Low Cost Traveling : The Reason

12 bulan terperangkap dalam bengkel penuh alumunium, besi, perkakas, oli, dan pria adalah masa-masa terberatku saat itu. Lomba inovasi di bidang otomotif yang saya ikuti memaksa saya untuk menghadapi hal tersebut. Tidak tanggung-tanggung, waktu yang saya habiskan di bengkel jauh lebih lama daripada waktu yang gunakan untuk istirahat. 10 pagi sampai 4 pagi. Morning to morning. Bukan bermain, saya dan teman-teman yang lain bekerja menyelesaikan kendaraan yang akan kami gunakan untuk lomba.

Tekanan berat berada di pundak saya dan teman-teman satu bengkel. Kuliah lebih sering saya tinggalkan, alhasil nilai IP semester pun terjun bebas. Pacar, jangan bicarakan, tak ada waktu untuk ini. Saya ingat, saya berkurban dua orang anak gadis selama mengerjakan mobil ini. Sungguh masa-masa yang berat. Mental saya diuji habis-habisan di kegiatan ini.

Jam demi jam saya lalui di dalam bengkel ini. Kubangan di depan bengkel pun ikut menemani. Mulai dari kering, kemudian menjadi kolam, dan terakhir kembali mengering. Selama itu pula saya bersama teman-teman bekerja di bengkel. Memang banyak tawa yang hadir di dalam bengkel, tetapi tak sedikit juga duka yang menguras kesabaran di dalam bengkel ini. Menyesal, sudah telat. Yang bisa dilakukan adalah terus maju, menyelesaikan tugas ini dengan hasil maksimal, bukan optimal. Itu yang dikatakan oleh professor saya.

Waktu yang ditunggu pun akhirnya tiba. Saya dan teman-teman akhirnya terbang ke Malaysia untuk berlomba. Selama 5 hari kami berjuang di sirkuit, bukan untuk adu cepat, tapi adu irit kendaraan. 92 tim dari 13 negara di Asia berpartisipasi dalam lomba ini. Ketatnya bukan main. Kami sadar, kami tak mungkin menang sebagai kendaraan teririt yang ada. Namun, kami tidak menyerah. Lomba ini bukan ajang mencari hadiah, tapi ajang inovasi. Bersyukur kami pulang dengan membawa sebuah piala dari kategori best technical innovation. Tak buruk, usaha selama satu tahun terbayar sudah.

IMG_0465Sepulang dari acara tersebut, saya kembali ke kehidupan saya yang dulu. Santai, tak banyak kegiatan. Tenang, mungkin tidak. Hari-hari di rumah justru saya lalui dengan pikiran yang tegang. Lagi-lagi ini masalah wanita. Wanita yang sudah saya kenal cukup lama. Seorang anak gadis yang sangat jelas mencintai saya, tetapi saat itu saya belum berani untuk mengambil sikap atas perasaan sang Gadis. Galau, jelas. Tak tenang. Saat itu saya hanya bisa berlari dalam arti sebenarnya. Dalam pelarian saya, saya berharap ada secercah ketenangan yang bisa didapat. Gayung pun bersambut. Ini bukan estafet gayung. Tapi ini sebuah ungkapan. Romdhona Prianto, lebih saya kenal dengan Shirom memberikan sebuah tawaran menarik. Dia menawarkan untuk mengadakan perjalanan ke barat untuk mencari kesucian. Tawaran tersebut tidak langsung saya terima. Saya masih bimbang. Apakah nantinya akan benar-benar tercipta sebuah ketenangan setelah kembali dari barat? Apakah ada jaminan saya tidak menjadi Sun Go Kong? Itu masih lebih baik, tapi bagaimana jika saya justru menjadi Pat Kai? Saya galau. Kali ini saya tak berlari, tapi saya terus mengayuh langkah. Masih dalam arti sebenarnya.

Saat itu masih pagi. Saya mengayuhkan langkah saya di atas sebuah sepeda gunung yang jelas bukan milik saya. Tenang, saya tidak maling, saya hanya meminjam sebentar dari teman satu kontrakan. Yang ada di dalam benak saya adalah menuju tempat yang tinggi. Makin tinggi kita berdiri, makin dekat dengan Tuhan. Semoga. Saya kemudian mengayuh sepeda menuju Jalan Kaliurang dari kilometer 5. Saya terus menelusuri jalan ini. Kilometer demi kilometer saya lalui. Peluh terus mengucur deras dari tubuh saya. Sampai di kilometer 12, selangkangan saya mulai kesemutan. Terpaksa saya berhenti sejenak. Bahaya jika bagian ini kesemutan dalam waktu yang cukup lama. Saya belum siap untuk sengsara di masa depan. Dirasa sudah cukup membaik, saya melanjutkan sampai ke kilometer 17.

Saya terhenti di kilometer 17, sudah tidak sanggup untuk melanjutkan sampai ke kilometer tertinggi, 29. Saya akhirnya kembali ke kontrakan. Jauh lebih cepat turun daripada naik. Saya paham, orang butuh usaha untuk sampai ke puncak kesuksesan, tapi hanya butuh sedikit usaha untuk bisa sampai ke bawah. Sama seperti mengayuh sepeda.

Photo0617Tak banyak yang saya lakukan setelah kembali dari bersepeda sejauh 30 km. Pikiran masih tak tenang. Ketika saya masih dirundung ketidaktenangan pikiran, sebuah pesan singkat dari Shirom masuk. “Sido melu ora? Nek sido, sesuk kumpul nang Lempuyangan jam 6 isuk.” [1], tanyanya. “Koyone ora Rom, aku isih duwe tanggungan” [2], jawab saya. Entah tanggungan apa, saya pun tak paham. Beberapa jam kemudian saya mengubah keputusan, “Aku melu Rom.” [3]. Keputusan yang mendadak dan saya ketahui itu sudah larut malam.

Pikiran saya sangat kacau saat itu, seperti apa yang dirasakan oleh anak yang balon hijaunya meletus. Saya ikut berpergian karena ini kesempatan yang sangat langka. Kapan lagi saya bisa ikut traveling ini. Saat itu saya tidak berpikir bahwa saya sedang memegang tanggung jawab proyek. 12 M.

Keterangan:

[1] Jadi ikut apa tidak? Kalau jadi, besok kumpul di Lempuyangan jam 6 pagi.
[2] Sepertinya tidak Rom, aku masih ada tanggungan.
[3] Aku ikut Rom.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s