Low Cost Traveling Day 2: Bandung is (not) Paris van Java (3)

Matahari sudah tepat berada di atas kepala, kami meneruskan perjalanan kami. Sempat saya dikejutkan dengan sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam telepon seluler saya saat itu. Sangat singkat, isinya menanyakan tentang kabar orang tua di rumah. Pesan singkat itu dikirim oleh seorang teman yang sebenarnya jarang sekali mengirim pesan pada saya. Tanpa tedeng aling-aling dia langsung bertanya tentang orang tua saya. Saya bingung, ada apa dengan orang tua saya? Ada yang tidak bereskah? Saya bergegas mengonfirmasi pertanyaan teman saya tersebut dengan menelpon bapak saya di rumah. Ternyata tak ada berita buruk di rumah. Bapak, ibu, dan adik saya dalam keadaan sehat. Saya ketahui selanjutnya bahwa teman saya tersebut sempat bermimpi buruk tentang orang tua saya.

Di Cimahi kami beristirahat di sebuah masjid yang terdapat di komplek militer setempat. Awalnya sempat ragu dengan masjid ini karena di masjid ini sedang diadakan sebuah resepsi pernikahan. Ternyata lantai dasar masjid ini memang difungsikan sebagai gedung serba guna. Yang digunakan sebagai tempat ibadah adalah lantai kedua. Sejenak kami beristirahat di masjid ini sekaligus bersembahyang. Saya menanyakan kabar Plapti pada Shirom. Saya mendapati bahwa Plapti sudah berada di kereta api menuju Bandung. Namun, ada sedikit pertanda tak baik hari itu. Charging unit telepon seluler Plapti tertinggal, artinya kami harus segera memastikan tempat untuk menjemput Plapti sore nanti. Segeralah Shirom menanyakan perihal tempat untuk bertemu nanti sore, tetapi telepon seluler Plapti sudah keburu mati dan kami pun tak bisa menghubunginya.

Dalam kecemasan, kami terus bergerak menuju Kota Bandung. Kami kembali berjalan kaki menuju Jalan Gedung Empat dan mencari angkutan umum untuk membawa kami menuju Pasar Baru Bandung. Dari atas angkot inilah saya merasakan kembali ketidakberesan pengaturan transportasi di Bandung. Kali ini tak hanya macet dan ugal-ugalan yang saya alami. Supir angkot kami kali ini melanggar aturan trayek angkot. Dia dengan seenaknya mengubah jalur kendaraan, memaksa seorang penumpang pelajar untuk turun di tengah jalan. Kenapa Kota Bandung jadi seruwet ini? Apa yang sebenarnya salah dengan kota besar ini?

Kami turun di Terminal St. Hall. Dari tempat ini kami berjalan kaki membelah Pasar Baru. Di pasar ini pula lah saya melihat berbagai jenis barang dagangan kumpul menjadi satu. Buah, makanan, minuman, pernak-pernik, toko kelontong, dan yang mendominasi pasar ini, toko tekstil. Kami berhenti di sebuah toko tekstil di tengah pasar. Di toko ini Mphex membeli beberapa potong kain yang rencananya akan digunakan sebagai bahan celana. Saya dan Tambah hanya duduk di depan toko sambil memandangi orang-orang yang lalu lalang di jalan depan toko ini. Setelah selesai membeli kain, Shirom lantas bertanya kepada penjaga toko tentang jalan yang bisa diambil untuk sampai ke Kiaracondong. Ternyata penjaga toko tersebut sama tidak tahunya dengan kami. Kami akhirnya minta ditunjukkan jalan menuju Alun-Alun Bandung karena saya sedikit paham dengan kendaraan yang menuju Stasiun Kiaracondong dari alun-alun ini. Setelah mengetahui arah menuju Alun-Alun Bandung, kami segera bergerak.

DSC02905Matahari yang bersinar terik di siang itu membuat tenggorokan kami menjadi kering, perut pun mulai menunjukkan tanda-tanda lapar. Kami memutuskan untuk berhenti di pedagang yang menjajakan minuman kelapa muda. Kami juga membeli beberapa gorengan sebagai makanan ringan. Sambil beristirahat, saya coba menanyakan kabar Plapti pada Shirom. Jawabannya masih sama, kabar terakhir yang kami dapat dari Plapti saat itu menyatakan bahwa Plapti ditawari bantuan oleh orang yang baru saja dia kenal di kereta untuk menuju Terminal Leuwi Panjang. Semoga saja hal Plapti tidak mengiyakan ajakan dari penumpang tersebut karena hal tersebut akan mempersulit kami untuk bertemu. Belum lagi kondisi telepon seluler Plapti yang mati. Saya mengambil keputusan untuk tetap menjemput ke Stasiun Kiaracondong. Ini opsi terbaik yang bisa dilakukan.

Seusai beristirahat, kami kembali berjalan menuju Alun-Alun Bandung. Kami menyusuri Jalan Asia-Afrika yang terkenal dengan Gedung Merdeka dimana KTT Non-Blok Asia-Afrika pertama kali pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955. Namun, kami tidak melewati gedung tersebut karena letak gedung berada jauh di sisi timur Alun-Alun Bandung. Justru sebuah gedung peninggalan Belanda lainnya yang kami lewati siang itu. Gedung Kantor Pos Besar Bandung. Gedung ini terlihat sangat mencolok dengan arsitektur bangunan bertema art deco yang populer di zamannya. Gedung ini terlihat sangat terawat dengan baik, persis seperti bangunan Stasiun Cimahi yang terawat dengan baik. Sepertinya pemerintah cukup memberikan perhatian terhadap cagar budaya, beda hal dengan masalah sampah yang saya lihat tadi pagi. Gedung ini selesai dibangun pada tahun 1928 berdasarkan rancangan dari seorang arsitek yang bernama J. van Gendt.

Tak jauh dari Gedung Kantor Pos Besar Bandung, kami tiba di Alun-Alun Bandung. Jika saja tak mengerti tentang perkembangan Alun-Alun Bandung, pasti orang hanya akan mengira tanah lapang di depan Masjid Agung Bandung itu hanyalah teras dari masjid. Padahal, itulah Alun-Alun Bandung. Dahulu, alun-alun ini terpisahkan oleh sebuah jalan raya persis di depan Masjid Agung Bandung. Namun, seiring berkembangnya masjid, Alun-Alun Bandung kemudian difungsikan sebagai pelataran masjid. Kami menyebrangi halaman masjid untuk menuju tempat angkot jurusan Elang biasa menunggu penumpang. Tak butuh waktu lama, angkutan kota tersebut akhirnya datang. Kami semua bergegas naik untuk menuju Stasiun Kiaracondong. Saya duduk di kursi depan, sedangkan teman-teman yang lain duduk di kursi belakang. Perjalanan angkot pun kami mulai kembali.

DSC02914Langit Bandung yang cerah tiba-tiba saja berubah menjadi gelap. Awan hitam mengambang di atas langit Bandung dan tak lama kemudian turunlah hujan. Dalam sendunya suasana hujan, pikiran saya kembali ke masa kecil saya di Bandung. Jalan-jalan yang saya lewati hari ini, semuanya penuh kenangan. Lembaran-lembaran kenangan di kepala saya seakan berhamburan, berebut untuk dibaca. Saya pun mengambil satu per satu lembaran tersebut.

Cimahi. Pernah dulu saya tinggal sementara di kota ini. Bukan karena tugas militer bapak, tetapi karena saya harus menginap di Rumah Sakit Dustira akibat alergi terhadap obat yang diberikan dokter saat saya sakit. Saya lupa berapa lama saya harus tinggal di rumah sakit ini. Hanya beberapa kenangan yang bisa saya ingat saat ini. Saya ingat saat itu saya berada satu bangsal dengan pasien wanita. Saya lupa namanya. Kami sering berbagi makanan saat itu. Saya ingat, saya pernah diberi buah anggur yang dia bawa. Di rumah sakit ini juga saya ingat bagaimana sabarnya ibu ketika menemani saya saat sakit. Setiap hari ibu berada di samping saya, menemani Anjar kecil yang lemah tak berdaya di rumah sakit. Saya juga masih ingat ketika minta kepada bapak untuk diajak melihat ikan yang berada di kolam ikan rumah sakit. Saat itu seharusnya bapak mengikuti pelatihan untuk kenaikan pangkat, tetapi demi saya, bapak rela mengorbankan kenaikan pangkatnya. Pilihan berat bagi bapak.

Kenangan saya kemudian beralih ke Alun-Alun Bandung. Saya ingat betul ketika dulu kami sekeluarga pernah mampir ke sebuah restoran kecil di dekat alun-alun. Pernah juga saya bersama keluarga berkunjung ke sebuah taman bermain dalam ruangan yang ada di dekat Alun-Alun Bandung. Ya, memang pernah ada sebuah taman bermain dalam ruangan di Bandung, jauh sebelum Trans Studio dibangun.

Angkot yang saya tumpangi terus bergerak menuju Kiaracondong melewati Jalan Gatot Soebroto. Saya sedikit terhenyak dari lamunan saya karena si Supir terlalu berisik merayu penumpang di sebelah saya. Namun, itu tak lama. Ingatan saya kembali ke 18 tahun yang lalu. Jalan Gatot Soebroto pernah menjadi saksi bagaimana kebaikan ibu itu memang tiada batasnya. Saat itu saya bersekolah di TK Al Fitrah Bandung. Setiap kali saya berangkat sekolah, ibu selalu menggandeng tangan kecil saya. Rumah kami yang berada di komplek militer Yonkav 8, mengharuskan kami berjalan kaki untuk menuju TK tersebut. Setiap hari, sampai ibu tidak bisa lagi mengantar saya karena saat itu kandungan ibu mulai besar. Dalam kandungan itu ada adik saya yang kelak akan lahir ke dunia. Jalan ini juga menjadi saksi bagaimana bapak mengantarkan saya berangkat ke sekolah dengan sebuah sepeda bekas yang beliau beli. Sebuah kendaraan pertama yang bisa kami beli saat itu.

Saya menengok ke arah kanan. Saya melihat sebuah sekolah masih berdiri tepat di seberang pusat perbelanjaan paling megah di Bandung. Di tempat itulah dulu saya menuntut ilmu. Sebuah sekolah swasta dengan biaya sekolah yang bisa dibilang sangat mahal pada masanya. Saya ingat SPP sekolah tersebut adalah Rp 21.000,- dan itu di tahun 1992. Bisa dibayangkan seberapa mahal biaya sekolah di sana. Saya sendiri tak paham mengapa saya di sekolahkan di tempat tersebut. Ibu berdalih bahwa saya harus mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Angkot yang saya tumpangi bergerak menuju Pasar Kiaracondong. Lagi-lagi saya diperlihatkan sisi tak anggun dari Bandung. Sampah menumpuk, macet tak terurai, sampai kampung kumuh yang ada di sekitaran pasar. Sejak dulu saya tinggal di Bandung, Kiaracondong memang sudah terkenal sebagai daerah padat penduduk. Rumah-rumah berjejer rapat tak menyisakan celah bagi sinar matahari untuk masuk menjadi pemandangan yang umum. Tahun berganti, tapi sepertinya suasana tak berganti. Kiaracondong masih diisi dengan hutan beton yang rimbun, sampah masih tersebar di sepanjang jalan ini, dan yang pasti macet masih jadi sarapan sehari-hari tempat ini. Di daerah ini sebenarnya ada kantor polisi. Herannya, tak terlihat batang hidung polisi untuk mengatur kesemrawutan lalu lintas di daerah ini. Mungkin pak polisi menganggap ini hal yang biasa yang tak perlu diatur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s