See You After School : A Workshop of Social Movement and Traveling

Magelang (14/04/2012) – Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan, dan menjadi seorang petualang sekaligus aktivis sosial itu menikmati hidup. Setiap orang pastinya punya cara masing-masing untuk menikmati hidupnya. Berpetualang dan berbagi, dua hal itulah yang diangkat pada acara workshop tentang travelling dan social movement dengan judul workshop, “See You after School: Share and Fun” yang diselenggarakan di SMA Negeri 1 Magelang. Farchan Noor Rachman, Romdhona Prianto, Suprapti, dan Anjar Nurhadi, empat orang anak muda yang mengisi acara tersebut merupakan alumni SMA Negeri 1 Magelang. Tergabung dalam sebuah wadah yang diberi nama Forum Alumni Berbagi yaitu sebuah forum yang memberikan tempat bagi para alumni SMA Negeri 1 Magelang untuk saling menumpahkan ide, pikiran, gagasan yang menarik untuk dibagikan dan diceritakan pada adik-adik almamater SMA Negeri 1 Magelang.

Acara siang itu dibagi menjadi tiga sesi dengan setiap sesinya diisi tentang cerita perjalanan dan kegiatan dari masing-masing pengisi acara. Farchan Noor Rachman, seorang petualang,fotograferparttime writer, sekaligus seorang PNS di kantor pajak ini membuka seminar dengan santai. Acara yang direncanakan dimulai pukul 10.00 pagi baru bisa dimulai pada pukul 11.30 karena adanya acara yang diselenggarakan oleh sebuah bimbingan belajar yang molor sampai satu setengah jam. Peserta acara yang merupakan siswa kelas XI SMA Negeri 1 ini, awalnya sudah merasa kelelahan. Mereka sudah duduk selama berjam-jam untuk mendengarkan pembicara dari bimbingan belajar. Farchan, yang membawakan presentasi tentang travelling ini memutarkan film pendek tentang cerita seorang petualang untuk membuat peserta acara sedikit santai dan mengubah pola pikir mereka bahwa acara ini bukan acara membosankan.

Farchan menjelaskan tentang traveling

Farchan menjelaskan tentang traveling

Farchan menceritakan tentang apa saja tujuan, jenis, dan manfaat travelling. Gaya bicara yang santai membuat para pendengarnya merasa sangat santai. Sajian foto-foto perjalanan yang indah membuat peserta berdecak kagum. “Saya ngga bisa membayangkan gimana anak-anak pintar itu menikmati hidupnya. Hanya belajar dan terus belajar”, Ujar Farchan disela-sela presentasinya. Dia menjelaskan bahwa seharusnya ada keseimbangan antara sesuatu yang sifatnya akademik dan sosial. Dia juga menjelaskan betapa menyenangkannya sebuah proses yang dilalui ketika melakukan sebuah perjalanan, entah jarak jauh maupun jarak pendek. Bertemu banyak orang yang kemudian saling berbagi informasi dan tak jarang menjadi sahabat setelah perjalanan itu usai yang artinya koneksi pertemanan pun bertambah dan akan memudahkan petualang untuk berkomunikasi baik dalam urusan petualangan atau pun urusan lain yang tidak berhubungan dengan petulangan. Sebuah manfaat yang dirasa sangat besar mengingat sebuah koneksi adalah hal yang cukup penting di era ini.

Selesai dengan cerita backpacker, Farchan memutarkan dua buah film pendek lagi. Sebuah film tentang perjalanan 16 hari di Nusa Tenggara Timur yang mengeksplor keindahan provinsi kepulauan ini dan sebuah film tentang bagaimana seorang traveller mencari sebuah tempat tujuan di sebuah kota. Pada pemutaran film pertama, semua peserta dibuat melongo dengan film ini. Bagaimana tidak, peserta yang masih duduk di sekolah menengah ini pastinya tidak pernah melakukan perjalanan yang begitu lama dan mengeksplor seluruh keindahan daerah tersebut. Memang film tersebut film yang sangat indah, benar-benar membawa penontonnya seakan-akan masuk ke dalam perjalanan itu. Selesai presentasi, Farchan mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari peserta.

Setelah Farchan, Romdhona Prianto melanjutkan presentasi berikutnya. Pada sesi ini, Romdhona mempresentasikan tentang sebuah social movement yang bergerak di bidang non-formal yaitu MAFIA KUBIS. “Saya datang ke sini dengan keinginan berbagi yang sangat besar untuk kalian”, sebuah kalimat pembuka dari Romdhona yang disambut sangat meriah dari peserta. Memang, semua alumni yang datang ke acara tersebut didasari dengan keinginan berbagi yang sangat besar untuk adik-adiknya. Romdhona menjelaskan bagaimana awal mula MAFIA KUBIS terbentuk. Romdhona juga menceritakan bagaimana sebuah niat busuk bisa menjadi awal dari terbentuknya MAFIA KUBIS ini. “Saya dulu awalnya datang ke rumah mas Anang itu niatnya mau ngerampokdurian. Duriannya ga ada, tapi disuguhi jagung, tetep juga dirampok”, Kata Romdhona. Mas Anang sendiri adalah salah satu alumni SMA Negeri 1 Magelang yang rumahnya dijadikan tempat singgah volunteer KUBIS. “Saya dan teman-teman lain yang datang ke rumah Mas Anang kemudian malah dikenalkan sama adik-adik yang tinggal di kampungnya.”, Lanjut Romdhona. Pertemuan tersebutlah yang kemudian menggerakkan Romdhona untuk memulai ide mulianya. Mulai berbagi pikiran dengan rekan-rekannya, kemudian mengumpulkan buku sampai akhirnya memulai untuk membuat sebuah sarana belajar untuk adik-adik yang tinggal di kampung Krisik, Tegalrejo, Magelang itu.

Romdhona yang menjelaskan tentang komunitas Mafia Kubis

Romdhona yang menjelaskan tentang komunitas Mafia Kubis

Presentasi tentang MAFIA KUBIS kemudian dilanjutkan oleh Suprapti. Suprapti menjelaskan tentang kegiatan apa saja yang sudah dilakukan oleh MAFIA KUBIS selama setahun terakhir. Mulai dari kegiatan mengenal Indonesia, pemeriksaan gigi dan mulut oleh teman-teman kedokteran gigi Universitas Gadjah Mada, membuat layangan, perlombaan tradisional, sampai kegiatan sederhana semacam menulis dan menggambar. Suprapti yang juga alumni SMA Negeri 1 Magelang ini juga memberikan semacam salam khusus yang biasa diteriakkan ketika kegiatan MAFIA KUBIS. “Kalo saya bilang MAFIA KUBIS, kalian jawab dengan KUYAKIN BISA”, terangnya pada acara itu. Saat Suprapti meneriakkan kata “MAFIA KUBIS”, seluruh peserta menjawab dengan “KUYAKIN BISA”. Presentasi pun ditutup dengan tepuk tangan yang meriah dari pesertaworkshop.

Di sesi presentasi terakhir diisi oleh Anjar Nurhadi yang mewakili sebuah komunitas berbagi buku, 1 Buku untuk Indonesia. Melihat kondisi peserta yang makin lesu, Anjar memulai presentasi dengan sangat santai. Awalnya memperkenalkan diri terlebih dahulu yang kemudian mencoba mengajak peserta untuk ikut berinteraksi dengannya. “Ada yang tahu artinya buku?”, Tanyanya pada peserta. Tidak ada yang mengangkat tangan tanda ingin menjawab. Namun, Anjar tetap membujuk peserta agar mau menjawab, sampai akhirnya ada seorang peserta putri yang menjawab. “Buku itu kumpulan kertas”, jawab peserta tersebut. Sebuah jawaban singkat yang membuat Anjar kembali semangat untuk melanjutkan presentasinya yang kemudian dilanjutkan dengan memutar potongan sebuah film India yang di dalamnya menyebutkan apa itu buku.

Anjar yang menampilkan video tentang perjalanan 1 Buku untuk Indonesia

Anjar yang menampilkan video tentang perjalanan 1 Buku untuk Indonesia

Pada presentasinya kali itu, Anjar menjelaskan siapa itu komunitas 1 Buku untuk Indonesia dan apa saja yang dilakukan oleh komunitas itu. 1 Buku untuk Indonesia sendiri adalah sebuah komunitas berbagi buku untuk sekolah yang tidak mampu dalam pengadaan buku pelajaran maupun buku bacaan. “Dulu, awalnya ide pembuatan komunitas ini adalah dari obrolan angkringan dengan teman saya, Rosa, yang juga ikut kegiatan yang dilakukan mas Farchan.”, Terangnya siang itu. Anjar menampilkan beberapa foto yang menjelaskan bagaimana kondisi di daerah yang terpencil di Indonesia dan bagaimana usaha tim 1 Buku untuk Indonesia untuk mencapai daerah tujuan proyek mereka yang pertama yaitu Manusela, sebuah desa kecil di kaki Gunung Binaiya, Maluku. Suasana menjadi sangat hening ketika Anjar membacakan sebuah surat dari Roman, siswa kelas 2 SD YPPK Manusela. “Kakak Rosa, Roman senang belajar, Kakak Rosa kirim buku.” Begitulah penggalan surat yang dibacakan Anjar. Sebuah surat yang sangat menyentuh. “ketika kebanyakan anak-anak seusianya lebih memilih meminta mainan baru, baju baru, sepatu baru dan mungkin anak-anak kota lebih meminta gadget dengan harga selangit, anak ini hanya meminta buku yang bisa dibaca.”, Jelas Anjar siang itu. Anjar menutup presentasinya dengan sebuah pesan dari Bapak Noer Muis, mantan Pangdam XVI Pattimura yang diberikan pada tim 1 Buku untuk Indonesia ketika berangkat ke Maluku.

 “ selamat bertugas, apapun yang kita sumbangkan untuk negara dan bangsa Indonesia, tidak akan dapat dinilai dengan materi, sungguh suatu pengabdian yang amat mulia…”

Kegiatan diakhiri dengan foto bersama

Kegiatan diakhiri dengan foto bersama

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sesi tanya jawab sendiri dibuka sebanyak dua termin dengan masing-masing dua pertanyaan. Beberapa siswa menanyakan bagaimana caranya mengatur waktu agar dapat tetap belajar dan jalan-jalan. “Ada yang bisa mengalahkan jumlah ekskul yang saya ikuti? Saya ikut lima kegiatan berbeda setelah pulang sekolah”, Tanya Farchan. Intinya Farchan menegaskan bahwa kesibukan bukan jadi penghalang utama agar dapat berbagi dan melakukan perjalanan. “Yang penting kalian bisa bagi waktu dengan baik”, Jawab Farchan secara singkat. Di Akhir workshop ini peserta diajak untuk berfoto bersama dengan para alumni SMA Negeri 1 Magelang sekedar untuk kenang-kenangan acara ini. (AN) (Foto : Sandan Niyarti)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s