Resolusi Demit Anti Mainstream

Malam itu malem minggu, malam dimana muda mudi biasanya menghabiskan malamnya bersama kekasih. Entah hanya sekedar dinner di angkringan, jalan-jalan ga jelas keliling kota, atau nongkrong di tempat-tempat ramai semacam mall, café, warung tenda, bahkan alun-alun pun ikut ramai. Semua orang seakan tumpah ruah ke jalanan tak terkecuali si Jomblo. Jangan salah jomblo pun bisa berkeliaran di malam minggu, tapi jangan ditanya apa yang mereka rasakan dalam hati.

Namun, di balik keramaian orang-orang yang bermalam minggu, 4 sahabat yang dipersatukan oleh kematian juga ikut kumpul. Mereka adalah Joe the Buto Ijo, Tina si Kuntilanak, Tiyo de Tuyul, dan Ponco van Pocong. Mereka tergabung dalam Paguyuban Demit Alun-alun Kidul Keraton Ngayojyakarto Anti Mainstream. Mereka sudah kelihatan jelas anti-mainstream, nongkrong di malam minggu, bukan malam jumat. Mereka juga ngga nongkrong di tempat sepi, gelap, sumpek, atau kotor. Tapi, mereka nongkrong di tempat ramai, banyak orang, banyak kegiatan, di tengah gemerlap lampu kota. Malam itu agenda mereka adalah membahas resolusi setahun ke depan karena baru saja tahun berganti dari 2012 menjadi 2013.

“Oke, sebelum kita memulai rapat, ada baiknya kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing agar rapat ini berjalan lancar, aman, terkendali, adem ayem, tentrem, sejahtera, bahagia lahir batin, trus….”. “Joooooo… kelamaan Jo…..”, kompak Tina, Tiyo, dan Ponco memotong prolog Joe. “Hehe,… baiklah, berdoa mulai”, ucap Joe. “Selesai. Udah, yuk bubar. Udah selesai tho?”, lanjut Joe. “Oalah, ini Buto Ijo satu, minta dihajar rame-rame”, kata Ponco.

Seperti yang mereka agendakan sebelumnya, malam minggu kali ini mereka akan membahas resolusi tahun 2013. Resolusi mereka juga harus anti mainstream. Joe sebagai ketua paguyuban sudah lelah dengan kelakuan para demit yang itu-itu saja. Kalo ngga jadi sosok yang ditakuti, ya jadi bahan kesyirikan. “Capek, capek hati akoh. Gimana ngga, selama bertahun-tahun aku jadi Buto Ijo, ngga ada Buto Ijo yang kreatif, mosok semua Buto Ijo kok jalannya harus mekangkang, melotot kanan kiri, pamer kelek, nakut-nakutin orang. Ga ada yang lebih keren dari itu apa?”, keluh Joe. “Tapi, sekarang aku udah nemu pekerjaan yang lebih baik daripada kegiatan Buto Ijo yang terlalu mainstream itu”, lanjut Joe.

Joe kemudian menjelaskan kepada ketiga orang temannya tersebut. Cerita begini. Waktu itu malam jumat, bulan purnama, dan saat itu ada pementasan Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Rumah Joe memang dekat dengan Prambanan, jadi dia biasa mangkal di Prambanan. Malam itu Joe berniat untuk membubarkan Sendratari Ramayana. Dia sudah membuat rencana untuk menakut-nakuti para pemain agar mereka takut naik ke panggung, setelah itu dia akan naik ke panggung utama, berteriak kencang dan bekeliling tribun agar penonton juga bubar. Ketika Joe sedang khusyuk menjelaskan ceritanya pada yang lain, tiba-tiba.. “Jo,.. jo,.. ayu Jo, ayu!”, kata Ponco. “Mana sih Cong? Yang mana sih?”, timbal Joe. “Itu lho, yang boncengan naik sepeda Doraemon. Ah itu lhooo… masa ga liat sih”, kata Ponco lagi. “Mana ah, ga ada”. “Jangkrik, picek po kowe, kae lho”, si Ponco kemudian menunjuk pake kuncup di kepalanya karena tangannya ga bisa dipake buat nunjuk, secara diikat gitu lho. “Kaliaaaaan niiiiiih….”, Tina mengamuk. Ditariknya kuncup Ponco sehingga leher si Ponco tercekit dan Tina juga menarik dagu cakil si Joe sampai mulut Joe menganga lebar. “Kalian ga liat apa? Ada cewek bohai, cantik, seksi, cetar membahana di depan kalian?”, kata Tina. “Oalah, mbak.. kecil-kecil gini, aku ya bisa bedain mana yang baik dan mana yang buruk.”, si Tiyo tiba-tiba nyeletuk. “Apa kamu bilang? Ulangin lagi, ulangin lagi!”, Tina makin ngamuk, terlihat dari mukanya yang jadi lebih pucat. Kuntilanak kalo ngamuk mukanya ga jadi merah karena udah ngga ada lagi darah yang mengalir di tubuh. Dan… “Bletak!”, gundul di Tiyo de Tuyul pun benjol sudah terkena jurus tendangan matahari Tina si Kuntilanak. “Ampun mbaaaaaak… aku kan cuma anak kecil”, Tiyo meminta maaf sambil megangin gundulnya yan benjol. “Ayo lanjutin lagi. Dan kalian jangan plirak-plirik sama cewek-cewek di sini.”, kata Tina.

Joe yang cakilnya masih terasa sakit, kemudian melanjutkan ceritanya. Rencana matang sudah disusun, Joe akhirnya mengeksekusi rencananya. Dilihatnya ada seorang panitia acara yang kebingungan. Joe berpikir bahwa panitia yang satu ini adalah sasaran empuk untuk aksinya. Joe kemudian mengendap di belakang panitia ini dan berusaha menakut-nakuti dengan wajahnya yang mengerikan itu. Satu.. dua.. tiga.. “Raaaawwwwrrrkkk….”, teriaknya. “Trus gimana selanjutnya Jo?”, Ponco penasaran.

“Oalah Mas, ngapain sih malah di sini. Udah pake kostum lengkap kok malah keliaran. Aku cari daritadi malam di sini. Sana masuk ruang pemain. Siap-siap manggung.”
“Lho aku ini buto ijo lho Mas”
“Trus kenapa? Masalah buat lo? Aku ini bosnya buto.”
“Eh?”

Gitu malahan jadinya, Joe mencoba menirukan apa yang dikatakan oleh panitia. Rencana Joe bubar jalan, panitia ngga ada yang bubar, penonton malah terhibur. Joe malam itu terpaksa jadi buto, tapi karena Joe memang buto ijo, aktingnya malam itu benar-benar memukau. Alami.

“Nah, resolusiku sekarang, aku berhenti nakut-nakutin orang lagi. Jadi pemain Sendratari Ramayana aja, lebih produktif. Gajinya juga lumayan, ya bisa buat beli menyan di Bringharjo. Jadi ndak perlu nunggu orang naroh sajen. Malah kalo ada orang naroh sajen, sok tak bilangin kalo aku udah sanggup beli sendiri. Malu, hidup kok cuma ngandelin pemberian orang”, Kata Joe. Tepuk tangan meriah pun diberikan oleh teman-temannya. Joe juga menyampaikan kalo sekarang dia juga sering kampanye tentang Go Green. “Badanku udah ijo, mosok kelakuanku ya ndak ijo”, begitu kata Joe. Dia sekarang tergabung di komunitas GreenAdd, Green Addictive. Komunitas bersih-bersih kota tiap malem jumat minggu terakhir tiap bulannya bareng temen-temen buto ijo yang lain. Dia kasih nama kegiatan itu Jogja Last Friday Refresh.

Giliran kedua adalah Tina. Tina ini terkenal dengan tawanya yang keras. Sangat lepas, seakan tidak punya beban mati yang berat. Prinsipnya, hadapi dengan tawa. Dulu hidupnya susah, jadi dia ngga mau kalo udah mati pun masih tetep susah. Tina dulu sering mangkal di Hutan Biologi UGM. Di sana ada pohon beringin super besar. Dia seneng banget kalo ayunan malem-malem di akar pohon beringin. Ceritanya pada jadwal piket malem jumat, Tina dapet tugas buat bikin orang pingsan ketakutan, ya paling ngga sampe lari kebirit-birit. Malem itu ada seorang cewek yang tatapannya hampa, jalannya lunglai, kakinya diseret-seret. Galau berat sepertinya. Tina melihat sebuah kesempatan untuk beraksi. Sebagai pemanasan, dia ngakak sekenceng-kencengnya. Tapi ngga digubris. Si Mbak tadi tetep aja jalan sempoyongan. Jengkel, Tina ganti metode. Dia pegang akar gantung beringin yang paling panjang, kemudian mengambil ancang-ancang untuk mengayun. Ketika dirasa sudah pas, Tina lantas mengayun kencang, membentuk kurva lengkung sempurna, tepat ke arah si cewek tadi. Naas, Tina malah kebablasan, bukan cewek tadi yang ditabraknya dari atas, tapi justru nabrak tembok tepian trotoar. Ternyata cewek galau tadi mendadak jongkok dan menangis. “Pasti sakit banget tuh Tin.”, kata Joe. “Ha yo pasti, menurut looo..??”, kata Tina. Tina kemudian melanjutkan ceritanya.

Tina bangun dan dengan segera tertawa keras seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Terus tertawa keras berharap cewek galau itu ketakutan. Saking kerasnya, burung-burung yang sering melempar ranjau tahi di pengkolan teknik pun berterbangan. “Apaan sih mbak, ketawa mulu? Ngga lucu tau.”, si cewek akhirnya bereaksi. “Heh?”, kata Tina heran. Tapi si cewek tidak berhenti menangis. Tina iba, akhirnya dihampirilah si cewek tersebut. Tina kemudian duduk bareng si cewek dan berkenalan.

“Namaku Tina”
“Aku Talisa”

Talisa ternyata galau karena dia baru saja di DO dari kampusnya karena skripsi yang dia tulis malah berakhir jadi novel. Judulnya “Pengaruh Tayangan Sinetron Naga-nagaan Terhadap Tingkat Imajinasi Anak-anak”. Tujuan awal memang mengamati perubahan tingkat imajinasi anak, tapi malah ujung-ujungnya jadi cerita tentang anak-anak yang berperang melawan kumpulan para naga jahat untuk menyelamatkan dunia. Tina ngekek denger cerita Talisa. “Apa sih mbak, ketawa lagi, ngga lucu tau”, kata Talisa.

Tina akhirnya memberikan motivasi kepada Talisa. “Ngga usah sedih mbak, banyak-banyak tersenyum dan tertawa kayak saya ini. Mbak punya potensi buat jadi penulis. Jadilah penulis hebat kalo memang jadi mahasiswa itu terlalu berat. Hidup mbak terlalu berharga untuk dihabiskan dengan penyesalan, isilah dengan sesuatu yang menghasilkan. Be positive and be creative. Itu”, kata Tina sambil mengacungkan telunjuknya mirip Mario Teguh. Mata Talisa kemudian berkaca-kaca, haru, dan semangatnya seakan kembali lagi. Seakan Talisa mendapatkan wangsit. Dia pergi dengan senyum.

“Aku akhirnya jadi motivator orang-orang galau sekarang. Capek juga liat anak-anak muda kok cuma mengeluh dengan kegalauan mereka. Sayang, masa muda kok disia-siain gitu. Aku juga sekarang jadi paham apa fungsi dari ketawa kuntilanak. Bukan buat nakut-nakutin orang, justru kita ketawa buat memotivasi orang agar tak selalu sedih. Senyum dan tawa itu penyegar jiwa.”, ungkap Tina. Lagi-lagi tepuk tangan menyambut akhir cerita Tina. “Ngga nyangka mbak, sampeyan galak-galak gini ya punya hati yang mulia.”, kata Tiyo. “Apa??? Bilang apa kamu barusan?! Aku galak?!”, pelotot Tina pada Tiyo. “Ngga mbak, ngga jadi”, ralat Tiyo.

Giliran selanjutnya adalah Ponco van Pocong. Si Ponco ini dulu matinya gara-gara main bungee jumping di jembatan Krasak. Karena takut keburu di razia polisi, dia buru-buru loncat dari tepi jembatan. Sialnya tali yang dia pake terlalu panjang. Tewaslah si Ponco ini karena menghantam dasar Sungai Krasak. Dia mati dengan kaki terikat tali bungee, akhirnya jadilah dia setan pocong karena kaki pocong juga terikat tali kafan. Namun, itu jadi keuntungan buat Ponco, kekuatan otot kakinya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Pernah suatu saat ketika mampir ke Pasar Kembang, ada razia PSK dan oom-oom hidung belang. Kontan saja semua berhamburan menghindari Satpol PP agar tidak tertangkap, tak terkecuali si Ponco ini, dengan kakinya yang kuat, dia sekonyong-konyong melompat dengan kecepatan tinggi.

Saat malam jumat Ponco sedang asyik berkeliaran di Jalan Colombo, depan UNY. Ngga sengaja dia ngeliat ada orang lagi latihan atletik di lapangan atletik UNY. Ternyata cewek. Ponco yang hidung belang, kontan saja mendekati si Cewek. Dia tidak langsung beraksi, pertama-tama hanya menunggu di tribun penonton, mengamati wajah cantik si Cewek dan melihat dengan seksama bagaimana si Cewek berlatih. Satu jam berlalu, Ponco bosan dengan latihan cewek itu. Gemes juga, cewek yang berlatih lompat jauh ini ternyata tidak bisa juga melompat dengan baik. “Iihhh, gimana sih kok ya loncat aja ngga beres”, keluh si Ponco. Akhirnya si Ponco beraksi. Ketika itu cewek sedang mengambil ancang-ancang untuk berlari dan melompat. Berlarilah si Cewek tersebut dan ketika akan meloncat tiba-tiba si Ponco pun ikut mengambil ancang-ancang dan melompat bersama dengan si Cewek. Terhitung lompatan si Ponco berada di titik 8 meter. Si Cewek pun terkesima sambil merasa ketakutan.

“Po.. poc.. poco.. pocon.. pocong…”
“Bukan mbak, aku Brad Pitt”
“Brad Pitt? Kok, jelek.”
“Ah, sudahlah..”

Cewek tersebut akhirnya meminta Ponco untuk menjadi pelatih pribadinya. Cewek yang bernama Putri tersebut mengiming-imingi dengan banyak kemewahan. Kuburan Ponco akan dirombak dan dijadikan seperti Taj Mahal. Kain kafan Ponco juga rencananya akan diganti dengan batik tulis bermotif logo Liverpool, klub favorit Ponco ketika masih hidup. Dia juga diiming-imingi sepatu atletik terbaik supaya lompatan Ponco makin yahud. Ponco dengan tegas menolak. Dia lebih suka tampil apa adanya. “Wooooh, kamu Liverpudlian tho?! Musuhku berarti. Aku Manchunian, MU, MU, GGMU!”, kata si Joe. “Sepakbola ya sepakbola, tapi persahabatan jangan putus hanya karena sepakbola.”, jawab Ponco kalem. Tapi, si Pocong terus ngebatin, “Kampret, nek Liverpool kerep menang wae, tak walik lambemu.”

Ponco akhirnya mau melatih Putri, mengajari Putri dengan skill melompat kelas pocong. Hasil latihannya pun tidak sia-sia, Putri akhirnya bisa jadi atlet lompat jauh tingkat nasional dan berhasil meraih emas di PON Riau kemarin. Prestasi yang membanggakan bagi Ponco bisa melihat anak asuhnya berhasil.

“Aku ini ya seneng olahraga, apalagi yang hubungannya dengan lompat melompat. Aku sekarang jadi pelatih atletik spesial kelas malam. Anak asuhku banyak yang berprestasi, tapi aku ngajarin mereka biar ngga jadi glamour gara-gara sukses. Ngingetin mereka supaya tetep sederhana, inget bahwa banyak orang lain yang masih sulit untuk hidup bahkan untuk sekedar menjadi hidup sederhana.”, akhir kata dari Ponco van Pocong. Tepuk tangan teman-temannya disambut dengan membungkukkan badan oleh Ponco. Selesai sudah giliran Ponco.

“Udah yuk, udah selesai kan ini?”, kata Joe. “Mas, Mas, masih ada aku lho..”, kata Tiyo. “Oh, masih ada kamu tho? Tak kirain udah tidur jeh kamu. Anak kecil biasanya tidur cepet.”, saut Ponco. “Huff, Mas Mas nih..”, keluh Tiyo.

Tiyo akhirnya diberi kesempatan untuk berbicara juga. Tiyo ini tuyul professional, tak peduli siapa korbannya, berapapun uangnya, pasti disikat juga. Pernah dia nyuri uang dari koruptor, diambil semuanya. Gara-gara kelakuan si Tiyo ini, si Koruptor jadi bebas dari hukuman, uang korupsi yang jadi bukti hilang, lenyap entah kemana. “Woo, gara-gara kamu tho, koruptor kemarin jadi bebas”, kata Tina. “Hehe.. iya Mbak, abis duitnya banyak sih”, jawab Tiyo. “Bletak!”, lagi-lagi tendangan matahari mendarat di gundulnya Tiyo.

Sambil kesakitan, Tiyo melanjutkan ceritanya. “Tapi sekarang saya insaf Mbak, Mas.”, kata Tiyo. Sempat dia mencuri uang dari seorang anak kecil ketika malam Jumat. Ada uang sekitar Rp 20.000,- yang dia ambil ketika malam itu. Uangnya kebanyakan uang lembaran Rp 1.000,- dan sisanya recehan koin. Dia ambil sekaligus beserta celengannya. Si Tiyo ini seneng banget kalo liat orang susah, jadi pagi hari setelah mencuri, dia pasti kembali untuk liat muka orang yang dia curi. Tapi, hari itu ada yang beda. Tiyo justru merasa sangat bersalah.

“Gimana, ndak merasa bersalah, ternyata uang yang saya ambil itu uang buat bayar SPP sekolah. Anak yang uangnya saya ambil malah sekarang jadi putus sekolah.”, sesal Tiyo. “Aku keinget jaman aku kecil, dulu pengin banget sekolah, tapi ndak bisa karena emak ndak punya uang buat nyekolahin aku”, lanjut Tiyo sambil menangis. Tina pun menenangkan Tiyo. Diberilah pukpuk lembut di punggung Tiyo. Tiyo menguatkan diri untuk melanjutkan cerita.

Akibat penyesalannya tersebut, sekarang Tiyo jadi berhenti mencuri uang. Dia aktif keliling Malioboro tiap malem sambil bawa kaleng bertuliskan “Koin untuk Anak Putus Sekolah”. Dia sekarang jadi aktivis buat bantu anak-anak putus sekolah. Dia juga sekarang ngajak tuyul-tuyul yang lain buat bantu ngumpulin koin. Meskipun ngga sedikit yang ketakutan, banyak juga yang ngasih koin ke Tiyo, itu juga gara-gara diancem kalo ngga ngasih, bakalan dicolong duitnya ntar malem.

“Aku pengin anak-anak ngga ada yang putus sekolah kayak aku. Pengin Indonesia ini makin banyak diisi orang-orang hebat, bukan anak-anak putus sekolah. Demi Indonesia yang lebih baik, aku bakalan berhenti maling duit selamanya. Mulai sekarang akan semakin banyak berbagi. Berbagi untuk sesama, Merdeka!”, ungkap Tiyo dengan semangat. “Heh, turun kamu dari kepalaku, mentang-mentang semangat, main naik ke kepala ku”, kata Joe. Tepuk tangan sangat meriah kemudian diberikan teman-temannya, kecuali Ponco yang hanya bisa teriak-teriak.

Rapat malam itu pun usai. Semua bersiap kembali ke rumah masing-masing dengan membawa resolusi anti mainstream mereka. Mereka semua berdiri dan ketika langkah pertama akan diambil, tiba-tiba seisi alun-alun teriak histeris. “Kyaaaaaaa.. setaaaaaannn”. Pemuda pacaran kabur, ada yang kabur dengan sepeda Doraemon. Pedagang juga lari, beberapa barang dagangan ditinggal begitu saja. “Ternyata kita masih serem ya”, kata Joe. “Kita? Lo aja kali”, saut Pocong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s