1 Tahun Berbagi Buku Bersama 1 Buku untuk Indonesia, Program #1: Jendela untuk Maluku

11 November 2011, 1 tahun yang lalu komunitas 1 Buku untuk Indonesia ini didirikan. Berdiri hanya dengan 4 orang, Rosa Dahlia Yekti Pratiwi, Chendy Mayayuanita, Scolastika Febi Riana Anindita, dan saya sendiri, Anjar Nurhadi. Kami terbentuk karena merespon sebuah kenyataan tentang pendidikan di Indonesia yang sangat tidak merata, terutama untuk daerah di pelosok. Adalah Rosa yang pertama kali menyampaikan sebuah cerita tentang sebuah sekolah yang berada di kaki Gunung Binaiya, Maluku Tengah. Sekolah tersebut adalah SD YPPK Manusela, sebuah sekolah di Desa Manusela yang sangat terpencil, tak ada akses transportasi, kecuali kaki, tak ada listrik, tak ada akses terhadap dunia luar.

Sekolah tersebut hanya memiliki 40 orang murid, 6 ruang kelas, 1 perpustakaan, dan 1 orang guru. Guru itu adalah Mama Yuli, seorang guru honorer tanpa gaji yang setia mengabdi untuk pendidikan. Sudah 5 tahun Mama Yuli mengajar. Sebuah pengabdian yang sangat luar biasa. Menilik kondisi sekolah, maka yang nampak hanyalah sebuah ketidakmerataan pendidikan. Sekolah ini sangat memprihatinkan, ruang kelas yang dindingnya penuh lubang, jendela tanpa kaca, nyaris seluruh ruangan ini berisi ventilasi udara. Lantai pun hanya kerikil dan tanah, meja, kursi, dan papan sudah tak layak lagi dipakai. Kondisi perpustakaan pun sangat memprihatinkan, hanya ada 20 buku yang digunakan bergantian oleh 40 orang anak dari 6 kelas. Beberapa murid tidak menggunakan seragam, beberapa lainnya menggunakan seragam putih yang sangat lusuh, beberapa dari mereka seragamnya sudah tak layak pakai. Beberapa dari mereka tak menggunakan alas kaki, kebanyakan dari mereka hanya menggunakan sandal. Mereka menulis dengan alat tulis seadanya, hanya menggunakan isi ballpoint, pensil yang tinggal seruas jari. Sangat miris. Ini masih di Indonesia, mereka masih mengenakan seragam sekolah merah putih, mereka masih menyanyikan lagu Indonesia Raya, mereka masih berbahasa Indonesia.

Keterbatasan-keterbatasan tersebut berimbas pada pengetahuan murid-murid sekolah tersebut. Nyaris tidak ada ilmu penting yang bisa mereka serap, mereka hanya tahu apa yang mereka lihat dan semua itu hanya terbatas pada lingkungan mereka. Mereka tidak tahu apa itu mobil, apa itu pesawat, dan yang lebih parah mereka tidak tahu monyet. Makna puisi bagi mereka adalah Topeng Monyet karena itulah satu-satunya judul puisi yang mereka baca. Namun, semangat mereka untuk belajar tak padam hanya karena keterbatasan yang ada pada mereka. Seorang anak bernama Roman mewakili semangat mereka. Sebuah surat kecil yang dia tuliskan pada Rosa mencerminkan semangat itu, “Kakak Rosa, kirim kami buku”. Sebuah tulisan jujur seorang anak, anak yang belum tahu banyak tentang dunia ini. Dia, tidak meminta sebuah barang mewah, bukan gadget canggih, tidak pula mainan mahal. Dia hanya meminta buku, sesuatu yang sangat mudah kami dapatkan, bahkan mungkin ini salah satu yang sering dihindari oleh anak-anak sekolah di Pulau Jawa, ya buku.

Kami tergerak untuk membantu mereka, memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengenal dunia ini, membukakan jendela informasi bagi mereka, memperbaiki kualitas bacaan mereka. Dengan bermodal niat untuk berbagi, kami mengumpulkan satu per satu buku bacaan dari teman terdekat kami, kami mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk mengirimkan buku. Perlahan-lahan kami bergerak, satu per satu bantuan datang, mulai orang terdekat kami sampai orang yang sama sekali tidak kami kenal. Benar memang jika sebuah ketulusan itu menular. Ketulusan berbagi untuk sesama ini sangat luar biasa, kami akhirnya sanggup mengumpulkan sekitar 1500 buku bacaan, alat tulis, dan alat peraga pendidikan untuk saudara-saudara kami di Maluku.

Rosa Dahlia dan Dharma Wijayanto, dua orang rekan kami yang berangkat ke Maluku dengan ribuan buku di pundak mereka. Mereka berangkat pada tanggal 11 Januari 2012, tepat 2 bulan setelah komunitas ini terbentuk. Kami tidak bisa memberangkatkan semua tim karena dana yang sangat terbatas. Lebih baik buku yang berangkat daripada saya yang berangkat, itu yang ada di benak saya. Buku yang kami kirimkan berangkat dengan bantuan kapal dari PELNI, sebuah bantuan yang luar biasa yang kami dapatkan. Bantuan selama perjalanan terus kami dapatkan, Pangdam X Pattimura turut membantu kami dalam ekspedisi ini, memberikan bantuan transportasi dan bantuan 2 orang personil untuk membawa buku sampai ke Desa Manusela. Dinas Pendidikan Maluku pun ikut memberikan bantuan dana operasional untuk kami. Sungguh bantuan yang tidak kami sangka, jalan kami seakan dipermudah oleh Alloh, Alhamdulillah.

Tim 1 Buku untuk Indonesia berangkat dengan menuju Desa Manusela dengan 13 orang, 2 orang rekan kami, 2 orang anggota TNI, dan 9 orang porter. 4 hari perjalanan ditempuh dengan jalan kaki dan puluhan kilogram beban di pundak masing-masing. Perjalanan yang sangat berat dengan medan yang tidak kalah berat. Tim harus melewati hutan belantara yang hanya bisa ditempuh di siang hari, perjalanan malam akan jadi sangat berbahaya. Jalur menanjak, semak belukar, tanah lumpur, bahkan tim harus melewati sungai deras tanpa jembatan untuk sampai ke Desa. Hormat saya untuk mereka yang tanpa henti berjuang untuk anak-anak di pedalaman Indonesia.

Tim 1 Buku untuk Indonesia disambut dengan sangat hangat di desa ini. Bak sebuah keluarga yang sudah lama tak pulang. Kehangatan yang luar biasa. Mama Yuli bercerita bahwa sebelumnya beliau bermimpi tentang seorang gadis yang datang ke kampung mereka dan memberikan bantuan pada mereka. Mimpi yang jadi nyata. Tim ini datang untuk 2 sekolah yang ada di kaki gunung ini, SD YPPK Manusela dan SD Negeri Maraina. 2 sekolah dasar yang kondisinya tidak berbeda jauh. Tidak terkira bagaimana raut wajah bahagia di wajah anak-anak ini. Sebuah tulisan yang sempat kami baca berisi demikian, “Terima kasih kakak, saya mau belajar sampai saya pintar”. Sebuah tulisan yang sangat lugu dari anak-anak, tapi maknanya sangat dalam.

Tim 1 Buku untuk Indonesia di SD Negeri Maraina

Tim 1 Buku untuk Indonesia di SD Negeri Maraina

TIm 1 Buku untuk Indonesia di SD YPPK Manusela

TIm 1 Buku untuk Indonesia di SD YPPK Manusela

SD YPPK Manusela, sekalipun ini masih berada di Indonesia, sekolah ini tak pernah mengadakan upacara bendera layaknya sekolah yang berada di Pulau Jawa. Jumlah murid yang hanya sedikit dan terlebih hanya ada 1 orang guru yang mengajar di tempat ini menjadai alasan tidak pernah ada upacara bendera. Namun, sebelum berangkat, saya berpesan pada Rosa untuk mengadakan upacara bendera, entah bagaimana caranya. Saya menitipkan sebuah bendera merah putih untuk dikibarkan di tanah Maluku. Pesan ini pun terlaksana, sebuah upacara bendera sederhana terlaksana di sekolah ini. Bapak-bapak tentara yang mengajarkan pada anak-anak ini upacara bendera. Lagu Indonesia Raya pun berkumandang di sepetak tanah lapang di depan sekolah. Saya yang berada ribuan kilometer dari tempat mereka berada ikut merasakan haru yang luar biasa ketika mendengarnya dari Rosa.

Anak-anak ini sangat bergembira dengan datangnya ribuan buku ke sekolah mereka. Satu per satu anak mengambil buku dan membacanya, beberapa di antara mereka membaca buku secara bersamaan, yang lain memeluk erat buku di dada mereka. Mereka mungkin bukan orang yang saya kenal langsung, saya bahkan tak pernah bertemu dengan mereka, meskipun hanya seorang. Namun, keceriaan mereka juga menjadi keceriaan bagi saya, tawa mereka jadi tawa saya, segalanya jadi hadiah yang tak terkira bagi saya.

Rosa dan Dharma pulang dengan begitu banyak cerita luar biasa. Membawa senyum untuk kami yang tidak ikut berangkat, membakar semangat kami untuk terus berbagi. Kami terpisah ribuan kilometer dengan anak-anak Maluku, tapi kami bagai berada di samping mereka. Kami terpisah oleh ikatan darah, tapi kami bagai saudara yang tidak terpisahkan dengan mereka. Kami terpisah oleh jurang pendidikan yang dalam, tapi kami yakin suatu saat jurang itu akan tertutup.

Semuanya terhubung dengan sebuah kata, BUKU.

Foto: Dokumentasi 1 Buku untuk Indonesia

2 thoughts on “1 Tahun Berbagi Buku Bersama 1 Buku untuk Indonesia, Program #1: Jendela untuk Maluku

  1. “Terima kasih kakak, saya mau belajar sampai saya pintar”
    Membaca kalimat di atas bikin saya bergidik :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s