Pengalaman Getirnya Mendaki Gunung

Saya cukup terpantik oleh tulisan teman saya tentang bagaimana sebenarnya kondisi gunung itu. Ada bagian dimana dia menuliskan bahwa gunung itu tidak selalu tentang eksotisme alamnya, tapi juga tentang bagaimana getirnya pengalaman di gunung. Kedua hal itu memang benar adanya. Gunung itu indah, tapi gunung juga ganas. Keganasan gunung juga pernah saya rasakan ketika mendaki Gunung Gede Pangrango.

Gunung Gede Pangrango adalah salah satu bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang berada di wilayah 3 kabupaten, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Cianjur. Daerah seluas 22.851,03 hektar ini pertama kali diresmikan pada tahun 1980. Tempat ini menjadi tempat konservasi bagi kurang lebih 100 jenis mamalia dan 250 jenis burung. [1]

Saya pertama kali menginjakkan kaki di TNGGP adalah pada tahun 2006 dimana saat itu saya tergabung dalam DiverVenturE, sebuah organisasi pecinta alam di kampus saya dulu, President University. Kala itu kami baru saja resmi diterima sebagai anggota baru dari mapala ini, terhitung, saya dan teman-teman adalah angkatan ke IV. Pendakian ke gunung ini adalah untuk pengujian anggota yang baru mendaftar, meskipun sebenarnya mereka adalah teman-teman saya seangkatan.

Entah saat itu tanggal berapa. Saya lupa dengan tanggal dan bulan dimana saya mendaki. Yang pasti, kami saat itu berangkat dengan 40 orang pendaki, kebanyakan dari mereka adalah pendaki pemula, benar-benar pemula artinya gunung inilah yang menjadi gunung pertama yang mereka daki. Saya sendiri sudah cukup khawatir dengan jumlah personil yang terlampau banyak karena saya sendiri jarang naik gunung dengan jumlah personil lebih dari 10 orang.

Perjalanan kami mulai dari homebase kami di Cikarang. Berangkat dengan kendaraan sewa berupa bus milik TNI AL. perjalanan dimulai ketika hari mulai gelap. 3 jam kami habiskan di dalam kendaraan untuk sampai ke Cibodas. Titik dimana kami akan memulai pendakian. Cibodas ini sebenarnya bukan pilihan untuk naik. Kebanyakan pendaki memilih jalur Gunung Putri untuk naik dan jalur Cibodas untuk turun. Tapi, tak masalah buat saya, toh sama saja, akan sampai di Pos Kandang Badak juga.

Kekhawartiran pertama saya rasakan ketika panitia acara ini (angkatan baru) mendaftarkan kami untuk naik. Saat itu sudah malam dan otomatis, ranger yang resmi sudah tidak membuka pendaftaran untuk pendakian. Datanglah bantuan untuk mendaftarkan kami dari ranger lain. Entah kenapa, saya merasa ada yang tidak beres disini. Benar saja, ini pendaftaran di bawah tangan.

Butuh waktu cukup lama untuk bisa mendaftarkan semua pendaki. Barang kami diperiksa satu per satu, benda-benda tajam diperiksa dengan seksama, pun dengan bahan-bahan kimia. Benda-benda tersebut merupakan benda-benda yang dilarang untuk dibawa naik. Kalaupun bisa, semuanya harus didata dengan benar. Waktu makin larut. Saya melihat jam yang berada di ruangan basecamp ranger, sekitar pukul 1 dini hari. Saat itu saya cukup kelaparan, mengingat saya belum makan sejak sore hari dan panitia pun tidak menyediakan makanan ringan untuk peserta. Sungguh persiapan yang sangat buruk bagi saya.

Pendakian akhirnya dimulai. Kami memulai dengan berdoa untuk keselamatan kami semua. Berharap tidak akan ada kejadian buruk yang menimpa kami. Langkah pertama pun akhirnya kami ambil. Saya berada di posisi sweeper malam itu, mengambil posisi di belakang sendiri. Langkah demi langkah kami ayunkan untuk mendaki. Namun, tak lama dari tempat kami memulai perjalanan, petaka pun dimulai.

Jojo, salah satu dari angkatan 5 yang ikut mendaki mengalami gangguan pernapasan. Dia mengalami sesak yang amat sangat. Saking parahnya, dia menggunakan tabung oksigen untuk bernapas. Saya sendiri tidak tahu persis sejak kapan dia mengalami sesak, ketika saya tiba, dia sudah menggunakan tabung oksigen tersebut. Jalannya makin pelan dan saya melihat dia sangat kewalahan untuk bernapas. Sempat kami menawarkan pada dia untuk kembali ke basecamp, tapi dia menolak dan tetap melanjutkan perjalanan dengan bantuan teman-teman yang lain.

Perjalanan makin berjalan lambat, satu per satu pendaki wanita dalam kelompok mulai kepayahan, padahal track yang kami lewati masih bisa dibilang bersahabat karena track tersebut adalah track menuju air terjun. Saya tidak bisa memaksakan mereka untuk bergerak lebih cepat, yang ada mereka akan jauh lebih kepayahan jika dipaksakan bergerak lebih cepat. Entah berapa banyak kami berhenti malam itu. Sampai akhirnya tiba waktu untuk sholat subuh, saya dan beberapa teman mengambil waktu istirahat untuk sholat. Saat itu bahkan belum ada sepertiga perjalanan menuju Kandang Badak dan track pun baru akan menanjak.

Dengan kondisi seperti ini, saya beserta teman-teman senior yang lain memutuskan untuk mengubah posisi. Saya yang sebelumnya berada di posisi sweeper, dipindah ke depan untuk menjadi leader bersama teman dan senior. Kami membawa 3 buah tenda dari 5 tenda yang ada, tujuannya agar nanti begitu kami sampai di Pos Kandang Badak, kami bisa segera mendirikan tenda sehingga pendaki yang lain bisa segera istirahat. Langkah kami saat itu bisa dibilang cepat. Satu jam setelah perjalanan, kami beristirahat sejenak. Ada beberapa pendaki wanita yang makin kepayahan. Saya sendiri mengalami kelaparan yang amat. Saya makan apa yang ada, roti dan sedikit minum untuk menambah tenaga. Kami beristirahat sampai kelompok di belakang kami sampai.

Begitu kelompok lain sampai, saya beserta senior segera berangkat. 6 orang dalam satu kelompok, hanya ada satu pendaki wanita yang berada satu kelompok dengan saya saat itu, sedangkan yang lain kami biarkan istirahat dan bergabung dengan kelompok berikutnya. Perjalanan makin berat, medan makin menanjak. Bahkan kami sempat harus sedikit memanjat karena ada sebuah pohon tumbang yang menghalangi jalan. Perjalanan ini terus menanjak sampai ke Pos Cipanas. Di pos ini terdapat sebuah air terjun dimana air yang mengalir adalah air panas dan air terjun ini harus kami lewati untuk sampai ke Pos Kandang Badak. Kami menapak perlahan untuk menyebrangi aliran air terjun ini. Uap panas yang dihasilkan dari air terjun ini cukup mengganggu pandangan saya karena saya menggunakan kacamata, yang artinya uap tersebut akan menyangkut pada lensa kacamata saya. Tapi, akhirnya kami bisa sampai ke Pos Cipanas dengan lancar.

Di pos ini kami rehat sejenak, mengisi perbekalan air dan menyegar diri. Kami menyikat gigi meskipun tanpa pasta gigi karena pasta gigi termasuk barang haram di TNGPP. Sempat kami ditelanjangi oleh pandangan pendaki lain karena menyikat gigi. Santai saja, kami menjawabnya dengan tenang, “Cuma sikat gigi kok Mas, ngga pake pasta gigi.”

Perjalanan dari Pos Cipanas ini makin berat. Tak ada lagi yang namanya track datar, semua serba menanjak. Bahkan diperlukan langkah ekstra lebar untuk menapak. Petaka kedua hadir. Haryati, seorang teman pendaki, mulai ngos-ngosan. Keringat yang mengucur dari tubuhnya terlihat tidak wajar. Terlalu banyak menurut saya. Senior saat itu memutuskan untuk membagi menjadi dua kelompok kecil lagi. 4 orang berangkat lebih dulu dengan membawa tenda, sedangkan saya ditugasi untuk menjadi pendamping perjalanan Haryati saat itu.

Sangat lamban, benar-benar sangat lamban. Saya bahkan sampai harus menukar carrier saya dengan miliknya. Saya tidak membawa barang terlalu banyak saat itu, hanya 40 liter dan semua sudah mencukupi, sedangkan Haryati membawa beban yang lebih banyak, lebih berat pastinya. Ternyata tidak banyak membantu, langkahnya masih pelan. Tak sampai 5 meter kita berjalan, dia sudah minta untuk istirahat. Saya sendiri mau tidak mau harus mengikuti tempo jalannya. Tak apa, ini demi keselamatan dia. Sekalipun kami berjalan lamban, kami akhirnya bisa sampai di Pos Kandang Badak. Pos terakhir sebelum menuju puncak gunung ini. Kelompok lain pun akhirnya sampai satu per satu di pos ini, tak terkecuali Jojo yang sejak awal sudah kepayahan.

Kami semua beristirahat cukup lama di tempat ini. Saya sendiri sempat tidur siang di tenda bersama teman-teman pendaki yang lain. Teman lain ada yang membuat makanan, beberapa yang lain bercengkrama satu sama lain. Cukup tenang keadaan di tempat ini. Tapi itu tidak berlangsung lama. Hujan kemudian mengguyur tempat ini, cukup deras, dan cukup lama. Kami semua tertahan di tempat ini selama berjam-jam.

Hujan pun akhirnya reda. Perjalanan pun dilanjutkan, tapi tidak semua ikut mendaki sampai ke puncak. Ada beberapa pendaki wanita yang sudah tidak sanggup lagi untuk mendaki dan terpaksa untuk tinggal di Pos Kandang Badak. Saya sendiri bersama kedua orang senior saya saat itu, Zuhdan dan Martin tetap berada di Pos Kandang Badak. Cukup riskan meninggalkan orang-orang sakit ini tanpa pengawasan. Kelompok pendaki pun dibagi menjadi tiga kelompok besar. Masing-masing diisi kelompok dipimpin oleh senior. Tak lupa mereka berdoa untuk keselamatan mereka.

Apa yang selanjutnya terjadi sangat di luar dugaan. Petaka ini namanya. Hujan deras cenderung badai turun, menghantam kami semua. Saya tak tahu apa yang terjadi dengan pendaki lain yang naik ke puncak Gunung Pangrango saat itu. Rasa khawatir terus membayangi saya. Berdoa adalah jalan terbaik yang bisa saya lakukan saat itu. Berdoa tidak akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun, semua itu tidak terwujud, satu kelompok mulai turun kembali ke Pos Kandang Badak.

Sebagian besar dari anggota kelompok ini mengalami kedinginan akibat baju mereka basah. Saya miminta mereka untuk segera mengganti pakaian mereka. Satu orang saat itu, Sasha, diserang kedinginan yang luar biasa. Butuh tenaga ekstra untuk membuat tubuhnya kembali stabil. Minuman panas, sleeping bag kami tumpuk agar tubuhnya tetap hangat. Beberapa kali saya coba memberikan pijatan di kaki agar sedikit relax. Tubuh Sasha perlahan membaik, tubuhnya tak lagi merasa kedinginan. Saya kemudian memasak air panas untuk cadangan sembari menunggu kelompok lain turun karena kabar yang saya terima, semua tim akan turun kembali ke Pos Kandang Badak.

Kelompok kedua tak kunjung tiba. Padahal kelompok pertama yang sampai terlebih dahulu mengatakan bahwa jarak satu kelompok dengan kelompok lain tidak begitu jauh. Saya menanti dengan harap-harap cemas mengingat bahwa ada anggota kelompok dua yang mengalami cedera tangan. Hal tersebut saya ketahui dari anggota kelompok pertama. Hari makin gelap, mereka tak kunjung turun juga. Yang saya tahu, kelompok pertama hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai ke Pos Kandang Badak. Tapi, kelompok ini sudah tiga jam tak juga sampai ke pos.

Akhirnya kelompok kedua tiba dan kondisi kelompok ini jauh lebih parah daripada kelompok pertama. Satu orang mengalami syok mental, pendakian pertamanya justru berakhir menjadi petaka. Satu orang mengalami cedera tangan, jari manis tangan kanannya melintir setelah terbentur akibat terpeleset ketika berpegangan pada akar tumbuhan. Yang terparah adalah Haryati yang mengalami hipotermia akut. Saya panik bukan main. Prioritas pertama adalah mengobati Haryati, air panas, makanan panas, sleeping bag, baju kering, jaket, kupluk, segalanya kami usahakan agar kondisi Haryati tidak semakin parah. Terhitung juga ada sekitar 6 orang yang memeluk Haryati agar tubuhnya tetap hangat. Saya sendiri mencoba untuk terus berkomunikasi dengan Haryati supaya dia tidak tertidur dalam keadaan tubuh yang kritis seperti itu. Kali ini kami butuh waktu yang lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan untuk membuat Sasha stabil.

Berita mengejutkan kemudian saya terima dari kelompok kedua ini, ternyata kelompok terakhir yang terdiri dari teman satu angkatan dan senior tetap memaksakan diri untuk mendaki sampai ke Puncak Pangrango. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Mereka terlalu memaksakan diri untuk sampai ke puncak dalam keadaan yang sangat tidak memungkinkan ini. Saya kesal, mereka seakan tidak menghargai keselamatan nyawa mereka sendiri.

Belum lagi permasalahan tersebut usai, saya kembali dikejutkan dengan kondisi logistik kami. Pakaian yang kami letakkan di dalam tenda semuanya basah. Saya yang sejak awal mengurusi teman-teman saya yang sakit, tidak sempat mengecek keadaan tenda logistik. Saya mempercayakan sepenuhnya pada panitia dan hasilnya semuanya berantakan. Nampaknya panitia menganggap pendakian ini sebagai pelesir santai tanpa memperhitungkan bagaimana ganasnya gunung ini. Satu-satunya baju kering yang saya punya adalah baju yang saya pakai. Mau tak mau, saya harus bertahan dengan baju yang saya pakai ini sampai pagi.

Saya kembali ke tenda dimana Haryati dirawat. Tidak ada perubahan yang berarti, tubuhnya masih tidak stabil, suhu tubuhnya tak jua normal. Kami memeluknya kembali, berharap ada perubahan. Berhasil, tubuhnya membaik. Dia sudah sanggup berkomunikasi dengan sedikit lancar. Meskipun demikian, kami menjaganya agar tidak tertidur dulu dalam kondisi seperti itu. Saat itu saya merasa ingin buang air kecil. Saya pamit untuk keluar dan berpesan pada senior saya agar tetap memeluknya dan menjaganya agar tidak tertidur.

Saya kaget bukan main, panik, berteriak sekencang-kencangnya ketika kembali ke dalam tenda. Saya mendapati Haryati tertidur dalam dekapan senior saya. Tindakan pertama yang saya lakukan adalah mencoba untuk membangunkan Haryati, kami semua mumukul tubuhnya, menampar mukanya berkali-kali, apaun kami lakukan agar Haryati segera terbangun. Saya hampir putus asa disini, Haryati tak kunjung bangun. Bahkan untuk mengucapkan sepatah kata pun tidak, padahal pukulan kami sangat keras saat itu. Tubuhnya terlihat tidak merespon sakit yang diperoleh dari pukulan kami. “Har, bangun,.. Bangun..”, suara saya makin lirih saat itu, yang lain pun terlihat makin pasrah dengan keadaan itu. Pikiran saya saat itu, “Turun dari gunung ini, kita bawa kantong mayat”

Saat kami merasa sangat down dengan keadaan tersebut, keajaiban terjadi. Haryati merespon, hanya suara, “Aaaa..” dengan lirih dia ucapkan. Saya kembali berusaha untuk membangunkannya. Meminta pendaki lain untuk memasak air panas untuk Haryati. Saya dan teman-teman berusaha untuk membuatnya terjaga, jangan sampai dia kembali tertidur dengan keadaan tersebut. Ada secercah harap ketika tubuhnya mulai stabil. Dia sudah sanggup diajak berbicara. Tubuhnya sudah bisa merespon rasa panas dari air yang saya berikan padanya. Saat itu dia meminta untuk kembali tidur. Saya mencoba untuk meyakinkan diri saya bahwa dia sanggup untuk tidur dengan bertanya padanya. Setelah saya yakin, saya mengizinkan dia untuk tidur dengan sleeping bag ganda.

Belum berakhir petaka malam itu. Tim ketiga akhirnya tiba, tapi hanya dua orang yang turun sedangkan yang lain tidak tampak. Ternyata mereka terpisah. Mereka yang tiba pertama mengira anggota kelompoknya sudah berada di depan, padahal mereka tertinggal jauh di belakang. Butuh waktu sangat lama bagi anggota kelompok yang terpisah di belakan untuk sampai ke pos. Begitu sampai pun, kondisi mereka pun tak lebih baik dari kelompok yang sebelumnya. Satu orang mengalami kelelahan dan kedinginan. Saking parahnya, dia sampai muntah. Bahkan dari penuturan teman yang lain, dia sempat meminta untuk ditinggal, jelas itu bukan opsi yang akan dituruti. Pendaki yang lain pun kebingungan untuk mencari baju kering. Saat itu terpaksa saya memberikan baju kering saya satu-satunya yang saya punya kepada teman saya. Saat itu hanya jaket yang bisa saya pakai.

Pendakian saat itu memang sangat pahit. Ini pendakian terparah yang pernah saya alami. Panitia tidak siap. Belum lagi banyak dari pendaki yang kelelahan. Bahkan satu orang hampir saja jadi mayat hari itu. Namun, akhirnya kami berhasil turun kembali ke Cibodas dengan utuh.

Ini merupakan salah satu cerita tentang getirnya pengalaman pendakian gunung dan ini saya alami sendiri. Gunung memang indah. Tak akan ada yang berani menyangkal bagaimana indahnya melihat matahari terbit dari puncak gunung. Tak ada yang akan menyangkal bagaimana sejuknya udara di gunung. Tak akan ada yang menolak kedamaian yang ditawarkan oleh rindangnya pepohonan di gunung. Tapi, di balik semua itu ada potensi besar akan bencana yang mungkin terjadi. Yang mungkin tidak sempat dipikirkan oleh para pendaki.

Persiapan yang matang bisa menjadi salah satu hal yang dapat menolong kita ketika berada dalam keadaan tersebut. Sekalipun kita tidak bisa menolak sapaan dari cuaca gunung, paling tidak kita bisa meminimalisir risiko dari cuaca buruk yang mungkin terjadi. Sekali lagi, persiapan menjadi kunci dari kelancaran kegiatan outdoor.

Selamat mendaki bagi kalian yang merasa terpanggil oleh indahnya gunung-gunung di Indonesia.
Tetap semangat dan tetap selamat.

referensi:
1. http://www.gedepangrango.org/tentang-tnggp/

20 thoughts on “Pengalaman Getirnya Mendaki Gunung

  1. nice story!gunung selalu punya daya magnetis tersendiri yang selalu menarik pendaki2 untuk datang..tapi terkadang pendaki cupu suka lalai. ini alam bebas bos! mereka seenaknya aja naik gunung. tanpa persiapan yang oke, tanpa pengetahuan yang oke pula, terlebih tidak bisa mengetahui kemampuan diri…akhirnya maksa.

    tulisanmu bisa jadi sudut pandang para pendaki baru biar lebih hati2 dan tidak lagi ceroboh saat berada di alam bebas…

    cheers,

    • betul banget, kadang pendaki baru menggampangkan persiapan untuk pendakian, padahal itu penting. tugas kita sebagai sesama pendaki adalah saling mengingatkan dan ikut mengedukasi pendaki pemula agar kecelakaan saat pendakian bisa dicegah.

      cheers.

  2. Jangan pernah meremehkan alam, semudah apapun itu jalurnya, kuncinya sih persiapan matang, dan banyak berdoa dijalan🙂 dan semoga tidak cuma menikmati alam saja, tetapi juga ikut menjagana😀

    • betul mas, bahkan bukit pun bisa jadi tempat yang berbahaya jika diremehkan. persiapan dan persiapan yang matang memang benar jadi kuncinya.

      alhamdulillah, saya pas itu turun bawa 2 trashbag ukuran besar penuh dengan sampah.🙂

  3. Baca tulisan ini bikin deg-degan dan harap-harap cemas. Alhamdulillah semuanya selamat ya Mas. Semoga tulisan ini menjadi pelajaran bagi para pendaki gunung. Thanks for sharing.

  4. Saya masih ingat pendakian pertama saya, penuh pengalaman getir yang tak akan terlupakan. Termasuk tenda yang kebanjiran dan harus tidur jongkok semalaman🙂

  5. sya pendaki pemula, kmrin saya baru naik gunung pertama saya. Gunung Sumbing, tapi blum berhasil sampai Puncak, cuma sampai Watu Kotak,
    pelajaranny, naik gunung bukan tentang Kehebatan n kekuatan, tapi tentang kerendahan diri, kesetiakawanan, dan selalu mendekatkan diri pada Tuhan,,

  6. harusnya artikel ini dibaca oleh pendaki yang ingin disebut “petualang sejati” dengan mengandalkan celana chinno dan sepatu kats nya itu, nekat nanjak ke semeru! -_- salam kenal, saya terlalu terbawa sama alur tulisannya, saya jadi ikut kesal sendiri jadinya. hehehe!

    • salam kenal juga mas Nafis, sebenarnya tak apa nanjak ke gunung dengan celana apapun selama masih pake celana, dan alas kaki apapun, hehe. yang terpenting adalah bagaimana mempersiapkan pendakian dengan baik dan tidak terlena sepanjang pendakian.🙂

  7. Baca tulisan ini benar-benar membuat saya menyadari pentingnya persiapan yg matang sebelum mendaki gunung. Semoga tulisan ini menjadi pelajaran bagi para pendaki gunung,terutama para pemula. Thanks for sharing🙂

  8. mantab banget mas bro.,,trima kasih sharenya…🙂

  9. thx 4 sharing.. Mudah2an bermanfa’at untuk kita yang pemula/senior dalam pendakian. Krn orang yg senior dalam pendakian belum tentu senior dalam kepemimpinan. Ditambah lagi dengan penjelasan yg sangat detail, sangat bermanfa’at..

  10. Mas, saya pendaki pemula dan dari cerita di atas byk bgt pelajaran yg bs diambil. Ngomong2 sy mau tanya masalah pasta gigi, emang benar tidak boleh ya? ada alasannya kah?

    • Untuk Gunung Gede – Pangrango, setahu saya memang tidak diizinkan. Ada aturan yang melarang membawa bahan kimia dalam bentuk apapun ke gunung tersebut. Mungkin alasan pencemaran lingkungan.

  11. Duuh saya jadi ikutan degdegan vaca ceritanya. Thankyou for sharing mas. kebetulan saya minggu ini mau mendaki gunung marapi di sumatera barat. sebagai newbie saya mesti banyak baca2 pengalaman yg sudah sering/duluan mendaki biar lancar dan gak ada kendala nantinya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s