Low Cost Traveling Day 2: Bandung is (not) Paris van Java (1)

Sofa tua yang saya tiduri semalam berasa seperti sebuah kasur di hotel berbintang 5, itu semua akibat lelah yang mendera saya semalam. Saya dan teman-teman tertidur pulas di ruang tamu rumah singgah kami. Ada rasa malas untuk beranjak bangun dari sofa di pagi ini. Kantuk dan lelah jadi alasan untuk tetap tidur ganteng di atas sofa. Belum lagi cuaca Batu Jajar yang sangat mendukung. Dingin. Lambaian sinar mentari pagi yang mencuri celah dari jendela yang tertutup tirai pun tak mampu menarik kami bangun dari sofa. Justru kami sibuk membenahi posisi tidur agar mata kami tidak diterpa cahaya matahari. Saya sendiri sebenarnya sudah bangun dan sempat menonton televisi yang berisi tentang berita olah raga. Namun, apa daya, kedua mata saya tak bisa diajak kompromi. Sampai akhirnya Shirom datang ke ruang tamu. Dia sendiri tidak tidur di sofa. Jelas saja, dia adalah keponakan dari pemilik rumah.

Shirom kemudian berjalan mendekati jendela dan kemudian membuka tirai jendela. “Biar pada bangun”, katanya. Benar saja, jendela berukuran besar itu memberi kesempatan sinar matahari untuk masuk ke dalam ruangan. Ibarat sebuah jalan, jendela ini seperti jalan bebas hambatan bagi sinar matahari. Sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan secara deras, jelas bukan tandingan untuk rasa kantuk di mata. Saya akhirnya bangun, Tambah juga bangun, hanya Mphex yang masih bertahan dari terpaan sinar matahari. Sepertinya matanya sudah terpasang solar guard sehingga sinar matahari hanya terasa seperti lampu 5 watt.

Namun, tak sia-sia saya bangun. Bibi sudah menyiapkan sepiring pisang goreng hangat beserta teh. Sarapan pagi yang luar biasa. Dengan muka yang masih bermentega, saya melahap potongan pisang goreng hangat dan menyeruput segelas teh hangat. Nikmat sekali pagi ini. Memang benar jika Nabi SAW menganjurkan kita untuk tidak tidur kembali setelah subuh tiba. Ada banyak rezeki yang bisa didapat setelah subuh tiba. Pisang goreng dan teh hangat inilah salah satunya. Dinginnya Batu Jajar pun bisa sedikit dilawan dengan pisang goreng yang nikmat ini.

Kami bergantian mencuci muka di kamar mandi, kemudian kami sedikit berbincang santai di ruang tamu, tempat yang sama dimana saya dan teman-teman tidur semalam. Mphex belum bangun juga. Tapi, tak lama kemudian dia pun bangun. Mungkin suara obrolan saya bersama Tambah dan Shirom menjadi alarm alami yang ampuh untuk membangunkan Mphex. Setelah mengobrol di ruang tamu, Shirom lantas mengajak kami untuk melihat sebuah saksi bisu dari pembangunan Bandung. Saksi tersebut adalah sebuah sungai panjang yang membelah Bandung, Sungai Citarum. Sungai Citarum ini hanya terletak persis di sebelah utara dari rumah singgah kami. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 5 menit jalan kaki.

Dari kejauhan, Sungai Citarum tampak indah meliuk dan membelah Bandung. Airnya memantulkan cahaya matahari dengan sangat sempurna. Tumbuhan hijau terlihat menghiasi tepian sungai. Namun, selanjutnya apa yang saya lihat dari dekat, sangat berbeda jauh. Sungai ini sangat tercemar, pantulan cahaya tadi bukan karena airnya yang bersih, tapi justru karena cahaya matahari sudah tak sanggup lagi menembus pekatnya air sungai. Limbah-limbah dari pabrik-pabrik yang berada di sepanjang tepian Sungai Citarum lah yang berperan aktif dalam pencemaran air sungai. Sepertinya, belum banyak pabrik yang peduli dengan lingkungan, terlebih pada ekosistem sungai. Undang-undang tentang AMDAL sepertinya hanya dianggap sebagai angin lalu, formalitas. Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung pun sepertinya tidak terusik dengan permasalahan ini. Mereka masih terlihat duduk manis di dalam kantor seakan Sungai Citarum masih baik-baik saja.

Pagi di Sungai Citarum

Pagi di Sungai Citarum

Tumbuhan hijau yang saya lihat sebelumnya ternyata tak lebih dari kumpulan eceng gondok. Sangat banyak, padahal eceng gondok dalam jumlah yang besar dapat membuat polusi pada air. Saking banyaknya, beberapa kumpulan eceng gondok sampai membentuk pulau mini di tengah aliran Sungai Citarum. Beberapa pulau mini tersebut juga ada yang ikut terbawa arus sungai. Belum selesai disitu, Sungai Citarum dipenuhi dengan sampah, entah itu sampah organik maupun anorganik. Populasi sampah terbanyak adalah sampah plastik. Bungkus makanan, kantong kresek, peralatan rumah, semua berkumpul jadi satu di sungai ini. Entah ini sudah jadi budaya atau memang hati masyarakat tepian Sungai Citarum yang sudah mati rasa tentang isu lingkungan.

Miris melihatnya, mengingat banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari sungai ini. Petani, nelayan, bahkan orang-orang kota nun jauh di bagian utara Jawa Barat seperti Karawang dan Bekasi juga membutuhkan suplai air bersih dari Sungai Citarum. Saya khawatir jika ini dibiarkan, maka akan banyak orang yang kehilangan mata pencaharian. Petani tak lagi bisa menggunakan air limbah untuk keperluan berladang. Nelayan tak mungkin lagi mendapatkan ikan dari sungai karena populasi ikan menghilang akibat kualitas air yang buruk. Kalaupun ada ikan yang bisa terjaring, tak ada jaminan bahwa ikan yang didapat tidak mengandung polutan. Yang terpenting adalah air minum. Relakah manusia meminum air yang berasal dari air sungai yang kadar pencemarannya tertinggi di dunia? Saya yakin, tidak. Mengerikan. Sekalipun air nantinya berubah wujud menjadi bening dengan adanya instalasi water treatment, orang akan ngeri membayangkan bagaimana  wujud air tersebut sebelumnya. Belum lagi polutan yang mungkin tidak tersaring sempurna ketika proses penjernihan air.

Kasihan Citarum, beratus tahun yang lalu, sungai ini menjadi aset penting bagi Kerajaan Tarumanegara. Sungai ini juga menjadi saksi dari perpecahan Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Sungai ini juga dulu dijadikan batas alami dari kedua kerajaan kembar tersebut. sungai ini juga yang menjadi saksi bergabungnya Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda menjadi Kerajaan Sunda. Sungai ini dulu dihormati, tetapi lihatlah sekarang. Tak lebih dari sebuah tempat pembuangan sampah berjalan.

IMG_1718Kami tak lama berada di sungai ini, hanya mengambil beberapa foto dan sedikit bercengkrama dengan warga sekitar. Sempat kami ditegur keras oleh seorang bapak tua nelayan setempat. Si Bapak menyangka kami adalah orang asing yang secara sembrono mengambil gambar di tempat ini tanpa izin. Namun, si Bapak keliru. Si Bapak akhirnya meminta maaf kepada kami setelah mengetahui bahwa Shirom adalah warga sekitar. Ibu Shirom lahir di desa ini. Sebenarnya bapak tua tadi tidak perlu sampai meminta maaf pada kami jika saja beliau mau sedikit bersabar, bertanya baik-baik siapa kami. Saya rasa berprasangka baik masih disarankan untuk tempat seperti ini.

Kami pulang kembali ke rumah singgah kami. Di perjalanan pulang, saya melihat sebuah komplek pemakaman. Sebernarnya saat berangkat pun saya melihatnya karena memang jalan menuju sungai hanya satu. Komplek pemakaman tersebut adalah sebuah komplek pemakaman militer, taman makam pahlawan. Tapi, jangan berpikir bahwa makam pahlawan ini megah, bersih, dan indah seperti pemakaman militer di kota-kota besar. Komplek makam pahlawan ini nyaris tak bisa dikenali jika saja tidak ada sebuah papan berisikan informasi tentang makam pahlawan. Komplek makam pahlawan ini dipindahkan dari daerah genangan Waduk Saguling. Kondisi makam ini memprihatinkan. Gelap, kotor, dan terpinggirkan. Itu kesan yang saya dapat. Mengerikan. Kasihan sekali para pahlawan ini, seakan dibiarkan untuk dilupakan oleh banyak orang. Yang lebih miris lagi, dari penuturan Shirom, para pahlawan tersebut dipaksa berenang ketika Sungai Citarum meluap saat musim hujan tiba. Tepian Sungai Citarum naik sampai ke komplek makam pahlawan tersebut. Apa bedanya dengan kondisi awal sebelum dipindahkan dari daerah genangan Waduk Saguling? Mereka tetap saja berenang, hanya saja di sini mereka tak harus setiap hari berenang. Miris, jasa selama hidup tak menjadikan mereka diperlakukan layak ketika sudah meninggal.

DSC02839

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s