Low Cost Traveling Day 2: Bandung is (not) Paris van Java (4)

Kami sampai juga di Stasiun Kiaracondong, kami bergegas turun dan membayar angkot yang kami naiki. Saya kembali bertanya pada Shirom tentang kabar Plapti. Syukur, Plapti sudah memberi kabar bahwa dia tetap berada di stasiun dan berinisiatif untuk membeli charger agar telepon selulernya dapat kembali menyala. Kami lantas berjalan menuju stasiun. Setibanya di stasiun, Shirom membeli 5 tiket KRD jurusan Padalarang, 4 untuk kami dan 1 untuk Plapti. Kami masuk ke dalam peron stasiun melihat ke sekitar dan kamipun melihat Plapti sedang duduk di sebuah kios yang menjual keperluan telepon seluler. Langsung saja kami menyapanya.

Continue Reading

Low Cost Traveling Day 2: Bandung is (not) Paris van Java (3)

Matahari sudah tepat berada di atas kepala, kami meneruskan perjalanan kami. Sempat saya dikejutkan dengan sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam telepon seluler saya saat itu. Sangat singkat, isinya menanyakan tentang kabar orang tua di rumah. Pesan singkat itu dikirim oleh seorang teman yang sebenarnya jarang sekali mengirim pesan pada saya. Tanpa tedeng aling-aling dia langsung bertanya tentang orang tua saya. Saya bingung, ada apa dengan orang tua saya? Ada yang tidak bereskah? Saya bergegas mengonfirmasi pertanyaan teman saya tersebut dengan menelpon bapak saya di rumah. Ternyata tak ada berita buruk di rumah. Bapak, ibu, dan adik saya dalam keadaan sehat. Saya ketahui selanjutnya bahwa teman saya tersebut sempat bermimpi buruk tentang orang tua saya.

Di Cimahi kami beristirahat di sebuah masjid yang terdapat di komplek militer setempat. Awalnya sempat ragu dengan masjid ini karena di masjid ini sedang diadakan sebuah resepsi pernikahan. Ternyata lantai dasar masjid ini memang difungsikan sebagai gedung serba guna. Yang digunakan sebagai tempat ibadah adalah lantai kedua. Sejenak kami beristirahat di masjid ini sekaligus bersembahyang. Saya menanyakan kabar Plapti pada Shirom. Saya mendapati bahwa Plapti sudah berada di kereta api menuju Bandung. Namun, ada sedikit pertanda tak baik hari itu. Charging unit telepon seluler Plapti tertinggal, artinya kami harus segera memastikan tempat untuk menjemput Plapti sore nanti. Segeralah Shirom menanyakan perihal tempat untuk bertemu nanti sore, tetapi telepon seluler Plapti sudah keburu mati dan kami pun tak bisa menghubunginya.

Continue Reading

Low Cost Traveling Day 2: Bandung is (not) Paris van Java (2)

Setelah tiba di rumah singgah, satu per satu kami bergantian mandi. Ketika saya mandi, Shirom dan Mphex pergi untuk mencari oleh-oleh berupa makanan dan baju metal, saya sendiri menyebut baju metal itu baju yang sablonnya lebih besar dari bajunya. Coba saja lihat baju-baju metal yang biasa dijual di toko-toko merchandise, pasti ukuran sablon dari baju tersebut sangat besar. Tapi memang masih lebih besar bajunya daripada sablonnya. Sekitar 30 menit Shirom dan Mphex mencari oleh-oleh, sayang Mphex tak mendapatkan kaos metal pesanan temannya di Jogja.

Sebelum perjalanan menuju Kota Bandung kami mulai, kami terlebih dahulu makan dengan makanan khas Jawa Barat, lalapan. Memang orang Jawa Barat terkenal dengan kebiasaan makan sayuran mentah atau lalap bersama sambal. Dengan ditemani tahu goreng dan ikan patin, kami semua lahap menyantap sarapan pagi kami. Jangan ditanya rasa sambal yang dibuat oleh bibi, rasanya lezat sekali. Perpaduan antara sambal, tomat, dan bumbu lainnya menciptakan harmoni yang indah di lidah. Saya sendiri ketagihan dengan sambal buatan bibi. Nikmat.

Continue Reading

Low Cost Traveling Day 2: Bandung is (not) Paris van Java (1)

Sofa tua yang saya tiduri semalam berasa seperti sebuah kasur di hotel berbintang 5, itu semua akibat lelah yang mendera saya semalam. Saya dan teman-teman tertidur pulas di ruang tamu rumah singgah kami. Ada rasa malas untuk beranjak bangun dari sofa di pagi ini. Kantuk dan lelah jadi alasan untuk tetap tidur ganteng di atas sofa. Belum lagi cuaca Batu Jajar yang sangat mendukung. Dingin. Lambaian sinar mentari pagi yang mencuri celah dari jendela yang tertutup tirai pun tak mampu menarik kami bangun dari sofa. Justru kami sibuk membenahi posisi tidur agar mata kami tidak diterpa cahaya matahari. Saya sendiri sebenarnya sudah bangun dan sempat menonton televisi yang berisi tentang berita olah raga. Namun, apa daya, kedua mata saya tak bisa diajak kompromi. Sampai akhirnya Shirom datang ke ruang tamu. Dia sendiri tidak tidur di sofa. Jelas saja, dia adalah keponakan dari pemilik rumah.

Continue Reading

Low Cost Traveling Day 1: Kehidupan dari Atas Kereta Api (3)

Matahari makin tergelincir ke barat, hari makin senja. Senja sore itu sangat indah, sinar matahari yang semakin jingga menerpa hutan dan perbukitan Jawa Barat, menghadirkan suasana magis penuh pesona yang tampak dari dalam gerbong kereta api. Ini salah satu bentuk rezeki yang Tuhan berikan pada kami, dalam perjalanan ini, kami ditampakkan kuasaNya. Ini baru awal perjalanan, masih banyak kejutan lainnya yang menunggu kami disana. Kami terus melaju menuju Bandung.

Hutan dan perbukitan berganti menjadi tumbuhan beton rapat, kita semakin dekat dengan Kota Bandung. Terakhir kali saya melalui jalur kereta api ini, masih banyak persawahan yang membentang di daerah Cicalengka. Namun, kali ini sudah berbeda. Sawah berubah menjadi kapling-kapling tanah. Tanah berubah menjadi tumbuhan beton. Perumahan seakan seperti jamur yang menyebar dengan cepat, hanya dalam waktu 2 tahun, sawah-sawah tersebut sudah menjadi bangunan RSS. Saya membatin, mau makan apa mereka nanti jika semua sawah ini berubah menjadi hutan beton. Sanggupkah semen, pasir, dan bata membuat perut menjadi kenyang?

Makin mendekat dengan Stasiun Kiaracondong, pemandangan semakin memprihatinkan. Bandung yang katanya adalah Paris dari Jawa ini nyata tidak menampilkan sesuatu yang indah. Kampung kumuh, sampah menumpuk, sungai yang menghitam pekat, menghiasi sepanjang tepian rel kereta api. Rumah-rumah di tepian rel ini sangat padat, berdempetan satu sama lain, tak punya halaman, sedikit cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah. Inilah foto kehidupan Bandung yang sebenarnya. Bandung itu sudah tidak lagi nyaman seperti dulu, kata Paris van Java sepertinya perlu direvisi. Kota ini punya permasalahan yang sepertinya dibiarkan tumbuh subur.

***

Continue Reading

Low Cost Traveling Day 1: Kehidupan dari Atas Kereta Api (2)

Pukul 09.15, kereta api Kutojaya akhirnya merapat di Stasiun Kutoarjo. Merasa sudah memiliki tiket, kami santai saja karena sepengetahuan saya, tiket kereta api ini sudah dengan nomor tempat duduknya. Namun, saya salah. Tiket kereta ini ternyata tanpa tempat duduk, artinya siapa cepat dia dapat. Kami segera bergerak dari satu gerbong menuju gerbong yang lain. kereta pagi itu penuh oleh penumpang, kami bergerak terus ke depan untuk mencari tempat duduk yang kosong. Beruntung, salah seorang pedangang asongan menunjukkan gerbong yang masih sepi penumpang. Kami mendapatkan tempat duduk 3-3 yang sudah terdapat satu orang penumpang yang cukup mengganggu. Penumpang tersebut adalah wanita, sekitar 30 tahun usianya. Dia duduk secara sembrono. Kakinya dia naikkan ke kursi seberang. Orang yang punya sopan santun pastinya akan secara refleks menurunkan kaki jika ada orang lain yang akan duduk dalam satu bangku. Tapi, orang ini tidak. Dia tetap membiarkan kakinya singgah di kursi orang lain. Sangat tidak sopan untuk ukuran wanita.

Di tengah rasa kesal yang mulai naik, kami melihat seorang wanita yang sedang mencari tempat duduk. Karena di tempat kami masih tersisa satu tempat duduk lagi, kami mempersilakan mbak tadi untuk duduk. Saya bertukar tempat duduk dengan mbak tadi, mempersilakan si Mbak untuk duduk dekat dengan jendela. Kereta pun akhirnya berangkat, pelan tapi pasti, kereta ini bergerak menjauh dari Stasiun Kutoarjo.

***

Continue Reading

Low Cost Traveling Day 1 : Kehidupan dari Atas Kereta Api (1)

Pagi tanggal 26 Juli 2012, setelah saya memutuskan untuk berangkat munuju barat, saya bangun, bergegas untuk mandi dan mempersiapkan segala keperluan selama perjalanan. Celana dalam, celana dalam, celana dalam, kemudian makanan. Ya, saya cukup banyak membawa celana dalam pada perjalanan itu. Ini penting, lebih mengerikan ketika kehabisan celana dalam daripada kehabisan makanan. Kamu tidak akan bisa membayangkan bagaimana gatalnya jika tidak ganti celana dalam atau bagaimana rasanya ketika tidak memakai celana dalam. Saya sendiri membawa celana dalam lebih banyak daripada makanan karena saya masih yakin bahwa Alloh tidak akan melanggar janji dengan membiarkan umat islam meninggal akibat kelaparan.

Saya cukup tergesa-gesa pagi itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.10 yang artinya saya sudah cukup terlambat untuk berangkat menuju Stasiun Lempuyangan. Kereta yang akan saya naiki adalah kereta Pramex yang akan tiba di Stasiun Lempuyangan pada jam 06.30, saya hanya punya waktu 20 menit untuk bisa sampai di Lempuyangan. Saya segera mengeluarkan kuda besi lansiran tahun 99 dan mengendarainya dengan cepat. Saya mencari jalan tikus tercepat dari Pogung Dalangan, tempat dimana kontrakan saya berada, menuju Lempuyangan. Syukur, jalanan Jogja pagi itu masih cukup lengang, jelas saja, ini adalah hari Minggu, masih banyak warga yang bersantai di rumah bersama keluarga.

Continue Reading