Melihat Jogja Dari Jendela Sebuah Buku

Jojga, 29 Maret 2012.
Saya bangun cukup pagi di hari ini karena memang sebelumnya sudah buat janji untuk melakukan survei lokasi untuk next project 1 Buku untuk Indonesia. Mempersiapkan segalanya yang dibutuhkan, padahal mah cuma nyiapin badan, baju, tas dan alat tulis. Rencana awalnya survei dimulai jam 9 pagi. Saya yang tidak mendengar suara handphone saya berdering jadi merasa bingung kenapa saya tidak kunjung dihubungi, sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengontak Chendy, ketua pelaksana program ini. “Wes tak sms pret”, katanya demikian. Benar, saya cek inbox ternyata sudah ada 2 sms masuk dari Chendy. “Waduh, Sorry, hapene ketindihan bantal.”, balas saya padanya.

Langsung mempersiapkan kendaraan saya dan menuju lokasi pertama dimana semua tim sudah berkumpul. Saya yang memang tidak tahu dimana letaknya sempat bingung mencari lokasinya. Berputar sampai 2 kali di tempat yang sama tidak juga membuat saya menemukan TK yang menjadi target pertama itu. Akhirnya saya mencoba putar balik jalan Kyai Mojo Jogja dan menengok kanan kiri bak orang nyasar. Ketemu juga, motor milik Chendy ada di depan sebuah bangunan yang sedang direnovasi. Dalam benak saya yang terlintas adalah “Ini beneran TK? kok ga ada apa-apanya”. Memang tak ada papan nama TK, tak ada tempat bermain, yang ada hanya bangunan tua bertuliskan Balai Rukun Kampung Pingit. Usut punya usut, TK ini hanya nebeng di gedung serba guna kampung Pingit.

TK Kyai Mojo Pingit yang menumpang pada gedung serba guna kampung

TK Kyai Mojo Pingit yang menumpang pada gedung serba guna kampung

Saya masuk dan bertemu dengan teman-teman satu tim, Rosa, Chendy, dan satu orang yang kemudian saya kenal namanya, Kenan. Melihat ke dalam kelas dan saya hanya diam. “Ya ampun, ini bukan kelas”. Ruangannya pengap, sirkulasi udara memang tidak begitu baik di sini. Meja dan kursi yang bisa dibilang usang dan tidak seragam. Saya kemudian mengalihkan pandangan ke arah rak buku dan saya dapati rak buku TK tersebut kosong, bersih dari buku, Hanya ada beberapa kotak tempat mainan. Chendy langsung memberikan kamera yang dipegangnya kepada saya. Saya langsung menghampiri guru yang mengajar dan kemudian meminta izin untuk mengambil gambar di kelas tersebut. Murid-murid sangat antusias sekali untuk diambil gambarnya. Dan memang mereka sangat lucu. Saya kemudian pindah ke kelas sebelah dimana Ibu Peni mengajar. Beliau adalah guru yang paling senior di TK ini, bisa juga dibilang sebagai kepala sekolahnya. Saya kembali mengambil gambar di kelas tersebut. Kali ini anak-anak mendekati saya, “Mas ndelok mas (mas lihat mas)”, kata anak-anak. Ya, mereka ingin melihat foto mereka di kamera yang saya pegang. Setelah mereka melihat foto mereka, saya menyuruh anak-anak untuk kembali duduk manis dan belajar.

Daftar Siswa-Siswai TK Kyai Mojo

Daftar Siswa-Siswai TK Kyai Mojo

Staf Pengajar di TK Kyai Mojo Pingit

Staf Pengajar di TK Kyai Mojo Pingit

Kelas hari itu dipulangkan cukup cepat karena memang kondisi mengajar sudah tidak kondusif, udaranya pengap, panas, dan penuh debu yang dihasilkan dari pembangunan lapangan bulu tangkis di depan TK. Saya melihat sebuah ironi di TK ini. TK ini ada di tengah kota pelajar yang di sekitarnya banyak ditemui sekolah yang fasilitasnya sangat baik. Tapi, TK ini seakan terabaikan, terkucil dari peradaban pendidikan. Di dalam kelas terpampang foto Walikota Jogja dan Wakilnya, tapi saya tidak yakin mereka tahu dimana TK ini berada. Ruang kelas yang saya bicarakan tadi itu hanya terpisahkan oleh sekat triplek, bukan dinding permanen. Buku yang ada pun sudah tidak layak lagi untuk dibaca oleh anak-anak. Satu lagi yang menyedihkan adalah, TK ini tidak punya taman bermain, meskipun nama tempat belajar ini adalah Taman Kanak-kanak.

rak buku yang kosong

rak buku yang kosong

Ibu Endang yang sedang memberikan pelajaran

Ibu Endang yang sedang memberikan pelajaran

Ibu Peni dan kelasnya

Ibu Peni dan kelasnya

TK Kyai Mojo di waktu pulang sekolah

TK Kyai Mojo di waktu pulang sekolah

Dua orang murid TK Kyai Mojo yang imut

Dua orang murid TK Kyai Mojo yang imut

Saya dan teman-teman kemudian melanjutkan perjalanan menuju tempat kedua yang akan menjadi sasaran project ini. Dusun Glagahwero, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sebuah desa yang tenang dimana kebanyakan penduduk di dusun ini bekerja sebagai buruh tani. “Petani kan kalo sawahnya besar, kalo kami sawahnya cuma sepetak, jadi kami hanya layak dipanggil buruh tani.”, Begitulah yang dikatakan oleh bapak dukuh dusun ini. Kami kemudian menuju sebuah masjid yang letaknya persis berada di rumah pak dukuh. Masjid Miftahul Falaah, nama masjid tersebut. Di masjid ini ada beberapa rak buku yang ternyata itu adalah buku-buku perpus dusun ini. Saya melihat sejenak ke arah tumpukan buku yang ada. “Kok malah buku kuliahan ya”. Sangat terlihat jelas buku-buku tebal dan berat yang biasa ada di kampus dan beberapa buku yang ada di rak buku tersebut adalah bacaan untuk orang dewasa, bukan porno, tapi lebih ke konten yang berisi tentang otomotif, gaya hidup dan sebagainya. “Mereka (anak-anak dusun) suka membaca yang ada gambarnya”, Terang bu dukuh.

Salah satu rak buku yang ada di Perpustakaan Dusun Glagahwero

Salah satu rak buku yang ada di Perpustakaan Dusun Glagahwero

Masjid yang juga digunakan sebagai perpustakaan

Masjid yang juga digunakan sebagai perpustakaan

Anak-anak Dusun Glagahwero sedang membaca buku

Anak-anak Dusun Glagahwero sedang membaca buku

Horeeeeee... \(^_^)/

Horeeeeee… \(^_^)/

Seorang anak yang sedang membaca majalah untuk remaja

Seorang anak yang sedang membaca majalah untuk remaja

Tim 1 Buku untuk Indonesia bersama warga dan Mas Edi

Tim 1 Buku untuk Indonesia bersama warga dan Mas Edi

Tak lama kami di perpus tersebut, anak-anak dusun mulai berdatangan, mereka membaca buku. Awalnya mereka malu-malu untuk mendekat karena kami memang orang asing. Tapi, kemudian kami bisa akrab dengan mereka. Tanpa canggung mereka kemudian membaca dan sesekali berinteraksi ke kami. Polah mereka lucu sekali, malu di foto, tapi ketika kami ambil gambar, mereka sok-sok bergaya. haha.

Dari dua tempat tersebut, saya banyak mengambil pelajaran bahwa kota tidak selalu diidentikkan dengan sesuatu yang maju, fasilitas yang mewah dan pendidikan yang memadai. TK Kyai Mojo jadi saksi bagaimana pendidikan bukan menjadi satu prioritas di kota pelajar ini dan akhir-akhir ini juga sebuah sekolah menengah atas yang berada tidak jauh dari TK ini menjadi sengketa pihak yang mengaku ahli waris sekolah. Sebuah bentuk ketamakan manusia akan harta, mereka tidak memikirkan nasib para pelajar yang ada di sekolah tersebut. Dusun Glagahwero juga menjadi bukti bagaimana minat baca anak yang tinggi tidak jarang terkendala oleh fasilitas yang ada.

Sebuah lagu yang sudah saya nyanyikan sejak kecil sepertinya tidak menggambarkan apa yang ada saat ini. Sebuah lagu yang saya sendiri tidak tahu siapa penciptanya.

Taman yang paling indah, hanya taman kami, taman yang paling indah taman kanak-kanak. Tempat bermain, tempat belajar, taman yang paling indah taman kanak-kanak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s