Low Cost Traveling Day 1: Kehidupan dari Atas Kereta Api (3)

Matahari makin tergelincir ke barat, hari makin senja. Senja sore itu sangat indah, sinar matahari yang semakin jingga menerpa hutan dan perbukitan Jawa Barat, menghadirkan suasana magis penuh pesona yang tampak dari dalam gerbong kereta api. Ini salah satu bentuk rezeki yang Tuhan berikan pada kami, dalam perjalanan ini, kami ditampakkan kuasaNya. Ini baru awal perjalanan, masih banyak kejutan lainnya yang menunggu kami disana. Kami terus melaju menuju Bandung.

Hutan dan perbukitan berganti menjadi tumbuhan beton rapat, kita semakin dekat dengan Kota Bandung. Terakhir kali saya melalui jalur kereta api ini, masih banyak persawahan yang membentang di daerah Cicalengka. Namun, kali ini sudah berbeda. Sawah berubah menjadi kapling-kapling tanah. Tanah berubah menjadi tumbuhan beton. Perumahan seakan seperti jamur yang menyebar dengan cepat, hanya dalam waktu 2 tahun, sawah-sawah tersebut sudah menjadi bangunan RSS. Saya membatin, mau makan apa mereka nanti jika semua sawah ini berubah menjadi hutan beton. Sanggupkah semen, pasir, dan bata membuat perut menjadi kenyang?

Makin mendekat dengan Stasiun Kiaracondong, pemandangan semakin memprihatinkan. Bandung yang katanya adalah Paris dari Jawa ini nyata tidak menampilkan sesuatu yang indah. Kampung kumuh, sampah menumpuk, sungai yang menghitam pekat, menghiasi sepanjang tepian rel kereta api. Rumah-rumah di tepian rel ini sangat padat, berdempetan satu sama lain, tak punya halaman, sedikit cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah. Inilah foto kehidupan Bandung yang sebenarnya. Bandung itu sudah tidak lagi nyaman seperti dulu, kata Paris van Java sepertinya perlu direvisi. Kota ini punya permasalahan yang sepertinya dibiarkan tumbuh subur.

***

Kami tiba di Stasiun Kiaracondong ketika matahari sudah semakin condong ke barat. Sore. Kami beristirahat sejenak di stasiun ini, mengambil air wudhu untuk bersembahyang. Setelah bersembahyang kami melihat jadwal kereta api untuk menuju Padalarang. Cukup petang jika kami ingin menunggu kereta tersebut. Saya berinisiatif untuk mengajakan teman-teman yang lain untuk naik angkutan kota dan bus untuk sampai ke Batu Jajar, tempat singgah kami di Bandung. Semua menurut, tapi setelah itu, saya tahu bahwa keputusan itu salah besar.

DSC02797Jalanan di Bandung itu ganas, kendaraan roda dua dan roda empat saling berebut aspal untuk dilewati. Semrawut, macet, tak terkendali. Suara klakson kendaraan juga menjadi melodi tersendiri di tengah macetnya jalanan Bandung. Padahal jika ingin berpikir sejenak, para pengendara itu pasti tahu bahwa jeritan klakson kendaraan tak akan bisa mengurai kemacetan. Mereka hanya meluapkan emosi ketika macet terjadi dengan memencet tombol klakson di kendaraan mereka. Jika saja tombol klakson bisa berteriak, pastilah sudah mengumpat pada pemilik kendaraan. Tombol-tombol klakson disiksa habis-habisan oleh pengendara kendaraan bermotor. Tak apa, ada rezeki untuk bengkel karena mereka akan sering mengganti tombol klakson kendaraan.

Ketidakramahan jalanan Bandung ikut menular kepada para pengendara kendaraan bermotor, tak terkecuali pada supir angkot yang kami tumpangi. Orang ini tampak tak punya sabar, ketus, sangat tidak ramah. Bagaimana tidak, kami diturunkan jauh dari Terminal Leuwi Panjang dan diminta membayar lebih dari biasanya. Rp 4.000,- bukanlah harga normal. Penumpang yang lain pun mengeluh dengan perilaku si Sopir. Kurang ajar. Suaranya pun penuh bentakan. Saya paham jika dia mencari nafkah, tapi gunakan cara yang baik untuk mendapatkan rezeki. Semoga Tuhan mengingatkannya dengan halus.

Kami lantas berjalan menuju Terminal Leuwi Panjang. Masuk ke dalam terminal dan menuju tempat dimana bus jurusan Cililin biasa menunggu penumpang. Kondektur terus berteriak “Cililin” untuk memanggil penumpang. Kami bergegas naik ke dalam bus tersebut dan mengambil tempat duduk agak di depan karena tempat duduk belakang sudah penuh. Saya duduk di dekat jendela bus, sebelah saya adalah Shirom. Tambah dan Mphex duduk dalam satu bangku. Kami mengalah dengan lelah. Kami semua tertidur di dalam bus.

Saya terbangun di pintu keluar jalan tol Padaleunyi. Di tempat ini saya disuguhi sebuah pemandangan menarik. Bukan tentang pemandangan alam yang indah. Bukan, karena saat itu hari sudah gelap. Saya melihat sepasang muda mudi yang sedang memadu kasih di tepian jalan tol. Lucu sekaligus miris. Lucu karena tempat yang mereka pilih sebagai tempat memadu kasih sangatlah tidak wajar. Tepian jalan tol. Mereka dengan asyik saling berpacaran tanpa menghiraukan orang lain yang lalu lalang di depan mereka. Mati rasa sepertinya. Miris. Problem marginal seperti ini adalah hal yang lumrah bagi kota besar. Ketika kota besar makin dikuasai oleh kekuatan kapital, maka hal-hal sosial akan mulai terabaikan. Tak peduli, acuh, egois, adalah hal yang lumrah. Sama seperti muda mudi tadi, mereka acuh, tak peduli.

Keluar dari pintu tol Padaleunyi, perjalanan kami makin melambat. Macet parah terjadi di jalan ini. Bus dengan 220 tenaga kuda yang kami naiki seakan hanya bertenaga 1 kura-kura. Lambat, bahkan sepertinya kalau saya berlari, saya lebih cepat sampai. Namun, jelas bukan opsi. Badan yang sudah lelah ini jelas tidak akan mau diajak kerja sama untuk berjalan lebih jauh apalagi berlari. Pasrah. Saya melihat ke luar jendela bus. Jalur di sebelah kanan terlihat kosong melompong. Mungkinkah ada sebuah kecelakaan di depan? Tak tahu. Semua orang di dalam bus pun sepertinya hanya diam, pasrah dengan keadaan macet ini. Bus terus merayap pelan. Tak jauh dari tempat bus kami macet, saya akhirnya tahu apa yang menyebabkan bus ini berjalan pelan. Jalan utama menuju Cililin ini sedang dalam masa perbaikan. Bukan di aspal, namun beton. Sepertinya jalanan ini adalah jalan yang biasa dilalui oleh kendaraan berat sehingga perlu dilakukan pembetonan jalan. Warga sekitar dengan sabar berusaha untuk mengatur lalu lintas malam itu. Bukan pemandangan aneh bagi saya. Malam hari di Indonesia itu pasti nihil kehadiran dari polisi lalu lintas.

Perlahan tapi pasti, bus kami melaju meninggalkan kerumunan kendaraan yang terjebak dalam kemacetan. Perjalanan kami pun semakin santai sekarang, tidak ada lagi kemacetan di depan kami. Bus pun melaju lancar menuju Batu Jajar. Kami akhirnya turun di Pasar Batu Jajar dan membeli beberapa botol minuman karena persediaan air kami makin menipis sebelum kami tahu bahwa Shirom masih menyimpan satu botol air minum berisi 600 ml. Dari pasar ini kami masih harus berjalan kaki menuju rumah singgah kami sekitar 500 m dari tempat kami turun. Tak jauh memang, tapi kaki kami seakan sudah lelah untuk berjalan.

“Masih berapa jauh sih?”, kata Tambah
“Sehabisnya jalan ini”, Shirom menjawab
“Tenang, di depan ada tukang tambal betis”, kelakar Mphex

Kami tertawa lepas.

Gang ini sangat sepi, hanya ada sedikit warga yang masih berkumpul di luar. Sangat berbeda dengan suasana pasar. Kami terus berjalan menuju rumah singgah. Benar apa kata Shirom. Ikuti jalan setapak ini sampai habis. Rumah singgah kami benar-benar berada di ujung desa. Rumah ini tidaklah terlalu besar, pas menurut saya untuk ukuran rumah di desa. Kami disambut oleh paman yang sudah sedari tadi berada di saung yang berada di depan rumah. Sangat ramah. Kami pun dipersilakan untuk masuk ke dalam rumah paman, rumah singgah kami.

Ternyata di dalam sudah disiapkan segelas teh hangat untuk kami. Sambutan sederhana yang terasa sangat mewah bagi saya. Hangatnya teh terasa sampai ke dada. Nikmat sekali. Di dalam rumah, kami mengobrol dengan paman sambil antri giliran untuk mandi. Tubuh saya rasanya sudah seperti udang goreng mentega. Muka penuh minyak, tubuh berbalut peluh, dan rambut seperti sudah tak keramas seabad.

DSC02814Ketika selesai mandi, rumah ini sudah sepi. Maklum, paman harus berangkat kerja dan anggota keluarga yang lain sudah tidur. Tinggallah kami berempat yang masih membuka mata. Kami mengobrol banyak hal malam itu, dari obrolan ringan sampai tentang curahan hati. Alamak, ternyata kami semua berangkat ke barat dengan beban yang tak jauh beda, hati. Benar saja jika ini dikatakan sebagai perjalanan untuk mencari kedamaian hati, menjauh dari hiruk pikuk yang menguras kesabaran di Jogja sana. Percakapan malam ini pun diakhiri dengan sebuah pesan dari Shirom. Tak terlalu penting memang. Hanya sebuah pesan tentang filosofi demit-demit lokal Indonesia.

“Jadilah seperti pocong, dari dulu dia sederhana, buktinya bajunya tak pernah ganti, hanya kain mori.”
“Jadilah seperti tuyul, di usianya yang masih belia, dia sudah sanggup untuk mencari uang.”
“Jadilah seperti kuntilanak yang selalu ceria, dalam kondisi apapun dia selalu tertawa.”
“Jadilah seperti buto ijo, sudah go green sedari dulu sebelum global warming dimulai.”

Mata ini sudah mulai mengantuk dan akhirnya saya  memejamkan mata ini. Selamat malam sahabatku, selamat malam keluarga kecilku. Keluarga itu selalu ada, entah dari orang yang kita kenal atau tidak. Keluarga akan selalu menyambut kita dengan hangat, tak peduli sejauh apa kita telah pergi. Keluarga itu mereka yang selalu berbagi kebahagiaan, tawa, dan senyum. Keluarga itu aku, kamu, dia, mereka, dan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s