Low Cost Traveling Day 2: Bandung is (not) Paris van Java (2)

Setelah tiba di rumah singgah, satu per satu kami bergantian mandi. Ketika saya mandi, Shirom dan Mphex pergi untuk mencari oleh-oleh berupa makanan dan baju metal, saya sendiri menyebut baju metal itu baju yang sablonnya lebih besar dari bajunya. Coba saja lihat baju-baju metal yang biasa dijual di toko-toko merchandise, pasti ukuran sablon dari baju tersebut sangat besar. Tapi memang masih lebih besar bajunya daripada sablonnya. Sekitar 30 menit Shirom dan Mphex mencari oleh-oleh, sayang Mphex tak mendapatkan kaos metal pesanan temannya di Jogja.

Sebelum perjalanan menuju Kota Bandung kami mulai, kami terlebih dahulu makan dengan makanan khas Jawa Barat, lalapan. Memang orang Jawa Barat terkenal dengan kebiasaan makan sayuran mentah atau lalap bersama sambal. Dengan ditemani tahu goreng dan ikan patin, kami semua lahap menyantap sarapan pagi kami. Jangan ditanya rasa sambal yang dibuat oleh bibi, rasanya lezat sekali. Perpaduan antara sambal, tomat, dan bumbu lainnya menciptakan harmoni yang indah di lidah. Saya sendiri ketagihan dengan sambal buatan bibi. Nikmat.

Hari makin siang, kami bergegas untuk berkeliling Kota Bandung. Namun, sebelum itu kami akan mengunjungi Cimahi, kota militer. Kami berjalan kaki untuk menuju jalan utama Batu Jajar. Masih melewati jalan yang sama, hanya saja kali ini penuh dengan hiruk pikuk orang. Shirom sempat berhenti di sebuah sekolah dasar yang ada di kampongnya. Ternyata sekolah tersebut adalah sekolah dimana Shirom menuntut ilmu ketika masih tinggal di Batu Jajar. Shirom berfoto di depan pintu masuk sekolah tersebut. Tak banyak foto, hanya satu buah foto. Tapi, saya rasa ini bisa jadi pengingat buat Shirom jika suatu saat dia rindu dengan kampung masa kecilnya.

Perjalanan kami mulai dengan menaiki kendaraan umum. Jalanan yang kami lalui masih sama seperti kemarin. Macet dan sangat tak nyaman. Kali ini debu dan panas matahari ikut menemani perjalanan ini. Di tengah perjalanan yang tidak nyaman ini, saya mendapati sebuah pesan singkat yang masuk ke telepon seluler saya yang sama-sama isinya tidak menyenangkan. Sebuah pesan dari pimpinan proyek yang saya pegang. Beliau meminta data untuk digunakan rapat hari ini juga. Sangat mendadak, rapat tersebut akan dimulai pukul 13.00 sedangkan beliau baru menghubungi saya pada pukul 11.00 dengan kondisi saya berada jauh dari Jogja. Tidak ada satu pun data yang saya bawa pada perjalanan kali ini. Jika saja ini bukan proyek dengan dana besar, pasti sudah saya tinggalkan begitu saja.

Saya mencoba mengontak teman yang berada di Jogja, berharap teman saya ini punya cukup waktu untuk mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk rapat. Beruntung saja, dia dapat diandalkan. Segala data untuk kebutuhan rapat bisa segera disiapkan dan dikirim kepada pimpinan proyek. Cukup geli sebenarnya, data untuk kebutuhan rapat ini sudah saya kirimkan sejak berhari-hari yang lalu. Mungkin si Bapak malas untuk membuka kembali kotak masuk emailnya.

Jalanan masih terlihat macet, permasalahan yang dihadapi juga masih sama. Ada perbaikan jalan dan masih saja tak terlihat batang hidup polisi lalu lintas di jalan ini. Padahal, jalur ini adalah jalur utama untuk menuju Cililin dan menuju Kota Bandung. Warga sekitar sibuk mengatur arus lalu lintas, secara bergantian kendaraan diatur untuk melewati jalur yang ada. Saya kemudian melihat ke luar jendela, memeriksa keadaan sekitar. Ternyata di tepian Jalan Raya Batu Jajar ini terdapat banyak pabrik. Pantas saja jika jalan ini rusak berak dan dilakukan pembetonan jalan agar jalan raya bisa tahan lebih lama. Kendaraan kami terus melaju sampai Cimareme. Di tempat ini kami turun dan melanjutkan perjalanan menuju Cimahi.

Perjalanan menuju Cimahi jauh lebih memprihatinkan daripada jalan sebelumnya. Memang, jalan aspal yang kami lalui lebih baik daripada jalan yang masih setengah jadi di Jalan Raya Batu Jajar. Namun, kondisi kendaraan yang semrawut menjadi pemandangan yang sangat mengganggu. Sepeda motor, kendaraan pribadi, kendaraan umum, pejalan kaki, semua tumpah ruah ke jalan. Tak teratur, tak terkendali, lagi-lagi tak tampak adanya polisi lalu lintas. Angkutan kota yang kami tumpangi juga tak kalah ugal-ugalan. Si Supir seakan sedang balapan di sirkuit bertaraf internasional. Dia menyalip setiap kendaraan yang menghalangi jalur angkotnya. Entah apa yang ada di benak dari supir angkot ini. Dia melihat angkot lain sebagai lawan balapan, terlebih kepada angkot yang memiliki trayek yang sama. Berebut penumpang, mungkin itu alasannya. Tapi, perilakunya sangat membahayakan dirinya dan juga penumpang angkot termasuk kami. Kondisi transportasi Bandung sangat payah. Rasanya, mungkin saya tidak akan selamat jika berkendara sendirian di Bandung.

Kami akhirnya tiba di CImahi setelah perjalanan panjang mengerikan yang kami lalui. Kami turun di Jalan Gedung Empat. Kami menyusuri sepanjang Jalan Sriwijaya. Di tempat ini kami melihat barisan komplek militer di sisi barat jalan. Tak heran, Cimahi memang terkenal sebagai kota militer. Tak kurang dari 8 pusat pelatihan militer terdapat di kota ini. Cimahi sendiri mulai dikenal sebagai kota militer sejak 1886, dimana di tahun tersebut, Belanda membangun pusat pelatihan militer beserta fasilitas-fasilitas lainnya termasuk pembangunan Rumah Sakit Dustira yang dulu bernama Milifaire Hospital dan rumah tahanan militer.

Cimahi, tempat ini dahulunya bernama Cikolokot. Tempat ini kemudian berubah nama menjadi Cimahi di tahun 1913 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal van Heutsz. Cimahi mulai dikenal setelah Jalan Raya Pos mulai difungsikan sejak tahun 1809 tepatnya ketika Pos penjagaan militer dibangun oleh Belanda pada tahun 1811 tepat di Alun-Alun Cimahi. Jalan Raya Pos atau yang lebih dikenal sebagai Jalan Daendels, salah satu megaproyek di zamannya yang diprakarsai oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels inilah yang menjadi awal berkembangnya Kota Cimahi. Perintah pembangunan Jalan Raya Pos sendiri muncul ketika Daendels sedang dalam perjalanan darat dari Buitenzorg atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Bogor menuju Oosthoek atau Jawa Timur pada tanggal 29 April 1808. Perwujudan ide dari Daendels ini dilaksanakan mulai tanggal 5 Mei 1808. Saat itu Daendels memerintahkan untuk membangun jalan sepanjang 250 km dari Bogor menuju Karangsembung di Cirebon dengan lebar jalan yang ditentukan saat itu adalah 7,5 meter dan setiap 150,960 meter harus dibangun paal sebagai tanda yang juga menjadi tanda kewajiban bagi distrik dan penduduknya untuk memelihara jalan. Namun, begitu jalan ini sudah selesai sampai di Karangsembung, daerah lain meminta untuk dibangunkan jalan yang sama. Alhasil, Jalan Raya Pos semakin panjang dan berakhir di Panarukan. Pelaksanaannya sendiri dilakukan seusai panen padi dan memetik kopi. Saat itu koffie-stelsel dan cultuur-stelsel belumlah diberlakukan. Cimahi menjadi salah satu daerah yang dilewati oleh Jalan Raya Pos ini.

Jalan Raya Pos yang menghubungkan Anyer sampai Panarukan sejauh 1.000 km ini merupakan salah satu bentuk genosida terhadap warga pribumi. Bagaimana tidak, Jalan Raya Pos ini dibangun dengan nyawa 12.000 orang menurut data yang dilansir Pemerintah Inggris. Kemudian ada yang menyebutkan korbang yang meninggal di Grobogan mencapai 5.000. Ada pula yang menyebutkan 3.000. Angka –angka bulat ini menurut saya sangat janggal. Angka bulat ini menunjukkan ketidakpastian dari jumlah korban sebenarnya. Mungkin saja bisa lebih dari itu. Lagi-lagi rakyat jelata ini dilupakan, tak ada nama, tak ada jumlah pasti. Semoga saja ada dari mereka yang dikenang oleh masyarakat Cimahi karena secara tidak langsung, Cimahi berhutang jasa kepada para pekerja paksa yang membangun Jalan Raya Pos dengan darah dan nyawa mereka.

Kami terus berjalan menuju Stasiun Cimahi, stasiun yang menjadi saksi berkembangnya Kota Cimahi. Bentuk stasiun ini masih dipertahankan seperti saat dibangun pada tahun 1886. Stasiun Cimahi dibangun berbarengan dengan dibangunnya jalur kereta api yang mengubungkan Bandung menuju Cianjur pada tahun 1874 – 1893. Tujuan utama dari pembangunan Stasiun Cimahi adalah sebagai stasiun militer sebagaimana fungsi Kota Cimahi yang saat itu menjadi basis KNIL.

DSC02889Kami datang ke stasiun ini dengan tujuan untuk mengecek jadwal keberangkatan kereta api lokal Cianjuran yang akan membawa kami menuju Cianjur esok hari. Kali ini Shirom yang mengecek harga tiket. Mencengangkan, harga tiket kereta api Cianjuran ini tak masuk akal murahnya. Bandung – Cianjur hanya dihargai Rp 1.500,- itupun sudah termasuk asuransi jiwa. Saya tidak percaya, saya kembali menanyakan harga tiket dan memang tak salah lagi, harganya hanya Rp 1.500,- saja, tak kurang tak lebih. Di stasiun ini saya sempat dihampiri oleh seorang bapak tua. Tubuhnya sudah tua renta, keriput, dan kurus. Beliau datang mendekati saya dengan membawa sebatang rokok kretek yang sepertinya hasil lintingan sendiri. Awalnya saya sedikit bingung dengan apa yang diminta si Bapak, ternyata beliau ingin meminjam korek api untuk menyulut rokoknya. Langsung saja saya berikan sebuah korek api gas yang berada di saku celana saya. Beliau pun mengembalikan korek begitu selesai menyulut rokok yang dipegangnya dan beliau pun bergegas kembali ke dalam peron. Interaksi singkat, tapi bagi saya, berinteriraksi seperti inilah yang menciptakan kenikmatan tersendiri dalam sebuah perjalanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s