Kado dari Lina

Mafia Kubis tidak pernah berhenti memberikan sebuah harapan bagi saya. Tiap saya datang ke Kampung Kubis, selalu saja ada secercah harap bagi saya bahwa suatu saat anak-anak yang ada di Kampung Kubis ini kelak akan menjadi orang-orang yang hebat. Orang yang kelak akan membangun negeri ini dari akar, tidak dari pucuk daun.

Lina, seorang gadis kecil, salah satu dari adik-adik kubis, akhirnya bisa membuat saya tersenyum. 2 tahun yang lalu, saya masih ingat bagaimana gadis kecil ini tak pernah berani untuk berbicara di depan teman-temannya di Mafia Kubis. Tak pernah berani untuk menyampaikan mimpinya. Selalu diam dan menangis ketika tiba gilirannya untuk berbicara di depan teman-temannya. Sikap yang sungguh bertolak belakang dengan apa yang dia tunjukkan ketika berada di luar forum. Bocah ini sangat dominan di Mafia Kubis. Bersama Sofi dan Fara, mereka terkenal sebagai “Trio Macan” dari Kampung Kubis. Mereka bertiga sangat dominan sekalipun terdapat beberapa orang yang usianya lebih tua dari mereka. Pun dengan Lina, gadis ini selalu punya pengaruh besar bagi teman-temannya. Saya masih ingat bagaimana ketiga orang ini mengudeta kegiatan Mafia Kubis karena mereka ingin diadakan kegiatan berenang, sedangkan kondisi saat itu tidak memungkinkan untuk dilakukan kegiatan keluar kampung.

Lina berada di antara Pasukan Kubis

Lina berada di antara Pasukan Kubis

Lina, tawanya keras, lepas, seperti tidak pernah ada masalah yang membebani hidupnya. Sangat lantang ketika tertawa, tegas ketika berbicara kepada yang lain, termasuk kepada kakak-kakak Pasukan Kubis. Namun, di balik itu semua, dia juga jadi orang yang tertutup, pemalu, penakut.

Hal tersebut berlangsung selama 2 tahun. Saya dan teman-teman Pasukan Kubis selalu berusaha agar Lina mau berbicara di depan umum. Kegiatan menyampaikan mimpi yang kami adakan pada bulan januari tahun 2012 pun tidak menghasilkan apa-apa. Bocah ini justru diam dan menangis ketika tiba giliran untuk menyampaikan mimpinya pada teman-temannya. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Mungkin dia menangis hanya sebagai senjata agar tidak perlu berusaha menyampaikan mimpinya atau mulutnya terlalu kelu untuk menyampaikan mimpi yang sangat mulia, mimpi yang berasal dari dasar hatinya, air matanya pun tak kuasa untuk menetes lembut di wajahnya. Dia tetap tertutup.

11 Desember 2012, saya bersama Plapti mengadakan kegiatan “Menggambar Impian”. Sederhana. Adik-adik diberikan satu lembar kertas kosong dan mereka diminta untuk menggambarkan impiannya. Tak perlu impian yang muluk-muluk, kami hanya ingin adik-adik kubis punya mimpi. Mereka tak perlu takut bermimpi karena bermimpi itu gratis dan bermimpi itu menyenangkan.

Kami mulai membagikan kertas dan alat tulis kepada adik-adik kubis. Mereka mulai bermain dengan impian mereka, memproyeksikan mimpi mereka melalui tinta dari spidol, dan garis-garis di kertas mulai menggambarkan apa mimpi mereka. Kertas kosong mereka mulai dipenuhi oleh coretan mimpi, beberapa menjadi gambar yang indah, beberapa yang lain tak terbentuk. Namun, saya percaya untaian garis yang mereka tenun pada kertas merupakan gambaran tulus dari apa yang mereka impikan.

Lina, jemarinya tak henti menggerakkan spidol, terus membuat spidol yang dia genggam menari indah pada panggung kertasnya. Terus menari seakan memang tak mau berhenti. Saya penasaran dengan apa yang dia gambar. Saya mulai mendekati Lina, berharap dia akan menunjukkan apa yang dia gambar. Nihil, saya tidak mendapatkan apapun. Lina sudah keburu menutupi kertas yang berisi impiannya. Mungkin dia malu. Tak apa, toh nanti dia harus menyampaikan apa yang dia gambar.

Tiba waktunya bagi adik-adik untuk menyampaikan apa yang mereka gambar pada secarik kertas kosong tadi. Satu per satu menyampaikan mimpinya. “Saya ingin mejadi tentara”, ungkap Farhan. Gambarnya bagus sekali. Tak ada celah di kertas tersebut seakan kertas tersebut penuh dengan gambaran mimpinya. “Saya ingin jadi petani”, Choliq ikut menyampaikan mimpinya. Sebuah impian yang sudah jarang sekali diinginkan oleh anak-anak di dunia ini, menjadi seorang petani. Sebuah konsistensi kemudian ditunjukkan oleh Rian. Dia bilang dia ingin menjadi seorang koki. Tak berubah sejak pertama kali kami memintanya menyampaikan impiannya.

“Saya ingin jadi dokter, saya ingin memiliki rumah sakit”. Saya tersenyum, haru, bangga. Sebuah impian yang disampaikan secara tulus dari seorang bocah bernama Maulina Ashwin, ya Lina. Akhirnya dia mau berbicara di depan teman-temannya. Berbicara tanpa takut, tanpa perlu menahan mulutnya, tanpa perlu membiarkan air matanya menetes. Dia menyampaikannya dengan riang, lepas, sebagaimana dia berbicara pada teman-temannya.

Lukisan mimpi Lina

Lukisan mimpi Lina

Ada perasaan lega yang saya rasakan saat itu. Proses panjang selama 2 tahun ini akhirnya bisa terbayar. Usaha keras dari Pasukan Kubis selama ini membuahkan hasil manis. Memang hal ini bukanlah sesuatu prestasi yang bisa membanggakan bagi kebanyakan orang layaknya prestasi ketika mendapatkan piala lomba mata pelajaran tingkat nasional. Tapi, bagi kami Pasukan Kubis, hal ini jauh melebihi kebanggaan mendapatkan piala dari hasil lomba dan sekali-kali rasa bangga kami tidak bisa diwakili dengan piala dengan ukuran terbesar sekalipun.

Lina, diam itu emas nak, tapi keberanianmu untuk berbicara itu melebihi emas.

Foto: Dokumentasi Mafia Kubis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s