Low Cost Traveling Day 1: Kehidupan dari Atas Kereta Api (2)

Pukul 09.15, kereta api Kutojaya akhirnya merapat di Stasiun Kutoarjo. Merasa sudah memiliki tiket, kami santai saja karena sepengetahuan saya, tiket kereta api ini sudah dengan nomor tempat duduknya. Namun, saya salah. Tiket kereta ini ternyata tanpa tempat duduk, artinya siapa cepat dia dapat. Kami segera bergerak dari satu gerbong menuju gerbong yang lain. kereta pagi itu penuh oleh penumpang, kami bergerak terus ke depan untuk mencari tempat duduk yang kosong. Beruntung, salah seorang pedangang asongan menunjukkan gerbong yang masih sepi penumpang. Kami mendapatkan tempat duduk 3-3 yang sudah terdapat satu orang penumpang yang cukup mengganggu. Penumpang tersebut adalah wanita, sekitar 30 tahun usianya. Dia duduk secara sembrono. Kakinya dia naikkan ke kursi seberang. Orang yang punya sopan santun pastinya akan secara refleks menurunkan kaki jika ada orang lain yang akan duduk dalam satu bangku. Tapi, orang ini tidak. Dia tetap membiarkan kakinya singgah di kursi orang lain. Sangat tidak sopan untuk ukuran wanita.

Di tengah rasa kesal yang mulai naik, kami melihat seorang wanita yang sedang mencari tempat duduk. Karena di tempat kami masih tersisa satu tempat duduk lagi, kami mempersilakan mbak tadi untuk duduk. Saya bertukar tempat duduk dengan mbak tadi, mempersilakan si Mbak untuk duduk dekat dengan jendela. Kereta pun akhirnya berangkat, pelan tapi pasti, kereta ini bergerak menjauh dari Stasiun Kutoarjo.

***

Kereta ini sangat penuh dengan penumpang, beberapa penumpang terlihat berdiri di dalam gerbong kereta. Pedagang asongan juga hilir mudik dari satu gerbong, menuju gerbong lainnya. Beragam barang yang ditawarkan oleh para pedagang. Mulai dari makanan seperti pecel dan nasi ayam, minuman, buku, koran, dompet, sabuk, bahkan perkakas rumah pun ikut dijual di gerbong kereta ini. Saya tidak kaget, pemandangan seperti ini lumrah ada di atas gerbong kereta ekonomi. Itu baru pedagang, belum lagi pengamen, tukang bersih-bersih gerbong, pengemis, dan yang paling mengerikan adalah banci.

DSC02733Di antara rimbunnya penumpang kereta dan pedagang asongan, saya masih bisa mengenali beberapa orang pedangang asongan yang memang sering berjualan di atas kereta api ini. Saya tersenyum, semangat pedagang tersebut dalam mencari nafkah sangat besar. Sekalipun tubuhnya makin menua, wajahnya makin mengendor, tapi semangatnya tidak mengendor sama sekali. Tuhan Maha Baik. Rezeki para pedagang ini tetap dijaga-Nya.

Semakin ke barat, penumpang yang naik semakin banyak. Saya melihat cukup banyak penumpang naik dari Stasiun Gombong. Memang Gombong terkenal sebagai kampungnya perantau Bandung. Entah ada berapa banyak warga Gombong yang merantau ke Bandung. Ibu saya adalah salah satunya. Belasan tahun dihabiskan ibu saya untuk bekerja di Bandung, merantau jauh dari kampung halamannya. Ibu saya bekerja sebagai baby sitter ketika berada di Bandung. Mengasuh bayi-bayi dari orang-orang kaya yang tidak sempat meluangkan waktunya untuk anak. Beliau berhenti menjadi baby sitter ketika menikah dengan orang tampan bernama Bapak Supangat. Beliau adalah bapak saya. Setelah ibu berhenti jadi baby sitter, kemudian ibu bekerja di sebuah perusahaan konveksi untuk membantu perekonomian keluarga. Gaji tentara saat itu sangatlah tidak manusiawi. Ibu pernah bercerita bahwa gaji yang diterima oleh bapak habis terkena potongan tetek bengek dan hanya tersisa Rp 1.000,- saja, padahal gaji bapak saat itu Rp 10.000,-. Upah dari menjahit yang diperoleh ibu saat itu sebesar Rp 25.000,- dan tentu saja ini sangat membantu perekonomian keluarga, paling tidak dapur tetap mengebul.

Lepas dari Stasiun Gombong, sebuah terowongan panjang menanti. Terowongan ini adalah salah satu terowongan peninggalan Belanda. Terowongan Ijo. Terowongan ini dibangun pada tahun 1885 – 1886 oleh sebuah perusahaan kereta api Staats Spoorwegen. Pembuatan terowongan ini bertujuan untuk mendukung jalur kereta api Yogyakarta – Maos yang dibangun pada tahun 1887. 580 meter terowongan ini ditebus dengan nyawa pekerja-pekerja paksa khas zaman penjajahan Belanda. Tak pernah ada data pasti tentang jumlah korban meninggal dalam pembangunan terowongan ini, tak ada nama yang tercatat sebagai korban meninggal dari pembangunan terowongan ini. Mungkin karena mereka adalah rakyat jelata, rakyat yang tak punya hak untuk dikenang, mereka dengan mudahnya dilupakan dari sejarah. Bergidik saya membayangkan bagaimana terowongan ini dibangun dengan darah dan nyawa rakyat pribumi.

Kereta terus melaju ke barat melewati stasiun demi stasiun. Cerita pun terus bergulir dari atas gerbong kereta. Pedagang demi pedagang terus menawarkan barang dagangannya, sampai kami terhenti pada seorang penjual stiker. Murah dan dapat banyak. Motif yang ditawarkan pun beragam mulai dari sususan alphabet, gambar tentang boneka Barbie, dan motif tanda hati dengan berbagai warna. Pandangan saya langsung tertuju pada stiker bermotif hati. Harus beli! Untuk menandai wilayah yang akan kami datangi nanti. Tentunya kami tidak vandal. Saya berpesan kepada teman-teman agar melepas stiker tersebut setelah mengambil gambarnya. Kami akhirnya membeli satu buah stiker dengan motif hati tentunya.

Di perjalanan ini, tawa kami terus lepas. Apapun yang ada di hadapan kami, bisa kami jadikan bahan lelucon, bahkan ketika ada sebuah tabloid “panas” yang sempat mampir di bangku kami pun, kami jadikan bahan lelucon.

“Ini apaan sih?”, kata saya sambil membuka halaman depan tabloid.
“Ngga tau, coba aja diliat sendiri?”, Tambah juga mulai ambil bagian.
“Iya, apaan sih ini?”, Shirom ikut juga.

Mbak yang ada di sebelah saya ikut tertawa. Dia pasti geli melihat tingkah kami ini. Biar saja, ini bisa jadi pengusir bosan yang ampuh bagi kami, perjalanan masih panjang, belum ada separuh perjalanan. Lagi-lagi ada sebuah barang yang mampir ke bangku kami. Kali ini bukan sebuah bacaan tak mendidik seperti tabloid tadi. Kali ini buku pengetahuan umum dengan label “Rahasia Menjadi Pintar” yang singgah. Shirom kemudian mengambil buku tersebut dan mulai membacanya. Shirom berhenti membaca, kemudian memberikan sebuah pertanyaan kepada saya dan Tambah.

“Apa nama bandara di Yogyakarta?”, tanya Shirom.
“Adi Sucipto”, jawab Tambah
“Salah”, kata Shirom
“Lho, bukannya memang Adi Sucipto?”, kata Tambah
“Salah”, kata Shirom
“Yang benar adalah Adi Sucioto”, lanjutnya

Saya heran, sampai akhirnya saya paham. Ada kekeliruan penulisan nama oleh penulis buku. Yang seharusnya ditulis dengan Adi Sucipto, justru tertulis Adi Sucioto. Saya maklum, huruf O dan P terletak berdampingan di papan ketik. Mungkin jarinya terpeleset ketika menulis buku tersebut. Kali ini, buku kami kembalikan, kami tidak berminat untuk membeli buku tersebut.

Jangan ditiru

Jangan ditiru

Petaka mulai datang. Bukan kami yang membuatnya, kami tak suka membuat petaka. Petaka itu datang dari seorang pengamen.

“Permisi, numpang ngamen sambil nyanyi ewer-ewer”, kata si Pengamen.

Ewer-ewer adalah sebuah bentuk kode yang dilontarkan pengamen kepada penumpang untuk menunjukkan siapa yang mengamen. Banci. Mengerikan. Ini petaka. Mphex merasa ketakutan, pun dengan saya. Bagaimana tidak, banci adalah perpaduan dua insan dalam satu tubuh. Pria dan wanita. Bertubuh pria, berhati wanita. Artinya, banci itu punya kekuatan lebih. Persis seperti pepatah bijak, two is better than one. Dalam hati yang berdebar, saya siapkan uang receh Rp 500,- untuk diserahkan pada banci. Saya trauma, pernah suatu saat dalam perjalanan dari Bandung menuju Kutoarjo, saya dikerjai oleh 6 orang bancies, bentuk jamak dari banci, karena tidak memberikan uang receh. Itu pun dalam keadaan saya mengantuk karena perjalanan dilakukan di malam hari. Saya tak ingin kejadian itu terulang lagi. Cukup sekali aku merasa.

Begitu si Pengamen sampai ke bangku kami, langsung saja saya dan Mphex menyodorkan uang receh. Anggap saja seperti membayar premi asuransi keselamatan lahir dan batin. Selamat. Si Banci terus melaju. Nafas mulai saya atur kembali dan detak jantung pun kembali normal. Untung saja hanya satu orang banci yang mengamen di kereta saat itu.

Makin ke barat, makin lapar juga perut kami. Shirom kemudian mengeluarkan bungkusan ketan dan serundeng yang sudah dia bawa dari Jogja. Kami semua saling berbagi dan memakannya bersama. Akur sekali kami saat makan. Terlihat juga bahwa kami menikmati segenggam ketan tersebut. Sampai-sampai seorang ibu yang berada di kursi seberang kami berkata, “Ya begitu itu kalau jadi anak kost.” Kami hanya tertawa. Itu fakta yang tidak bisa dibantah. Kami memang anak kost. Tapi, bukankah berbagi itu salah satu bentuk bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan? Ketan masih berasa enak setelah terdengar ucapan pahit dari si Ibu.

Ternyata ketan tak sanggup memberikan rasa kenyang pada naga yang kami pelihara dalam perut. Kami menunggu pedagang nasi lewat di bangku kami. Lama kami menunggu, pedagang pun tak kunjung datang dan saat itu kami sudah berada di Tasikmalaya. Di stasiun ini kami diperlihatkan bagaimana kebahagiaan itu dapat diperoleh dengan hal yang sederhana. Kami melihat seorang bapak yang tertidur pulas di depan teras sebuah WC umum di Stasiun Tasikmalaya. Tidurnya sangat pulas, suara kereta yang melintas pun tak bisa mengganggunya. Rasa syukur langsung menyeruak dalam hati. Terima kasih Tuhan, Kau masih memberikan nikmat yang lebih dari bapak tersebut.

DSC02770Tak lama dari Stasiun Tasikmalaya, akhirnya naga-naga di perut kami mendapat jatah makanan juga. Kami membeli nasi rames dari seorang ibu. Dua kepal nasi, lauk, dan sayur dihargai Rp 5.000,- cukup murah untuk ukuran nasi ayam. Nasi ayam inilah yang menjadi makanan terakhir yang kami makan di atas kereta api ini. Di perjalanan menuju Bandung, tiba-tiba telepon seluler milik Shirom berdering. Sebuah pesan singkat masuk dari seorang teman kami yang berada di Semarang, Plapti. Pesan yang diterima Shirom bertuliskan sebuah kabar bahwa Plapti akan menyusul kami yang sudah berangkat terlebih dahulu menuju Bandung. Saya agak kaget karena dia sempat tidak ingin ikut berangkat bersama kami ke Bandung. Jika memang dia bisa untuk ikut berangkat, harusnya memberi tahu lebih awal sehingga kami tidak perlu berangkat secara terpisah seperti ini. Nasi sudah menjadi bubur, tinggal bagaimana mengolah bubur menjadi makanan yang lebih enak daripada nasi. Kami mengatur jadwal perjalanan kami karena kami harus menunggu Plapti tiba di Bandung esok hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s