Low Cost Traveling Day 1 : Kehidupan dari Atas Kereta Api (1)

Pagi tanggal 26 Juli 2012, setelah saya memutuskan untuk berangkat munuju barat, saya bangun, bergegas untuk mandi dan mempersiapkan segala keperluan selama perjalanan. Celana dalam, celana dalam, celana dalam, kemudian makanan. Ya, saya cukup banyak membawa celana dalam pada perjalanan itu. Ini penting, lebih mengerikan ketika kehabisan celana dalam daripada kehabisan makanan. Kamu tidak akan bisa membayangkan bagaimana gatalnya jika tidak ganti celana dalam atau bagaimana rasanya ketika tidak memakai celana dalam. Saya sendiri membawa celana dalam lebih banyak daripada makanan karena saya masih yakin bahwa Alloh tidak akan melanggar janji dengan membiarkan umat islam meninggal akibat kelaparan.

Saya cukup tergesa-gesa pagi itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.10 yang artinya saya sudah cukup terlambat untuk berangkat menuju Stasiun Lempuyangan. Kereta yang akan saya naiki adalah kereta Pramex yang akan tiba di Stasiun Lempuyangan pada jam 06.30, saya hanya punya waktu 20 menit untuk bisa sampai di Lempuyangan. Saya segera mengeluarkan kuda besi lansiran tahun 99 dan mengendarainya dengan cepat. Saya mencari jalan tikus tercepat dari Pogung Dalangan, tempat dimana kontrakan saya berada, menuju Lempuyangan. Syukur, jalanan Jogja pagi itu masih cukup lengang, jelas saja, ini adalah hari Minggu, masih banyak warga yang bersantai di rumah bersama keluarga.

Tak lama, sekitar 10 menit kemudian saya sampai di stasiun. Di stasiun sudah menanti tiga orang yang dua diantaranya saya kenal baik, Shirom dan Mphex. Sedangkan satu orang lagi adalah orang yang sama sekali belum saya kenal. Jangankan kenal, bahkan ini adalah kali pertama saya melihat batang hidungnya. Teman-teman yang lain ternyata sudah membeli tiket kereta dan saya yang agak telat ini tidak dibelikan tiket. Tidak ingin membuang-buang waktu, saya lantas bergerak menuju loket penjualan tiket kereta api Prambanan Express. Tak banyak yang mengantri, saya sendiri berada di posisi cukup depan saat itu. Begitu saya dapat giliran, saya kemudian mengeluarkan selembar uang Rp 10.000,- dan saya berikan kepada petugas penjaga loket.

“Pak, tiket Pramex ke Kutoarjo”
“Berapa Mas?”
“1, Pak”

Agaknya pertanyaan si Bapak ini retoris. Harga tiket Pramex menuju Kutoarjo adalah Rp 9.000,- sedangkan uang saya hanya Rp 10.000,-. Memangnya bisa membeli tiket lebih dari satu lembar dengan uang Rp 10.000,-?

Tiket sudah berada di tangan, saya dan teman-teman bergerak menuju peron. Satu per satu tiket kami diperiksa oleh petugas peron. Setelah pemeriksaan selesai, kami lantas menunggu di peron. Entah ini sebuah berkah atau sebuah kesialan, kereta yang akan kami tumpangi ternyata datang terlambat. Kami terpaksa menunggu lebih lama untuk bisa naik ke dalam kereta. Sebelumnya, saya berkenalan dengan teman perjalanan yang belum saya kenal pagi itu.

“Anjar”, kata saya
“Tambah”, katanya

Tambah, nama yang cukup unik. Semoga saja orang ini juga unik seperti namanya dan semoga saja perjalanan ini makin unik dengan adanya satu orang ini. Seperti namanya pula, semoga menambah keceriaan perjalanan ini.

Kami menunggu di peron stasiun sekitar 15 menit. Kereta sepertinya telat cukup lama. Mengobrol menjadi cara yang ampuh untuk membunuh waktu. Kami mengobrol banyak hal, mulai dari perbekalan yang dibawa, dimana nanti kita singgah, sampai apa saja yang akan kami kunjungi nanti. Cukup banyak sampai kami tak sadar kereta sudah memasuki area stasiun. Gerbong demi gerbong melintas di depan kami. Dari jendela gerbong, kami bisa melihat bahwa kereta pagi itu cukup padat. Kami naik di gerbong belakang. Bukan tanpa alasan. Selain gerbong ini cukup kosong, gerbong ini pula yang berhenti tepat di depan kami.

Begitu naik, saya sedikit terkejut dengan susunan bangku kereta Pramex ini. Tidak lumrah. Kereta Pramex adalah kereta komuter yang biasa melayani jalur Kutoarjo – Solo setiap harinya. Selumrahnya kereta api komuter, posisi bangku biasanya berada di sisi gerbong dengan posisi saling berhadapan. Hanya saja gerbong yang saya tumpangi pagi itu posisi tempat duduknya mirip seperti kereta ekonomi biasa. A B C D E dengan formasi 3 – 2, mungkin saat itu PT KAI sedang kehabisan stok gerbong komuter sehingga gerbong regular pun digunakan.

Kami duduk terpisah karena tempat duduk yang tersedia memang terpisah, kereta sedang penuh. Saya bersama Shirom, sedangkan Mphex bersama Tambah. Ini bukanlah perjalanan pertama saya dengan menggunakan kereta api. Entah sudah berapa kali saya menaiki kereta api. Dulu saya terbiasa menaiki kereta api untuk mengunjungi kakek dan nenek saya di Kebumen. Bukan dari Jogja, tapi dari Bandung. Ya, dulu saya tinggal di Bandung selama 7 tahun sebelum akhirnya pindah ke Pasuruan, mengikuti kepindahan orang tua. Proses kepindahan kami pun tak lepas dari kereta api. Semua penduduk komplek militer Batalyon Kavaleri 8 dipindah ke Pasuruan dengan menggunakan kereta api. Saya masih ingat betul, 12 gerbong dengan 2 lokomotif yang menganggkut saya sekeluarga beserta penduduk yang lain. Perjalanan terjauh yang pernah saya tempuh dengan kereta. Bandung – Pasuruan.

Di tengah perjalanan kami dengan kereta Pramex, kami melihat banyak hal menarik di atas gerbong. Penumpang Pramex ini beragam, mulai dari pekerja, pedagang, sampai mahasiswa macam kami ini turut serta meramaikan gerbong kereta. Ya, kereta ini memang jadi salah satu andalan bagi para komuter. Selain nyaman, juga cepat sampai tujuan. Saya melihat ke sekeliling gerbong. Mphex menghilang. Tidak, tidak hilang, ternyata sedang menghampiri troli jajanan resmi dari PT KAI. Ternyata dia membeli jajanan ringan, permen bulat rasa mint yang katanya adalah fresh maker.

“Ngga jadi low cost nih, permennya mahal”, kata Mphex.

Kami tertawa, perjalanan ini memang dirancang untuk sehemat mungkin tapi tetap nyaman. Namun, baru saja kata hemat itu lepas dari konsep perjalanan ini. Tak apa lah, anggap saja itu sebagai sedekah perjalanan. Mungkin bisa jadi salah satu alasan kita dilindungi Tuhan selama perjalanan ini.

“Itu rumah Budhe ku”, kata Shirom

Shirom bercerita tentang janjinya yaitu jika suatu saat melintas dengan menggunakan kereta api, dia akan menunjukkan letak rumah Budhenya itu. Tidak penting memang, tapi ini bisa penyambung tali silaturahmi suatu saat nanti. Kereta terus melaju menuju barat. Sampai sudah di Wates. Kami tidak turun di sini karena memang bukan stasiun ini yang kami tuju, masih jauh ke barat. Di stasiun ini, kereta berhenti agak lama karena memang sebagian penumpang kereta turun di stasiun ini. Gerbong makin sepi dan kami pun akhirnya bisa duduk bersama, tidak lagi terpisah. Tuhan berbaik hati untuk menyatukan kita kembali.

Selama perjalanan dari Jogja menuju Kutoarjo, kami banyak bercanda, banyak tertawa, sampai-sampai jadi pusat perhatian penumpang lainnya. Kami bertekad bahwa perjalanan ini tidak boleh diisi dengan hal yang sedih. Harus penuh tawa. Ini perjalanan menuju barat, mencari kedamaian, bukan menambah kesedihan. Sekalipun kami semua adalah mahasisa, sisa-sisa mahasiswa, kami harus tetap bahagia. Itu harga mati. Yang membuat kami terlihat mencolok adalah dandanan kami yang bisa dibilang agak sedikit berbeda dari penumpang lainnya. Bukan seperti badut. Kami masih berpakaian seperti manusia. Saya sendiri memakai jaket hoodie hitam, celana jeans coklat, sandal gunung, dan tas ransel. Mphex memakai topi coklat, jaket hitam, celana pendek, dan sandal jepit. Shirom dengan topi jerami, syal kotak-kotak hitam putih, jaket hitam, celana pendek, sandal jepit, dan yang paling mencolok adalah ransel militer warna hijau. Tambah yang terlihat paling mencolok, tas gunung merah hitam besar, sepatu boot abu-abu tinggi, celana medan. Tampilan kami semua memang tidak lumrah, itu yang menjadikan kita makin mencolok di mata penumpang yang lainnya.

1,5 jam di dalam kereta Pramex, kita pun sampai di Stasiun Kutoarjo, stasiun terakhir dari kereta Pramex. Di stasiun ini, kami kembali mengantri untuk membeli tiket lanjutan menuju Bandung. Kali ini, saya tidak mengantri, kami menyerahkan semua urusan tiket kepada Shirom. Untunglah dia berdiri di depan sehingga kami tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan tiket.

DSC02704Layaknya para turis, kami berfoto di depan di peron stasiun, tepat di bawah papan yang bertuliskan KUTOARJO. Shirom dengan lincah menggerakkan kamera sakunya. Maaf, itu bukan kamera milik Shirom. Itu hasil pinjam ke temannya yang ada di Jogja. Di saat kami berfoto, tiba-tiba seorang petugas stasiun datang menghampiri kami kemudian berdiri si samping Shirom. Saya kira Shirom akan ditangkap karena tanpa izin mengambil gambar di stasiun. Ternyata, si Bapak mengeluarkan handy talky miliknya, mengarahkannya pada saya, Tambah, dan Mphex yang sedang difoto. Walah, ternyata si Bapak mencoba melawak dengan berpura-pura mencoba mengambil gambar kami dengan HT. Kami tertawa, ternyata lelucon lawas macam itu masih ada di masyarakat.

Perut kami semua meronta, meminta jatah sarapan yang belum dipenuhi sejak tadi pagi. Kami melihat ada seorang simbok yang menggendong baskom berisi gorengan dan arem-arem. Kami lantas patungan untuk membeli beberapa potong gorengan dan arem-arem. Cukup banyak memang kami membeli saat itu, sampai-sampai simbok memberikan tambahan jajanan pada kami. Lagi-lagi rezeki datang kepada kami, mungkin ini efek samping dari permen mahal yang dibeli Mphex.

Menurut sunnah Nabi SAW, makan itu sepatutnya duduk. Saya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru stasiun. Tak ada bangku kosong. Namun, Shirom melihat ada spot menarik untuk bisa duduk, lesehan. Tempat tersebut adalah sebuah tempat persis di depan ruangan yang bertuliskan “Ruang Tunggu VIP ROOM”. Saya menggumam, baiklah, kami ini memang tamu spesial yang wajib untuk diperlakukan istimewa. Kami ini tamu VIP, jadi kami dapat tempat yang VIP pula, meskipun hanya terasnya. Kami kemudian memakan jajanan yang sudah dibeli dari simbok tadi. Gorengan dan arem-arem ini sudah cukup untuk membuat perut kami kenyang.

Dari kiri ke kanan: Tambah, Shirom, Anjar, Mphex

Dari kiri ke kanan: Tambah, Shirom, Anjar, Mphex

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s