikmati snack tersebut. Beberapa terlihat menghisap asap menyan dengan pipa panjang, sekilas mirip bong. Yang lain mengisap aroma dari dupa, ada yang dijilat-jilat seperti njilat permen.

“Jooo…. Bohay Joooo…”, Paijo melihat seorang wanita keluar dari toko busana muslim. Hijabers sepertinya.  Waktu seakan melambat ketika wanita tersebut melewati kumpulan buto ijo ini. Angin sepoi-sepoi seakan berhembus melewati ketiak mereka. Siliiiir….

Namun, tak jauh dari tempat itu, ternyata sudah ada seorang pria yang menunggu wanita tersebut. Pemandangan tersebut langsung merusak suasana yang ada. Keempat buto ijo ini pun bubar dan kembali ke formasi masing-masing untuk kembali bergerak.

Joe memimpin pasukan kanan jalan dan Paijo memimpin pasukan kiri jalan. Mereka kembali memunguti sampah yang ada. Joe kembali mengeluarkan buku sakunya, mencatat ketidakberesan di jalan ini. Satu hal lagi yang dicatat oleh Joe. Trotoar jalan ini sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Trotoar ini banyak digunakan oleh pedagang kami lima. Mereka seakan tidak peduli dengan pejalan kaki. Dinas juga tidak memberikan solusi atas ketidakberesan ini. Tidak pernah ada usaha untuk merelokasi pedagang-pedagang tersebut ke tempat lain yang lebih layak. Jika hal tersebut bisa dilakukan, maka Jogja akan punya satu tempat wisata kuliner yang berisi bermacam-macam pedagang dan dagangan. Selain itu, pejalan kaki pun bisa lebih nyaman dan aman, tak perlu khawatir terserempet kopata, aspada, dan mobil prambanan yang ngehek itu.

Sudah sampai ujung Jalan C. Simanjuntak, mereka pun berbelok menuju arah timur, menuju Jalan Soedirman. Jalan di sini sedikit lebih manusiawi. Tak banyak sampah terlihat, pejalan kaki pun bisa berjalan dengan leluasa di trotoar. Pasukan buto ijo pun terus bergerak sampai ke titik terakhir kegiatan. Sampai di titik ini, sampah-sampah yang terkumpul kemudian dijadikan satu diangkut ke atas mobil bak milik polisi yang pinjam Joe dari kantor polisi Bulaksumur. Setelah semua terkumpul, Joe mengakhiri kegiatan malam itu dengan berdoa dan Joe pun mempersilakan peserta Jogja Last Friday Refresh untuk pulang ke rumah masing-masing.

Joe, Bejo, Tejo, dan Paijo tidak langsung pulang. Sebagai panitia,mereka harus memastikan segalanya berakhir sempurna. Sambil ngaso, Joe merekap kegiatan hari itu dan memimpin evaluasi.

“Ada evaluasi apa tadi?”
“Nganu Mas, mau anggotaku malah ada yang masuk tempat karaoke.”
“Trus?”
“Ya aku ikutan.”
“Bagus.”

Tak banyak evaluasi malam itu. Kegiatan berjalan lancar, aman, dan terkendali. Joe meminta Tejo untuk membuang sampah ke TPS Piyungan esok hari sekaligus mengembalikan mobil pickup polisi. Sedangkan Bejo dan Paijo diminta Joe untuk membuat laporan kegiatan, deadlinenya minggu depan. Sedangkan Joe melapor ke kantor polisi bahwa kegiatannya sudah usai.

Di tengah perjalanannya, Joe bertemu dengan seorang anak jalanan. Anak jalanan tersebut sedang mengamen, dia berjalan dari satu warung tenda ke warung tenda lainnya. Tapi, tidak terlihat dia mendapatkan uang dari pembeli yang duduk di warung tenda tersebut. Joe pun iba dan menghampiri anak jalanan tersebut.

“Lagi ngapain Le?”
“Ngamen Mas.”
“Dapet berapa hari ini?”
“Cuma sepuluh ribu Mas. Ndak banyak yang ngasih malem ini.”
“Hmm.. Kamu sekolah ndak?”
“Ndak Mas. Ndak punya biaya buat sekolah. Ini ngamen juga buat bantu ibu di rumah. Ibu sakit jadi ndak bisa kerja.”

Mendengar hal tersebut, Joe jadi makin iba dengan anak jalanan tersebut. Dia mencoba menawarkan sebuah solusi untuk anak ini. Joe pun teringat pada Tiyo yang sekarang jadi aktivis koin.

“Le, kamu pengin sekolah ndak?”
“Ya pengin Mas. Aku pengin belajar.”
“Sip. Kalo gitu mulai besok kamu ngamennya jangan seharian, tapi habis pulang sekolah.”
“Jadi saya bisa sekolah Mas.”
“Iya, besok tak kasih beasiswa buat sekolah. Udah sekarang kamu pulang ke rumah. Nih tak kasih sedikit rezeki buat kamu”, Joe memberikan sebagian uang honor manggung di Prambanan tempo hari.
“Makasih Mas. Oiya, namanya Mas siapa?”
“Joe Dalijoe.”
“Aku Bagas. Bapaknya Mas pasti orang sunda ya?”
“Hasyah.. udah udah sana pulang. Kasian ibumu nungguin di rumah.”

Bagas pun pulang, sebelumnya dia cium tangan Joe. Trus dadah-dadah dan terakhir sun jauh. Iyuh. Joe pun pulang ke rumah dengan perasaan senang. Kota bersih dan satu anak jalanan berhasil di selamatkan.

Keterangan:
[1] Nganu Mas, istrinya sedang melahirkan.
[2] Habis ketangkep polisi Mas kemarin. Ketahuan pas lagi mencuri.
[3] Wooo,.. Ngga kapok-kapok itu anak.
[4] Mbojo adalah sebuah istilah lain dari pacaran.
[5] Pasti kalian yang pada datang sekarang pada jomblo.
[6] Istirahat dulu, nanti edan.

4 thoughts on “GreenAdd Story: Reresik Jalan C.Simanjuntak

  1. Keren mas, jaman sekarang setan lebih manusiawi.

  2. Dunia sudah terbalik, manusia malah jadi seperti setan dan sebaliknya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s