Cholik, The Guru

Cholik, bocah ini hanyalah seorang anak SD kelas 2. Sama seperti anak-anak pada umumnya, bocah ini riang, ceria, dan senang bermain. Saya sudah mengenalnya selama dua tahun sejak dia masih TK. Bocah ini sangatlah lucu. Sering kali saya dibuat tertawa dengan perkataannya yang terkadang tidak bisa saya cerna. Pernah suatu saat dia memanggil saya dan berkata, “Mas, pacare mas Fadil ki jenenge mbak Ng.” [1] Haaah? Siapa? Mbak Ng? Saya bingung, siapakah mbak Ng ini? Tokoh khayalan kah? Setahu saya ,di Mafia Kubis tidak ada orang yang bernama Ng, Mafia Kubis belum memublikasikan diri sampai ke Vietnam di mana nama Ng cukup banyak di sana. Entah apa yang ingin dia sampaikan, tapi buat saya itulah salah satu sisi menarik dari seorang anak, polos.

Polahnya pun lucu. Pernah suatu saat setelah kegiatan selesai, kami para volunteer yang sedang berjalan menuju rumah Pak Manten, dikagetkan oleh Cholik dan Ozi. Kedua bocah ini secara tiba-tiba muncul dari balik tembok rumah Pak Nahrowi. Ditha dan Hanshi yang ada di depan kontan saja kaget sampai meloncat. Begitu kakak-kakak volunteer ini terkejut, kedua bocah itu langsung lenyap menghilang ke dalam kebun di belakang kelas kubis. Sepertinya mereka juga bakat menjadi ninja. Namun, di balik tingkahnya yang lucu, saya mendapati bahwa Cholik punya suatu hal yang patut untuk dicontoh. Saya pun sering belajar dari bocah ini.

ini yang namanya Cholik

ini yang namanya Cholik

Mungkin Cholik tak sadar ketika memberikan pelajaran, tapi saya merekamnya dengan baik. Perkataan polosnya sering menjadi bahan untuk mengoreksi diri sendiri. Entah itu perkataan tentang mimpi atau tentang prinsip.

Waktu itu kegiatan Mafia Kubis sudah usai, tetapi kebiasaan adik-adik yang ada di Kampung Kubis setelah kegiatan pasti mereka akan berkumpul di depan rumah Pak Manten, pun Cholik. Ketika itu didapati beberapa kakak sedang merokok. Saat itu salah seorang kakak volunteer mendekati Cholik. “Aku ora meh ngerokok Mas” [2], kata Cholik. “Ah, tenane? Nek wis gedhe ya ora meh ngerokok” [3], jawab kakak volunteer. “Iya Mas. Aku ora bakal ngerokok mbok aku wis gedhe sesuk” [4], timbal Cholik.

Dari hal kecil ini saya melihat sebuah prinsip. Cholik memegang sebuah prinsip hidup yang kuat, prinsip bahwa sampai kapan pun dia tidak akan merokok sampai nanti dia tumbuh dewasa, meskipun kakak volunteer tadi sempat sedikit menggodanya.

Pernah juga suatu saat Cholik melintas di depan saya, Shirom, dan Chendy. Saat itu saya berjalan di sebelah Chendy, sedangkan Shirom ada di depan kami berdua. “Cieeeeee… Pacaraaaaan”. Cholik yang melintas di depan saya langsung melontarkan kata-kata tersebut. Kami yang mendengarnya pun kontan tertawa lepas. Saya dan Chendy memang sangat akrab, tapi kami hanya berteman. “Kowe meh pacaran ra Lik?” [5], kata Shirom. Jawaban selanjutnya yang membuat saya sedikit terkejut sekaligus ingin tertawa. “Sakjane aku wis kepingin pacaran Mas, tapi mengko nek wis gedhe” [6], jawab Cholik. Kami semua tertawa. Ini bocah bisa mengeluarkan kalimat tersebut, belajar dari mana? Itu yang ada dipikiran saya.

Ucapan sederhana Cholik seakan mengajarkan bahwa kita butuh bersabar untuk mencapai suatu hal. Dalam perbincangan kami, itu tentang pacar atau jodoh. Memang banyak hal di dunia ini yang tidak bisa didapatkan secara instant, cepat, segera. Banyak hal di dunia ini yang memerlukan kesabaran ekstra untuk meraihnya, termasuk jodoh yang tadi kami bicarakan. Saya geleng-geleng kepala, bocah ini punya harta karun di dalam dirinya.

Belum selesai di situ. Mafia Kubis pernah mengadakan sesi tentang menggambar mimpi. Semua anak diperintah untuk menggambar impian mereka, bisa itu tentang sebuah cita-cita atau hanya sebuah keinginan sederhana. Semua anak mulai menggambar, lagi-lagi bocah ini yang saya perhatikan. Gambarnya tampak tidak karuan dan stereotype, dua buah gunung, jalan, pohon, dan sawah. Khas sekali gambar anak-anak. Tapi, ini kan kelas menggambar, jadi tiap anak bebas menggambar. Toh belum tentu juga isinya membosankan. Sampai tiba waktunya dia berbicara.

ini gambar mimpi yang dibuat Cholik. Jadi Petani.

ini gambar mimpi yang dibuat Cholik. Jadi Petani.

“Saya ingin menjadi petani. Saya ingin menanam padi.”, itu yang dikatakan Cholik.

Lagi-lagi saya belajar dari bocah kecil ini bahwa bermimpi itu tidak perlu tentang sesuatu hal yang besar, kadang tidak masuk akal. Bocah ini hanya ingin menjadi petani. Ya, petani. Sebuah cita-cita yang sudah tidak populer di kalangan anak-anak. Di kala kebanyakan anak ingin menjadi dokter, pemain sepakbola, bahkan seorang koki, Cholik justru ingin menjadi petani. Cita-cita menjadi petani memang tidak mainstream, tapi fakta berbicara bahwa tanpa petani, kita tidak mungkin bisa menikmati nasi dan sayur mayur yang ada di meja makan. Petani itu secara tidak langsung penyambung hidup banyak orang. Pekerjaan yang sangat mulia.

Memang benar apa yang dikatakan oleh Munif Chatib, seorang pakar pendidikan anak bahwa setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru. Ya, kita bisa belajar di mana saja, tak terbatas pada ruang kelas beratap, berdinding, dan berisi meja, kursi, papan tulis. Dan kita bisa belajar dari siapa pun, bahkan dari orang yang umurnya jauh berada di bawah kita. Saya sendiri mengalaminya. Belajar dari tempat yang tidak biasa dan belajar dari orang yang lebih muda, bahkan seorang anak kecil. Hormat saya untukmu guru Cholik.

Keterangan:
1. Mas, pacarnya Mas Fadil itu namanya Mbak Ng.
2. Aku ga bakalan ngerokok Mas.
3. Ah, yang bener. Kalo udah besar juga ga bakalan ngerokok?
4. Iya Mas, aku ga bakalan ngerokok meskipun aku udah besar besok.
5. Kamu mau pacaran ga lik?
6. Sebenernya udah kepengin Mas, tapi nanti kalo udah besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s