Titik Hitam

Pada zaman Yunani kuno, hiduplah seorang mahaguru dan seorang mahasiswa. Saat itu mereka sedang membahas tentang pelajaran filosofi 3, ini merupakan mata kuliah lanjutan dari filosofi 1 dan filosofi 2. Sang Mahaguru memberikan sebuah tugas sederhana kepada sang Mahasiswa.

“Muridku, keluarkanlah selembar kertas putih dan ambilah tinta hitam”
“Maaf Guru, di zaman ini, kertas dan tinta belum lahir.”
“Sudah, kemarin baru di ekspor dari negeri China. Coba lihatlah isi laci mejamu.”
“Oh, iya Guru, maafkan murid”
“Tugasmu muridku, gambarkan satu buah titik hitam di tengah-tengah kertas tersebut.”
“Baik Guru.”

Sang Mahasiswa pun menyiapkan kertas dan mulai membuat tinta cair dari batangan tinta padat. Dengan telaten, dia mulai menggambar titik dan “TUL”, selesai.

titik hitam

Continue Reading

1 Tahun Berbagi Buku Bersama 1 Buku untuk Indonesia, Program #4: Kotak Ajaib untuk Poso

Mendengar kata “Poso”, mungkin yang terbesit di dalam pikiran kita adalah “kerusuhan”, “kekerasan”, “konflik”, mungkin juga “trauma”. Tak salah memang, salah satu kabupaten yang berada di Sulawesi Tengah ini kerap menjadi langganan konflik, seakan konflik adalah identitas dari Poso. Entah sudah berapa kali terjadi kerusuhan di tempat ini sepanjang tahun 2012 ini.

Namun, bagi 1 Buku untuk Indonesia, Poso bukanlah sebuah tempat yang penuh dengan konflik. 1 Buku untuk Indonesia percaya bahwa dari tempat ini akan lahir orang-orang besar bagi bangsa Indonesia. Orang-orang yang akan membawa perubahan bagi Poso menuju sebuah tempat yang penuh kedamaian, tempat dimana impian dan harapan dibangun di atas rasa damai. Ya, kami percaya akan hal itu.

Continue Reading

1 Tahun Berbagi Buku Bersama 1 Buku untuk Indonesia, Program #3: Jogja Membaca

Yogyakarta atau yang lebih familiar disebut sebagai Jogja terkenal sebagai kota pelajar. Tak salah memang, entah ada berapa banyak sekolah dan universitas yang tersebar di penjuru Yogyakarta. Ribuan bahkan jutaan orang datang silih berganti untuk menuntut ilmu di Jogja. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat pendidikan di Jogja menjadi role model pendidikan di Indonesia. Masih ada sudut Kota Yogyakarta yang tidak terlalu mencerminkan hegemoni pendidikan di Yogyakarta.

TK Kyai Mojo Pingit, sebuah TK yang nyaris tidak tersentuh oleh hingar-bingar pendidikan di Yogyakarta. Tempatnya berada di sebuah gedung serbaguna milik Kampung Pingit. Hanya menumpang, tidak berdiri sendiri. Ruang kelas hanya disekat menggunakan papan triplek, sempit, bahkan sirkulasi udara di tempat ini bisa dibilang jauh dari nyaman. Belum lagi, TK ini tidak memiliki taman bermain layaknya TK di tempat lain.

Continue Reading

GreenAdd Story: Reresik Jalan C.Simanjuntak

Joe, ketua dari Paguyuban Demit Alun-Alun Kidul Ngayogjyakarto Anti Mainstream rencananya bakalan ngadain bersih-bersih kota karena sudah masuk minggu terakhir bulan Januari 2013. Daerah yang bakal dibersihin adalah daerah Jalan C. Simanjuntak mulai dari perempatan Mirota Kampus sampai ke pos polisi Kota Baru. Sebelum eksekusi di malam jumat, Joe dan kawan-kawannya mengadakan rapat kecil untuk menentukan job masing-masing buto ijo nanti di lapangan.

Continue Reading

Simfoni Langit

Langit, awan, dan matahari memang selalu bisa menarik perhatian saya. Entah itu ketika matahari sedang bersembunyi malu di balik awan atau ketika dia dengan beraninya menampakkan diri seakan mengusir awan agar tak mendekatinya. Entah itu ketika langit sedang membiru atau ketika langit sedang kelabu. Mereka selalu punya daya magis bagi saya.

Keindahan mereka coba saya rangkum dalam jepretan kamera butut dari telepon seluler yang hanya sanggup menampung 2 MP dalam setiap jepretannya. Tentunya dengan sedikit editing, saya mencoba menggambarkan keindahan antara langit, awan, dan matahari. Dari saya, untuk kalian yang mencintai langit, awan, dan matahari. Continue Reading

Resolusi Demit Anti Mainstream

Malam itu malem minggu, malam dimana muda mudi biasanya menghabiskan malamnya bersama kekasih. Entah hanya sekedar dinner di angkringan, jalan-jalan ga jelas keliling kota, atau nongkrong di tempat-tempat ramai semacam mall, café, warung tenda, bahkan alun-alun pun ikut ramai. Semua orang seakan tumpah ruah ke jalanan tak terkecuali si Jomblo. Jangan salah jomblo pun bisa berkeliaran di malam minggu, tapi jangan ditanya apa yang mereka rasakan dalam hati.

Namun, di balik keramaian orang-orang yang bermalam minggu, 4 sahabat yang dipersatukan oleh kematian juga ikut kumpul. Mereka adalah Joe the Buto Ijo, Tina si Kuntilanak, Tiyo de Tuyul, dan Ponco van Pocong. Mereka tergabung dalam Paguyuban Demit Alun-alun Kidul Keraton Ngayojyakarto Anti Mainstream. Mereka sudah kelihatan jelas anti-mainstream, nongkrong di malam minggu, bukan malam jumat. Mereka juga ngga nongkrong di tempat sepi, gelap, sumpek, atau kotor. Tapi, mereka nongkrong di tempat ramai, banyak orang, banyak kegiatan, di tengah gemerlap lampu kota. Malam itu agenda mereka adalah membahas resolusi setahun ke depan karena baru saja tahun berganti dari 2012 menjadi 2013.

Continue Reading