Malang Graphic Journal

Malang, kota ini sudah bagaikan halaman rumah bagi saya. Terlalu sering mengunjungi kota kecil yang sejuk ini. Dulu saya tinggal di sebuah desa kecil bernama Beji yang terletak di Kabupaten Pasuruan. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Malang. Nyaris setiap bulan saya mengunjungi tempat ini. Namun, waktu berlalu, kini saya terpisah ratusan kilometer dengan kota ini. Saya pindah dari Pasuruan menuju Magelang. Mengikuti kepindahan orang tua saya.

Jarak bagi saya bukanlah pemisah, tapi jarak adalah sebuah pemupuk rasa rindu. Penguat rasa untuk menginjakkan kaki kembali. Sempat ketika masih menginjak semester awal kuliah, saya mampir ke Malang. Terhitung dua kali saya mampir ke Malang dan perjalanan kemarin adalah perjalanan ketiga saya ke Malang.

Malang selalu punya cerita menarik bagi saya. Malang selalu menghadirkan cerita unik ketika mengunjunginya. Kali ini pun demikian. Perjalanan yang saya mulai dengan beban di kepala sudah menumpuk, berakhir dengan kepala tegak, menatap ke depan dengan tegas. Perjalanan di Malang kali ini saya habiskan untuk menjelajahi bangunan-bangunan tua yang masih kokoh berdiri, yang juga menjadi ikon Kota Malang.

Masjid Jami’, Gereja Kayutangan, Gereja GPIB Immanuel dan Tugu Alun-Alun Bundar Malang menjadi tempat yang saya kunjungi. Tidak lupa juga mengunjungi sebuah pasar yang hanya buka di hari Minggu, Pasar Pagi Malang. Tempat-tempat ini memiliki sisi unik yang patut untuk dikunjungi. Weekend hunter edisi perdana kali ini, Malang. Selamat membaca.

Tabik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s