Mengabdi untuk Indonesia dengan Caraku Sendiri

“Halo Njar, apa kabar? Gimana ikutan daftar Indonesia Mengajar?”

Sering sekali saya mendapati pertanyaan itu ditujukan pada saya. Pertanyaan yang sebenarnya sudah tidak ingin saya dengar lagi. Saya sudah jauh-jauh hari mengurungkan niat untuk menjadi salah satu Pengajar Muda. Bukan karena saya tidak terpanggil, bukan juga karena putus asa. Tapi, saat ini saya sudah menetapkan hati untuk membangun Indonesia dengan cara saya sendiri.

Awalnya memang saya menggebu-gebu untuk menjadi salah satu bagian dari Indonesia Mengajar. Menjadi satu bagian yang baru, membangun Indonesia dengan mengajar dan mendidik anak-anak sekolah. Sesuatu yang sangat saya impikan selama ini. Perlahan tapi pasti, saya mulai mengisi formulir pendaftaran IM (Indonesia Mengajar). Satu per satu kolom saya isi, sampai satu titik saya berhenti. Sebuah pertanyaan yang sangat mengganjal buat saya. “Apakah halangan terbesar Anda dalam mengikuti Indonesia Mengajar?”. Satu pilihan jelas jatuh pada jawaban “Orang Tua”. Memang selama ini orang tua lebih sering melarang saya untuk melakukan hal yang dianggap “nyeleneh” bagi mereka. Tapi, untuk hal yang satu ini saya beranikan diri untuk membicarakannya pada orang tua saya.

Suatu hari saya pulang ke Magelang dengan membawa buku Indonesia Mengajar yang saya beli ketika PM (Pengajar Muda) Angkatan 1 sedang mengadakan sebuah roadshow yang kebetulan bertempat di kampus Fisipol UGM. Saya sengaja membaca buku IM di depan kedua orang tua saya, sampai satu saat saya mempunyai kesempatan untuk menyampaikan keinginan saya. Tapi bukan support yang saya dapat, malah ceramah 4 sks malam itu, sangat panjang dan sangat sepihak. Saya hanya diam dan mengalah, membiarkan mereka menang dengan statementnya. Terus terang dalam hati saya sangat marah, kesal, muak dengan apa yang mereka perbuat malam itu. Rasanya lebih baik tidak usah membicarakan apa yang saya inginkan daripada hanya mendapat bongkahan besar cemooh.

Saya terus marah sampai paginya. Mengajak bermusyawarah hanya untuk formalitas, pada akhirnya suara yang berkuasalah yang menang. Saya hanya kembali diam, memendam emosi. Sampai akhirnya saya sadar. Pagi itu, ibu duduk di teras rumah, terdiam dan hanya memandangi jalanan karena memang sudah tidak ada lagi pekerjaan yang harus diselesaikan di pagi hari. Saya hanya terpaku melihat ibu yang hanya duduk terdiam di depan teras. Jadi, yang selama ini ibu lakukan jika saya tidak di rumah hanya ini. Tak ada kerjaan, hanya melihat sekitar rumah yang sepi. Di situ saya berpikir untuk mengakhiri masalah ini dan kemudian memutuskan untuk tidak mendaftar IM saat itu. Yang ada dipikiran saya saat itu adalah bagaimana caranya saya bisa berkontribusi untuk negeri ini tanpa harus meninggalkan rumah terlalu jauh, tanpa fasilitas komunikasi yang memadai.

“Tidak perlu untuk menjadi seorang pemain sepakbola untuk membela klub dan membawanya menjadi juara, bisa saja jadi pelatih atau mungkin menjadi pemilik klub untuk mendukung klub yang sama.”

Sebuah analogi yang akhirnya saya terapkan saat ini. Tidak perlu menjadi bagian dari IM jika ingin berkontrbusi bagi negara. Pada tahun 2011, saya akhirnya membentuk sebuah komunitas berbagi buku bersama teman-teman saya yang berada di Yogyakarta, yaitu 1 Buku untuk Indonesia. Di tahun 2012, 1 Buku untuk Indonesia ini terus berbagi buku untuk membuka jendela dunia bagi daerah yang terpencil. Terhitung sudah ada 4 program besar untuk membantu daerah yang membutuhkan, Maluku, Tambora, Yogyakarta, dan yang terakhir adalah Poso. Ini adalah impian yang benar-benar menjadi kenyataan. Dari awalnya hanya bermodalkan semangat berbagi, sampai akhirnya kami bisa ikut berkontribusi bagi pendidikan Indonesia. Tak hanya impian saya yang terwujud di 1 Buku untuk Indonesia, tapi komunitas ini juga memberikan impian bagi ratusan anak yang berada di pelosok. Tak hanya bermimpi untuk diri sendiri, saya akhirnya bisa bermimpi juga untuk orang lain.

Kegiatan bersama rekan-rekan 1 Buku untuk Indonesia di Wonosobo

Saya juga sampai saat ini masih aktif di Mafia Kubis, sebuah komunitas yang memberikan pembelajaran bagi anak-anak, khususnya dalam pengembangan kreativitas. Saya sendiri sudah bergabung dengan Mafia Kubis semenjak 2 tahun yang lalu. Salah satu impian yang terwujud di komunitas ini adalah, kami berhasil mengundang seorang pimpinan dari Taman Bacaan Masyarakat se-Indonesia, Gol A Gong. Bagi saya ini adalah pencapaian yang besar. Saya dan teman-teman akhirnya bisa membawa sebuah harapan pada adik-adik untuk terus berkarya melalui Gol A Gong.

Bermain bersama Mafia Kubis dalam kegiatan memenej sampah

Intinya sama dengan IM, kami berbagi tentang pendidikan, mengenalkan tentang keberagaman budaya Indonesia, mengajarkan paham tentang tenun kebangsaan, dan yang paling utama adalah mengabdi. Hanya saja saya dan teman-teman nyaris tidak terekspos dan nyaris tidak punya link dengan donatur besar macam IM. Tidak ada seleksi khusus untuk bergabung, tidak perlu keahlian khusus untuk saling berbagi, tidak perlu harus lulus kuliah untuk menjadi bagian dari kami, cukup dengan niat dan tekad kita bisa bersama-sama berbagi. Memang kita tidak digaji, tidak cukup diberi fasilitas, tapi bukankah gaji yang sebenarnya ada di akhirat nanti dan bukankah sebuah senyum yang tulus dari orang kita bantu sudah menjadi ganjaran yang sangat besar di dunia ini.

Pada akhirnya saya bisa sedikit ikut untuk memberikan suatu hal yang berguna untuk negeri ini dan itu tanpa IM. Pengalaman yang saya dapat buat saya sudah lebih dari cukup untuk membuat saya tersenyum, menatap hari-hari yang akan saya lalui dengan penuh tawa dan suka, berbagi, bercerita, mengabdi dengan caraku sendiri. Saya bisa mengabdi kepada Indonesia dan juga mengabdi pada orang tua. Semua itu tidak perlu dilakukan dengan pergi jauh dari kampung halaman.

Namun, impianku tak berhenti sampai di situ. Saya bermimpi suatu saat semua anak-anak di Indonesia ini sanggup mendapatkan akses dalam pendidikan, terutama melalui buku dan guru. Buku dan guru adalah unsur yang sangat berperan penting dalam pendidikan. Keduanya adalah penyambung ilmu. Impianku, suatu saat 1 Buku untuk Indonesia bisa menjadi penyambung ilmu dengan buku, membangun Taman Bacaan lebih banyak di Indonesia, membukakan jendela informasi bagi anak-anak di seluruh Indonesia, dan itu hanya dengan buku. Saya juga bermimpi semoga Mafia Kubis menjadi role model bagi para guru dalam mengajar. Saya percaya, semua impian itu akan terwujud. Alangkah berbahagianya saya jika mimpi-mimpi tersebut dapat terwujud di tahun 2013.

Mari berbagi untuk Indonesia, Kawan.

foto: (dokumentasi 1 Buku untuk Indonesia dan dokumentasi Mafia Kubis)

Anjar Nurhadi
Public Relation of 1 Buku untuk Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s