Mereka Berkata, “Kami Punya Mimpi”

Bermimpi. Siapa yang tidak pernah punya mimpi di dalam hidupnya? Setiap orang pasti punya impian yang ingin diwujudkan, begitu juga dengan anak-anak. anak-anak punya mimpinya juga, kadang sangat hebat tidak jarang juga sederhana tapi luar biasa. Itu yang kami pelajari kemarin di kegiatan KUBIS rutin kami tiap hari minggu.

Pagi itu ketika saya datang, sudah ada Shirom, Plapti dan 1 orang baru yang kemudian saya tahu namanya adalah Vivi, mahasiswa UNS Solo jurusan komunikasi. Sembari menunggu adik-adik kubis berkumpul, kami sempat mengobrol ngalor ngidul sebelum akhirnya membahas tentang eksekusi KUBIS hari itu (berasa seperti hukuman mati. hehe..). Intinya hari ini bermain tentang belajar bermimpi tapi sebelum masuk ke acara intinya, nanti dibuat semacam permainan yang memancing adik-adik untuk mulai berpikir tentang mimpinya.

  Seperti biasa, mbak Plapti membuka kegiatan pagi itu dengan sapaan “hai” dan “hallo” pada adik-adik kubis. Karena hari itu ada personil baru, maka diwajibkan untuk mengenalkan diri pada adik-adik. Vivi mengenalkan diri pada adik-adik KUBIS. perkenalan standar TNI. Nama, asal, cita-cita, pacar (ini sering sekali ditanyakan sama bocah2 itu kalo ada orang baru). Selesai perkenalan, mbak Plapti memulai dengan permainan ringan. sambil menyanyikan lagu naik delman, adik-adik juga diajak untuk ikut bergerak, entah apa itu semacam streching atau memang itu bagian dari sebuah tarian. Kali ini Vivi kembali didaulat untuk memimpin tarian aneh itu. “Pada hari minggu ku turut ayah ke kota…”, dan tarian tangan kanan kiri atas bawah itu pun ikut dimulai.

 Selesai pemanasan kemudian kami bermain “Ini apa?”. Saya juga baru sekali ini bermain permainan ini, sederhana, orang pertama yang menyebutkan ini apa adalah mbak Plapti yang waktu itu memegang bola dan menyebutkan bahwa ini bola. Di tengah permainan mas Dhona mengganti sedikit formatnya dengan menyuruh adik-adik untuk menirukan mimik dan nada orang menayakan “ini apa?” dan orang yang menjawabnya “bola”. Mbak Plapti juga mengganti “bola” menjadi banyak kata seperti apel, alpukat, dan terakhir diganti dengan “ini mimpiku”. Sebuah permainan yang makin meruncing pada inti dari kegiatan hari itu.

 Selanjutnya masih juga bermain. kali ini mas Dhona maju sebagai instruktur senam selanjutnya. Kali ini permainannya “saya berkata”, tapi karena mas Dhona yang memimpin, permainan ini diubah menjadi “Dhona berkata”. Satu per satu perintah diberikan dan satu perintah konyol dan naif diberikan. “Dhona berkata, tarik nafas dalam-dalam” semua ambil nafas dan perintah selanjutnya yang saya anggap sebagai perintah gemblung “lepaskan!”. Tanpa diawali kata “Dhona berkata” maka itu bukan sebuah perintah yang artinya kita harus terus mearik nafas. langsung saja mas Pupung tertawa sembari “menyembur”. Saya sendiri langsung mengambil posisi duduk tanda menyerah. wegah men aku menang tapi ra ambegan itu yang terpikir dibenak saya. Pemandangan cukup lucu karena semburan Pupung mengenai tangan Toriq, hahaha.. “Keno aku ki lho mas” ucap Toriq saat itu. haha,. Sumpah lucu banget. Sampai akhirnya semuanya diperintahkan untuk duduk dan perintah terakhir saat itu adalah “Dhona berkata, pikirkan mimpi mu”. Itu tanda bahwa inti acara sudah hampir dimulai. adik-adik diperintahkan untuk memikirkan tentang mimpi-mimpi mereka. entah itu keinginan dalam waktu dekat, cita-cita, atau sekedar ucapan saja.

Bukan KUBIS kalau tidak bermain. menyampaikan mimpi juga dilakukan dengan bermain. Mbak Plapti memimpin segmen ini. permainan kali ini bernama “HAP, HIP, HUP”. Sederhana juga permainannya. Jika disebutkan “HAP”, maka yang ditunjuk harus menanyakan pada teman di sebelah kanannya tentang mimpinya. “HIP” berarti bertanya pada teman yang ada di samping kirinya, sedangkan “HUP” berarti menyebutkan mimpi sendiri. Orang yang pertama kali terkena perintah HUP adalah saya. Saya menyebutkan mimpi saya saat itu, saya ingin keliling Indonesia dengan usaha sendiri. Saya katakan saya akan menabung sedikit demi sedikit untuk bisa keliling Indonesia. Sebenarnya ini juga saya katakan agar adik-adik tidak terjebak dalam pemikiran bahwa mimpi itu sama dengan cita-cita, meskipun itu tidak salah.

Satu per satu jawaban keluar dari mulut adik-adik KUBIS. Dan ya benar, kebanyakan memang menyebutkan mimpi sebagai cita-cita, tak apa lah, yang penting mereka mau menyebutkan mimpi mereka. Ada yang ingin jadi pemain sepakbola, ingin jadi koki, jadi bidan, jadi pemain bulu tangkis, ingin dapat rangking 1, adapula yang ingin tangannya cepat sembuh.

Sebuah kejadian haru terjadi ketika dek Sofi menyebutkan mimpinya. “saya ingin kakak saya pulang”, begitu katanya. Ternyata dek Sofi ingin kakaknya yang ada di Medan pulang ke rumah. Dia menyebutkan mimpinya itu sembari menangis. Suasana di ruangan TPA itu pun menjadi haru seketika. Kejutan belum berakhir di situ. Dek Yuni juga menyebutkan apa mimpinya. “saya ingin baca buku Bahasa Indonesia, saya ingin jadi Guru Matematika”, Deg, saya tertegun mendengarnya, sedikit meneteskan air mata. Ya Tuhan, ada  yang ingin menjadi guru. Beberapa anak melihat saya menangis, “mas e nangis yo??” , “ora yo, aku ngeresiki kocomoto” jawab saya, sambil ngeles keyak supir bajaj.

Masih ada lagi, dek Nurul kembali menyampaikan keinginannya. awalnya dia menyebutkan kalau dia ingin jadi rangking 1 dan menjadi pemain badminton. Kali ini berbeda. “saya ingin jadi penulis cerita anak-anak”. mas-mas dan mbak-mbak yang ada di ruangan itu tertegun. Mimpi yang sangat berbeda dari yang lain. menulis. Bukan menulis biasa, tapi jadi penulis cerita anak-anak. lagi-lagi ada kejutan di KUBIS. Yang terakhir yang membuat ruangan ini jadi haru, dek Farah menyebutkan mimpinya. sambil menangis juga. “saya ingin kakak saya masuk ke STAN”. waw, adik-adik ini luar biasa, mereka memimpikan orang lain. Bermimpi untuk orang lain (Romdhona, 2012).

Sebenarnya bukan cuma di situ juga pelajaran yang diambil. di tengah kegiatan ini, mas Dhona sempat marah dengan kelakuan Bahru yang terus ribut dan usil sejak awal kegiatan. Sempat terhenti kegiatan, tapi akhirnya Bahru meminta maaf atas kelakuannya. Pelajaran untuk semua, hargai orang lain. ada lagi yang menangis tak henti ketika disuruh untuk menyampaikan mimpinya. Dek Lina menangis tanpa mau berbicara tentang mimpinya. teman-teman yang lain berusaha untuk menenangkan dia.

Hari itu saya belajar banyak sekali. ketulusan, keberanian, menghargai orang lain, mendengarkan, mendoakan. semua itu dikemas jadi satu paket dalam tema kali itu, “berani bermimpi”. Luar biasa, saya melihat kembali dunia anak-anak yang polos tapi luar biasa. mereka memang hanya anak desa, tapi bukan berarti mereka tidak punya mimpi. Ketika anak-anak kota bermimpi untuk jadi dokter, jadi presiden, jadi astronot, bahkan ada yang memilih jadi batman atau spiderman, anak-anak desa ini hanya ingin jadi sesuatu yang sederhana. Tapi jangan salah, cerita besar itu selalu dimulai dari cerita-cerita sederhana dan saya percaya suatu saat mereka akan menjadi orang yang hebat.

Ku Yakin Bisa, Ku Yakin Bisa Bermimpi, dan Ku Yakin Bisa mewujudkannya. KUBIS.

9 Januari 2012
10.30 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s