Bukan Dongeng, Dia Ada dan Nyata

Saya yakin sudah banyak orang yang tahu tentang cerita dari gadis penjual korek api. Seorang gadis kecil yang menjajakan korek api di waktu musim dingin dan tidak ada seorang pun yang membelinya. Sampai kemarin pagi, saya tidak pernah membayangkan bahwa akan ada orang yang benar-benar menjual korek api untuk hidup. Ya, sampai kemarin pagi.

Pagi itu saya dan kakak saya merencanakan untuk berangkat ke Malang untuk berakhir pekan. Di Malang sendiri saya tidak merencanakan untuk mengunjungi tempat-tempat tertentu supaya tidak kecewa jika nantinya tempat yang sudah direncanakan tidak dapat dikunjungi. Saya hanya ingin menikmati setiap detik perjalanan saya kali ini ke Malang. Kami mengendarai sepeda motor dari Bangil, sebuah kota kecil di Pasuruan, menuju Malang. Kami sempat mampir ke Taman Dayu di daerah Pandaan sekedar untuk mengambil beberapa foto. Tidak lama, kami melanjutkan perjalanan menuju Malang.

Masuk Kota Malang, saya mampir dulu ke Terminal Arjosari untuk memesan tiket bus yang nantinya akan membawa saya pulang ke Jogja. Selesai membeli tiket, saya tidak tahu lagi mau kemana. Ini hari Minggu dan saya yakin jika daerah Batu pasti sudah sangat padat dengan pelancong-pelancong pemburu akhir pekan seperti saya. “Udah, kita ke Pasar Pagi aja, nanti kalo ada yang bagus kan bisa di beli”, Kata kakak saya. Awalnya saya pikir Pasar Pagi itu adalah sebuah pasar tradisional seperti pasar pada umumnya. Ternyata Pasar Pagi itu seperti Pasar SunMor (Sunday Morning) di Jogja. Pasar yang hanya buka setiap hari Minggu pada pukul 06.00 – 12.00. Benar-benar  mirip seperti Pasar SunMor. Pedagang berjejeran sepanjang Jalan Semeru yang tepat berada di samping Stadion Gajayana. Baju, makanan, aksesoris, hiasan rumah, perabot rumah tangga, buah-buahan, dan masih banyak lagi yang dijual di tempat ini. Saya berkeliling dari ujung jalan sampai ujung jalan di sisi lainnya. Pengemis dan pengamen tidak kalah untuk ambil peran di Pasar Pagi ini. Saya tidak keberatan dengan pengamen, beda hal dengan pengemis.

Banyak pengemis bertubuh sehat yang berkeliling di pasar ini. Anak-anak dan orang-orang paruh baya lah yang mendominasi sebagian besar dari pengemis. Saya lebih sering mengabaikan orang-orang macam ini jika bertemu. Alasannya jelas, saya tidak suka melihat orang yang tidak mau berusaha, orang yang hanya hidup dengan belas kasihan orang lain. Saya terus berjalan, berputar kembali ke tempat di mana sepeda motor kami parkirkan. Saya berhenti di sudut jalan. Saya melihat sesosok kakek sedang menjajakan dagangannya. Bukan sebuah barang yang unik yang membuat saya tertarik dan bukan juga cara si Kakek menawarkan dagangannya yang menahan saya untuk berhenti. Namun, saya berhenti karena saya tidak bisa begitu saja berlalu dari si Kakek tanpa meninggalkan apapun.

Sang Kakek yang menjual korek api

Sang Kakek yang menjual korek api

Dia, Kakek yang menawarkan barang seorang diri, tanpa tenda pegadagang seperti yang lain. Tak ada dagangan penting yang dia jual, tak ada yang berhenti untuk membeli. Dua buah jenis barang yang dia tawarkan. Korek api dan kalender. Bukan korek api istimewa, hanya korek api kayu dan bukan kalender tahun 2013 dengan desain yang luar biasa bagus, melainkan kalender tahun 2012 yang sudah kadaluwarsa selama 6 bulan. “Dua ribuan, dua ribuan. Korek api dua ribuan, kalender dua ribuan”, Ujar si Kakek. Awalnya saya hanya berlalu, sampai beberapa langkah ke depan dan kemudian berbalik. “Mbak, aku pengin beli dagangannya si Mbah tadi.”, Ucap saya pada kakak saya. “Ya udah ayo balik lagi.”, Jawab kakak saya. Saya berputar kemudian menghampiri si Kakek. “Pak, koreknya berapaan?”, Tanya saya pada si Kakek. “Dua ribu mas”, Jawab si Kakek. “Saya ambil dua ya pak”, Lanjut saya. Saya mengeluarkan uang dan kemudian membayarnya. Saya tidak sanggup berlama-lama bersama si Kakek. Saya tidak tahan melihat orang seperti si Kakek terlalu lama, saya bisa menangis di tempat. Saya berlalu dari si Kakek. Meninggalkan sesosok pria tua tersebut selangkah demi selangkah. Terus melangkah dan tidak sekalipun menengok lagi ke arah si Kakek.

“Mbak, korek ini ga tau bisa kepake apa ngga. Terus, mbak sadar ngga tadi kalender yang dijual udah kadaluwarsa?”, Tanya saya pada kakak saya. “Ya sadar dek, itu korek disimpen aja. Pasti nanti kepake. Mbak tau kamu beli itu bukan karena butuh, tapi karena kasihan sama si Mbah tadi.”, Jawab kakak saya. Memang benar, barang si Kakek itu tidak ada yang penting, mungkin tidak berharga untuk sebagian besar orang yang lewat di tempat itu. Korek api yang sekarang keberadaannya sudah tergantikan dengan korek gas dan kalender yang sudah seharusnya tidak lagi dijual karena sudah telat berbulan-bulan. Tapi, bagi saya si Kakek ini jauh lebih mulia dari para pengemis yang lalu lalang di pasar. Si Kakek tidak menjual cerita hidupnya yang sulit untuk mendapatkan uang, tidak pula memohon belas kasihan dari pengunjung, sekali-kali tidak mengemis!

Sekali lagi saya diperlihatkan bagaimana beruntungnya saya saat ini. Saya masih diberi kondisi yang lebih layak dari si Kakek, pekerjaan kecil saya masih menghasilkan lebih banyak si Kakek, saya tidak perlu berteriak-teriak untuk sekedar mendapatkan rupiah demi rupiah, saya masih jauh lebih baik. Sering sekali saya bertemu orang demikian di tengah perjalanan saya. Berinteraksi langsung, merasakan lebih dekat dengan orang tersebut, melihat dunia mini yang nyaris tidak dilihat orang lain. Suatu saat nanti, jika saya ke Malang, saya harus menemui Kakek ini lagi, Insya Allah. Inilah yang membuat saya selalu mencintai setiap perjalanan yang saya lalui. Selalu ada pelajaran berharga yang bisa saya dapatkan dari setiap perjalanan yang saya lalui. Bersyukurlah, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

4 thoughts on “Bukan Dongeng, Dia Ada dan Nyata

  1. diakhir aku baca tulisan ini, aku tersenyum sambil meghela nafas panjang, rasanya lega dan bangga, sama Lina dan kakak-kakak pasukan kubis..🙂 Mafia Kubis #KuYakinBisa

  2. Pernah beli Kalendar di bapak ini dulu yang masih tahun 2012. Ada rencana beli lagi buat yang tahun ini, memang desain kalendarnya sederhana tapi semangat dari bapak ini yang bikin kalendarnya jadi luar biasa. Semoga rejeki selalu terlimpah buat beliau yang mencari rejeki dari hasil keringat sendiri. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s