Low Cost Traveling Day 2: Bandung is (not) Paris van Java (4)

Kami sampai juga di Stasiun Kiaracondong, kami bergegas turun dan membayar angkot yang kami naiki. Saya kembali bertanya pada Shirom tentang kabar Plapti. Syukur, Plapti sudah memberi kabar bahwa dia tetap berada di stasiun dan berinisiatif untuk membeli charger agar telepon selulernya dapat kembali menyala. Kami lantas berjalan menuju stasiun. Setibanya di stasiun, Shirom membeli 5 tiket KRD jurusan Padalarang, 4 untuk kami dan 1 untuk Plapti. Kami masuk ke dalam peron stasiun melihat ke sekitar dan kamipun melihat Plapti sedang duduk di sebuah kios yang menjual keperluan telepon seluler. Langsung saja kami menyapanya.

“Kamu kenapa kok ngasih kabar pas kita udah di jalan? Kan kalo tau gitu, kita bisa tunda keberangkatan, terus berangkat bareng.”, kata saya pada Plapti
“Kan aku belum tahu bisa ikut apa ngga, eh ternyata bisa ikut, yaudah aku nyusul”, jawab Plapti.

Plapti

Plapti

Saya sendiri belum tahu apa alasan Plapti ikut perjalanan kami. Tapi, ada rasa syukur yang terucap. Anak ini akhirnya datang selamat di Kota Bandung. Tak kurang apapun.

Saya, Shirom, Tambah, dan Mphex lantas menuju mushola yang ada di sebelah timur stasiun. Kami bersembahyang karena sudah masuk waktu ashar. Saya dan Tambah terlebih dahulu bersembahyang, sedangkan Shirom dan Mphex beristirahat sambil membeli segelas kopi di kios si sebelah mushola. Giliran saya dan Tambah selesai. Mphex dan Shirom bergantian untuk masuk ke dalam mushola untuk bersembahyang. Mphex selesai dan keluar dari mushola, sedangkan Shirom masih berada di dalam mushola. Mungkin berdoa lebih di dalam mushola. Itu yang ada dalam pikiran saya, sampai akhirnya saya bertanya pada Shirom.

“Kamu kok lama sholatnya? Tumben.”
“Iya, tadi aku sholat ashar sekalian aku jamak dengan sholat magrib.”

Mendengar apa yang dikatakan Shirom membuat saya tertawa. Niatnya untuk menjamak ibadah memang perlu diapresiasi. Sayang, caranya salah. Tak pernah ada hadist yang mencatat tentang menjamak ibadah sholat ashar dan sholat magrib.

“Niatmu bagus Rom, kamu dapet plus 1 untuk niatmu, tapi caramu salah, jadi kamu dapet minus 2. Jadi total nilai kamu minus 1”, canda saya pada Shirom.

Shirom hanya tertawa lepas, menertawai hal bodoh yang dia lakukan baru saja. Saya menyarankannya untuk kembali bersembahyang magrib nanti. Dari mushola kami kemudian kembali menemui Plapti yang kali ini sudah duduk di deretan bangku penumpang.

Kami banyak mengobrol sore itu, mencoba membunuh waktu karena kereta yang kami tunggu baru akan datang petang nanti. Kami bahkan membicarakan tentang seorang gadis yang bersama seorang bapak paruh baya.

“Itu pasti kakaknya”
“Bukan, itu pasti Bapaknya”
“Bagaimana kalo itu justru pacarnya?”
Senyap.

Di tengah penantian kami, para pria termasuk saya mencoba untuk meninggalkan Plapti sendiri di peron stasiun. Sayang, Plapti mengetahui rencana busuk kami. Kami akhirnya duduk di tepian rel kereta api. Bercanda, tertawa, bertingkah bodoh. Teman-teman ini sangat luar biasa. Mereka selalu bisa menghadirkan suasana ceria dengan ulah mereka. Sungguh sebuah berkah di perjalanan ini. Tak terasa, kereta yang kami tunggu pun tiba di stasiun. Kami bergegas naik karena kami harus berebut tempat duduk dengan penumpang lainnya. Benar saja, kami tak dapat tempat duduk. Hanya ada satu kursi kosong dan kami mempersilakan wanita yang bersama kami untuk duduk. Plapti pastinya sangat lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Jogja menuju Bandung. Saya sendiri berdiri di dekat pintu gerbong kereta, memandangi parade lampu di tepian rel. Sangat indah. Cahaya lampu seakan membentuk harmoni di gelapnya malam. Sayang, cahaya lampu itu hanya sebuah sandiwara cantik dari pemukiman kumuh di samping rel kereta api.

Dalam gerbong kereta api, saya banyak merenung. Saya melihat banyak ketidakberesan Kota Bandung dan kebanyakan tentang macet, sampah, dan kehidupan sosial. Ketiga hal tersebut memang sangat menonjol. Predikat Paris van Java yang disematkan pada kota ini sepertinya tak sepenuhnya benar. Coba bandingkan dengan Paris di Perancis sana. Rapi, bersih, tak terlihat kemacetan parah di sana. Kota Paris begitu tertata rapi, nyaris tak ada celah untuk mencela Paris. Tapi, Bandung ini 180 derajat dengan Paris. Hanya satu kesamaan yang dimiliki Bandung dan Paris. Sama-sama menjadi pusat industri tekstil.

Bandung di masa lampau menjadi daerah tujuan wisata unggulan. Tempat ini menjadi daerah istirahat bagi para kompeni-kompeni Belanda. Hawanya yang sejuk, udaranya yang bersih, dan yang pasti kecantikan gadis-gadis Priangan saat itu tak bisa disangkal. Itu dulu, sekarang lihatlah Bandung, hanya gadisnya saja yang nyaris tidak berubah, masih saja cantik. Bandung sekarang sedang memupuk masalah. Memupuk pertumbuhan jumlah kendaraan, tapi tak memupuk jalan. Memupuk jumlah sampah, tapi tak memupuk industri pengolahan sampah. Memupuk kapitalisasi industri, tapi tak memupuk kesejahteraan penduduknya. Kompleks, ruwet. Sri Gunung. Pepatah jawa tersebut memang pantas disematkan pada Bandung. Cantik dari jauh, tak cantik dari dekat.

DSC02940Saya kembali mendekat dengan lainnya di kursi tengah gerbong. Kami masih mendapati gadis tadi bersama lelaki paruh baya. Kami pun kembali membicarakannya.

“Itu pasti kakaknya, lagi nemenin dia”
“Bukan, itu bapaknya, habis jemput dia”
“Bagaimana kalo itu emang pacarnya”
Kembali senyap.

Si Gadis dan lelaki paruh baya tersebut akhirnya turun, entah di stasiun apa, saya tak paham. Banyak penumpang juga yang turun. Kondisi gerbong pun mulai sepi. Saya dan teman-teman akhirnya bisa duduk juga. Namun, itu tak lama. Kereta kami akhirnya merapat di stasiun terakhir. Padalarang.

Di stasiun ini, kami kembali mengecek jadwal keberangkatan kereta lokal Cianjuran esok hari. Kami perlu melakukan itu karena kami harus memastikan bahwa kami tidak akan terlambat esok hari. Kereta api lokal Cianjuran sendiri akan berangkat dari Stasiun Padalarang pada pukul 08.15, waktu yang cukup pagi bagi kami. Setelah selesai mengecek jadwal, kami lantas keluar dari stasiun dan menumpang angkot untuk menuju Cimareme dan kembali menaiki angkot dari Cimareme menuju Batu Jajar. Jalan yang sama seperti tadi siang. Kondisi pun sama seperti tadi siang. Macet. Hanya saja, macet kali ini seperti membawa angin segar.

Dalam angkot jurusan Batu Jajar yang kami naiki, ada seorang penumpang wanita yang parasnya cantik. Sangat cantik. Dia duduk persis di sebelah saya, persis di depan Shirom, berada di pojok belakang angkot. Sedangkan Tambah dan Mphex duduk di dekat pintu masuk angkot. Plapti duduk persis di depan saya. Shirom tak henti-hentinya tersenyum di sepanjang jalan, begitu juga Tambah dan Mphex. Sekilas posisi saya menguntungkan, tapi sebenarnya tidak. Saya tak sempat mencuri pandang ke arah sang Gadis. Bisa-bisa saya mendapat tamparan di wajah jika terlalu sering menoleh kea rah sang Gadis. Pasrah. Saya hanya dapat melihat Plapti yang duduk di depan saya.

Akal bulus mulai dilancarkan oleh para lelaki galau ini. Shirom memimpin. Dia mengajak kami untuk turun di tempat yang sebenarnya bukan tempat terdekat untuk mencapai rumah singgah. Dia turun karena di tempat itu juga sang Gadis turun. Busuk. Rencananya adalah mengikuti sampai titik terjauh yang bisa dicapai bersama sang Gadis. Naas, tak sampai 5 menit sang Gadis sudah menghilang jauh dari pandangan. Seorang tukang ojek beruntung malam itu, dia mendapat kesempatan untuk tahu dimana sang Gadis tinggal. Para lelaki absurd ini akhirnya hanya bisa gigit jari. Saya tertawa puas melihat tingkah mereka.

Di tengah perjalanan menuju rumah singgah, kami sempat mampir ke sebuah toko waralaba untuk membeli perbekalan makanan di esok hari. Tak lama kami berada di dalam toko tersebut karena memang tak banyak barang yang akan kami bawa esok hari. Kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki sampai ke rumah singgah kami yang berada di ujung desa.

DSC02949Di rumah singgah, bibi sudah menyiapkan makan malam dan teh hangat. Tapi, kami memilih untuk mandi karena tubuh ini sudah lengket dengan keringat petualangan. Plapti mengambil giliran pertama. Kami mempersilakan dia untuk membilas semua kotoran yang sempat melekat dari Jogja sampai Bandung. Sedangkan, para pria mempersiapkan rencana perjalanan esok hari. Kami menunjuk Plapti sebagai bendahara perjalanan. Lebih aman rasanya jika wanita yang memegang dana umat daripada para lelaki. Semua bergantian mandi, membilas tubuh, dan menyantap makan malam.

Sempat saya membantu bibi untuk mengambilkan daun pisang di belakang rumah. Rencananya daun tersebut akan digunakan sebagai pembungkus nasi jamblang yang akan menjadi bekal makanan kami esok hari. Saya langsung terbayang bagaimana rasanya nasi jamblang bercampur dengan lauk dan sambal mantap buatan bibi, pasti sangat enak.

Malam itu tak banyak yang kami lakukan. Kami perlu istirahat lebih untuk mempersiapkan diri dalam perjalanan panjang esok hari menuju Cianjur yang kemudian dilanjutkan menuju Sukabumi. Semua sesuai rencana yang telah dibuat. Dari Bandung menuju Cianjur dengan menggunakan kereta api, sedangkan untuk menuju Sukabumi akan menggunakan bus. Kami akhirnya tidur di tempat yang masih sama seperti kemarin. Ruang tamu. Sedangkan Plapti tidur di kamar yang sebenarnya disiapkan untuk tidur para lelaki kemarin. Badan dan pikiran saya lelah. Masih terbayang bagaimana semrawutnya Kota Bandung di pikiran. Bandung itu bukan Paris van Java. Mungkin ada benarnya. Tak lama saya berpikir, kemudian saya mengalah pada lelah. Saya pun akhirnya terpejam dalam gelapnya malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s