Namanya Chita

Namaku Chita, biasa dipanggil Sita :)

Namaku Chita, biasa dipanggil SitašŸ™‚

Mbak Rosaaaaaa…..”, teriak seorang bocah kecil pada sahabat saya Rosa mengalihkan pandangan saya sejenak. Gadis kecil berperawakan kurus dan berambut pendek yang saya lihat. Dia berlari ke arah Rosa dan kemudian memeluknya. Saya tidak tahu siapa bocah kecil ini, baru sekali saya melihatnya.Tapi, pemandangan malam itu membuat saya sedikit terharu, melihat seorang bocah memeluk teman saya seperti memeluk ibunya.

Tak lama kemudian Rosa datang menghampiri saya. Saya yang seorang pendatang baru di kegiatan belajar di Pingit ini hanya duduk sambil plonga-plongo melihat kegiatan malam itu. Kegiatan ini memang sudah rutin dilakukan sejak bertahun-tahun yang lalu setiap Senin dan Kamis malam. Kegiatan belajar di Kampung Pingit untuk mengakomodasi anak-anak kampung sekitar yang ingin belajar, sekedar belajar membaca, menulis, atau belajar lebih tentang pelajaran yang didapat di sekolah. Tapi, pada intinya kegiatan ini ada untuk dapat belajar tentang living value. Rosa kemudian mengenalkan bocah itu pada saya. “Nduk, ini lho kenalin temennya Mbak Rosa”, katanya sambil mencoba mengenalkan bocah itu pada saya. Bocah tersebut masih tampak malu pada saya, maklum saya memang benar-benar orang asing pada malam itu. “Namanya Sita, tapi ejaan namanya C-H-I-T-A”, kata Rosa. “Biasanya dipanggil Sitol sama anak-anak (pengajar) di sini”, lanjutnya.

“Saya Anjar”, sapa saya pada Sita, tapi Sita sama sekali tidak bergeming dari rasa malunya untuk berbicara dengan saya. Lagi-lagi saya harus dibuat maklum oleh bocah ini. Tidak banyak yang saya dapat malam itu ketika pertama kali mengenal Sita, hanya satu momen mengharukan yang saya tangkap dari kejadian pertama tadi. Ternyata Sita kangen pada Rosa yang sudah lumayan lama tidak mengunjunginya. Rosa kemudian mengajak saya mengobrol tentang Sita. Dia bercerita banyak tentang Sita seolah-olah dia adalah orang tuanya. “Dia itu namanya ngga pernah beres kalo ada yang nulis, di sekolah juga sama saja, namanya selalu berubah setiap kali guru menulisnya.”, kata Rosa. Ceritanya panjang lebar sampai saya tahu bahwa Rosa sudah menganggap Sita sebagai anaknya.Ya, dia pernah bercerita jika dia memiliki seorang anak gadis. Sebelum saya tahu faktanya, saya sempat kaget karena saya tahu jika Rosa itu masih lajang dan belum menikah. Rosa sempat berkata, “Setiap kali melihat Sita, saya seperti melihat diri saya ketika masih kecil.”

“Ibunya meninggal ketika melahirkan adiknya”, Rosa melanjutkan. Fakta yang cukup mencengangkan untuk saya. Seorang gadis kecil yang masih lugu harus sudah kehilangan sosok ibu yang harusnya membimbing dia. Dari cerita Rosa saya dapatkan banyak sekali informasi tentang Sita. Dia tiga bersaudara, Astuti, kakaknya seorang gadis kecil yang duduk di bangku sekolah dasar ,Sita sendiri merupakan anak kedua, dan seorang adik laki-laki yang bernama Ersa. Ayahnya hanya seorang pemulung, dia tinggal bersama neneknya di sebuah kamar kontrakan yang mungkin tidak lebih dari 9 m2 bersama saudara-saudaranya. Sita saat ini sudah berumur 7 tahun dan baru mengenyam pendidikan TK di TK Kyai Mojo Yogyakarta. Usia yang sangat telat untuk seumuran anak TK, tapi lagi-lagi saya mengetahui bahwa dulunya Sita tidak bersekolah sampai suatu saat Rosa membantu membiayai sekolahnya.

“Kamu ngga apa-apa kan jadi yang paling tua di TK?”,tanya Rosa pada Sita.
“Ngga apa-apa Mbak, kan yang penting saya bisa sekolah”, jawabnya pada Rosa.

Kalimat itu yang diceritakan Rosa pada saya, sebuah jawaban yang membuat saya sempat merinding mendengarnya. Dulu ketika saya masih kecil, saya sering sekali tidak ingin berangkat sekolah karena memang sangat membosankan menurut saya, tapi bocah ini justru sangat bersyukur bisa bersekolah sekalipun umurnya di atas rata-rata bocah TK. “Selama pengurusan administrasi, kamu tahu ngga siapa yang mengurusinya?”, tanya Rosa pada saya. Jelas saja saya menjawab tidak tahu. “Mulai dari mengurus seragam, administrasi TK, dan segala macamnya, Kakaknya yang mengurusinya. Bisa bayangin ngga, seorang anak umur 11 tahun harus menggantikan fungsi orang tua seperti itu?”, lagi-lagi Rosa melanjutkan. Oh my… saya hanya terdiam mendengar semua itu, keluarga ini keluarga yang sangat kuat, saya sendiri tidak pernah merasakan semua itu. Saya hidup di keluarga yang normal yang nyaris selama 25 tahun saya hidup, tidak didapati kesulitan seperti mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 artinya kegiatan belajar di tempat itu harus sudah selesai. Saya pulang tapi sebelumnya kami mampir ke warung susu di Jalan Wates bersama pengajar yang lain.

Selasa, 8 November 2011
Hari ini tepat 2 hari setelah hari raya Idul Adha, saya kembali dari Magelang, kampung halaman saya. Berbekal bungkusan berisi nasi dan daging, saya berangkat ke Jogja. Siang itu, ada sebuah sms masuk ke inbox hape saya. Sebuah pesan dari Rosa yang isinya mengajak saya untuk ikut ke rumah Sita malam nanti. Saya mengiyakan ajakannya siang itu. Saya teringat dengan bungkusan daging yang saya bawa dan seketika itu juga saya berniat untuk memberikannya pada Sita dan keluarganya. “Anakmu jarang makan daging kan? Aku ada sedikit bungkusan daging buat Sita, nanti kita beli tambahan lauk dan nasi buat mereka”, ucap saya pada Rosa.

Malam pun akhirnya tiba, kita janjian untuk bertemu di depan Gramedia Soedirman Jogja. Saya menunggu agak jauh dari TKP dan sesosok wanita berjaket hitam, menunggangi vespa akhirnya menghampiri saya. Tanpa banyak kata, kita langsung berangkat ke rumah Sita di Pingit. Di perjalanan kami mampir sebentar ke warung makan untuk membeli lauk tambahan untuk Sita, ayam goreng, kemudian kami melanjutkan perjalanan. Sampai di rumah Sita, saya terdiam melihat kondisinya. Kamar kecil yang sumpek penuh dengan barang-barang pribadi seperti baju, lemari dan peralatan masak yang jadi satu. Kamar ini benar-benar tidak layak untuk ditempati oleh 5 orang manusia. 1 orang saja pasti sudah sangat sumpek untuk tinggal di sini. Belum habis saya dibuat terdiam, Astuti, kakak Sita menghampiri saya dan itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan Astuti.

Ini rumah Sita

Ini rumah Sita

Dapurku jadi satu dengan rumahku

Dapurku jadi satu dengan rumahku

Ini peralatan yang tidak cukup dimasukkan ke rumah

Ini peralatan yang tidak cukup dimasukkan ke rumah

Mbahku cantik kan?

Mbahku cantik kan?

Malam itu sebelum kami makan, saya, Rosa, Astuti, Sita, dan satu orang temannya yang bernama Febi sempat mengerjakan pekerjaan rumah Sita dan Astuti. Astuti ada pekerjaan tangan untuk membuat gulungan kertas dan Sita harus menggambar dan mewarnai. Terus terang saya sangat menikmati belajar bersama mereka. Saya kemudian membuka bungkusan makanan yang saya bawa, nasi, semur daging sapi, dan ayam goreng tersaji di lembaran kertas minyak. Sengaja memang tidak menggunakan piring supaya tidak merepotkan simbah untuk mencuci piring yang kami pakai. Kami berdoa dan melahap makanan itu. “Enak banget mas dagingnya”, kata Astuti. “Itu dari ibuku, dimakan aja yang banyak”, jawab saya. Lagi-lagi saya tidak bisa berkata apa-apa. Buat saya ini daging biasa yang masih sering saya makan di rumah, tapi rasa syukur bocah ini membuat saya ikut menjadi lahap memakannya. Ah, kalian ini membuat saya ingin menangis. Sita juga makan dengan lahap dan kalimat yang sama pun terucapdari mulut Sita, “Enak mas”.

aku sedang belajar

aku sedang belajar

Saya menyudahi makan malam ini lebih cepat dari lainnya, membiarkan mereka menghabiskan jatah lebih banyak dari saya. Saya kembali ke teras kamar dan menenggak segelas teh yang saya beli di warung depan dan mengambil sedikit cemilan yang simbah sandingkan tadi. Mereka memang bukan keluarga yang bisa dibilang mampu, tapi mereka selalu berusaha untuk menjamu tamunya dengan baik, meskipun hanya sebuah cemilan ringan saja, buat saya itu lebih dari cukup. Terima kasih sudah memperkenalkan saya pada orang-orang ini, pada Sita terutama. Bocah ini mengajarkan saya bagaimana arti bersyukur, bagaimana arti sebuah perjuangan hidup. Memperlihatkan bagaimana keluarga kecil ini begitu hangat menyambut saya. (Foto : Rosa Dahlia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s