Sri Gethuk : Pesona Alam Gunung Kidul

Alam Gunung Kidul memang tidak hentinya memberikan suguhan yang menarik bagi para penikmat wisata alam. Setelah terkenal dengan keindahan pantainya dan wisata gua, kali ini Gunung Kidul menawarkan sebuah wisata lain yaitu air terjun. Air terjun itu bernama air terjun Sri Gethuk yang berada di desa Bleberan, Playen, Gunung Kidul. Kebetulan hari ini saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke air terjun tersebut.

Minggu (12 Februari 2012), saya beserta 5 orang lainnya yaitu Setiawan, Tompi, Rais, Tita, dan Reni berangkat menuju Gunung Kidul. Awalnya saya tidak merencanakan untuk bepergian pagi itu karena saya ingin bersantai di wisma Al-Kandasi, kost laknat yang penuh demit, tetapi Setiawan pagi itu mengajak saya untuk ikut main ke Gunung Kidul. Saya kira awalnya dia akan berkunjung ke rumah temannya yang berada di Gunung Kidul, tetapi perkiraan saya salah, dia menyebutkan nama Sri Gethuk sebagai tujuannya. Langsung saja saya yang tidak punya kegiatan pagi itu bergegas untuk bangun dari tempat tidur yang berada di depan televisi itu. Tidak sempat mandi karena teman-teman lain sudah menunggu di luar wisma Al-Kandasi, hanya sikat gigi dan mencuci muka ala kadarnya.

Berbekal sebuah tas berisi sebotol air minum, saya berangkat. Sebelumnya, kami sempat mampir ke kost Reni untuk menjemputnya, 6 orang, 3 motor, pas, cuss. Motor berjalan lambat karena hari itu jalanan Jogja lumayan padat, mungkin juga jalur yang kami ambil adalah jalur dalam kota dan Jogja memang terkenal dengan jumlah lampu lalu lintasnya yang fantastis, saben prapatan mesti ono bangjo, padahal Jogja penuh dengan perempatan. Motor hanya bisa dipacu pada kecepatan 50 – 60 kmh di jalanan kota, baru ketika masuk ke Jalan Wonosari, motor bisa dipacu sampai 80 kmh. Jalan Wonosari yang berkelak-kelok membuat saya harus mengemudikan sepeda motor dengan hati-hati. Entah karena hari minggu atau memang banyak yang ingin liburan, jalanan cukup ramai meskipun tidak sampai merambat. Iring-iringan motor dan mobil sering terlihat di jalur ini, bahkan tidak sedikit terlihat iring-iringan truk.

Dari awal saya memang tidak mengenal jalur menuju air terjun ini. Hanya bermodal nekat dan papan penunjuk jalan, saya melaju. Ternyata jaraknya tidak begitu jauh dari kota Jogja. Setelah melewati kawan Hutan Bunder, ada petunjuk jalan besar terpampang pada pertigaan di mana jika mengambil jalur lurus akan menuju pusat kota wonosari. Jalur ke kanan yang saya ambil. Jalur ini searah dengan obyek wisata yang lain seperti Pantai Paliyan. Terpampang bahwa jarak yang ditempuh adalah 10 km. Pada awalnya jalanan terasa biasa saja, tetapi ketika memasuki kilometer ke-2, jalanan mulai bergelombang, retakan jalan bukan hal yang asing selama perjalanan. Tidak lama dari jalanan yang bergelombang tersebut terlihat sebuah papan petunjuk arah ke air terjun. Ambil arah ke kanan.

Jalanan di jalur ini tidak jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya. Bergelombang, tak jarang ada lubang besar menganga di tengah jalan. Kami sempat bertanya pada penduduk sekitar ke mana arah air terjun Sri Gethuk karena sudah tidak lagi ditemui papan petunjuk jalan. Setelah mengetahui arahnya, kami kembali melanjutkan perjalanan. Jalanan makin parah, bukan lubang, bukan retakan, tetapi jalan tak beraspal yang kami libas. Saya sempat bergumam melihatnya. Ini kan jalur wisata, dan ini jalan kabupaten, tetapi kok seperti jalur lintas hutan? Nyaris 5 km dari jalan yang kami tempuh merupakan jalan off road. Saya teringat sebelum berangkat, Setiawan menawarkan untuk memakai motor temannya, sebuah motor Yamaha Jupiter Z yang kondisinya cukup mengenaskan. Untung saya menolaknya dan memutuskan untuk memakai motor sendiri. Entah apa jadinya jika motor itu yang dipakai untuk melibas jalanan cadas jalur Sri Gethuk, mungkin pulang-pulang sudah jadi motor dengan modif trondol.

Jalur menuju Sri Gethuk

Jalur menuju Sri Gethuk

Rasa kesal karena jalanan yang rusak parah itu sedikit terobati dengan pemandangan yang indah selama perjalanan. Padang rumput yang luas dan beberapa pohon kayu putih menghiasi pinggiran jalan. Hawa sejuk juga terasa di perjalanan tersebut. Kami mulai memasuki perkampungan warga dan jalanan tetap tak beraspal sampai akhirnya kami melihat sebuah pos kecil yang kemudian kami tahu bahwa itu adalah loket pembelian tiket tempat wisata. Kami membayar tiket masuk perorangan yang hanya Rp 2.000 dan tiket parker sepeda motor sebesar Rp 1.000. Cukup murah untuk sebuah obyek wisata. Saya kira loket itu tepat di dekat obyek wisatanya, ternyata masih harus memacu kendaraan sekitar 1 km. berbekal petunjuk dari penjaga loket kami melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari loket ada sebuah papan petunjuk lagi dan itu adalah papan petunjuk terakhir sampai ke air terjun.

Tidak ada tempat parkir khusus untuk kendaraan, hanya sisi kanan dan kiri jalan utama yang dijadikan lahan parkir. Petugas penjaga parkir pun berasal dari warga sekitar dan saya akui mereka ramah sekali, first impression yang bagus. Memasuki kawasan air terjun, kami disuguhi pemandangan yang benar-benar masih alami, sedikit sekali pembangunan yang ada di tempat ini, hanya jalan setapak yang dibuat berundak menyerupai tangga. Beberapa warung kami lihat di sekitar obyek wisata. Saya dibuat kaget lagi dengan apa yang ada di sana. Ada sebuah air terjun kecil di sebelah sungai, saya kira itu adalah air terjunnya dan ternyata saya salah mengira. Itu hanyalah sebuah sungai kecil yang mengerujuk ke sungai yang besar. Oh iya, di tempat ini ada sebuah sungai besar, nama sungai itu adalah Sungai Oya.

Bukan Air Terjun Sri Gethuk

Bukan Air Terjun Sri Gethuk

Ada sebuah papan bertuliskan “tiket perahu Rp 5.000 antar-jemput”. Ternyata untuk mencapai air terjunnya, kita harus menaiki perahu terlebih dahulu. Jangan membayangkan perahu yang ada adalah perahu pada umumnya. Perahu yang ada di tempat ini adalah perahu sederhana yang dibuat dari kumpulan tong yang kemudian diberi papan sebagai dek untuk berdiri para penumpang. Tidak ada alat pengamanan yang lain kecuali teralis besi di samping kanan kiri perahu. Mesin perahu pun hanyalah sebuah motor bensin berdaya kecil.

ukiran aliran Sungai Oya pada tebing batu

ukiran aliran Sungai Oya pada tebing batu

Tebing di tepian Sungai Oya

Tebing di tepian Sungai Oya

Tebing yang masih hijau di tepian Sungai Oya

Tebing yang masih hijau di tepian Sungai Oya

Sungai Oya yang diapit oleh tebing di tepiannya

Sungai Oya yang diapit oleh tebing di tepiannya

Butuh sekitar 5 menit menaiki perahu untuk sampai ke air terjun Sri Gethuk. Di sepanjang perjalanan menuju air terjun, kita disuguhi pemandangan tebing batu yang dindingnya penuh dengan ukiran air, luar biasa menurut saya. Selain itu, air Sungai Oya yang hijau dan tenang pun menambah keindahan tempat wisata itu. Sampai di air terjun, saya dibuat lebih kagum. Tempat ini bagus sekali untuk sebuah air terjun. Batu cadas, sungai yang hijau, dan tiga buah air terjun bersatu dan menciptakan sebuah harmoni alam yang luar biasa indah.

Hal pertama yang saya lakukan adalah mengeluarkan kamera dan segera mengabadikan tempat tersebut. Setelah mengambil beberapa gambar dari tempat itu, saya segera berkeliling untuk melihat keseluruhan air terjun tersebut. Karena tempat ini terdiri dari tumpukan batu cadas, saya harus sedikit memanjat untuk sampai ke titik paling tinggi yang bisa dicapai. Tidak lama memang, hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai ke puncak. Pemandangan dari tempat ini luar biasa, melihat sungai Oya yang hijau dan tenang, air terjun yang bergemuruh lirih, air yang turun bagaikan tirai. Saya sangat menikmati pemandangan ini, duduk cukup lama di atas batu di tepian air terjun.

Air Terjun Sri Gethuk

Air Terjun Sri Gethuk

Air Terjun Sri Gethuk

Air Terjun Sri Gethuk

Salah satu dari air terjun di Sri Gethuk

Salah satu dari air terjun di Sri Gethuk

IMG_1966 IMG_1977

Saya kira tempat ini masih sepi pengunjung karena akses yang lumayan menyulitkan pengendara, ternyata saya salah. Makin siang, makin ramai pengunjung di Sri Gethuk. Puluhan pengunjung datang dalam sekali perahu bersandar. Di rasa makin ramai, kami memutuskan untuk kembali ke daratan untuk pulang itu juga karena teman kami harus bergegas kembali ke daerah tugas masing-masing yang cukup jauh, Jakarta dan Palembang. Tak lama kami menunggu, perahu yang kami tunggu sudah mulai mendekat. Terlihat bahwa perahu mengangkut satu rombongan dan semakin dekat saya tahu jika perahu tersebut membawa rombongan dari komunitas sepeda. Satu orang yang terlihat sudah tidak sabar langsung meloncat ke Sungai Oya untuk menikmati segarnya air Sungai Oya.

IMG_1947 IMG_1980

Segera setelah perahu bersandar kami naik ke perahu dan perahu pun langsung berangkat kembali untuk membawa kami menuju daratan. Pemandangan yang sama tidak membuat saya bosan dengan tempat ini, tebing sungai ini memang indah, seperti ukiran abstrak. Saya pun tidak lupa untuk mengambil sedikit gambar. Oleh-oleh gambar inilah yang saya sukai.

Kami yang memang sedari berangkat ke tempat ini sama sekali belum mengisi perut akhirnya memutuskan untuk berhenti di sebuah warung makan yang menjajakan makan khas dari Gunung Kidul, tiwul. Makanan ini terbuat dari singkong yang digiling kemudian ditanak. Makanan ini tidak kalah dari beras malahan lebih baik dari segi gizi. Singkong sendiri memiliki karbohidrat komplek yang lebih mengenyangkan daripada nasi. Makan sedikit saja sudah merasa sangat kenyang. Nama warung yang kami kunjungi adalah Gubuk Dhahar Bu Mila. Menu makanan di sini didominasi oleh tiwul yang harganya masih cukup bersahabat untuk kantong mahasiswa seperti saya. Kami memilih beberapa menu yang berbeda supaya bisa saling icip makanan.

Gubuk Dhahar Tiwul Tempe Penyet

Gubuk Dhahar Tiwul Tempe Penyet

Menu makanan khas Gunung Kidul

Menu makanan khas Gunung Kidul

Kami pulang dengan perut kenyang dan perasaan yang sangat gembira. Ini tempat baru dan sudah memberikan kesan pada saya. Tempat luar biasa indah hanya saja belum terkelola dengan baik oleh pemerintah daerah. Sebuah kantong pemasukan yang luar biasa besar jika pemerintah mampu menggarapnya dengan baik.

2 thoughts on “Sri Gethuk : Pesona Alam Gunung Kidul

  1. Pemandangan Sri Gethuk keren…tapi entah kenapa setelah selesai baca malah penasaran sama rasa “Tiwul Telor Mata Kebo” hehehe…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s